18| Tour

Hari ini Carissa akan melakukan tour dengan teman-teman kelasnya. Kebetulan wali kelas mereka sedang tidak bisa ikut, jadilah Zidan yang menggantikannya.

Mereka sedang di dalam bis sekolah, Carissa terlihat sangat bersemangat, bahkan dia tak segan-segan meramaikan suasana bis.

   "Kalau ku pandang kelip bintang nan jauh di sana."

   "Asek!" Lala terlihat menikmati lagu yang Carissa bawakan, bahkan Dina pun berdiri dan ikut bernyanyi.

   "Sayup ku dengar melodi indah yang menggema."

   "Terasa kembali gelora jiwa mudaku." Kali ini Gama ikut-ikutan.

Zidan hanya bisa menggeleng pasrah saat melihat tingkah anak muridnya, apalagi Carissa. Leon mengambil ponsel dan merekam tingkah Dina dengan diam-diam, lihat si bucin satu ini. Bahkan wajahnya sudah semerah tomat matang ketika Dina tahu dia di rekam dan malah narsis di depan ponsel milik Leon.

Mereka akhirnya tiba di depan museum. Carissa merentangkan tangannya dan mencoba menggerakan tubuhnya.

   "Akhirnya menghirup udara museum."

Zidan pun berjalan lebih dulu dan berbicara pada pemandu. Akhirnya mereka masuk dengan syarat boleh boleh di foto benda-benda antik itu, tetapi jangan disebarkan.

Carissa terlihat sangat menikmati tour mengelilingi museum. Ketika hendak menyentuh patung berbentuk kepala manusia, Gama langsung memukul tangan gadis itu.

   "Ngadi-ngadi lo mau megang, kena denda mampu bayar lo?"

Carissa metatap kesal pada Gama sembari mengelus tangannya yang sakit.

Hingga setengah hari, mereka tiba pada sebuh patung yang yang sangat mahal harganya.

    "Ini adalah barang museum yang paling lama dan harganya juga sudah bukan milyaran."

Carissa menatap kagum, dia langsung mengambil gambarnya dan sedikit nengernyit kala di dalam foto itu wajah Zidan ikut terfoto.

   "Ck! Jelek-jelekin hasil foto gue aja," kesalnya. Walau begitu dia malas untuk menggapusnya.

Mereka keluar untuk mencari makanan di pinggir jalan.

    "Tolong jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kalian hilang bapak yang kerepotan."

Carissa menarik Dina dan Lala menuju salah satu jajanan khas daerah situ.

   "Ayo makan ini."

Setelah membeli, mereka terlihat menikmati makanan tersebut.

    "Buset, enak bener. Apa gue buka usaha jajanan khas daerah-daerah di Indonesia. Bisa kaya mendadak gue," candanya sembari tertawa dan akhirnya keselek. Gantian Dina yang tertawa, sementara Lala panik dan meminta minum.

Hampi sejam ketiganya bersama, hingga Carissa izin ke toilet. Begitu masuk dia seperti sedikit curiga. Matanya menelisik ke arah ruangan itu, menyalakan bluetooth dan ada sebuah sambungan mencurigakan di sana.

   "Udah gue duga."

Dia memasukan ponsel ke dalam saku celana. Masih ada beberapa gadis di sana dan dia bergerak menuju cermin. Begitu menyentuu cermin tersebut, Carissa spontan memukulnya membuat para gadis itu menjerit.

Ada yang shock melihat sebuah ruangan di balik cermin tersebut. Giginya bergemelatuk dan mengepalkan tangannya.

    "Astaga, ternyata ada ruangan di balik cermin itu!" heboh seorang gadis yang langsung melongos pergi.

   "Hah! Sudahlah, memang tidak boleh sembarangan memakai toilet umum."

Carissa akhirnya kembali dan mencoba menghampiri kedua temannya. Sayangnya yang dia temui hanya gelang milik Lala yang terjatuh. Dia terbelalak dan langsung berteriak memanggil keduanya.

Memang tempat di sekitar toilet sedikit sepi, hingga memungkinkan terjadinya penculikan. Oh, dia lupa kalau mereka bertiga pernah memasang GPS di ponsel masing-masing untuk berjaga-jaga kalau sesuatu seperti sekarang terjadi.

Matanya menangkap sinyal dari ponsel kedua temannya, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak jauh.

Seseorang menghampiri Carissa yang ternyata salah satu teman kelasnya.

   "Carissa, dicariin pak Zidan. Katanya kita mau lanjut tour, tapi kalian belum balik."

   "Bunga, bilang ke Leon sama yang lain kalau Dina sama Lala diculik. Pegang hape gue terus nanti kasih ke Leon, di situ ada sinyal GPS dari hape mereka berdua. Please jangan banyak tanya, gue buru-buru sekarang."

Carissa langsung berlari meninggalkan Bunga yang melongo sesaat kemudia berlari juga. Setibanya di sana, dia langsung menghampiri Leon dan memberikan ponsel milik Carissa ke pria itu. Napasnya tersenggal, membuat Leon mengernyit heran.

   "Carissa bilang, Dina sama Lala diculik. Kalian diminta buat ikutin sinyal GPS itu."

   "Terus Carissa di mana?" Kali ini Zidan yang terlihat panik.

   "Carissa lagi ke sana buat bantu mereka. Udah pak, buruan. Nanti mereka bertiga kenapa-napa lagi."

Akhirnya Leon, Gama dan Zidan berlari mengikuti sinyal GPS itu. Di sisi lain Carissa tengah berdiri di depan sebuah bangunan tua. Dia melihat tas slempangan milik Dina yang terjatuh tepat di bawah kakinya.

Ngomong-ngomong, jiwa gadis itu sudah lama tidak memukul orang. Ini adalah kesempatan bagus untuk melihat apakah teknik bela dirinya masih sama.

Carissa berjalan dengan mengendap-endap dan mengintip. Hanya ada sekitar dua orang yang menjaga di depan sebuah ruangan, dia yakin itu tempat di mana kedua temannya di sekap.

Saat salah satu dari mereka izin mau ke toilet, Carissa berlari dengan cepatnya dan sudah berdiri di belakang satu pria penjaga itu.

   "Welcome to hell *****!" Carissa mematahkan leher pria itu sampai-sampai tidak menimbulkan suara kesakitan. Setelah menyeret mayat pria botak tersebut ke tempat yang aman, Carissa mendekatkan telinganya ke pintu dan bisa mendengar suara seseorang di dalam.

    "Lumayan juga ni cewek dua. Sayangnya temen kalian yang satu itu nggak ikut keculik. Nanti malam kalian harus jadi gadis yang baik biar bisa ngasilin duit yang banyak."

   "Gue mau jual kalian ke tempat pelacur. Mubazir muka sama badan bagus-bagus begini nggak digunain buat nyari duit."

Carissa menggeram mendengar ucapan pria itu. Darahnya berdesir hebat seakan meronta meminta Carissa untuk segera menghabisi pria itu.

Seseorang dengan rambut cepat yang baru kembali dari toilet memergoki gadis itu menguping.

   "Hei, sedang apa kamu?"

Carissa langsung menengok ke belakang dan berlari menuruni anak tangga, sengaja biar waktu baku hanta tidak menimbulkan suara. Mereka berada di luar gedung, Carissa melihat titik kelemahan pria itu.

    "Oh, jadi kamu temennya cewek-cewek tadi. Mangsa di depan mata, mending ikut om kita bersenang-senang!" godanya membuat Carissa merinding hebat.

   "Cuih! Najis. Urusin, tuh muka lo yang kayak monyet ketiban pohon. Dasar otak mesum, gue sunat dua kali juga lo."

   "Kurang ajar."

Laki-laki itu langsung berlari ke arah Carissa dan mengarahkan tinju ke wajah gadis tersebut. Carissa jelas bisa membaca serangannya yang sembrono itu. Dia menghindar sedikit dan menyikut wajah pria itu hingga mengaduh kesakitan.

Tak sampai di situ, Carissa kembali menendang area selangkangannya dan menyodok perut menggunakan kakinya. Darahnya semakin berdesir membuatnya bersemangat, Carissa menghujani pria itu dengan pukulan dari berbagai arah hingga pria tersebut tak sadarkan diri.

Tangan Carissa berlumuran darah. Napasnya tersenggal, karena sudah lama tidak merasakan pertarungan yang sebenarnya. Saat akan kembali ke dalam, dia mendengar teriakan Leon dari jauh.

Carissa menoleh dan melihat tiga pria berlari menghampirinya. Di situ raut wajah Zidanlah yang paling panik dan langsung menyentuh tangan Carissa.

   "Carissa, kamu nggak apa-apa?" tanyanya, matanya melihat salah satu penculik sudah tak sadarkan diri.

   "Gue nggak apa-apa, yang terpenting sekarang Dina sama Lala, bukan gue."

Carissa menghempaskan tangan Zidan dan berlari menaiki anak tangga. Mereka pun ikut dan melihat gadis itu sudah menendang pintu dengan kasarnya. Sejujurnya mereka tidak tahu kalau Carissa sekuat ini.

Seseorang yang dengan banyak omong kosongnya berhenti lalu menoleh. Dina dan Lala terkejut melihat Carissa yang sudah berdiri dengan gagahnya di depan pintu.

   "Baj*ngan, lepasin temen-temen gue!" teriaknya kesal.

   "Wah, sekarang temannya datang untuk menyelamatkan mereka. Hebatnya lagi kamu bisa mengalahkan dua anak buahku."

Pria itu terlihat mengeluarkan pisau dan menjilati pisau tersebut dengan menjijikan.

   "Aku ingin tahu rasanya darah milik gadis pemberani sepertimu, pasti sangat enak."

Carissa menggeram kesal, tangannya pun sudah terkepal sempurna. Zidan bisa lihat bagaimana kerasnya Carissa  menahan emosinya yang hampir meluap.

    "Maju lo anj*ng, jangan kira gue takut sama lo!"

Pria itu tertawa layaknya iblis dan mengarahkan pisau pada Carissa yang untungnya gadis itu dengan cekatan menghindar lalu meninju dagu pria tersebut dari bawah.

Gama melongo melihat betapa hebat dan kuatnya gadis itu. Sungguh, jika tahu Carissa sekuat ini maka tidak akan macam-macam dia.

Carissa kembali menendang perut pria itu hingga jarak mereka lumayan jauh.

    "Hahaha, hebat juga kamu. Jarang ada gadis yang pinta berkelahi seperti kamu, tetapi kamu pikir aku akant tinggal diam setelah kamu memukulku begitu?"

Carissa mengernyit, pria itu tiba-tiba tertawa sembari berlari ke arah Dina dan hendak menusuk gadis itu dengan pisau. Carissa berlari dan menahan tangan orang tersebut sampai-sampai pisaunya mengiris sela-sela jari Carissa.

Rasa sakit dan amarah bercampur aduk menguasai tubuhnya. Carissa menatap tajam ke arah pria itu.

   "Bangs*t, jangan sakiti temen-temen gue."

Carissa mengambil kayu balok yang berada di dekat Dina dan menghantamkannya ke kepala pria itu sampai pingsan. Baju Carissa berlumuran darah, tangannya pun  mengalir darah segar akibat sayatan pisau tadi.

Carissa membuka kain yang membungkam mulut keduanya, Lala sudah menangis melihat kondisi Carissa yang kacau. Demi mereka, dia bahkan rela terluka.

Setelah talinya terlepas, mereka berpelukan. Dina menangis dengan pelan, sungguh dia belum pernah menemukan teman sebaik dan sepeduli ini.

Ketiga pria tadi menghampiri mereka. Ternyata Leon menelpon pihak kepolisian terkait penculikan ini. Beberapa saat kemudian tempat itu telah ramai dengan polisi yang datang serta teman-teman kelas mereka.

Kepala kepolisian menemui Zidan dan berterima kasih, karena telah memangkap penculik tersebut.

   "Sebenarnya sudah sekitar tiga minggu ini mereka meresahkan warga sekitar. Banyak gadis-gadis muda yang hilang saat berjalan sendiri di sekitar sini dan mereka dijual untuk dijadikan pelacur, kami dari pihak kepolisian benar-benar sangat terbantu."

Zidan menggeleng dengan cepat dan melihat salah satu polisi perempuan membalut luka gadis itu.

   "Dia yang melakukannya, pak. Dia gadis hebat, demi melindungi teman-temannya, dia rela terluka. Bapak harus berterima kasih kepadanya, saya sebagai guru merasa masih sangat kurang dan tidak berguna."

Setelah pihak kepolisian berterima kasih langsung pada Carissa, mereka kembali ke bis. Teman-temannya langsung prihatin atas kondisi gadis itu.

   "Santai aja. Gue nggak apa-apa kali, luka kecil doang!"

Dina menatap serius pada Carissa yang mencoba menyembunyikan masalahnya sendirian. Dia memukul bahu gadis itu hingga perhatiannya teralihkan.

   "Lo nggak usah sok tegar. Carissa, gue tau lo nggak sekuat kelihatannya. Please jangan numpuk masalah lo sendiri dengan cara tertawa." Dina memeluk Carissa, padahal dia sedang tidak ingin terlihat cengeng.

Carissa memang jika masalah menyangkut teman-temannya, dialah yang paling khawatir dan cepat bertindak.

    "Makasih udah mau nolongin gue sama Lala. Gue nggak tau kalau lo bukan temen kita, bakal jdi apa nantinya." Lala mengangguk tanda setuju dengan ucapan gadis itu.

    "Makasih juga udah mau jadi temen kita."

Hari itu berakhirlah dengan sesi menangis, biasa perempuan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

ria

ria

kok AQ baca mewek terus 😭😭😭😭 sedih huwaaaaaaaaa mama Ade ga kuat🤭🤭🤭🤭

2023-02-04

0

Katty Lestari

Katty Lestari

lagi dong kk

2022-10-19

1

Katty Lestari

Katty Lestari

bgus bnget cerita nya

2022-10-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!