10| Pertentangan

Carissa dan Nana kini berada di kantin bersama dua temannya yang sejak tadi tak henti-hentinya gemas pada adik bungsu Zidan.

   "Nana, abangmu itu udah punya pacar belum?" tanya Dina penasaran.

   "Belum," jawabnya dengan memasukan roti ke dalam mulutnya.

   "Kalau gitu, Nana mau nggak abangnya pacaran sama kakak?"

   "Nggak mau, kan abang udah punya kak Carissa!"

Carissa yang sedang asik menelan bakso pun tersedak bukan main. Lala dengan cepat memberikannya air dan meneguknya sampai habis.

   "Uhuk ... Nana, kalau ngomong jangan ngawur!" ucap Carissa dengan mengelap air yang jatuh mengenai seragamnya.

   "Ih, kenapa? Lagian cocok, kok."

Mulut bocah satu ini sungguh membuat orang ingin mencubitnya.

   "Udah dapet restu, tuh!" gelak Dina sembari memukul punggung Lala.

   "Duh, sakit tau. Kalau mau ketawa, sana mukul meja aja!" kesal Lala sembari menatap tajam ke arah Dina.

   "Haha, sorry."

Hari menjelang sore, Carissa sudah bilang pada Nana untuk tidak datang ke taman bermain, pasalnya dia harus mengerjakan tugas kelompok di rumah Dina. Tak ingin di antar oleh supir, Carissa memilih untuk mengendarai sepedanya, dikarenakan jarak antara rumah dia dan Dina tidak terlalu jauh, tetapi tak dekat juga.

Setibanya di sana, Dina langsung menyambut gadis itu dengan senang hati dan ternyata ada Leon. Yah, mereka satu kelompok biologi.

Minggu depan akan ada presentasi antar kelompok. Dia masuk dan segera duduk tepat di depan Leon.

   "Ayo mulai susun makalahnya. Nanti Carissa bagian moderator ... " Dina mulai menyusun tugas masing-masing hingga mereka memyelesaikannya tepat jam delapan malam.

   "Akhirnya selesai juga!" Carissa nampak meregangkan otot-otot tangan.

   "Nginep di sini aja Ris, yah?"

   "Ris?" Carissa nampak mengernyitkan dahi.

   "Iyakan, Ris ... Carissa!"

   "Nggak, deh. Gue mau pulang aja kebetulan kak Abian nitip dibeliin lem kertas."

   "Yah, tapi kapan-kapan nginep, ya sama Lala?" pinta Dina dan mendapatkan anggukan dari Carissa.

Setelah berpamitan pada orang tua Dina, Carissa pun mengkayuh sepedanya dengan sesekali melatunkan lagu. Dia sangat menyukai lagu ini sampai-sampai menjadi salah satu musik favoritnya.

Setelah selesai membeli lem kertas, Carissa hendak pulang, tetapi pandangannya justru melihat sesuatu yang menyesakan. Dadanya sesak, dia yakin itu.

Seorang pria yang baru ditemuinya minggu kemarin dan sudah berhasil mencuri hatinya kini tengah berjalan bersama seorang perempuan. Sesekali dia menepuk lembut kepala perempuan itu dan tersenyum senang.

   "Eh, kok burem?" Carissa langsung menyapu bersih apapun itu yang menghalangi pandangannya.

   "Masa, sih seorang Nala gampang banget jatuh cinta. Ahaha, gak mungkin. Udah, mending pulang!"

Carissa mulai menaiki sepeda hingga tiba di rumah. Dadanya semakin terasa sesak saat melihat bagaimana sang ayah tengah beromantis-romantisan dengan wanita yang kemarin sore ditemuinya.

Keduanya terkejut dan saling menjauhkan diri dengan canggung, sementara Carissa telah mengeraskan rahangnya.

   "Apa yang kalian lakukan?" bentaknya. Wijaya jelas terkejut dengan teriakan sang anak hingga Abian berlari keluar kamar.

   "Apa ini?"

   "Kenapa papa bawa perempuan lain?" Mata Carissa memanas dan pandangannya memburam yang berarti sebentar lagi dia akan menangis.

   "Jawab papa!"

   "Carissa, turunkan suaramu. Papa akan jelask-"

   "Apa yang mau papa jelaskan?" Carissa sudah sesegukan, tubuhnya gemetar menahan isakan yang keluar.

   "Papa tega selingkuh di belakang mama. Papa udah gak cinta sama mama!"

Lem kertas yang dia pegang pun terjatuh, Carissa berlari menaiki anak tangga dan melewati Abian begitu saja. Pintu kamar dia tutup dengan keras menimbulkan bunyi kencang hingga Wijaya sedikit tersentak.

Suara isakan itu semakin terdengar jelas, Abian tahu perasaan sang adik. Dia ingin melarang ayahnya untuk tidak menikah lagi, tetapi bukankah kebahagiaan seseorang hrus diutamakan?

Abian menatap lurus pada pintu kamar Carissa, tatapan sendu itu ikut merasakan betapa sakit hatinya sang adik kala itu.

Carissa sendiri pun duduk di tepi ranjang, mimpi tentang pemilik tubuh ini teringat kembali. Dia tidak boleh membiarkan Wijaya menikah lagi.

Entah berapa jam menangis, sebenarnya dia sendiri hampir tak pernah menangis kecuali jika berada dalam traumanya.

Matanya lelah dan akhirnya tertutup. Carissa malam itu tertidur tanpa tahu bahwa Abian dan ayahnya telah berdebat di bawah.

Pagi harinya, Carissa terbangun dengan mata yang sembab. Menatap dirinya di cermin, sungguh memalukan. Segera dia mandi dan berganti seragam. Tak ingin bertemu sang ayah, Carissa memilih untuk ke sekolah lebih awal dengan menaiki ojek.

Setibanya di sana, Carissa melihat perempuan yang semalam bersama Zidan. Ternyata itu adalah bu Donna, salah satu guru muda yang sering menjadi incaran para laki-laki di sini.

Mengingat kejadian semalam, dia tersenyum miris. Seorang Nala Greyson cemburu dan patah hati? Oh ayolah, ini adalah sesuatu yang sangat langkah, bukan?

Begitu melewati sang guru, Carissa sama sekali tak berniat menjawab sapaan wanita cantik itu. Di kelas, dua hanya menutupi wajahnya dengan tas.

.

.

.

    "Carissa kok, dari tadi diem mulu?" tanya Dina dengan sedikit berbisik pada Lala.

Saat ini mereka berada di kantin, Carissa juga tak sempat sarapan jadi perutnya sudah berbunyi sejak tadi.

   "Nggak tau, ditanya juga cuma diem. Ada masalah kali!"

Seseorang menepuk pundak Carissa dan itu adalah Cakra. Dia melihat gadis iti tak bersemangat seperti biasa jadi berinisiatif bertanya.

   "Kenapa? Tumben banget nggak semangat!"

Dia sedikit tersenyum, sejenak Carissa tertegun dan kembali ke ekspresi awal.

   "Gue nggak apa-apa, santai aja."

Carissa dengan cepat menghabiskan nasi goreng dan meneguk teh hangatnya. Dia hendak pergi, tetapi Abian lebih dulu datang dan mengajaknya untuk berbicara berdua.

Carissa mengangguk dan pamit pada teman-temannya, lantas berjalan mengikuti Abian. Mereka tiba di belakang sekolah, duduk dengan menatap lurus ke tembok.

   "Kenapa?" tanya Carissa, raut wajah Abian terlihat serius sekali.

    "Kamu pasti kaget dan kecewa sama semua perbuatan papa, apalagi setelah kamu lihat sendiri. Kakak juga nggak suka kalau papa menikah lagi, tapi ... "

   "Apa?"

Wajah Carissa kali ini telah berubah, menjadi lebih kesal dari sebelumnya. Bahkan tangannya siap menonjok Abian kalau lelaki itu menyetujui jika Wijaya menikah lagi.

 

    "Demi kebahagiaan papa, mau nggak mau kita harus men-"

Carissa telah memukul wajah Abian hingga darah keluar dari ujung bibir pria tampan bermarga Brawijaya itu. Bahkan dia sampai tersungkur ke tanah saking kuatnya pukulan Carissa.

   "Terserah apa yang mau kalian lakukan, aku nggak peduli. Kalau sampai papa nikah lagi, liat aja apa yang bakalan aku perbuat."

Dengan kecewanya Carissa meninggalkan sang kakak, langkahnya dia percepat dan siap memukul siapapun yang akan menghalangi jalannya.

Dia kini tengah berada di rooftop, beruntung Keenan sudah tidak pernah ke sana semenjak Carissa mengetahui sifat buruknya.

Suara isakan itu terdengar, bahunya gemetar dengan tangisan yang semakin menjadi. Rambutnya bergoyang kala angin meniupinya dengan lembut. Seseorang baru saja tiba di atas tangga, menatap tubuh Carissa yang menutupi wajah dengan lututnya.

Hendak berjalan maju, tetapi seorang anak kecil berlari memanggil dirinya. Jadilah dia menghentikan niat tersebut dan melangkah turun.

Malam harinya, Carissa baru saja pulang. Begitu pintu rumah terbuka, dia melihat sekiranya ada empat orang tengah berbincang diselingi tawa sesekali.

Dadanya sesak, dia langsung melempar pandangan ke arah lain kala Abian hendak berdiri menyapa sang adik.

Carissa berjalan tanpa menegur, bibirnya terlalu malas untuk sekedar mengajak mereka adu bacot. Dia menaiki anak tangga dengan bunyi yang begitu keras, membuat Abian kembali sedih.

Gadis itu menutup pintu dengan kencang, lantas melempar tas ke sembarang arah. Matanya memanas lagi, sakit hatinya datang bertubi-tubi. Dia berada di posisi Carissa, jelaslah dirinya merasa sangat sakit hati. 

Nala adalah gadis yang mudah bawa perasaan, jadi mengapa dia bisa merasakan hal yang orang lain rasa. Dia meremat seragamnya sembari memukul tembok dengan tangannya sendiri hingga menimbulkan memar.

Keesokan harinya, Carissa berangkat lebih awal lagi. Matanya sembab akibat menangis semalaman. Setibanya di kelas, Carissa langsung meletakan tas dan berlari menuju toilet. Dia mencuci wajahnya dan berharap mata sembabnya tidak terlalu kelihatan.

Setelahnya, dia keluar dengan jalan santai saja. Beberapa siswa mulai berdatangan, termasuk juga dengan para guru. Carissa duduk tepat pada taman belakang, menikmati semilir angin pagi yang menerpa wajahnya.

   "Pasti capek banget jadi Carissa yang pendiem, segala masalah dipendem seorang diri. Nggak peduli dia tersakiti yang penting orang lain bahagia. Sayangnya peran kayak gitu nggak cocok sama gue yang keras kepala."

   "Carissa bilang terserah gue mau kayak gimana, dia juga nggak bakalan balik lagi ke tubuh ini."

Bel masuk terdengar, Carissa buru-buru kembali ke kelas. Saking terburu-burunya, dia sampai menabrak bu Donna yang kebetulan akan mengajar di kelasnya.

   "Maafkan saya, bu!"

Carissa dengan cekatan mengumpulkan buku-buku yang bu Donna bawa, disaat yang bersamaan Zidan datang dengan wajah khawatir. Menghampiri keduanya dan memegang pundak wanita itu tepat di depan Carissa.

   "Kamu nggak apa-apa?"

Hati Carissa mencelos melihat pemandangan di depannya. Detik berikutnya dia bangkit dan tersenyum.

   "Kalau begitu saya permisi, maaf mengganggu waktu romantisnya!"

Carissa bergegas ke kelasnya, sementara Zidan sedikit terkejut mendengar ucapan gadis itu. Di kelas, dia terlihat murung sampai-sampai Dina dan Lala merasa ada yang Carissa sembunyikan.

   "Din, Carissa akhir-akhir jadi pendiem, ya?" Lala menatap temannya itu dengan sendu. Dia tak mau jika gadis itu kembali diam seperti dulu.

   "Iya, gue gak tau dia punya masalah apa sampai-sampai kayak gini."

Bu Donna masuk dan segera memberikan mereka pelajaran. Selama itu, Carissa tak fokus dan terus memikirkan masalahnya sendiri.

   "Bu Donna cantik, makannya Zid- eh, pak Zidan suka. Lah, gue ... Bocah bau kencur masih SMA kelas dua, mana mau dia!" batinnya sembari menatap lembaran buku yang kosong.

   "Astaga, gue harus kuat. Masa seorang Nala terus-terusan dilanda sedih, sih? Lagian laki-laki di dunia ini banyak, bukan pak Zidan doang."

   "Nggak! Hati gue gak bisa bohong, gue emang udah jatuh cinta sama itu manusia. Baru kali ini gue suka sama orang pandangan pertama."

   "Jangan! Lo gak berhak Nala. Inget, pak Zidan cuma nganggep lo sebagai anak muridnya. Ngadi-ngadi banget lo mau jadi pacarnya."

   "Gobl*k! Lagian pak Zidan belum tentu pacaran sama bu Donna. Kali aja sepupuan, kan gak ada yang tempe, eh tahu!" 

Carissa akhirnya bergelud dengan hati serta pikirannya. Memuakan!

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Katty Lestari

Katty Lestari

berasa pengen nangis klok udah liat ortu nikah laki.. soal'ny aku juga pernah gtu.. wktu orangtua q yg laki bwak calon ibu baru.. tpi mau gimana laki soal'nya belum tentu anak" ny bisa ngurus jadi ya terima aja klok mau nikah lagi

2022-10-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!