Berita tentang Fay yang koma akibat mengalami geger otak pun tersebar di seluruh penjuru SMA Hasanudin. Carissa dengan wajah gelisah mengetuk-ketuk jarinya di atas meja sembari mengusap kasar wajahnya.
"Tujuan utama gue itu buat Carissa bahagia, bukan malah jadi detektif gadungan!" gumamnya dengan menggaruk tekuknya yang tak gatal.
Saat dia menatap ke arah pintu, netra cokelat itu bertemu dengan mata hitam kelam milik Leon. Tatapan dingin, tetapi menusuk itu membuat Carissa spontan memutuskan kontak mata mereka dan beralih menatap langit dari jendela.
"Kayak bukan Leon!" batinnya penasaran.
Walaupun belum kenal pasti, Carissa tahu tatapan itu seperti sesuatu hasrat yang belum terpenuhi. Dalam artian lain, seperti hasrat ingin membunuh.
Sebelumnya Carissa pernah meminta Leon untuk pindah dari tempat duduknya dan manik keduanya saling bertemu, tatapannya lebih tenang dan hangat, berbeda dengan sekarang.
Carissa segera menggelengkan kepala, dia berdiri bermaksud ingin pergi ke rooftop. Hari ini Dina dan Lala kompak tidak masuk, entah apa yang sedang mereka perbuat. Keduanha hanya meminta pada Carissa untuk izin ke guru piket.
Di rooftop, gadis itu menatap tenang ke arah langit. Hembusan angit membuat rambutnya tergoyang pelan.
"Siapa pelakunya? Gue yakin dia pasti bakalan ngincer Fay lagi, untungnya gue udah minta ke orang tua Fay buat sewa beberapa penjaga biar gak sembarang orang bisa masuk."
Dia terpaksa merebahkan tubuhnya di beton yang keras, menutup matanya sejenak dan merasa seperti ada hembusan lain yang menerpa wajahnya.
Carissa membuka matanya perlahan dan melihat Keenan sudah menatapnya.
"Anjir, gue kirain setan!" pekik Carissa sembari bangun.
"Ngapain tiduran di sini?" tanya Keenan yang kemudian duduk tepat di sebelah gadis itu.
"Nggak tau. Eh Keenan, lo ngerasa aneh gak sama sama Leon?"
Carissa menatap Keenan, sementara yang di tatap hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Nggak, tuh!"
Carissa berdecih kesal, lantas kembali menatap awan.
"Gue masih penasaran siapa yang udah nyelakain Fay sampai kayak gitu. Ya, gue emang benci sama dia, tapi gak sampek segitunya juga."
"Harusnya lo seneng karena perempuan itu gak bakalan ganggu lo lagi!"
Ucapan Keenan membuat Carissa mengernyit dan menatap pria itu keheranan.
"Mata lo seneng. Gue bukan orang yang harus seneng di atas penderitaan orang lain. Dulu juga ada kejadian yang nimpa salah satu kakak kelas kita, kan?" tanyanya lalu di balas anggukan oleh Keenan.
"Nah, sebelum dia meninggal, kan pernah deket sama Leon. Setelah kejadian itu Leon langsung sekolah di rumah. Curiga dikit dong lo sama dia, elah!" kesal Carissa dengan memukul pundak Keenan.
"Jangan asal curiga sama orang, siapa tahu pelakunga bukan dia!"
"Heleh, yang patut dicurigai itu dia!" Carissa bersikukuh dengan pendapatnya sendiri.
Di sisi lain seorang pria tengah menatap keduanya yang duduk bersampingan dengan membahas dirinya. Tangan kiri dan kanan terkepal sempurna, lantas beranjak dari sana. Tak disangka sebuah senyuman terukir di ujung bibir Keenan.
.
.
.
Sore itu Carissa melihat foto yang dikirimkan oleh dua temannya, ternyata mereka seharian menghabiskan waktu di pantai.
"Huh, pergi nggak ngajak-ngajak. Awas aja besok!"
Carissa hendak melempar ponselnya ke arah sofa, tetapi mengurungkan niat saat ponselnya berdering. Dia melihat siapa yang menelpon dan ternyata adalah ayahnya.
"Halo pa?"
"Carissa, bisa tolong ambilkan berkas papa yang ketinggalan di atas meja kamar papa? Sebentar lagi ada meeting dengan klien dan papa tidak bisa pulang, apalagi klien sudah ada di kantor papa."
"Oke, Carissa anterin!"
Setelah panggilan terputus, Carissa bergegas menuju kamar ayahnya dan mengambil berkas yang diberi map berwarna biru muda. Dia langsung saja menuju kamar untuk memakai hoodie cokelat dan bergegas menuju luar.
"Pak Adi, anterin Carissa ke kantor papa."
Pak Adi selaku supir pribadi keluarga Brawijaya itu langsung mengangguk.
Setibanya di sana, Carissa menyuruh pak Adi untuk menunggu, sementara dirinya akan masuk.
Setelah bertanya, akhirnya Carissa di antarkan ke ruangan ayahnya. Namun, belum sampai di sana mereka bertemu dengan salah satu gadis yang sepertinya adalah sekretaris pribadi ayahnya.
Mereka bertiga berada di satu lift, sekretaris itu melihat penampilan Carissa yang tidak formal, lantas mencibir. Saat sang resepsionis ingin menegur, Carissa dengan cepat memegang lengan baju dan menggeleng. Carissa punya rencana licik yang sudah dia pikirkan.
"Ck! Mau melamar pekerjaan atau apa, pakaiannya tidak sopan sekali!"
Begitu mereka keluar dari lift, perempuan itu masih terus mengoceh.
"Haduh, anak muda zaman sekarang memang tidak tahu sopan santun."
Dia berjalan mendahului keduanya, membuat Carissa masih setia tersenyum.
"Nona Carissa, maafkan ucapan sekretaris pribadi tuan. Dia memang selalu begitu, saya juga tidak mengerti dengan tingkahnya. Kadang berbuat seenaknya dan melarang siapapun untuk dekat dengan tuan!"
Mendengar itu Carissa mengeraskan rahangnya.
"Tenang aja mbak, aku punya rencana bagus buat semua ini."
Untung saja ayahnya meminta Carissa untuk datang ke sini, kalau tidak dia mungkin tak akan tahu kalau ada parasit di perusahaan milik ayahnya.
Parasit itu harus di basmi sampai ke akar, kalau tidak akan berkembang biak dan menempel pada tubuh inangnya sampai mereka dewasa.
"Nona, ini ruangan tuan Wijaya. Apakah perlu saya mengetuknya?"
"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok, makasih, ya mbak?" ucapnya seraya tersenyum.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi!"
Setelah wanita itu pergi, Carissa mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Pintu terbuka dan menampilkan si sekretaris tadi. Dia menatap tajam ke arah Carissa, sementara gadis itu hanya menjulurkan lidah tanda sedang mengejek.
Melihat sang ayah tengah duduk dan menyuruhny untuk masuk, Carissa tersenyum dengan manis dan berlari.
"Sayaaang!" teriaknya kencang, tak sadarkah bahwa dia sekarang menjadi pusat perhatian?
Si sekretaris tadi nyaris pingsan mendengarnya. Sayang? Apakah bosnya itu sudah memiliki kekasih?
Ayahnya menyentil dahi Carissa hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Setelah ini pulang dan tolong perhatikan sekitarmu, Carissa!"
Mendengar itu dia lantas berbalik dan menatap sekitar tiga orang dewasa duduk di sofa menatapnya dengan keheranan, hingga maniknya bertemu dengan manik seseorang yang dia kenal.
"Mampus gue, Leon."
"Maafkan atas tindakan anak saya, dia memang senang sekali menjahili orang lain!" ucap Wijaya sembari berdiri dan ikut duduk di sofa.
Si sekretaris langsung menutup mulut, tamatlah sudah. Dia tadi menghina anak bosnya sendiri, sudah jelas bahwa dia tidak akan direstui hubungannya dengan Wijaya. Oh, tampar pikiran bodohmu itu, sejak awal Carissa memang tak menyukaimu.
Carissa nampak mengerucutkan bibirnya malu, dia sungguh malu sudah berteriak ayahnya sayang. Padahal niatnya hanya untuk mengerjai si sekretaris, tetapi malah dirinya yang dibuat malu.
"Carissa, pulang sana atau kamu mau lihat-lihat perusahaan papa? Nanti sekretaris papa akan menemani kamu!" ucap ayahnya lembut, Carissa langsung menatap sengit pada si sekretaris, yang di tatap menyengir tanpa dosa.
"Tch, nggak mau. Besok-besok papa kalau mau cari sekretaris harus ada persetujuan dari Carissa, kalau nggak Carissa bakalan ngamuk dan bakar perusahaan papa biar bangkrut!" celotehnya sembari berjalan keluar dari ruangan sang ayah.
Wijaya hanya pasrah, sungguh mulut anak bungsunya itu semakin hari makin tajam dan menyakitkan.
"Maafkan atas ucapan anak saya. Mari kita lanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda tadi."
Leon hanya tersenyum menatap pintu yang telah tertutup. Memang benar dia gadis yang menarik.
Carissa tengah berdiri tepat pada para karyawan yang sibuk bekerja, wajah mereka menunjukan keletihan yang berlebih. Dia merasa kasihan jadilah memiliki ide cemerlang.
"Perhatian semuanya!" teriaknya membuat mereka langsung menatap ke arah Carissa.
"Ada yang laper atau haus?" tanyanya, tetapi hanya ada keheningan saja.
"Orang tanya, tuh di jawab. Oh, apa kalian mau gue panggil si sekretaris papa buat nanyain kalian satu persatu?"
Mereka saling beradu pandang, papa? Jangan bilang kalau dia adalah anak dari bos besar mereka.
"Jawab atuh!" kesalnya.
Seseorang dengan cepat menjawab.
"Sa-saya lapar sama haus!"
"Nah, bagus. Terus yang lainnya nggak laper atau haus gitu?"
Spontan mereka menjawab dengan heboh, senyum Carissa mengembang dengan sempurna.
"Yosh! Kalian tunggu di sini."
Carissa langsung berlari entah ke mana, mereka hanya menatap keergian gadis itu dan kembali bekerja. Yah, meladeninya cukup untuk mengusir dirinya, pikir mereka.
Setengah jam kemudian, Carissa kembali dengan dua satpam yang membawa makanan serta minuman.
"Hehe, kalian ambilah ini dan makan. Bekerja juga butuh tenaga!"
Mereka menatap tak percaya pada Carissa, gadis itu benar-benar kembali dengan membawakan mereka makanan. Senyuman tergambar jelas di wajah mereka, ini adalah rezeki dan jangan di tolak, tidak baik.
"Makan yang banyak!"
Carissa pun mengajak dua satpam tadi keluar dan memberikan mereka tip.
"No-nona Carissa, ini terlalu banyak!" ucap salah satu dari mereka menatap masing-masing dua ratus ribu di tangan.
"Udah, uang itu buat beli makan keluarga bapak. Pasti mereka juga pengen makan yang enak, nanti kalau pulang beliin mereka ayam, biar seneng."
Setelah berterima kasih, Carissa pamit pergi, sementara seorang pria yang sejak tadi berdiri menatap semua aktivitas Carissa.
Di dalam mobil, Carissa tersenyum saat mendapatkan pesan bahwa teman-temannya sudah menunggu di warnet. Yah, Carissa yang meminta mereka untuk bertemu di sana.
Setibanya di sana, Carissa langsung turun dan berpesan pada pak Adi.
"Pak, nanti gak usah jemput, ya. Carissa bisa naik taksi nanti, kalau kak Abian nanya, bilang aja lagi main sama Dina Lala!"
"Siap non!"
Pak Adi pun melajukan mobilnya menuju rumah, sementara Carissa langsung bergegas masuk dan menemui dua temannya yang sedang asik bermain game.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
AK_Wiedhiyaa16
Jangan2 Leon merupakan pria yg nyari tau identitas dari Carissa?
2022-11-07
2
AK_Wiedhiyaa16
Wah, gw malah jadi curiga ke Keenan
2022-11-07
1