Suasana malam itu terlihat mencekam, di tambah dengan hilangnya Carissa. Bella sangat yakin tadi gadis itu berada di urutan belakang dan selalu menjawab ketika mereka berhitung, hanya saja dia tidak terlalu banyak bicara seperti sebelumnya.
Dina dan Lala tak bisa tidur, keduanya sangat mengkhawatirkan keadaan Carissa yang sendirian di tengah hutan. Di sisi lain, beberapa laki-laki masuk ke hutan dan berteriak memanggil Carissa, termasuk Zidan.
Ini semua karena kelalaian dia. Harusnya bisa menjaga anak muridnya dengan baik dan bukan menakuti mereka. Benar, yang menginjakan ranting kayu hingga membuat Carissa berpisah dari sanggahnya adalah Zidan sendiri. Dia penasaran dengan raut wajah takut gadis itu.
"Carissa?"
Di sisi lain, seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri di dekat jurang. Saat jatuh akibat tersandung akar pohon, kepalanya membentur bebatuan hingga membuatnya pingsan.
Seragam pramuka telah lusuh dengan tanah yang menempel pada pakaiannya.
"Carissa?"
Suara panggilan itu sudah mendekati posisi Carissa. Hingga terdengar langkah yang tergesa-gesa menghampiri tubuh itu. Seseorang tersebut mengangkat Carissa dan membawanya kembali ke bumi perkemahan.
"Carissa!" Bella adalah orang pertama yang melihat Carissa digendong.
"Pak Zidan, gimana keadaan Carissa?"
Zidan memasukan Carissa ke dalam tenda pembina.
"Saya menemukan dia pingsan di dekat jurang. Tolong ambilkan kotak P3K di dalam tas saya," pintanya pada Bella.
Donna dan pembina lainnya datang untuk melihat kondisi Carissa. Mereka sedikit terkejut saat mendapati memar di dahi gadis itu. Zidan terlihat sangat telaten membersihkan memar itu.
Ada sedikit rasa cemburu di hati Donna, mengingat mereka akan menikah beberapa bulan lagi. Namun, rasanya seperti Zidan sangat perhatian pada Carissa. Donna pun tak tahu pertemuan pertama Carissa dengan Zidan itu seperti apa dan berpikir bahwa mereka baru bertemu sebagai siswa dan guru.
Cakra dan yang lainnya telah kembali, dia langsung menerobos masuk dan duduk tepat di samping Carissa. Zidan sedikit terkejut saat Cakra menggenggam tangan gadis cantik itu.
"Carissa ... "
Zidan keluar dari tenda, bermaksud ingin memberikan info terkait Carissa pada yang lainnya.
Pagi harinya, Carissa terbangun. Dia mendengar suara keributan di luar yang ternyata para anggota bumi perkemahan sedang melakukan kegiatan senam.
Carissa pun bergegas keluar, hendak bergabung, tetapi dihentikan oleh Zidan.
"Carissa, sebaiknya kamu beristirahat."
Carissa menatap Zidan dengan mengernyitkan dahi.
"Saya mau ikut senam pak, kan gak enak masa saya nyantai-nyantai aja."
"Carissa, badan kam-"
"Cuma saya yang tau keadaan tubuh saya, jadi bapak nggak usah khawatir. Mending khawatirin bu Donna yang keliatannya nggak suka saya deket-deket sama bapak."
Zidan spontan menatap ke arah Donna yang menatap mereka dari tenda para bantara. Tidak ada senyuman di sana.
"Donna nggak mungkin cemburu sama kamu," kukuhnya membuat Carissa sedikit kesal.
"Tau apa bapak soal bu Donna? Bapak bahkan mengajar di sekolah kita belum setengah tahun."
"Kamu kenapa jadi kasar gitu sama saya?" Zidan tidak mengerti mengapa Carissa selalu terusik saat dia menyebut nama tunangannya.
"Kasar dari mananya? Saya ngomong memang begini. Bapak kalau nggak suka, ya menjauh saja. Saya juga nggak maksa bapak buat ngurusin saya."
"Carissa, kamu marah sama saya?"
Carissa langsung menatap kesal ke arah Zidan yang tak membiarkan gadis itu pergi juga.
"Cuma orang bodoh yang nggak peka, pak dan bapak salah satunya!"
Carissa langsung berjalan meninggalkan Zidan yang kini menjadi pusat perhatian, karena mereka telah selesai bersenam.
Cakra melihat raut wajah Carissa yang seperti menunjukan kekecewaan.
"Jadi, Carissa suka sama pak Zidan?" batinnya. Cakra terlihat tersenyum tipis, dia tahu bahwa cintanya hanya sepihak.
Diantara mereka, hanya Cakra seorang yang peka terhadap perasaan dan ekspresi Carissa, apalagi ucapannya. Cakra tidak dendam, toh salah dia juga yang hanya memendam perasaannya seorang diri.
Menjadi pengecut bukanlah solusi yang bagus. Cakra tidak akan menyerah pada perasaannya dan akan memikirkan cara untuk mengkapkan rasa cintanya ada Carissa.
Perkemahan telah berlalu, Abian menjemput Carissa di sekolah. Di dalam mobil, hanya ada keheningan saja, gadis itu enggan memulai pembicaraan.
Di kekediaman keluarga Zidan, pria itu sedang merenungi maksud dari ucapan Carissa. Bukan berarti dia benar-benar memikirkannya. Hanya saja, rasanya sedikit mengganjal mendengar hal seperti itu dari mulutnya.
Nana yang berjalan mendekati Zidan sembari memeluk boneka, menatap raut wajah pria itu.
"Bang Zidan lagi mikirin kak Carissa, ya?" tebaknya membuat pria itu tersentak.
"Ahahaha, nggak."
"Bohong. Kak Carissa aja sering mikirin bang Zidan. Biasanya kalau main sama Nana, kak Carissa suka nanya-nanya soal Abang."
Zidan langsung mengubah ekspresi wajahnya dan menatap Nana dengan serius yang duduk di sebelahnya.
"Nana tau kok, kalau kak Carissa suka sama Abang. Lagian kak Carissa baik orangnya, kenapa abang nggak pacaran aja?"
Zidan langsung mencubit gemas pipi Nana, hingga bocah itu mengaduh kesakitan.
"Kamu itu masih kecil tapi udah tau pacar-pacaran, di ajarin siapa?"
"Nana sering liat abang sama itu perempuan berduaan di taman. Huh, abang juga sering cium pipi perempuan itu. Abang itu cuma cocok sama kak Carissa."
Zidan tidak tahu kalau adiknya sudah sedewasa ini, bahkan dia lebih peka darinya. Namun, dia hanya menganggap Carissa sebagai adik saja. Dia sudah punya Donna sekarang dan mereka akan menikah beberapa bulan lagi.
Dia juga tak bisa mengelak kalau Carissa terkadang terlihat sebagai gadis yang dewasa. Memiliki senyum menenangkan dan berperilaku seperti seorang ibu.
Hanya saja, fakta bahwa status mereka berbeda membuatnya membuang jauh tentang pikirannya.
Di sisi lain, Carissa tengah berbaring santai di kasurnya. Menikmati hari senggang di minggu sore.
"Keenan udah masuk penjara gara-gara ketahuan melakukan pembunuhan, terus udah nyelakain gue sama Fay. Ya, biarpun cuma dua tahun dengan alasan di bawah umur. Lagian orang tuanya nggak ngurus dia apa, udah tau anaknya punya dua kepribadian ganda, masih aja dibiarin berkeliaran. Untung gue nolak pertunangannya waktu itu, bisa gila gue kalau nikah sama dia!"
Carissa mengoceh sepanjang waktu hingga malam tiba dan sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar.
"Nona Carissa, ada yang nyariin di bawah. Katanya, sih temen namanya Cakra!"
Carissa langsung membuka pintu dan berlari ke bawah. Memang benar ad Cakra yang sedang berbicara dengan ibu tirinya.
"Ada apa Cakra?" tidak menghiraukan senyuman sang ibu, Carissa memilih langsung menatap Cakra.
"Mau pergi ke pasar malam nggak?" tawarnya, kalau dipikir-pikir Carissa juga sudah tidak pernah ke sana semenjak dia sibuk berlatih bela diri.
"Boleh. Gue ambil jaket dulu sama tas!"
Sebulan yang lalu Keenan ditangkap atas kasus pembunuhan siswi SMA Hasanudin. Bukti tentangnya juga telah tersebar luas, sedangkan pelaku yang membuat Fay sampai koma pun orang yang sama.
Kebetulan ada yang melihat Keenan menyeret tubuh Fay sore itu, karena dia harus piket kelas agar besok tidak perlu membersihkan lagi. Dia shock saat melihat darah di sepanjang koridor lantai dua. Dia gemeteran sembari merekamnya. Untunglah Keenan tak menyadari hal itu dan meletakan tubuh Fay di dalam loker perempuan paling ujung.
Senyuman di wajahnya benar-benar menakutkan, siapapun pasti akan lari tunggang-langgang kalau melihatnya.
Leon yang sudah tahu kepribadian ganda milik Keenan hanya bisa diam. Pria blasteran Amerika-Indonesia itu sering mendapatkan perlakuan buruk di rumah, kala penyakit gilanya kambuh.
Itulah mengapa dia geram saat Keenan berbicara berdua dengan Carissa dan tersenyum ke arah Leon, seperti mengatakan bahwa dia mendapatkan mangsa baru. Apalagi saat tahu bahwa keduanya berpacaran, Leon selalu mencari cara untuk memisahkan keduanya yang untungnya Carissa memergoki Keenan berselingkuh hingga berujung putus.
Pukulan yang diterima Keenan juga pasti akan menimbulkan dendam dan benar saja. Keenan nekat menabrak Carissa pada malam itu dengan kecepatan tinggi yang beruntungnya gadis itu masih selamat.
Ayahnya sudah tidak mau mengurusi Keenan, frustasi itu sudah pasti dan alasan Leon sekolah di rumah, karena penyakit yang dideritanya kambuh lagi.
.
.
.
Senin pagi, adalah hari yang menjengkelkan. Selain karena ada upacara dengan kepala sekolah berceramah sepanjang waktu, mata pelajarannya juga tidak main-main.
Carissa tengah berdiri menatap matahari pagi. Dia ditugaskan sebagai pembaca undang-undang. Tibalah sesi ceramah dari kepala sekolah. Beberapa siswa sudah duduk di barisan paling belakang, sementara yang di depan mati-matian menahan panas. Keringat telah mengucur ke badan mereka dengan bebasnya.
"Duh, pak kepsek lama amat kalau ngomong!" keluh Lala sembari mengipasi wajahnya. Beruntung dia dan Dina berada di barisan tengah, jadi jika mengobrol para guru pun tidak akan lihat.
"Udah biasa inimah. Palingan bentar lagi kelar."
Upacara pun telah selesai dilaksanakan. Carissa berjalan sembari bergelandotan di tangan Dina karena merasa gerah.
"Kipasin gue dong. Muka gue bisa gosong kalau gini tiap senin!" keluhnya dengan mencoba berjalan biasa.
"Vitamin Car kalo matahari pagi," Dina membalas sembari memukul tangan Carissa yang hendak mencekik lehernya.
"Gabut banget lo sampek mau cekik gue. Gue bukan lesta dan lo bukan billiar, jangan cekik gue. Lo kalo mau kdrt anak orang, noh adek tiri lo awokawok!"
"Kalo dia mah gue pengen jadi billiar seketika setiap liat mukanya," Carissa tertawa sembari memukul pundak Lala.
"Duh, sakit tau. Jangan kdrt sama gue, ya!"
Di kelas mereka terlihat tenang karena ini pelajaran dari Zidan. Carissa pun hanya diam dan hanya menjawab ketika dipanggil namanya.
Selama pelajaran, dia benar-benar fokus walaupun sebenarnya dia memikirkan ucapannya waktu itu.
Setelah pelajaran usai, Carissa langsung memasukan buku-bukunya ke dalam tas dan mengajak dua temannya untuk pergi ke kantin. Saat akan berjalan, tiba-tiba seseorang menarik lengan bajunya. Carissa menengok dan itu adalah Leon. Terlihat jelas dia sangat canggung saat ingin mengatakan sesuatu?
"Kenapa?" tanya Carissa yang langsung membuat Leon menggelengkan kepalanya.
"G-gue bisa minta nomor lo nggak?"
Carissa dia sebentar, kemudian tertawa.
"Lo minta nomor gue kek orang mau nyatain perasaan, pake canggung segala. Sini hape lo!"
Setelah memberikan nomor ponselnya, Carissa kembalu berucap.
"Makasih, ya Leon dan maaf dulu pernah nuduh lo yang nggak-nggak. Kalau lo nggak ngasih kesaksian atas kepribadian ganda Keenan, mungkin orang itu masih berkeliaran bebas. Makasih banget pokoknya."
"Nggak masalah, lagian gue juga udah muak sama perlakuan dia di rumah. Papa pun angkat tangan dwn cuma mama yang masih berusaha biar dia dikeluarin dari penjara."
"Untung aja gue tolak lamarannya, kalau nggak gue jadi sate panggang kali, ya. Lo mau ikut ke kantin nggak?" tawarnya. Leon terlihat berpikir dan mengangguk.
Walaupun tampan dan dikagumi, jarang ada yang berteman dengannya. Bahkan Leon seperti menutupi diri dari orang-orang. Mereka tiba di kantin dan Cakra langsung bergabung. Sejak Ayara menjadi selingkuhan Keenan, Cakra memutuskan untuk tidak berteman dengan gadis itu lagi.
Mereka berlima nampak akrab, apalagi Leon dan Cakra. Padahal mereka hampir tak pernah bebicara dan bertemu, tetapi bisa seakrab itu. Yah, begatulah pria.
"Kebetulan besok ulang tahun gue, kalian semua datang, ya? Gue undng secara khusus!"
Lala dan Carissa pun saling memandang, rencana yang sudah di susun gagal total.
"Yah, gagal dong rencana kita."
"Padahal gue sama Carissa pengen ngasih surprise buat lo, malah lo ngundang kita ke acara ulang tahu. Gimana, sih!" Lala mencebikan pipinya, Dina yang gemas pun mencubitnya.
"Sorry, lo berdua tau sendiri kalau gue selalu inget hari ulang tahun gue. Pokoknya lo berdua harus datang lebih dulu, bantu-bantu mama nyiapin acaranya."
"Siip!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Katty Lestari
up lagi dong thor.. yg smngat ya
2022-10-16
0