"Oke, udah diputusin kita bakalan kerja kelompok di rumah Carissa!" ucap Dina lantang.
"Anggotanya, gue, lo, Leon sama ketua kelas, kan?" tanya Carissa dan diangguki oleh ketiganya.
"Tunggu, sebelum kalian masuk ke rumah gue, harus ada beberapa hal yang mesti gue kasih tau."
"Pertama, kalau ada keributan please lo pada jangan kepo apalagi Dina. Kedua, kalau ada cewe yang nongol tiba-tiba dan ganggu kerja kelompok kita, kalian harus tegas buat ngusir. Sebenarnya gue bisa, sih cuma males ngomong sama dia. Ketigaaa, nih kalo si mak lampir yang ngaku sebagai mama gue, kalian iyain aja biar dia pergi. Kalau dia nanya-nanya, bilang aja kita lagi buru-buru ngerjain tugas."
Ketiganya mengernyit heran pada Carissa. Namun, untuk Leon dan si ketua kelas sendiri tidak tahu kalau Carissa memiliki ibu. Sedangkan yang mereka tahu adalah ibunya telah meninggal.
"Udah, jangan banyak tanya. Gue tau pasti kalian bertanya-tanya di dalam otak. Pokoknya turutin aja apa kata gue."
Sore itu ketiga remaja tadi sudah berada di ruang keluarga Carissa. Mereka duduk di karpet berbulu berwarna merah. Carissa datang dengan membawa buku tebalnya dan duduk tepat di sebelah Dina.
"Sesuai dengan langkah-langkah yang udah dijelasin sama pak Zidan. Ayo dikerjain, kita bagi-bagi dan masing-masing cari bagiannya."
Sudah setengah pekerjaan, Carissa terlihat sangat fokus pada laptopnya dan mengetik beberapa kata di sana. Tiba-tiba ada suara yang mengejutkan mereka berempat.
"Wih, temen kak Carissa datang. Kak, kenalin dong!"
Seorang gadis menarik perhatian ketiganya, Dina tersentak dan kenal wajah itu. Dia duduk di sofa tepat dibelakang Leon. Carissa langsung menghentikan tugas mengetiknya dan menatap tajam pada Amelia.
"Gue bukan kakak lo, so stop manggil gue kakak dan gak usah ganggu temen-temen gue kerja."
Dia kembali berfokus pada laptop, begitupun dengan yang lainnya. Tiba-tiba Leon berteriak terkejut saat kaki Amelia dengan sengaja menusuk pinggangnya. Leon pun langsung mendelik ke arah Amelia dan hanya disambut kekehan oleh gadis itu.
"Tolong kaki lo gak usah lancang buat nyentu-nyentuh gue!" ucap Leon. Akhirnya dia minta tukar tempat dengan Carissa. Selain tak ingin membuat Dina cemburu, dia juga benci gadis itu.
"Kaki lo mau gue potong, ha? Gatel banget heran. Mama lo gak ngajarin sopan santun kalau ada tamu?" teriak Carissa kesal. Sungguh dia kesal dan ingin sekali mencakar wajah Amelia.
Seorang wanita datang dari dapur dan langsung berlari ke arah mereka.
"Carissa, ada apa ini?"
"Anak lo, nih. Kakinya lancang banget nyolek-nyolek pacar temen gue. Diajarin sopan santun nggak, sih?"
Feli langsung menatap tajam pada sang anak, dia sungguh tak pernah mengajari gadis itu untuk melakukan sesuatu yang kurang ajar.
"Maafkan dia, ya. Nanti tante kasih pelajaran, kalian lanjutin aja kerjanya."
Feli langsung menjewer telinga Amelia hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Duh, mama apa-apaan, sih? Amelia cuma iseng doang, yakali beneran demen sama dia."
"Mama nggak pernah ngajarin kamu buat kayak gitu, apalagi mereka temen-temen kakak kamu."
"Bodoamat, ah. Lagian kak Carissa mana berani buat pukul aku kayak dia mukul kak Abian!" tantangnya membuat Feli sedikit kesal.
"Awas aja kalau Carissa beneran mukul kamu, mama nggak akan bela kamu. Kamu itu keras kepala, nurun dari siapa, sih?"
Pekerjaan mereka akhirnya selesai, kini keempatnya tengah menikmati cemilan di samping kolam renang yang telah disediakan oleh maid.
"Gama, tugasnya di kumpul kapan, gue kagak denger tadi!"
"Minggu depan, santai aja elah. Lagian masih banyak waktu."
Dina mendekati Carissa, sesungguhnya dia masih kesal atas perlakuan Amelian.
"Car, adek lo lancang banget, sih!"
"Ralat sayang, bukan adek. Sejak kapan gue punya adek modelan kek tante girang gitu?"
"Ya, pokoknya itulah. Betah, lo tinggal serumah sama orang kayak dia?"
"Betah, karena uang jajan gue ngalir. Gue mah tiap minggu diisin saldo mulu, kalau dia harus minta baru di kasih."
"Iyalah, orang lo anak kandungnya."
Saat sedang asik berbicara, tiba-tiba seseorang memeluk Gama dari belakang, membuat pria itu sontak terkejut dan mendorong seseorang itu.
"Anjir, gue kirain yang meluk gue monyet, eh ternyata emang bener!" ucapnya dengan berjalan mendekati Leon.
Carissa mendelik ke arah Amelia yang bangkit sembari membersihkan pantat celananya.
"Kok, Amelia di dorong?" tanyanya dengan menatap ke arah Gama, di mana pria itu sudah merinding.
"Car, itu dia kerasukan setan gang sebelah, apa?" bisik Dina dengan menatap enggan ke arah Amelia.
"Tau ... Kayaknya harus dilakukan pengusiran setan, deh di rumah gue."
"Car, usir adek lo, dong. Dia bikin gue merinding. Kalau Bianca tau dia meluk gue kayak tadi, pasti habis di maki-maki."
"Lebih bagus dimaki-maki ma cewek. Besok-besok kalau gue ngajak kalian ke mari, jangan lupa bawa pawangnya. Soalnya ada penggoda di rumah gue!"
Dina cekikikan sembari memukul lengan Carissa, sementara Amelia terlihat kesal karena dia diabaikan.
"Awas aja kalian, gue aduin ke kak Abian!" ancamnya yang justru membuat Carissa dan Dina tertawa terbahak-bahak, sementara Leon hanya menggeleng heran.
"Sana aduin, sekalian sama om Wijaya juga!" ucap Dina menantang.
Amelia menghentakan kakinya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Gagal sudah rencananya ingin menggoda dua pria itu.
Rumah kembali sepi, Carissa sedang asik menikmati kartun. Tiba-tiba Amelia datang dan menukar channelnya menjadi film romantis. Seketika itu pula Carissa langsung merampas remot televisi dari gadis itu.
"Lancang banget tangan lo. Kalau mau nonton televisi, minta di mama lo buat beli. Kenapa, nggak mampu, ya?"
Carissa akhirnya duduk berjarak dan menukar channelnya lagi. Sesekali dia tertawa saat ada adegan lucu, mengabaikan Amelia yang sedang menatapnya kesal.
Wijaya baru saja pulang dan terbesit ide licik di otak Amelia. Dia tiba-tiba menanpar pipinya sendiri, lalu menangis. Carissa tak peduli dan masih menatap televisi, Wijaya akhirnya menghampiri mereka.
"Amelia, kenapa tiba-tiba nangis?" tanyanya panik.
"Huhu, a-aku nggak ada salah apa-apa sama kak Carissa, tiba-tiba dia nampar aku."
Amelia menunjukan pipinya yang suda berwarna merah, membuat Wijaya langsung emosi dan menatap Carissa.
"Carissa!" panggilnya, gadis itu menoleh dengan malas.
"Apa?"
"Kamu sudah keterlaluan. Kenapa kamu tampar adek kamu?"
Carissa menatap Wijaya lalu beralih menatap Amelia yang tersenyum licik.
"Kayak gini?"
Plak...
Carissa menampar di pipi sebelah Amelia, membuat gadis itu shock.
"Nah, gini dong. Gak enak, masa udah kena fitnah, tapi nggak ngelakuinnya. Papa, sih terlalu manjain anak kesayangan papa, jadinya gitu. Kalau papa nggak percaya, sih terserah. Cuma, CCTV di rumah ini kayak nggak ada gunanya di pasang."
Seketika Amelia panik, dia tidak tahu kalau di rumah itu ada CCTV. Carissa berbalik tersenyum dan beranjak dari sana.
"Tunggu di sini, biar Carissa ambil buktinya."
Beberapa menit kemudian, Carissa kembali dengan membawa ponselnya. Ternyata di sana sudah ada Abian dan Feli. Carissa lantas menunjukan rekaman CCTV di mana Amelia menampar pipinya sendiri, sementara Carissa sedang asik dengan televisi. Abian pun tersulut emosi dan menatap tajam Amelia.
"Berani banget lo fitnah adek gue? Lo terlalu ngemis kasih sayang sampai-sampai mau jelekin nama adek gue? Inget, lo sama mama lo cuma numpang di rumah ini."
"Amelia. Sejak kapan kamu berbohong? Mama nggak pernah ngajarin kamu buat fitnah orang kayak gitu."
"Udah, ya. Gue mau bobo cantik, kasian kulit Gue yang tiap hari harus denger keributan di rumah ini."
Carissa mengedip manja pada Amelia dan berjalan menuju kamar. Begitu pun dengan Abian, dia langsung melongos pergi keluar rumah. Feli bisa melihat rahang Wijaya mengeras, dia tidak suka jika ada yang memfitnah anaknya, apalagi Carissa.
"Nggak ada uang jajan selama satu bulan. Itu hukuman kamu karena sudah berani memfitnah anak saya!"
Wijaya langsung berjalan ke arah kamarnya. Dia lelah hari ini, saking lelahnya ingin sekali Wijaya memukul orang yang mengganggunya.
"Amelia. Mama kecewa sama kamu, bisa-bisanya kamu fitnah kakak kamu sendiri. Untuk kedepannya, mama angkat tangan, kamu memang keras kepala."
Amelia terlihat kesal dengan mengepalkan tangannya.
"Carissa. Lo udah buat gue jadi dibenci di rumah ini, gue gak akan tinggal diam. Lihat aja, gue bakalan balas semua perbuatan, lo!"
Carissa di kamar tertawa terbahak-bahak, enak juga menampar Amelia. Sebenarnya sejak tadi sore tangannya sudah sangat gatal ini membuat pipi gadis itu memerah dan akhirnya kesampaian juga.
"Puas banget gue."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
AK_Wiedhiyaa16
Mamam tuh kelakuan putri tiri kesayangan lo
2022-11-07
1
Katty Lestari
lagi thor up ny
2022-10-18
1
Katty Lestari
good in bru mantap
2022-10-18
1