Malam itu, Carissa pergi keluar untuk membeli es krim. Setelah dapat, dia hendak menyebrang jalan. Di rasa jalanan sepi, langsung saja berjalan tanpa melihat ke kiri dan kanan lagi. Akibatnya sebuah mobil dengan kelajuan tinggi menuju ke arahnya.
Es krim yang hendak dia masukan ke dalam mulut pun jatuh bersamaan dengan bunyi tabrakan yang kencang. Penjaga toko yang mendengar itu spontan keluar dan terkejut menyaksikan tubuh Carissa yang tak sadarkan diri dengan gelinangan darah.
Begitu dia berlari mendekat, pemilik mobil itu justru melarikan diri. Tak ingin melewatkan kesempatan, dia mengeluarkan ponsel dan memotret plat nomor mobil tersebut.
Dia segera menelepon ambulan dan tak beberapa lama datang mengangkat tubuh Carissa. Abian saat itu sedang fokus pada laptop, pasalnya ada tugas yang harus dikumpulkan besok apalagi dia sudah kelas tiga SMA.
Pintu kamar terbuka membuatnya terkejut.
"Papa, kalau mau masuk kamar Abian, ketuk pintu dulu!" Kesal rasanya kalau sedang fokus, tiba-tiba fokus kita diganggu.
"Adik kamu masuk rumah sakit."
.
.
.
Di rumah sakit Abian dan Wijaya menatap Carissa dengan pandangan khawatir. Terdapat jahitan di dahinya, karena benturan yang keras dan dahinya menghantam aspal.
Carissa tengah tertidur sekarang dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya.
Dina dan Lala yang mendapatkan kabar dari Abian terkait Carissa yang menjadi korban tabrak lari. Keduanya kini telah berada di rumah sakit dan berlarian dengan wajah panik. Begitu melihat Abian, Dina langsung bertanya terkait kondisi gadis itu.
"Kak Abian, gimana kondisi Carissa?"
Abian menatap dua gadis itu dengan sendu.
"Udah nggak apa-apa, lukanya juga udah di jahit. Kalian duduk dulu atau mau langsung liat Carissa?"
Keduanya mengangguk dan masuk. Carissa terbaring tak berdaya, mata cantik itu terpejam. Lala menangis sembari menggenggam tangan kiri gadis itu.
"Carissa, bangun dong."
Dina mengusap pelan bahu Lala, bermaksud untuk menenangkannya. Cakra tiba di rumah sakit, Dina sempat mengabarinya.
Melihat Cakra, Abian mempersilahkan pria itu masuk. Dia shock melihat kondisi Carissa sekarang, dadanya sesak.
Cakra melangkah secara perlahan, dia menyentuh tangan kanan Carissa dan hanya meremat jemari lentik itu. Dina memperhatikan gelagat Cakra yang pada akhirnya pria itu menangis, air matanya jatuh mengenai tangan gadis itu.
Dina spechless melihat Cakra si ketua osis yang terkenal jarang bergaul itu, menangis di depan Carissa?
Jari Carissa bergerak, matanya perlahan terbuka. Pandangan yang buram kini menjadi jelas. Terlihat dua temannya dan Cakra berada di sana. Pria itu mengelap air matanya dengan terburu-buru agar Carissa tak tahu.
"Agh! Kepalaku sakit." Carissa menyentuh kepalanya yang berdenyut menggunakan tangan kiri.
Lala yang kelewat panik pun langsung memanggil Abian dan Wijaya. Keduanya masuk dan mendapati Carissa tengah memegang kepalanya. Cakra lantas menekan tombol yang berada di samping ranjang pasien.
Dokter pun datang dengan satu suster. Mengecek kondisi Carissa yang sudah stabil.
"Kondisi pasien sudah stabil kembali, hanya butuh istirahat sampai tubuhnya benar-benar pulih."
Dokter permisi, sementara Cakra memilih untuk keluar dan diikuti oleh Abian.
"Cakra, gue mau ngomong sesuatu sama lo."
Cakra akhirnya berjalan mengikuti Abian yang ternyata mereka ke taman rumah sakit.
"Carissa jadi korban tabrak lari, gue minta tolong sama lo buat nyari pelakunya. Nanti kita sama-sama pergi ke tempat kejadian buat cek CCTV disekitar situ."
Keduanya tengah membahas tentang mencari pelaku yang telah membuat Carissa seperti itu. Seminggu berlalu, Carissa juga telah sehat kembali. Cakra dan Abian akhir-akhir ini terlihat sering keluar bersama membuat gadis itu penasaran.
"Akhir-akhir ini kok kak Abian sama Cakra sering keluar bareng, ya?"
Kebetulan Cakra sedang berada di kamar Abian dan entah apa yang mereka bahas. Berita tentang Carissa menjadi korban tabrak lari pun terdengar sampai penjuru sekolah dan telinga Zidan.
Carissa melangkah perlahan ke pintu kamar sang kakak dan mencoba menguping pembicaraan keduanya.
"Nggak salah lagi, kak. Pelakunya itu Keenan!"
"Lo yakin? Lagian saksi mata bilang lihat cuma sekilas."
"Plat nomor mobilnya ini mengarah ke Keenan. Lagian kak Abian juga gak taukan masalah yang nimpa Carissa?" Abian mengernyit, masalah apa?
"Carissa sempet pacaran sama Keenan dan kalu gak salah gak nyampek sebulan mereka udah putus gara-gara dia ketahuan selingkuh sama Carissa. Jadilah mereka berantem dan Carissa mutusin Keenan secara sepihak, udah pasti dia bakalan dendam apalagi putusnya secara nggak baik!" tebaknya, membuat rahang Abian mengeras.
"Kenapa masalah kayak gini nggak ngasih tau gue?" kesalnya.
"Carissa bilang nggak akan ngasih tau ke kak Abian asalkan mulut Keenan juga gak ember. Ya, gue gak tau mereka berdua punya rahasia apaan."
"Duh, mulut Cakra lemes banget. Bisa-bisa gue diintrogasi sama kak Abian!" Carissa buru-buru pergi dari sana, tetapi dia tak sengaja menabrak vas bunga hingga jatuh.
Abian bergegas membuka pintu kamar dan menemukan Carissa tengah menyengir tanpa dosa ke arahnya.
.
.
.
"Ngapain harus ngasih tau kak Abian? Toh, kak Abian lagi sibuk manjain adek barunya!" ucapny ketus, dia membuang pandangan ke arah lain.
"Carissa, dengerin kakak. Ini juga bukan kemauan kakak, tapi papa. Kakak juga nggak mau mereka masuk ke kehidupan kita!"
Carissa yang tersulut emosinya pun langsung menatap Abian dengan tajam dan sengit, sementara Cakra yang tak tahu apa-apa hanya diam memperhatikan dengan takut-takut.
"Nggak mau? Tapi belanja bareng, kan? Eh, lain di mulut lain di hati. Udahlah, nggak ada guna ngomong sama manusia yang gak pinter bohong."
"Carissa!" Abian membentak mengejutkan Cakra. Carissa bergeming di tempat, tatapan tajam itu masih dia tujukan pada sang kakak.
"Mau apa lo? Lo kira gue bakalan nangis sama bentakan lo?" Carissa menantang, Abian dan Cakra kelewat kaget mendengar penuturan gadis itu.
"Bukan gitu caranya ngomong sama yang lebih tua!" ucapnya tegas. Adiknya ini benar-benar harus diberi pelajaran.
"Jangan nganggep gue Carissa yang bakalan nurut sama semua omongan kalian. Satu hal lagi, kalau sampai papa beneran nikah sama itu manusia, gue gak segan-segan bakalan mutusin ikatan sama kalian dan buat kalian menderita."
Carissa langsung pergi dari sana dengan dada bergemuruh. Abian terduduk lemas di lantai, ucapan Carissa bukankah sudah keterlaluan?
Entah bagaimana sifat Carissa seperti bukan orang yang dia kenal, begitupun dengan Cakra. Dia berpikiran yang sama, Carissa yang ini terlihat sangat keras kepala.
Di sisi lain, gadis itu tengah menangis tersedu-sedu di taman tempat dia dan Keenan dulu membagikan roti ke anak-anak. Suara sesegukannya mengganggu seseorang, membuat orang itu berdiri tepat di depan Carissa, memberikannya dengan sapu tangan.
Carissa tak merespon dan masih menangis dengan posisi wajah dia apit dengan lututnya.
"Mau pulang!" ucapnya dengan suara yang gemetar.
"Carissa?"
Carissa menghentikan acara menangisnya, karena dia seperti mengenal pemilik suara itu. Dia lantas mendongak, lampu taman pun memberikan cahaya untuknya melihat secara jelas orang di depannya.
"P-pak Zidan?"
Carissa buru-buru menghapus air mata dan duduk dengan posisi kaki menginjak tanah. Zidan pun memilih untuk duduk di sebelahnya, lalu menatap bulan.
"Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan di tahan-tahan gitu, nggak baik!"
Carissa diam, mulutnya memang akan menyakiti orang lain kalau sedang emosi. Sungguh, dia tak bermaksud berucap seperti tadi.
Malam itu menjadi saksi bagaimana Zidan mendengar semua keluh kesah Carissa yang notebanenya lebih suka memendam masalah seorang diri. Zidan sendiri memberikan solusi pada Carissa, jika dia tidak setuju maka bisa bicarakan baik-baik dengan ayahnya.
Keesokan harinya, Carissa berniat meminta maaf pada Abian. Dia berjalan riang menuruni anak tangga menuju meja makan. Setibanya di sana, langkahnya mulai melambat dan akhirnya berhenti. Senyuman yang tadi menghiasi wajahnya pun perlahan menghilang.
Wijaya yang melihat Carissa berdiri tak jauh dari meja makan langsung memanggilnya sembari tersenyum.
"Carissa, sini sarapan bareng sama tante Feli."
Abian tengah tertawa dengan gadis yang sempat hampir memancing emosinya di kantin. Tangannya terkepal, rasa penyesalan yang tadi singgah di hatinya pun menghilang dalam sekejap. Niat hati ingin mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya justru digantikan dengan rasa amarah yang besar.
"Nggak butuh sarapan!"
Carissa langsung pergi dari sana, meninggalkan meja makan dalam keheningan. Seketika Abian merasa bersalah atas ucapannya semalam. Dia memang seorang pembohong yang bodoh, Abian akui itu.
Hati Wijaya pun semakin terluka melihat Carissa yang belum menerima Feli sebagai calon ibu tirinya. Wanita itu mengelus pelan bahu Wijaya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Abian pun pamit berangkat sekolah dengan gadis tadi menggunakan mobil, dia juga berniat untuk menjemput Carissa yang diyakini gadis itu berjalan kaki ke sekolah.
Di jalan, nampak Carissa menatap sendu pada jalanan. Sungguh, jika bukan karena peduli pada Carissa, mumgkin dia sudah memaki-maki mereka semua.
Nala bukan gadis lembut yang akan mengalah pada keadaan. Dia juga telah berjanji akan memberika ending yang bahagia bagi seorang Carissa.
Dia teringat pada beberapa part di novel tersebut, Carissa disiksa oleh Wijaya dan diasingkan satu sekolah. Sebuah mobil berhenti tepat di sebelahnya, dia juga ikut berhenti.
Kaca mobil turun dibagian belakang menunjukan wajah Abian dan gadis yang dibenci Carissa. Gadis itu terlihat senyum dan merangkul lengan Abian dengan manja.
"Carissa, ayo naik ke mobil. Kamu bisa terlambat."
Carissa bergeming, dia masih fokus pada tangan Abian yang dipeluk tanpa lelaki itu merasa risih sama sekali.
"Gak usah sok peduli!"
Carissa berjalan lagi, sang supir yaitu pak Adi merasa bahwa Carissa pasti cembur melihat Abian lebih peduli calon adik tirinya.
Pak Adi pun ikut merasakan sakit hati, melihat bagaimana perubahan drastis pada Carissa.
"Nona Carissa, ayo naik. Nanti bisa terlambat ke sekolah, pak Adi nggak mau nona dimarahi sama pak Wijaya."
Carissa menatap pak Adi, dia juga tak tega jika nantinya supir pribadi keluarga Wijaya itu dimarah.
"Carissa naik taksi, kok. Pak Adi anterin mereka aja, jangan khawatir. Carissa bakalan baik-baik aja, kalau papa marahin pak Adi, lapor ke Carissa, ya?"
Abian iri, iri pada pak Adi. Carissa berbicara lembut pada pria itu, sedangkan dirinya?
Carissa akhirnya memilih naik taksi dari pada harus satu mobil dengan perusak. Dia tidak sudi!
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
DewaSistem05
Kasihan Sebagai anak remaja yang baru puber anjay puber [ bohong kok]
saya tahu perasaan clarissa karena gw juga kesel pas bapak gw selingkuh ada mak gw
2023-03-10
0
Alinzah Syaputra
nyesek banget ya
2022-10-14
1
Katty Lestari
lagi dong thor up nya
2022-10-14
1