14| Kemah

Di salah satu kantor polisi, terlihat seorang wanita mengamuk pada pihak kepolisian, pasalnya sang anak telah dimasukan ke dalam jeruji besi.

 

    "Pak, pasti anak saya dijebak oleh seseorang. Tidak mungkin dia melakukan tabrak lari seperti itu!"

   "Bu, kami telah memiliki bukti yang kuat. Saudari Carissa hendak menyebrang dan anak ibu membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Jika pengaruh alkohol, maka hukumannya mungkin bisa dikurangi dan mendapatkan denda, tetapi dia dalam keadaan sadar."

Polisi sudah lelah, sebulan ini wanita tersebut terus-menerus mendatangi kantor polisi.

   "Carissa! Dasar anak itu, lihat saja. Saya akan membuat perhitungan sama dia!" gumamnya.

Di sisi lain, Carissa sedang me time sembari memakan snack yang telah dia stock di dalam lemari kecilnya. Sebuah ketukan pelan dari pintu kamar terdengar, Carissa hanya diam dan sibuk menatap ponselnya.

Dia sedang chattan dengan Dina dan Lala di mana mereka berniat menginap di rumah gadis itu.

   "Carissa, ini mama. Mama masuk, ya?"

Tidak ada tanggapan?

Oh tentu saja, Carissa menulikan telinganya dan merasa tidak terganggu. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Feli yang sangat dibencinya.

    "Mama bawain kamu buah, di makan biar sehat!"

Feli meletakan piring berisikan buah segar yang telah di potong di atas nakas dan tersenyum ke arah Carissa. Dia masih asik dengan dunianya.

Bibir Feli setia tersenyum walaupun anak tirinya itu berperilaku tak sopan padanya. Dia yakin, Carissa akan menerima dirinya suatu saat nanti. Feli bergegas pergi sebelum Carissa selesai dengan kegiatannya dan memarahi wanita itu.

Setelah pintu tertutup, Carissa menatap ke arah piring buah dengan enggan.

   "Tch, caper banget."

Dia berjalan dengan memakai earphone di telinga, hingga siapapun yang memanggilnya tak akan didengar. Baginya dia hanya hidup bersama para maid di rumah tersebut.

Dia duduk di sofa ruang tamu, menunggu kedua temannya datang untuk menginap. Tak beberapa lama keduanya tiba dan langsung heboh saat bertemu satu sama lain. Saat mereka hendak ke kamar, Dina dan Lala menatap Wijaya yang baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuju mereka.

   "Dina sama Lala, kenapa baru sekarang?"

   "Iya om, kita sering dikasih tugas jadi nggak ada waktu buat ke sini."

Dina menjawab dengan kikuk, dia masih tak menyangka kalau ayah temannya itu menikah tanpa sepengetahuan Carissa. Dina pun jika jadi gadis itu akan sangat murka.

   "Udah, yuk ke atas. Banyak setannya di sini!"

Carissa menarik tangan kedua temannya dan berjalan cepat menuju kamar. Mereka kini sedang asik menonton film horor yang direkomendasikan oleh Lala.

Malam itu, ketiganya telah bersiap untuk keluar. Mereka akan pergi ke mall yang menyediakan banyak permainan contohnya boneka capit. Saat akan mencapai pintu utama, Abian datang dan berdiri tepat dibelakang ketiganya.

   "Mau ke mana kalian malam-malam begini?"

Dina dan Lala spontan menegok ke belakang, sementara Carissa bergeming di tempat. Dia enggang melihat wajah Abian, hal itu hanya akan membuatnya semakin marah.

   "I-itu ... Kita mau perg-"

   "Bukan urusan lo. Sana urusin adek kesayangan lo itu, ayo pergi."

Carissa berjalan lebih dulu, Dina dan Lala bergegas menyusul. Abian terpaku di tempat, jelas saja adiknya itu masih tak memaafkan dirinya setelah semua yang dia perbuat dan menghancurkan kepercayaan gadis itu.

Sudah jam sembilan tepat, Carissa menatap datar pada mesin permainan. Dia mengeratkan genggamannya ada stick game.

   "Sial!" gumamnya.

.

.

.

Sekolah SMA Hasanudin akan mengadakan perkemahan yang diikuti oleh setiap siswa, tetapi tidak wajib.

Jadi di sinilah mereka sekarang, berdiri di tengah lapangan dan terbagi dalam beberapa sanggah. Carissa dan dua temannya satu sanggah, mereka terlihat bahagia sekarang.

Setelah mendapatkan pengumuman dari pembina, mereka pun dibubarkan menuju kelas masing-masing.

   "Perkemahan kurang sehari lagi, gue nggak sabar!" ucap Lala sembari memasukan potongan kentang ke dalam mulutnya.

    "Katanya kemah kali ini diadakan di hutan belakang sekolah. Yah, gue sempet denger rumornya kalau tempat itu berhantu!" Dina menatap seram pada kedua temannya.

   "Bodoh, mana ada setan. Kali ini guru-guru yang ikut siapa aja?" tanya Carissa dengan mengeluarkan buku dari dalam tas. Dia hanya bosan, jadi mencoba untuk corat-coret saja.

    "Ada bu Donna, pak Zidan, pak Andi, bu Mella sama bu Citra."

Carissa terlihat sedikit menekan pena pada kertas buku, mendengar nama itu membuat perasaannya seakan tergores oleh duri. Bayangan tentang Zidan yang melamar pujaan hatinya cukup tergambar jelas di pikiran Carissa.

    "Lo harus bisa lupain si Zidan gobl*k itu. Pokoknya lo harus foto sama tujuan utama lo, buat Carissa bahagia. Apapun yang terjadi, jangan biarin orang lain ngehancurin kebahagiaan Carissa." Ia membatin tanpa sadar bahwa raut wajahnya menunjukan kekhawatiran.

Hari perkemahan tiba, Carissa dan dua temannya telah berada di kursi paling belakang dalam bis. Perkemahannya tidak jadi di belakang sekolah, tetapi hutan dekat dengan perbatasan kota. Dia mengantuk dan memilih untuk tidur sembari mendengarkan musik.

Di sisi lain, Cakra melihat Carissa yang sedang tertidur pun hanya bisa tersenyum. Perasaannya pada gadis itu makin lama semakin besar. Tak dapat dipungkiri bahwa dia memang sudah tertarik pada seorang Carissa.

Cakra dulu saat masih duduk di kelas satu SMA, memang sudah menganggumi Carissa. Namun, ketika hendak berbicara dengan gadis itu, selalu saja ada yang menghalanginya.

Ayara.

Dia memang teman kecil Cakra, tetapi pria itu hanya menganggapnya sebagai teman saja tidak lebih. Walaupun sering diberi perhatian lebih oleh Ayara, Cakra tetap menganggapnya begitu.

Dulu, saat SMP lumayan banyak siswi yang mengejar Cakra. Sayangnya, mereka justru dihalangi oleh Ayara dan mengaku bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil, Cakra pernah membantahnya karena dia hanya menganggap gadis itu teman.

Mereka tiba di lokasi tepat pada jam setengah lima sore. Setelah berkumpul, pembina memberikan arahan dan membubarkan mereka untuk membangun tenda.

Sanggah Carissa nampak sangat bersemangat sampai-sampai tenda mereka jadi lebih dulu.

   "Ayo kita bawa barang-barang ke dalam."

Mereka mengangguk dan mulai memasukan tas serta barang-barang yang di bawa. Malam itu, akan diadakan menjelajah. Pos telah disiapkan dan beberapa anggota bantara telah menyebar ke dalam hutan. Jalanan sudah mereka tandai dengan obor serta beberapa petunjuk.

   "Ingat, hanya ikuti jalan setapak dan obor. Jangan sampai terpisah dari sanggah."

   "Sanggah yang menyelesaikan tugasnya lebih dulu akan diberikan makan malam berupa daging ayam!"

Mereka terlihat senang apalagi Carissa. Soal makanan, dia memang tidak bisa menolak.

   "Yoshaaa! Pokoknya sanggah kita harus menang."

Malam itu bulan bersinar dengan terang, cahayanya bahkan memaksa masuk ke dalam hutan menembus celah dedaunan yang menutupi suatu area.

Carissa berjalan di belakang, matanya menatap ke sekeliling di mana banyak sekali pepohonan yang rimbun. Sesekali dia akan menengok ke belakang jika mendengar sesuatu yang mencurigakan. Kebetulan sanggah mereka berada di urutan terakhir, membuatnya kesal.

Zidan di pilih untuk mengawasi para anggota bumi perkemahan, takutnya mereka terpisah atau tersesat. Jadilah dia mengikuti secara perlahan dari belakang.

Carissa sudah merinding di belakang, saat angin berhembus dan melewati tekuknya, dia berteriak sendiri.

   "Carissa, jangan bikin kaget gitu, ih!" ucap sang ketua yang tak lain adalah Bella.

   "Huaa, tukar dong. Gue nggak mau yang paling belakang!" rengeknya.

   "Nggak bisa, lo yang minta buat berada di paling belakang. Udah terima nasib aja," ucap Dina mengejek.

Carissa berhenti dan melihat ke arah belakang, tadi dia mendengar seperti ada yang menginjak ranting kering. Saat memastikan tidak ada siapapun, dia berbalik dan tak menemukan teman-temannya.

   "Hee, ke mana mereka semua? Oy, kak Bella, tungguin!" teriaknya yang berlari ke arah depan. Suara burung hantu dan jangkrik membuat Carissa berlari keluar dari jalur.

Dia berlari menutup mata hingga tak sengaja menabrak batang pohon dan menyebabkan dahinya memar.

   "Sakit!"

Carissa langsung menyadari bahwa dirinya berada di tengah kegelapan. Matanya menatap ke arah sekitar, masih untung ada cahaya bulan yang membantunya melihat.

Bulu kuduknya meremang saat mendengar suara menangis yang terdengar sangat jauh.

   "Kalau nggak salah, gue pernah denger. Suara yang jauh itu artinya dia ... "

Sumber suaranya berada di atas pohon tempat dia berhenti. Carissa spontan melihat ke atas dan menemukan sesuatu tengah duduk sembari mengayunkan kakinya, menatap ke arah Carissa, lalu suara tangisannya berubah menjadi suara tawa yang melengking.

    "Huaaaa emaaaak, ada kuntilanaaaak!"

Carissa berlari lagi, dia tak peduli jika harus menabrak babi hutan, yang terpenting adalah dirinya selamat dari hantu itu.

   "Kuntilanak ketawa, huaaa selamatin guee!" histerisnya yang bahkan lari masuk lebih jauh ke dalam hutan.

Semua sanggah telah berkumpul di lapangan, Zidan pun melihat mereka satu persatu dan menyadari ada yang kurang.

   "Bella, kau yakin anggotamu ada dua belas?" tanyanya dan diangguki oleh Bella.

   "Aku rasa ada yang kurang dari sanggahmu, apa ya?"

Dina yang menyadari sesuatu langsung menengok ke arah belakang. Tak ada Carissa di sana, biasanya dia akan mengomel, tetapi selama di pos tadi dia hanya menjawab ketika berhitung.

   "Carissa nggak ada!"

Bersambung...

Terpopuler

Comments

AK_Wiedhiyaa16

AK_Wiedhiyaa16

Tolong dong thor Carissa jgn terlalu fokus ke cinta2an mulu, yg tadinya keren & badass malah jadi menye2 cuma krna galauin perasaannya mulu

2022-11-07

1

Katty Lestari

Katty Lestari

semngat thor up ny jngan lama" ya

2022-10-15

1

Katty Lestari

Katty Lestari

seru thor pengen lagi dong

2022-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!