04| Trauma

Carissa kini tengah berada di tengah-tengah aula, di mana kepala sekolah tengah memberikan arahan terkait ulang tahun sekolah.

    "Ada sedikit informasi yang perlu bapak sampaikan."

Semuanya terdiam, Carissa masih diam dengan raut wajah kesal. Tempat yang dia duduki berada tepat di depan Keenan, otomatis pria itu mengganggunya dengan cara menendang-nendang kaki kursi.

   "Manusia satu ini ... Gue gak bisa duduk dengan tenang!" batinnya geram.

   "Akan ada perubahan dalam lomba kali ini. Kami akan mengundang sekolah tetangga untuk melakukan pertandingan, tentu akan ada hadiah besar yang menanti."

   "Untuk mata lomba yang diselenggarakan, berupa ... Basket, voli, tarik tambang dan terakhir adalah bela diri."

Mendengar kata beladiri, darah Carissa berdesir hebat. Ini adalah lomba yang dia nanti-nanti selama ini.

Seseorang tiba-tiba mengangkat tangannya bermaksud untuk bertanya.

   "Kepala sekolah, bolehkah saya bertanya?"

Itu adalah Cakra, Carissa sendiri masih sibuk dengan lomba bela diri yang pastinya dia akan mengikuti lomba tersebut bagaimana pun caranya.

   "Silahkan!"

   "Untuk lomba bela diri. Apakah pesertanya tidak masalah jika perempuan juga kita tidak tahu siapa yang bisa bela diri."

Cakra menatap ke belakang, lebih tepatnya memperhatikan para siswa.

   "Seperti yang kita tahu kalau sekolah tetangga sering memenangkan lomba bela diri tingkat nasional, bahkan selalu menjadi pemegang juara pertama. Jadi, apakah bapak yakin mau mengadakan lomba ini?"

Kepala sekolah menatap beberapa guru yang ada di sana, lantas menganggukan kepalanya.

   "Apakah di sini ada yang mau mewakili sekolah kita untuk mengikuti lomba bela diri?" tanya sang kepala sekolah kepada para siswanya.

Carissa yang sudah tak sabar langsung berdiri dan mengangkat tangannya.

   "Saya akan mewakili sekolah ini!" ucapnya lantang.

Semua yang berada di aula pun tercengang mendengar ucapannya. Terlebih banyak yang langsung meragukan tekad gadis itu.

    "Carissa, ya?"

Carissa sadar bahwa orang-orang jelas meremehkannya. Dia hanya menyungging dan masih tetap berdiri di tempat.

   "Saya tahu kalian pasti meragukan saya, bagaimana kalau salah satu dari kalian menguji kemampuan saya?" tantangnya dan langsung mengundang rasa keterkejutan untuk yang kesekian kalinya. Yah, Nala memang suka membuat orang lain terkejut di waktu yang berdekatan.

Seorang gadis yang memang memiliki dendam pada Carissa pun mengajukan diri. Walaupun dia tahu gadis itu adalah adik dari orang yang dia suka.

   "Saya yang akan mengujinya!"

Abian hanya bisa mengusap wajahnya kesal, tak habis pikir dengan sikap adiknya. Dihentikan juga pasti akan percuma.

Carissa tersenyum, senyuman yang hanya bisa diartikan oleh Cakra. Dia berjalan maju bersamaan dengan Fay hingga keduanya berdiri saling berhadapan.

Cakra tahu ini tidak baik dan mencoba untuk menghentikannya, sayangnya seorang gadis yang dari awal tertarik dengan Carissa justru mencegahnya.

   "Jangan ikut campur Cakra. Lo tahu sendiri percuma menghentikan Fay yang jelas-jelas memiliki dendam ke Carissa."

Carissa menatap Fay dengan sedikit seringaian, ini adalah kesempatan emas baginya untuk membalaskan rasa sakit akibat jambakannya waktu itu.

   "Gue beruntung karena nenek lampir ini yang maju, jadi rasa semangat gue pun semakin membara. Ayo balaskan dendam lo Carissa!"

Carissa langsung mengambil kuda-kuda yang sempurna, membuat mereka kembali tercengang.

   "Majulah, saya akan meladeni anda nenek lampir!"

Fay yang terpancing langsung mengambil langkah dan melayangkan tinjunya ke arah Carissa, sayangnya gerakan itu mudah sekali dibaca.

Carissa lantas menahan tangannya dan melumpuhkan Fay, tak ingin membuang kesempatan langsung saja menendang betis kakak kelasnya itu hingga berteriak kesakitan.

   "Cukup!"

Carissa langsung melepas pegangannya pada Fay hingga dia jatuh tersungkur ke depan.

   "Dengan ini sudah cukup membuktikan bahwa Carissa mampu mewakili sekolah kita. Jika ada yang membantah, maka katakan saja, kalian bisa melawan Carissa!" ucap kepala sekolah mutlak.

Carissa berjalan kembali ke tempat duduknya, saat itu juga timbul banyak pertanyaan pada kepala masing-masing orang. Carissa Brawijaya yang dikenal sebagai gadis pendiam, bisa bela diri?

Bahkan Abian selaku kakak kandungnya pun tak mengetahui hal ini. Dia berniat menanyakan semuanya saat mereka sudah berada di rumah.

Di rumah, Abian tengah duduk di sofa menunggu kehadiran adiknya yang katanya mau ke mall bersama dua temannya. Tepat jam lima sore, Carissa masuk dengan membawa belanjaannya.

Melihat itu, Abian sontak berdiri dan menghampiri sang adik yang masih mengenakan pakaian seragam.

   "Bagus, baru pulang. Duduk sini, kakak mau nanya sesuatu!"

Carissa hanya mengangguk dan mengikuti langkah Abian. Suasana seketika menegang, dia sendiri tidak tahu kenapa.

   "Nanya apa?" tanyanya dengan mengambil satu snack dari dalam kantung kresek yang sempat dia beli.

   "Belajar bela diri di mana?"

Saat akan memasukan satu potongan keripik di dalam mulutnya, Carissa tak sengaja menjatuhkannya ke sofa, sementara Abian mengernyit butuh penjelasan.

   "Itu ... Carissa belajar sendiri, lah di kamar." Bohong banget.

   "Kamu nggak berbohong, kan?" Sejujurnya Abian masih curiga atas sikap sang adik.

   "Buat apa bohong? Toh nggak ada gunanya. Sudah, ya Carissa mau mandi!"

Dia segera beranjak dari sana untuk mandi. Meladeni Abian sama saja membongkar identitasnya secara perlahan.

Di sisi lain, seorang pria dengan kaos ketat yang melekat sempurna di badan atletisnya tengah menatap menyeringai ke arah layar laptop.

   "Carissa Brawijaya? Gadis yang menarik!"

Seseorang mendekat dan memberikan informasi terkait gadis yang dia inginkan.

    "Menurut informasi yang kami dapat, dia anak bungsu dari keluarga Brawijaya. Ibunya sudah meninggal sebelum Carissa masuk SMP dan memiliki satu kakak laki-laki bernama Abian. Baru-baru ini dia mendapatkan tuduhan palsu terkait perselingkuhan yang ternyata adalah kakaknya sendiri dan penyebar rumor itu adalah Fay dari keluarga Aditama yang ayahnya bekerja langsung di bawah perusahaan tuan besar!"

   "Hm, menarik. Tolong atur kerja sama dengan tuan Brawijaya."

   "Baik."

.

.

.

Apa yang paling membuat seorang Nala Greyson ketakutan?

Jawabannya adalah kegelapan!

Dulu, saat dia berumur sekitar tiga tahun, Nala pernah menjadi korban penculikan dan dikurung dalam gudang yang bahkan cahaya bulan dan matahari pun sulit untuk masuk.

Ayah Nala sendiri bahkan sampai mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari anak semata wayangnya itu.

Dikurung selama kurang lebih dua minggu membuatnya trauma akan kegelapan. Imajinasi di umur segitu memang sangat kuat, Nala selalu berpikir akan ada monster yang menarik kakinya jika berada terlalu lama di kegelapan.

Hal yang dia benci adalah Hujan!

Hujan pernah menimbulkan luka besar pada keluarganya. Dulu saat sang ibu mengandung adiknya, wanita itu berjalan seorang diri ditengah hujan, tetapi berlindung di balik payung.

Kebetulan saat itu suaminya sedang ada tugas di luar kota sedangkan Nala kerja kelompok di rumah Amira. Jadilah dia pergi sendiri ke toserba untuk membeli beberapa cemilan yang selalu di stoknya.

Bukannya tidak mau menggunakan mobil, hanya saja berjalan kaki bagus untuk ibu hamil. Namun, kejadian tak terduga harus terjadi.

Saat ibu Nala hendak menyebrang tepat hujan yang semakin deras disertai kilat, sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan penuh dan menabrak tubuh ibu hamil itu.

Nala yang saat itu hendak meminum cokelat hangat buatan ibu Amira pun terkejut saat tangannya tak sengaja menyentuh gelas yang masih panas.

Di saat yang bersamaan pula, dia mendapatkan telepon dari sang ayah dan memintanya untuk ke rumah sakit. Tubuh Nala menegang saat tahu bahwa sang ibu berada di sana dengan kondisi adiknya yang sudah tak terselamatkan.

Sejak hari itu Nala membeci Hujan dan takut pada Kegelapan.

Di sini dia sekarang, berada di tubuh gadis introvert yang bahkan kepribadiannya saja sulit untuk ditebak oleh keluarganya.

Terdengar hembusan napas dari bibir Nala, matanya menatap air yang terus-terusan menetes hingga menjadi deras.

   "Ck! Hujan."

Malam ini hujan turun dengan sangat derasnya. Ketika hendak menarik selimut, tiba-tiba mati lampu. Kebetulan di rumah hanya ada Carissa seorang. Tadi Abian pamit mau main game di rumah temannya, sementara maid izin pulang dan ayahnya sendiri belum pulanh dari kerjaannya.

Jantung Carissa berpacu dua kali lebih cepat, rasanya napasnya jadi pendek. Kejadian tentang dia diculik pun terbayang di benaknya.

Tubuhnya menegang saat samar-samar dia mendengar suara ketukan di bawah, matanya berair dengan raut wajah menunjukan ketakutan.

Bulan malam ini bersembunyi dibalik gelapnya awan malam, seakan enggan memberikan penerangan pada gadis yang terlihat kuat di luar tetapi rapuh dari dalam.

Suara isakan terdengar beberapa kali, Hujan dan mati lampu. Carissa berteriak histeris saat suara guntur terdengar begitu keras. Dia berlari dan meringkuk di pojok kamar, tak lupa kedua tangan menutup telinganya dengan isakan-isakan uang terdengar semakin sering.

   "Ibu!"

Nala rindu ibunya. Di saat seperti ini, ibunya akan berlari ke kamarnya dan memeluk sembari menenangkannya.

Namun sekarang? Tidak ada yang tahu bagaimana takutnya dia sekarang. Matanya terpejam, ada sekitar lima panggilan tak terjawab dari Abian.

Dia ternyata telah pulang dan mendapati rumah yang gelap gulita. Biasanya jika mati lampu, Carissa akan langsung menyalakan lilin tanpa di suruh, tetapi kali ini berbeda.

Abian melangkah menuju kamar Carissa, mengetuk beberapa kali dan terdengar hanya suara isakan. Khawatir, dia lantas mendobrak pintu dan hanya melihat kegelapan. Mengambil ponselnya dan mengarahkan pada pojokan kamar.

Dia terkejut melihat pemandangan sang adik yang meringkuk ketakutan. Langsung saja Abian berlari dan memeluk Carissa, bermaksud ingin menenangkan sang adik.

   "Carissa, kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan mengelus lembut rambut sang adik.

   "K-kak Abian?"

Carissa mendongak perlahan, walaupun gelap, tetapi dia tahu kalau Abian tengah tersenyum lembut ke arahnya.

Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana Abian mengetahui bahwa sang adik memiliki ketakutan pada kegelapan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

AK_Wiedhiyaa16

AK_Wiedhiyaa16

Mungkinkah ini jodoh Cariss aka Nala?
Gw berharap jodoh Nala bukan pria2 yg masih sekolah sama sepertinya, lebih jelasnya yg tulus & bisa melindungi Carissa

2022-11-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!