Sore itu Carissa tengah menikmati sunset yang terlihat bersinar begitu indah dengan warna jingganya. Dia menghirup udara segar khas daerah sana.
"Perjalanan gue masih jauh, kah? Gue udah kangen banget sama kehidupan gue yang sebenarnya."
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak gadis itu. Tentu saja hal tersebut membuat Carissa menjadi panik sendiri. Pasarnya di mengucapkan kata-kata tadi bukan dari batinnya melainkan langsung terlontar dari mulut.
Seseorang itu duduk tepat di samping Carissa, dia menatap lurus ke depan. Hamparan langit jingga benar-benar mampu membuat siapapun terhipnotis dengan keindahannya.
"Car, mau coba kencan sama gue nggak?"
Pertanyaan spontan itu membuat Carissa tersedak salivanya sendiri. Dia menatap pria itu dengan wajah keheranan.
"Gue tau lo suka sama pak Zidan, tapi tenang aja Car. Gue nggak ember, kok anaknya. Gue cuma mau ngungkapin perasaan gue aja yang gue pendem selama ini."
Pria itu masih setia menatap jingganya langit sore.
"Nggak apa-apa lo nolak gue atau nggak bisa jawab. Gue cuma mau bilang, kalau ada cowo yang nyakitin lo sekalipun itu pak Zidan, gue yang maju paling depan buat ngebelain lo."
Kali ini dia menengok ke arah samping, melihat wajah terkejut Carissa sembari tersenyum.
"Setelah gue confes gini, lo jangan ngejauh, ya? Seenggaknya kita masih bisa temenan. "
Carissa langsung mengalihkan pandangannya dan menunduk. Jujur saja dia tidak ada rasa sama sekali pada Cakra, bukan tidak ada tetapi belum ada.
"Cakra, gue ... Gu-"
"Nggak usah di jawab Car. Gue udah tau, kok jawaban lo. Beruntung banget, ya pak Zidan bisa ngambil hati lo, hehe."
"Gue bisa bersaing dengan ribuan orang yang suka sama lo, tapi gue nggak bisa bersaing sama orang yang lo suka. Car, kalau lo udah nyerah buat perjuangan cintanya pak Zidan, jangan lupa liat ke belakang, ya? Gue selalu ada di sana buat liatin lo dan mastiin lo baik-baik aja."
.
.
.
Carissa termenung di dalam kamar, dia mengingat dengan jelas semua kata-kata Cakra. Bukankah Cakra terlalu tulus?
Carissa sendiri sedang berjuang buat lupain Zidan, mengingat pria itu sudah menolaknya walaupun Zidan tak mengatakannya secara langsung.
Dia menghembuskan napasnya resah. Ketukan pintu terdengar, Carissa beranjak dari kasur dan membukanya. Terlihat Abian berdiri dengan menggendong satu kresek besar snack. Dia tersenyum menatap sang adik.
"Ini kakak beliin snack buat kamu. Kamu, kan suka stock jajan di kamar."
Awalnya Carissa enggan menggambil, tetapi dia juga tak enak hati jika terus-terusan mendiami pria itu. Mau bagaimana pun Abian tak bermaksud untuk menyakiti perasaan gadis itu.
"Maafin kakak yang udah nampar dan bentak kamu waktu itu. Kamu kalau mau balas juga nggak apa-apa, kakak terima, kok. Pukul atau jadiin kakak samsak juga nggak masalah, asalkan kamu maafin kakak."
Carissa menghela dan membuang napasnya, Abian berpikir kalau gadis itu akan mengusirnya, tetapi dia salah.
"Ayo masuk, kita makan snacknya barengan. Ntar si tante girang itu ikutan."
Tante girang? Siapa? Abian bingung siapa yang Carissa maksud.
"Amelia, kak. Udah ayok!"
Di kamar terdengar Carissa dan Abian tertawa bersama, bahkan mereka seperti saudara yang tidak ada masalah apa-apa.
Keesokan harinya, Carissa berangkat sekolah bersama Abian. Amelia yang melihat kedekatan keduanya pun menjadi kesal. Sudah susah-susah dia mencari perhatian Abian, tetapi Carissa menghancurkan semuanya.
"Ih, awas aja. Gue bakalan rebut semua yang lo punya, Carissa."
Setibanya di sekolah, Carissa dan Abian berjalan bersama. Memang mereka semobil dengan Amelia, hanya saja dia duduk di depan bersama pak Adi.
Carissa pun berpisah dengan kakaknya. Dia berjalan menuju kelas dengan wajah sumringah, kemudian berubah menjadi badmood akibat Dina dan Leon yang sudah berduaan di pagi hari yang cerah nan indah ini.
"Ck! Ganggu pagi hari gue yang cerah aja ni kutu dua."
Dina hanya menyengir malu, sementara Leon wajahnya sudah memerah. Pasalnya hanya mereka berdua yang berada di kelas, lalu datanglah Carissa memergoki keduanya.
Hari ini mereka di bebaskan dari pelajaran, karena para guru akan rapat. Carissa pun mendapatkan tugas dari Zidan untuk menjaga Nana, pasalnya gadis kecil itu merengek terus-terusan ingin bertemu Carissa yang berada di sekolah.
Di kantin, Nana membuka mulutnya dan sendok berisikan mie soto masuk ke dalam mulutnya. Dia senang ketika bersama Carissa, karena minta makanan apapun akan dibelikan.
"Carissa, ternyata lo deket, ya sama pak Zidan. Bahkan adeknya sampek lengket begini," ujar Lala dengan sesekali tersenyum pada Nana.
"Gue cuma deket sama Nana doang, elah. Kalau gue deket-deket sama pak Zidan, yang ada calon bininya ngatain gue pelakor. Ogah gue!"
"Abang Zidan belom nikah, jadi kak Carisaa bisa, kok deketin!" Kali ini gantian Dina yang tersedak, terkejut dengan ucapan Nana seperti Carissa hari itu.
"Nana, kamu kecil-kecik udah ngerti gituan. Di ajarin siapa?" tanya Dina gemas pada bocah berkuncir dua itu.
"Nana sering nonton film romantis di televisi. Kalau ketahuan mama, tivinya langsung dimatiin, jadi nontonmya diam-diam hehe."
"Duh, Nana. Kamu ini masih kecil, harusnya nonton kartun aja!" Carissa mencubit pipi gadis itu gemas.
"Nana sebenarnya pengen tau ciri-ciri orang yang tulus sama abang itu kayak gimana dan semuanya ada di kak Carissa."
"Kak Carissa selalu perhatian, baik, pinter masak, jagain Nana kayak adek sendiri."
Carissa pernah beberapa kali kedapatan oleh Zidan memasak untuk Nana. Mengingat ibunya Zidan tidak ada dirumah waktu itu jadi meminta tolong pada Carissa untuk memasakan makan malam.
"Waktu Nana umur tiga tahun, Nana pernah denger abang berantem sama pacarnya di kamar. Pacarnya abang bilang kalau abang kurang ganteng sama miskin. Padahal, kan mama sama papa punya banyak uang. Terus juga bilang kalau Nana itu pengganggu, jadilah abang marah dan putus."
Nana menceritakannya dengan detail sembari menunduk. Untuk anak seumuran dia, bukankah Nana terdengar seperti orang dewasa sekarang?
Nana selalu memperhatikan sekitarnya, lebih cepat akrab dengan orang baru dan mudah bergaul. Anak dengan senyuman paling manis itu membuka mulutnya minta Carissa menyuapinya lagi.
Rapat telah usai, Zidan meminta Donna untuk menjemput Nana. Harusnya dia tahu bahwa adiknya itu akan menolaknya. Di kelas Nana bersembunyi di belakang Carissa saat Donna yang sudah kesal membentak gadis itu.
"Ibu, jangan bentak Nana. Dia masih kecil, kalau Nana nggak mau, biar saya saja yang antar."
Mereka tak menyangka, orang selembut bu Donna bisa memarahi anak sekecil Nana.
"Nggak usah ikut campur kamu. Kamu itu sengaja, kan deketin Nana buat ngambil perhatian Zidan?" tuduhnya dengan senyum remeh.
"Lah, ketahuan sifat aslinya!" ucap Lala dengan memakan snack di dalam kelas.
"Ternyata sifat baik sama lemah lembutnya itu cuma pencitraan doang?" imbuh Dina dengan berdiri tepat di sebelah Carissa.
"Ibu kira saya semurah itu sampai-sampai mau ngerebut pak Zidan? Saya yang kenal duluan sama pak Zidan sebelum beliau datang ke sini sebagai guru dan Nana juga kenal saya lebih dulu, jadi wajar kalau Nana dekat sama saya!" Carissa tak suka ada yang menyakiti anak kecil, apalagi sampai membentaknya.
"Halah, saya tau orang-orang kayak kamu. Udah banyak, tuh siswi di sini yang kecentilan mau deketin calon suami saya."
Tiba-tiba Nana maju dan berteriak.
"Jangan katain kak Carissa. Ibu nggak pantes sama abang Zidan."
Plaakk...
Seisi kelas terkejut melihat bagaimana Donna dengan kasarnya menampar pipi Nana. Mata anak itu sudah berair dan sebentar lagi menangis, Carissa langsung berjongkok untuk memeluk Nana.
"Gue laporin lo ke pak Zidan. Guru apaan yang nampar anak kecil? Kalah saing bu?" ucap Dina kesal. Donna terlihat khawatir, sudah susah-susah mengontrol emosinya, tetapi dia kelepasan sekarang.
Walaupun begitu, Donna akhirnya kembali tenang dan tersenyum remeh.
Carissa lalu berdiri setelah Nana kembali tenang, dia menatap geram pada Donna dan melayangkan tamparan pada guru muda itu hingga Zidan melihatnya. Pria itu masuk dan mendorong tubuh Carissa agar menjauh dari calon istrinya.
"Carissa, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tampar Donna?" Zidan melayangkan tatapan tajam pada Carissa yang sayangnya dibalas lebih tajam oleh gadis itu.
"Saya tidak akan mentoleransi guru yang sudah ringan tangan. Saya akan melaporkan tindakan bu Donna pada kepala sekolah karena seenaknya menampar Nana."
Donna tiba-tiba menangis membuat seisi kelas kembali terkejut. Ternyata guru itu punya sisi liciknya juga, kejadian ini membuat mereka berhenti menganggumi guru itu.
"Yaelah, pinter akting juga."
Zidan mengelus punggung Donna dengan lembut dan kembali menatap Carissa. Dia kecewa pada gadis itu.
"Carissa, saya tau kamu pasti marah sama saya karena saya lebih memilih Donna dari pada kamu."
Oke, sudah berapa kali seisi kelas dibuat terkejut?
"Kamu tidak bisa mencampurkan urusan pribadi di sekolah. Saya hanya mencintai Donna, kamu tidak berhak untuk memaksa saya menyukai kamu. Mulai sekarang saya tidak akan membiarkan Nana bermain dengan orang seperti kamu."
Tiba-tiba Nana berbalik dan meneriaki Zidan.
"Abang jahat. Abang udah nyakitin kak Carissa dan sekarang gak ngebolehin Nana main sama kak Carissa. Nana benci abang, Nana nggak mau liat abang lagi. Pokoknya Nana nggak mau ketemu abang sampai kapanpun."
Nana menangis dan berlari meninggalkan suasana kelas yang tegang. Zidan pun terkejut mendengar penuturan Nana. Anak itu membencinya? Memangnya apa yang sudah dia perbuat?
Carissa setelah melihat kepergian Nana, menatap tajam pada dua guru yang benar-benar membuatnya naik pitam.
"Seharusnya kalian berdua sebagai guru lebih profesional dalam urusan pribadi. Saya bahkan menampar calon istri anda ada alasannya dan saya sudah tidak sudi untuk sekedar menganggumi anda. Lihat, saya akan tetap melaporkan tindakan bu Donna pada kepala sekolah terkait dia yang lebih dulu melibatkan masalah pribadinya di sini. Oh, jangan lupa kalau sampai kapanpun Nana tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian berdua."
Carissa berjalan dengan kesal menuju luar kelas. Suasana menjadi Hening, Lala mendekati Dina.
"Di setiap sudut sekolah kecuali toilet, dipasang CCTV. Jadi kita bakalan pergi ke ruang pengawas untuk lihat siapa sebenarnya yang salah. Saya harap, pak Zidan tidak buta mata untuk melihat kebenarannya. Biarpun di sini banyak saksi mata yang melihat, pak Zidan tentu tidak akan mudah percaya menginta anda sudah dibutakan oleh cinta. Pak, tolong profesional dalam menjadi guru, anda justru membawa-bawa masalah pribadi anda dengan Carissa ke sini dan mempermalukan dia. Saya sebagai temannya tidak akan pernah lupa kejadian hari ini."
Lala menarik tangan Dina dan membawanya ke ruang pengawasan. Beberapa siswa di sana mulai berbisik-bisik menceritakan kejelekan bu Donna. Harusnya masalah seperti ini tak perlu dibesarkan.
Leon yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Seumur-umur baru lihat gue orang bulol sampek mempermalukan muridnya sendiri. Yah, mau gimana lagi. Kebenaran udah di depan mata, tapi seakan dia menusuk matanya sendiri biar nggak lihat kebenaran itu."
Zidan semakin tidak mengerti dengan semua ini dan menatap Donna yang masih menangis. Apa dia salah sudah mengatakan hal seperti tadi?
Apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai Carissa menampar Donna?
Bersambung...
Bener sih, orang kalau udah bulol tuh mereka kayak sengaja ngebutain matanya sendiri.
Bulol tuh bucin tolol ya :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
AK_Wiedhiyaa16
Rasanya untung2an yaa klo punya ibu & saudara tiri,
Jika beruntung mungkin bisa aja dpt yg spek ibu & saudara kandung, jika apes ya dptnya jelas yg spek medusa or nenek sihir..
2022-11-07
1
Libra3
ini kelewat polos atau bego sih,, dicari dulu dong masalahnya zidan baru nyalahin gilak😒
2022-10-28
2
Fransiska Husun
eh Thor 🤨🤨awas aj klo smpai dirimu bkn carrisa masi cinta am tu pak guru...
q ajak gelut nnt😤😤
2022-10-20
2