Semenjak kejadian itu, Keenan pun hampir tak terlihat oleh mata Carissa, yah gadis itu bersyukur. Setidaknya sampah masyarakat tidak mengganggu penglihatannya.
Minggu sore itu, Carissa sedang bersepeda dengan earphone terpasang dikedua telinga. Lagu 'the one that got away' terputar membuatnya menikmati sore yang benar-benar cerah.
"I'll be lossing you! In another life!"
Mulutnya terus melontarkan lirik yang sendu itu, hingga netranya menatap seorang pria yang sedang asik membaca buku di taman bermain. Pria itu duduk tepat di atas ayunan, dengan kacamata bulatnya menatap setiap kata-kata di buku tersebut.
Carissa penasaran dan ingin menghampiri pria itu, tetapi terkejut kala seorang anak perempuan yang usianya diperkirakan berumur empat tahun menangis saat dirinya terjatuh karena dijahili.
Dia mengernyit saat melihat pria itu tak terganggu, padahal jarak mereka lumayan dekat. Sedikit geram, akhirnya Carissa memarkirkan sepeda didekat ayunan dan berlari menghampiri bocah itu.
"Adek nggak apa-apa?" tanyanya dengan menghapus air mata bocah itu, lututnya pun dibersihkan dari pasir.
"Huaaa ... Mereka nakal!" ucapnya sembari sesegukan.
"Udah, ya. Kalau diam, nanti kakak beliin es krim, mau nggak?"
Bocah dengan kuncir dua itu menatap Carissa dan mengangguk. Dia pun menggandeng tangan anak tersebut dan membawanya ke ayunan.
"Kamu di sini dulu, nanti kakak balik lagi."
Setelah dia mengangguk, Carissa langsung berlari menuju toko es krim. Dia beli dua dan bergegas kembali. Namun, netranya menemukan bocah itu sedang bermain dengan laki-laki yang menurutnya kutu buku itu.
Carissa ingin mendekat, tetapi takut menggnggu. Hingga akhirnya bocah itu melihatnya dan berlari ke arah dirinya.
"Hei, jangan lari-lari."
Carissa langsung memberikan dua es krim tersebut padanya dan berjalan mengikuti bocah tersebut.
"Nana, jangan terlalu banyak makan es krim. Nanti mama marah kalau kamu sakit!"
Gadis yang diketahui bernama Nana itu memanyunkan bibirnya tanda cemberut, sementara Carissa tersenyum kikuk.
"Biarin. Nana kalau dirumah nggak pernah dikasih es krim, abang juga pelit wlee!"
Dia berjalan dan bersembunyi dibalik kaki jenjang Carissa. Tak lupa menjulurkan lidah pada sang kakak, tanda bahwa dia tengah mengejek pria berkacamata itu.
"Abang cuma nggak mau Nana sakit."
"Nggak mau. Nana mau es krim, Nana mau main sama kakak ini aja!" rengeknya membuat Carissa sedikit malu, sungguh.
Pria itu akhirnya menyadari kehadiran Carissa.
"Oh, sejak kapan kamu di situ?"
Carissa langsung menundukan pandangannya kecewa.
"Jadi dari tadi dia nggak nganggep gue ada, hiks sedih!" batinnya.
"Ih, apaan abang ini. Kakak ini dari tadi di sini, bantuin Nana buat gak dinakalin lagi malah abang sibuk sama buku. Sana main aja sama buku, biar Nana main sama kakak cantik ini."
Setelah menghabiskan dua es krimnya, Nana menarik tangan Carissa untuk menjauh sang kakak. Mereka kini sedang duduk di bangku taman, menatap langit sore berwarna jingga itu.
"Nama kakak, Carissa. Itu tadi kakak Nana?"
Gadis kecil itu langsung menoleh dan tersenyum.
"Kakak tiri, namanya abang Zidan."
"O-oh ... "
Carissa nampak sedikit terkejut mendengar penuturan Nana. Di umur segitu dia sudah akur dengan saudara tirinya.
"Nana belum sekolah, ya?"
"Belum, Nana masih empat tahun. Kata papa, Nana harus banyak-banyak belajar biar nanti pintar waktu udah TK!"
Carissa hanya mengangguk, dia tidak tahu ingin mengobrol apa lagi. Tiba-tiba Zidan sudah berada di depan keduanya.
"Nana, ayo pulang. Udah mau magrib ini!"
Nana menatap kakaknya cemberut, lalu turun dari kursi dan melambai ke arah Carissa.
"Kak Carissa, besok sore ke sini lagi, ya. Kita main bareng!"
Carissa tersenyum dan mengangguk, lantas membalas lambaian tangan mungil Nana. Melihat taman sudah sangat sepi dan hari akan memasuki magrib, Carissa bergegas pulang.
Setibanya di rumah, dia disambut dengan pemandangan ayahnya tengah berbicara bersama seorang wanita.
Tak ada sepatah ucapan pun, Carissa langsung berjalan menuju kamar. Ucapan Nana terpikirkan, tentang Zidan selaku kakak tirinya.
Mata Carissa menatap sebuah foto keluarga yang terpajang di kamar, empat orang dalam satu frame. Bagaimana jika Wijaya tiba-tiba meminta untuk menikah lagi?
Carissa akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya dan akhirnya tertidur.
.
.
.
"Nala?"
"Nala, ini aku. Carissa!"
Seorang gadis cantik menatap ke seluruh penjuru ruangan yang bercat putih. Hanya ada suara, tetapi tak ada wujudnya.
"Makasih banget kamu mau masuk ke tubuh aku."
"Aku cuma punya satu kesempatan buat ketemu kamu, karena setelah ini aku nggak akan kembali lagi."
"Carissa?"
"Aku cuma mau bilang kalau lakuin apapun yang kamu mau, jangan pikirin aku. Aku juga udah capek hidup, kesalahpahaman terus terjadi dan akhirnya semua berantakan nggak sesuai sama harapan aku."
"Papa yang nikah lagi, kak Abian yang nggak peduli sama aku. Terus Dina Lala malah menjauh, aku diselingkuhi sama Keenan."
"Ha? Kok Keenan? Diceritanya perasaan diselingkuhi sama Cakra!"
Dia nampak kebingungan, akhirnya ruangan putih itu berubah menjadi padang rumput yang luas, ada juga bunga berwarna ungu tumbuh indah di sana. Seorang gadis cantik bergaun putih pendek menghampiri gadis itu.
Dia menepuk pundak Nala hingga gadis itu menengok ke belakang.
"Cerita yang kamu baca sepenuhnya nggak bener. Aku sama Cakra nggak pernah pacaran, dia gak punya keberanian buat ngajak aku pacaran, karena aku pendiam. Sebaliknya, Keenan deketin aku dengan modus baik hati dan mengkambing hitamkan Leon, saudara tirinya."
"Aku tau, kamu pasti bingung. Nala, semua yang kamu lihat belum tentu bener. Aku juga udah minta sama Tuhan buat balikin waktu, tapi harus jiwa orang lain yang ada di tubuh aku buat bikin ending yang bahagia dan Tuhan milih kamu. Aku tau kamu pasti bakalan wujudin semua yang udah kamu ucapin waktu di belakang sekolah."
"Aku harus pergi, nggak punya banyak waktu. Satu hal yang harus kamu tau, papa masih cinta sama mama. Jadi tolong sadarin papa buat nggak nikah lagi dan bilang ke kak Abian, kak Bella suka sama dia. Selamat tinggal!"
Carissa terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal-senggal. Keringat membasahi dahi serta bajunya.
Dia menatap jam yang ternyata pukul enam subuh. Hari semakin siang, Carissa sudah berada di tempatnya sembari melamun. Netranya menatap ke arah luar jendela, lebih tepatnya menatap awan yang bergerak bebas di langit.
Seseorang berteriak heboh di kodidor hingga berakhir di kelasnya.
"Woe, gila. Disekolah kita ada guru baru, masih muda juga ganteng!"
Carissa tak minat, sejujurnya dia masih memikirkan soal ucapan Carissa asli. Mengenai Cakra yang tak punya keberanian mengungkapkan perasaannya, Leon yang jadi kambing hitam serta Keenan yang ternyata sifatnya sangat buruk.
"Tunggu, Leon dikambing hitamkan dalam hal apa?" gumamnya keheranan, disaat yang bersamaan Leon memasuki kelas.
Bel masuk terdengar, hari ini untuk pertama kalinya guru killer disekolah mereka tak mengajar, dikarenakan pindah tugas. Mereka pun kedatangan guru baru, di mana dia menggunakan kacamata kotaknya sembari membawa beberapa buku memasuki kelas Carissa.
Gadis itu masih sibuk menatap awan, sementara dua temannya telah sibuk karena guru tersebut sangatlah tampan. Tubuhnya yang tinggi tegap, serta rahang yang terlihat sempurna itu, membuat gadis manapun jejeritan.
Setelah memperkenalkan diri, dia mulai untuk pelajarannya. Namun, dirinya harus mengabsen terlebih dahulu dan mengetahui nama setiap muridnya.
Tibalah di nama Carissa, tetapi gadis itu tetap tidak menoleh.
"Carissa Brawijaya?"
Lala yang kesal lantas melempar pensil ke arah kepala Carissa hingg dia mendengus kesal.
"Apasih, Lala!"
Carissa menatap Lala dengan sengit, sementara guru di depan hanya membuang napasnya, lelah.
"Itu, nama lo dipanggil. Nyaut atuh!"
Carissa lantas menyahut sembari menatap ke arah depan.
"Had-ir pak!"
Dia sedikit terkejut mengetahui siapa guru baru itu. Netra keduanya saling bertemu, tetapi guru muda itu dengan cepat memutuskan kontak mata mereka.
"******, itu bukannya Zidan? Kok, bisa jadi guru di sini?"
Carissa merutuki dirinya sendiri, ternyata pria itu adalah seorang guru muda. Sebisa mungkin, dia harus menghindari Zidan agar tidak ada yang curiga dan bertanya-tanya tentunya.
Pelajaran usai, Zidan segera keluar dari kelas membuat Carissa bernapas lega. Dia hendak ke kantin, sebelum akhirnya dia bertemu dengan Zidan kembali.
Netra ketuanya saling terpaku hingga suara seorang bocah perempuan mengacaukan semuanya.
"Kak Carissa?"
Carissa langsung menatap ke arah belakang kaki Zidan, dia terbelalak saat melihat siapa itu.
"Nana?"
"Hehe!" Gadis itu menyengir, menampakan gigi-gigi susu yang terususun rapi.
"Kok bisa di sini?" Carissa sedikit berjongkok menyamai tingginya dengan Nana.
"Ikut abang ke sini."
"Carissa, saya bisa minta tolong?" Gadis itu mendongak, wajah Zidan benar-benar sempurna.
"Eh ... Iya pak!" Carissa bangkit dan menatap guru itu. Tingginya hanya sebatas dada Zidan saja.
"Tolong jaga Nana selama jam istirahat ini, para guru akan ada rapat."
"Hee, t-tapi pak!"
"Ayo kak, Nana mau keliling sekolah."
Carissa yang tangannya ditarik pun hanya pasrah, sementara Zidan langsung kembali ke ruang guru. Di sisi lain, nampak Dina dan Lala mengintip dari balik jendela.
"Ternyata Carissa udah kenal sama pak Zidan," ucap Lala sembari memakan keripik kentang yang kebetulan dia bawa.
"Parah, dia nggak mau kenalin ke kita. Ayo ikuti dia!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
DewaSistem05
gw kayanya kalau masuk ke dalam novel jadi kaya lala
2023-03-10
0