Bel istirahat terdengar, Carissa di panggil oleh Zidan di ruangannya. Mau tidak mau dia tetap harus datang. Setibanya di sana, Carissa dipersilahkan masuk saat mengetuk. Gadis tersebut duduk tepat di depan Zidan, tetapi mereka hanya dibatasi oleh sebuah meja.
"Ada apa, ya pak manggil saya?" Carissa mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja agar pria itu tak curiga.
"Em ... Pulang sekolah kamu bisa ke rumah saya?" Carissa mengernyit, untuk apa? "Nana kemarin ngambek sama saya karena nggak boleh main sama kamu, jadi sebagai gantinya dia minta saya untuk bawa kamu ke rumah."
Awalnya dia ingin menolak, tetapi mendengar bahwa Nana yang memintanya maka Carissa tak punya pilihan selain menerimanya.
"Baiklah."
"Pulang nanti saya tunggu kamu di parkiran."
Setelah mengangguk, Carissa permisi dari sana. Bertepatan dengan itu, Abian lewat di depan ruang guru dan bertemu dengan Carissa. Awalnya pria itu ingin menyapa sang adik, tetapi Carissa langsung membuang pandangan dan berjalan lawan arah.
Hari ini sekolah mendapatkan berita bagus terkait Fay. Dia telah sadar dari komanya dan ini adalah sebuah keajaiban. Bu Mella langsung memberikan berita itu pada Carissa dan Cakra hingga di sinilah mereka sekarang, rumah sakit.
Fay sedang makan siang berupa bubur. Setelah selesai, ketiganya di persilahkan untuk masuk. Fay menatap mereka satu persatu hingga berhenti pada Carissa.
Kejadian tentang bencana yang melandanya pun terlintas jelas di otaknya, tetapi Fay tak berteriak. Tak ada gunanya jika dia hanya berteriak seperti orang gila.
Bu Mella mendekatinya perlahan, lalu mulai menatap Fay hangat. Gadis di depannya ini dulu suka sekali membuli orang.
"Kamu udah sadar Fay, istirahat dulu."
Carissa menatap Fay, gadis yang sempat mencari masalah dengannya itu kini terlihat sangat berbeda. Mata sayu dengan tatapan kosong, menatap lurus ke arah tembok bercat putih.
.
.
.
Disebuah halaman yang luas, Carissa baru saja turun dari mobil berwarna hitam. Matanya menatap lekat pintu cokelat yang nampak mewah. Seseorang mendekati gadis itu dan mengajaknya masuk.
Begitu bersuara, seorang bocah dengan baju bermotif boneka beruang berlarian turun dari anak tangga dan menghampiri keduanya.
"Kak Carissa!" Mata itu berbinar, menatap gadis yang sudah beberapa lama ini tak pernah bermain dengannya lagi.
"Akhirnya kakak ke sini."
Carissa tersenyum dan langsung menggendong Nana. Dia berjalan menuju sofa dan duduk sembari memangku gadis manis itu.
"Maaf, ya. Kakak belakangan ini sibuk terus sama tugas, jadi nggak punya waktu main sama Nana."
"Nggak apa-apa, sekarang kakak udah di sini. Ayo Nana ajak ke kamar."
Nana langsung menarik tangan Carissa dan membawa gadis itu ke kamarnya. Begitu di buka, terlihat lumayan banyak tempelan kertas putih dengan macam-macam gambar di sana. Dia memperhatikannya satu-persatu dan tersenyum saat melihat gambaran sebuah keluarga saling bergandengan tangan.
Carissa bermain hingga menjelang magrib dan dia lupa kalau malam itu dirinya harus pulang lebih awal, mengingat bahwa ada acara kesayangan yang tak mungkin dia lewatkan di televisi.
Zidan mengantar gadis itu hingga tiba di rumah. Begitu pintu terbuka, hanya ada keheningan. Carissa berjalan masuk dan tak peduli. Begitu akan menaiki anak tangga, Carissa melihat Abian yang nampak rapi entah ke mana. Tak ingin bertanya, dia langsung berjalan melewati lelaki itu.
Abian yang hendak mengajak Carissa keluar pun mengurungkan niat, melihat bagaimana sang adik masih menunjukan tatapan kekecewaannya.
Pintu di banting, benar-benar gadis yang kasar.
Tepat jam sembilan malam, Carissa baru saja akan pergi tidur, tetapi pesan dari temannya membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
Dia membuka pesan tersebut dan melihat foto yang dikirim oleh Dina. Kebetulan dia sedang berada di mall bersama ibunya dan tak sengaja melihat Abian tengah berbelanja bersama seorang gadis.
Awalnya Dina mengira itu pacar Abian, tetapi jika dilihat lagi dia terlihat lebih muda dari Carissa.
Carissa yang melihat wajah gadis itu jelas geram, dia berada di rumahnya kemarin malam. Pasti gadis tersebut anak dari wanita yang telah merebut ayahnya. Ia yakin itu!
Marah hanya akan membawa petaka, jadi Carissa mencoba untuk bodoamat dan pergi tidur sebelum akhirnya Abian pulang membawa barang belanjaan yang dia sengaja beli untuk sang adik. Ia meletakannya tepat di depan pintu kamar Carissa dan pergi dari sana.
Keesokan harinya, Carissa telah bersiap ke sekolah. Begitu membuka pintu, dia mendapatkan beberapa tas belanjaan berada di bawah kaki. Dia hanya menatapnya dengan malas, lantas berjalan tanpa peduli sedikitpun.
Jika sedang marah, maka dia butuh waktu beberapa hari untuk menenangkan hati dan pikiran. Setibanya di sekolah, banyak sekali yang bergosip ria. Carissa sedikit mencuri-curi pendengaran, bahwa akan ada siswa baru disaat mendekati ulangan tengah semester dan dia berada di kelas satu.
Setibanya di kelas, matanya menatap Leon yang tengah tiduran. Kebiasaan pria itu adalah memakai earphone agar tidak mendengar suara berisik apapun.
Carissa meletakan tas di bangku dan wajahnya ia palingkan ke arah Leon. Rahang tegas dengan alis tebal, bibir tipis serta hidung mancung bak seluncuran itu terlihat tenang ketika tidur.
Dia memperhatikannya sampai-sampai tak sadar bahwa Leon sudah membuka mata dan menatapnya balik. Manik biru laut itu seakan terpikat dengan manik cokelat milik Carissa.
Suara gebrakan meja terdengar, itu adalah Dina dan Lala yang baru saja tiba dan memergoki keduanya saling berpandangan. Carissa langsung mengalihkan pandangannya cepat bermaksud untuk menetralnya jantungnya yang berdetak cepat akibat gebrakan tadi.
"Pasti bapaknya Leon bule." Carissa membatin dengan menatap langit pagi.
Di kantin, Carissa dan dua temannya tengah sibuk menikmati makanan mereka. Tiba-tiba bahunya tertepuk, spontan dia menengok ke samping dan itu Cakra.
"Kasih kode dong kalau mau ngagetin!" ucap Carissa dengan mengelap mulutnya dengan tisu.
"Sorry, deh."
Mereka berempat nampak berbincang diselingi dengan tawa. Hingga perbicaraan yang random itu harus terhenti kala seorang gadis dengan rambut tergerai hingga punggung memanggil nama Carissa.
"Kak Carissa!"
Merasa terpanggil, dia langsung menengok ke arah belakang. Dia langsung mengernyitkan dahi.
"Jadi dia yang pindah ke sini. Cih, jangan bilang papa ... "
Carissa langsung kembali ke posisi semula, tak ada niat untuk membalas panggilan itu dan malah menikmati makanannya.
Dina dan Lala saling melempar pandangan, tumben Carissa tak membalas atau sekedar bertanya.
"Kak Carissa marah sama mama, ya?"
Cakra melihat rahang Carissa mengeras, bahkan dia memegang sendok pun dengan erat.
"Maafin mama, ya kak. Om Wijaya juga cint-"
Braak...
Carissa terlihat memukul meja hingga membuatnya menjadi pusat perhatian. Di sana juga ada Abian yang sengaja menyuruh gadis itu menemui Carissa dan mengajaknya berbicara, siapa tahu bisa akur yang pada akhirnya malah menimbulkan masalah baru.
"Gue udah kenyang, balik duluan ke kelas. Dina, titip uang mie goreng gue, ya?"
Carissa mengeluarkan uang lima puluh ribu dari saku baju dan memberikannya pada temannya. Sebelum pergi, dia menatap gadis tadi dari atas hingga bawah membuatnya merasa tak nyaman.
"Perusak!"
Setelahnya Carissa pergi meninggalkan ribuan pertanyaan yang muncul diotak ketiganya. Apanya yang perusak dan kenapa Carissa kelihatan marah?
Telinga Carissa panas, dia kini tengah berada di toilet dan membasuh wajahnya mencoba meredam amarah yang hendak menguasainya.
"Dasar gak tau diri. Berani banget dia ngomong kayak gitu, belom juga gue tonjok mulut songongnya."
Hari ini Carissa sama sekal tak bertemu dengan Zidan, bahkan berpas-pasan pun tidak. Yah, mungkin sibuk berpacaran.
Tidak hanya Zidan, sudah beberapa hari ini Keenan bahkan tak terlihat. Carissa yakin, laki-laki modelan seperti dia pasti akan balas dendam, karena sudah dipermalukan.
Jam pulang sekolah tiba, Carissa juga menaiki taksi dan tiba di rumahnya lebih cepat. Begitu pulang, dia melihat sang ayah tengah berbicara sembari tertawa dengan perempuan yang akan menjadi ibu tirinya.
Mulutnya gatal, jadilah dia menyanyikan sebuah lagu.
"Ngan naha atuh beut dimumurah?
Geblek hirup daek jadi Runtah
Ulah bangga bisa gunta-ganti jalu
Komo jeung poho dibaju."
Lagu yang menggunakan bahasa Sunda itupun Carissa lontarkan sembari menatap wanita tersebut, untunglah mereka tidak paham hanya saja salah satu maid berasal dari Sunda jadi sedikit terkejut ketika anak majikannya itu menyanyikan lagu tersebut sembari mata menatap tajam wanita calon ibu tirinya.
Carissa langsung melongos pergi dan tak menghiraukan panggilan ayahnya. Sudah beberapa hari dia didiamkan oleh putri bungsunya dan jelas membuat hatinya sedih. Sudah bagus Carissa mau banyak bicara hingga rumah menjadi ramai, tetapi dia kembali pendiam seperti sebelumnya.
"Aaagh! Fuceeeek ... Dasar runtaaah!" teriakannya terdengar sampai luar tepat di mana Abian tengah berjalan dengan seorang gadis memasuki rumah.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Kembar Oppo
lanjut thor .....
up
up
up
up...
seru Thor
2022-10-13
2