Hari ini adalah ulang tahun yang ke tiga belas SMA Hasanudin. Carissa sendiri telah memakai baju yang nantinya dia gunakan untuk tanding bela diri.
Dina dan Lala menatap kagum pada Carissa yang ternyata sangat cocok mengenakan pakaian itu.
"Wih, cocok juga!" ujar Lala dengan sedikit merapikan bajunya.
"Semangat Carissa, lo harus buat nama sekolah kita terkenal!" timpal Dina sembari tersenyum bangga ke arah temannya.
"Sip!"
Tempat yang menjadi ajang bela diri berada di Gymnasium. Para juri dan penonton juga telah hadir. Dari sekolah Carissa ada sekitar lima peserta begitupun dengan sekolah lawan. Hadiahnya juga bukan main-main.
Jika bisa mendapatkan juara satu, maka akan dihadiahkan uang sebesar lima juta rupiah.
Carissa mendapatkan urutan paling terakhir dengan lawan seorang gadis yang menurut rumor, dia sering mengikuti lomba bela diri.
Sungguh lomba yang menghebohkan dan bersyukur dari pihak Carissa sendiri juga tidak mudah untuk dikalahkan.
Setibanya pada giliran Carissa, teman-teman sekelasnya pun menjadi tegang. Terutama Dina dan Lala, mereka nampak memasang tampang serius dengan kedua tangan terkepal bermaksud memberi semangat pada temannya.
"Carissa semangat!" Suara bariton dari bangku penonton pun terdengar, Carissa sendiri tahu siapa pemilik suara itu.
"Waduh, pawangnya udah berteriak!" ucap salah satu dari penonton. Maksud dari pawang ialah Abian.
Ketika netra keduanya saling bertemu, lawannya nampak tersenyum menyeringai. Dia sudah mencari tahu tentang anak-anak SMA Hasanudin dan Carissa adalah gadis pendiam dan paling lemah lembut.
"Kalau lawan gue dia mah sekali tendang juga menang gue!" batinnya sombong.
Di sisi lain Carissa memasang wajah serius, ketika bertanding dia tidak akan meremehkan lawannya sama sekali dan itu adalah pelajaran yang dia dapatkan dari sang guru.
Pertandingan pun dimulai, Carissa terlihat menarik napas dan membuangnya.
Lawannya pun maju dengan melayangkan tinjunya, sayangnya hal itu ditangkis dengan mudah oleh Carissa membuat pihak lawan terkejut.
Sebelumnya tidak ada yang bisa menangis pukulan itu, mengingat dia melayangkannya dengan cepat.
Carissa menahan tangannya, lantas menendang perut gadis itu hingga jarak mereka lumayan jauh. Di bangku penonton, nampak Abian sangat heboh dan mendukung penuh sang adik.
"Woaah, adik gue, tuh. Ayo Carissa, semangat!" teriaknya dengan berdiri sembari sesekali melompat.
Carissa sendiri merasa bahwa lawannya ini sangat tidak mudah untuk di taklukan. Jadilah dia akan meladeninya dengan sangat serius.
Tiba-tiba ucapan sang guru terlintas di pikirannya.
"Nala, ketika kamu berhadapan langsung dengan lawan, jangan pernah anggap mereka lemah. Ketika ingin mengakhiri pertandingan maka serang area yang mudah untuk dilumpuhkan!"
Mata Carissa memincing menatap cepat ke bagian perut si lawan. Perut juga salah satu letak kelemahan manusia. Setiap ujung bibir Carissa tertarik membentuk sebuah lengkungan.
"Terima kasih guru!" gumamnya.
Saat lawan sedang akan mengambil kosentrasi, Carissa berlari dengan sangat cepat dan menendang tepat di bagian perut hingga perempuan itu terpental mengenai meja sang juri.
Ternyata dia tak sadarkan diri atau pingsan. Carissa melongo tak percaya, semudah itu?
Padahal sebelum mereka memulai lombanya, pihak lawan sangat amat menyanjungkan dirinya. Bahkan mengatakan bahwa Carissa dan teman-temannya bukanlah tandingan mereka.
Carissa menatap ke arah teman-temannya dan menunjuk tepat pada gadis yang sedang di angkat.
"Semudah itu?" Teman-teman yang melihatnya hanya tertawa melihat wajah keheranan seorang Carissa.
Dina dan Lala lantas berlari menuju Carissa dan memeluk tubuh gadis itu.
"Woahaha, Carissa. Lo hebat banget, sekali tendang langsung pingsan!" celetuk Lala heboh.
"Hahaha, Carissa gitu loh. Kita masih ada pertandingan babak kedua di mana pihak lawan ada yang bertahan dua orang."
"Lawan lo itu udah pernah menangin bela diri tingkat nasional. Gue jadi ragu kalau dia bener-bener bisa bela diri!" imbuh Dina dengan menatap ke arah pelatih lawan. Pria paruh baya itu nampak menatap Carissa, Dina lantas mendelik ke arah pria itu dan akhirnya dia pergi.
"Mau macam-macam lo sama temen gue?" gumamnya kesal.
Seseorang berlari ke arah ketiganya dan itu adalah Bella, kakak kelas mereka. Wajahnya terpatri senyuman manis.
"Carissa selamat, ya? Kata pak kepala sekolah kamu istirahat aja, babak berikutnya biar Anton sama Damar aja yang lawan mereka."
Carissa sedikit mengernyitkan dahinya, tetapi dia mengangguk tanda bahwa meng-iyakan ucapan kakak kelasnya itu. Mereka akhirnya pergi ke ruang ganti di mana gadis itu mengganti pakaiannya.
Tiba-tiba terdengar sesuatu seperti menghantam loker besi di paling ujung. Setelah mengkancing seragamnya, Carissa berjalan dengan santai menuju loker paling ujung.
Dia melihat nomor loker yang entah milik siapa. Ini adalah ruang ganti perempuan jadi laki-laki tak mungkin masuk, tetapi rasa penasarannya lebih besar.
Carissa menarik pintu loker tersebut dan terkejut karena tidak terkunci. Begitu terbuka lebar, dia lebih terkejut menemukan seorang gadis dengan wajah tertutup kardus seperti tak sadarkan diri.
"Anjir, kenapa ada manusia di sini?" gumamnya heboh.
Dia berada di sana sendirian jadi kesulitan untuk meminta tolong. Sebelum itu, Carissa melepas kardus yang menutupi wajah gadis itu dan kembali Shock.
"F-Fay?"
Tanpa berpikir panjang, Carissa langsung saja menggendong tubuh yang ternyata bagian belakang kepalanya telah berdarah seperti terhantam benda keras.
Dia menggendong tubuh Fay di belakang punggungnya, begitu keluar dari sana, dirinya menjadi pusat perhatian.
"Astaga, itu bukannya Fay?"
"Kepalanya berdarah!"
Beberapa siswa terkejut dan penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Carissa telah tiba di depan ruang guru, tak punya waktu dia langsung mendobrak pintu hingga mengejutkan beberapa guru di sana.
"Astaga Carissa!"
"Bu, nggak ada waktu ngomel. Cepetan siapin mobil, Fay dalam masalah. Nanti Carissa jelasin detailnya, cepetan!"
Melihat bagaimana paniknya Carissa, seorang guru muda lantas menyambar kunci mobil dan berlari menuju parkiran dengan Carissa yang menggendong tubuh Fay.
Di jalan, mereka berpas-pasan dengan Cakra yang baru saja dari lapangan basket. Sejenak dia melihat keadaan tak mengenakan, lantas berlari mengejar mereka hingga ke parkiran.
"Bu Mella!" panggil Cakra hingga keduanya menoleh.
"Loh, kenapa ini bu?" tanyanya dengan melihat baju Fay telah bercampur warna darah.
"Gak ada waktu buat lo nanya. Kita buru-buru ke rumah sakit, kalo lo mau ikut, ya ayok!" timpal Carissa dengan memasukan Fay ke dalam mobil.
Cakra hanya mengangguk dan ikut masuk, dia duduk di depan bersama bu Mella, sementara Carissa sendiri memangku kepala Fay. Darah merembes ke rok abu-abu gadis itu, bahkan baju belakangnya juga telah penuh dengan warna merah.
"Bu, cepetan!"
Butuh sekitar dua puluh menit untuk tiba di rumah sakit dan akhirnya mereka tiba. Cakra keluar lebih dulu dan menggendong tubuh Fay dengan gaya bridal style. Carissa berlari dan memanggil suster, hingga mereka datang dengan ranjang pasien.
"Cepat bawa pasien!"
Mereka hanya mengikuti hingga tiba pada ruang UGD. Ketiganya di larang masuk dan hanya boleh menunggu sampai dokter yang bersangkutan keluar.
Carissa duduk sembari memikirkan kejadian ini. Siapa, siapa pelaku yang sudah membuat Fay seperti itu?
Sedendamnya Carissa pada seseorang, jelas dia tidak akan berani melukai mereka sampai begitu.
"Carissa, sekarang jelaskan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Bu Mella sendiri meminta penjelasan agar semuanya tidak merumit.
"Tadi waktu saya ganti pakaian, saya denger ada suara di loker paling ujung."
Carissa mulai menjelaskan detail kejadiannya membuat bu Mella menutup mulutnya tak percaya, sementara Cakra mengernyit heran.
"Kita harus memberitahukan masalah ini pada kepala sekolah. Kejadian dulu tidak boleh terulang lagi."
Sebelum bu Mella pergi, Carissa menahan perempuan yang berstatus lajang itu.
"Tunggu dulu bu, saya butuh penjelasan. Maksud dari kejadian dulu apa?"
Bu Mella kembali menatap Carissa, tidak mungkin gadis ini tak tahu tentang kejadian yang merengut nyawa seorang gadis kebanggaan sekolah.
"Cakra, kamu jelasin ke Carissa. Ibu harus kembali ke sekolah dan jelasin semua ini ke kepala sekolah!"
Setelah Cakra mengangguk, bu Mella bergegas pergi meninggalkan keduanya dengan Carissa yang masih penasaran.
Padahal dalam novel 'kemalangan Carissa' tidak pernah ada kejadian begini apalagi penambahan karakter seperti Keenan dan Leon tentunya.
Carissa sendiri mulai berpikir bahwa semua yang terjadi adalah kehendaknya. Jika dia melakukan tindakan yang berbeda dari isi novel, maka semuanya juga akan berubah.
Cakra kini beralih menatap Carissa, bermaksud ingin memberikan penjelasan padanya.
"Dulu waktu kita kelas sepuluh, pernah ada kejadian yang lebih tragis dari ini."
Cakra mulai mengingat bagaimana kondisi korban begitu cukup mengenaskan.
Dimulai dari awal semester, seorang gadis yang berada di kelas sebelas tengah bergelayut manja pada seorang pria.
Keduanya menjadi pusat perhatian bahkan kedekatan mereka pun menimbulkan gosip bahwa keduanya berpacaran. Faktanya adalah gadis itu hanya ingin menjadi pusat perhatian saja, tidak lebih.
Hingga suatu hari ada salah satu siswi kelas sepuluh datang lebih pagi ke sekolah mengingat hari itu adalah jadwal piketnya. Saat membuka pintu kamar mandi, dia melihat ada satu bilik yang tertutup.
Dia memincingkan mata, menatap ke arah bawa di mana genangan darah mengalir. Saat itu juga dirinya berteriak dan meminta tolong pada satpam.
Sejak kematian gadis yang katanya adalah kebanggaan sekolah karena sering memenangkan lomba olimpiade tingkat nasional, Leon pun melakukan homeschooling.
Hingga akhirnya mereka beranjak naik kelas sebelas, lelaki itu kembali datang. Mendengar penjelasan Cakra, mungkinkah Leon ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa Fay? Tetapi untuk apa?
Fay jelas tidak memiliki masalah dengan lelaki yang dicap angkuh oleh Carissa itu.
"Ini aneh!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
anca
cctv woiii
cctv
2023-01-26
1