16| Dina

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Carissa dan Lala telah berada di rumah Dina. Mereka bersama membuat kue untuk tamu undangan mengemil. Ternyata Dina mengajak Leon dan Cakra juga saat kedua temannya itu pergi memesan makanan kemarin.

Dapur terlihat berantakan dengan kue yang selesai mereka buat. Ibunya Dina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa antusiasnya mereka menyambut acara ulang tahun anak semata wayangnya.

Tak masalah dapur berantakan, asal mereka bersenang-senang. Inilah yang Dia syukuri, memiliki orang tua yang sangat mengerti dirinya dan teman-temannya.

   "Hehe, maaf tante jadi berantakan dapurnya!" ucap Carissa tersenyum canggung.

   "Nggak apa-apa. Muka kalian cemong semua sama tepung. Habis ini cuci muka, tante udah pesenin kalian pizza sama burger. Pasti kalian lapar!"

   "Asik, makan!" Lala dan Carissa terlihat paling bersemangat. Sebenarnya perempuan mana yang akan menolak makanan apalagi gratis?

Di sinilah mereka sekarang, menikmati burger dan pizza sembari ditemani oleh film horor.

   "Dina, acaranya mulai jam delapan, kan habis isya?" tanya Carissa dan diangguki oleh gadis itu.

   "Kalau gitu gue balik duluan, deh. Harus mandi juga, gue dateng ke sini jam 7."

Begitu beranjak, terlihat Leon juga berdiri bersamaan dengan Cakra.

   "Carissa, balik sama gue, ya? Ada yang mau gue omongin!"

Spontan Dina dan Lala menatap ke arah Cakra yang hanya bisa tersenyum. Padahal sebelumnya dia sudah berniat akan mengantarkan sang pujaan hati pulang.

   "Oke. Balik duluan, ya?"

Di dalam mobil, Leon membuka topik pembicaraan.

   "Gue mau nanya, kira-kira Dina sukanya dikasih kado apa?"

   "Dia mah, lo kasih batu juga seneng. Bercanda, Dina suka banget kalau ada yang ngasih dia peralatan melukis. Kebetulan dia pinter ngelukis dan udah banyak lukisan yang dia gantung di kamarnya. Ada satu yang digantung di ruang tamu."

   "Gitu, ya? Temenin gue beliin buat dia, ya?"

Carissa langsung menengok ke arah Leon. Dia mencipitkan mata mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan.

   "Lo suka sama dia?"

Seketika itu wajah Leon memerah menahan malu. Apakah dia mudah ditebak ketika menyukai seseorang?

   "Beneran lo suka sama dia? Widih, akhirnya si Dina laku juga. Tenang, gue bakalan bantuin lo buat dapetin temen terbaik gue, tapi lo harus janji jangan buat dia nangis. Kalau sampai dia nangis, muka lo gue jadiin samsak!" ucapnya sembari menunjukan kepalannya.

   "Tenang aja, gue nggak pernah nyakitin cewek, kok. Soalnya nggak pernah pacaran."

Carissa melongo bego, serius seorang Leon yang tampannya bak pangeran negeri dongeng ini belum pernah berpacaran?

   "Bohong, ya lo?"

   "Serius. Gue biasanya bakalan pendekatan dulu dan kalau ngerasa nggak cocok, ya gue hilang kabar."

   "Dih, kang gantung. Awas lo kalo gantung temen gue, gue banting-banting lo kek Billiar bantin Lesta."

   "Nggak, aelah. Kalau pun iya, gue siap, kok lo pukul sampai bonyok."

   "Bener, ye."

Malam harinya, Carissa menggunakan dress selutut berwarna putih. Katanya Dina, dia ingin kedua temannya menggunakan dress putih. Sudah bersiap, Carissa hendak turun dan melihat empat orang sedang asik duduk bersama.

Begitu melewati mereka, Wijaya langsung bertanya pada sang anak.

   "Carissa, mau ke mana dengan pakaian begitu?"

Carissa berhenti dan menatap mereka, tanpa ada senyumab sedikit pun.

   "Mau ke acara ulang tahun dong. Udah, ya keluarga cemara jangan nanya-nanya gue kalau baliknya lama. Gue juga mau nginep di rumah Dina jadi gosah nunggu gue. Bye-bye!"

Carissa langsung melongos pergi dan meminta pak Adi mengantarkannya ke rumah Dina. Lagi-lagi Wijaya merasa anaknya itu sudah berubah sekali. Dia menjadi lebih tidak pedulian dan membatasi diri dari keluarga barunya. Wijaya tahu dia salah, tetapi menceraikan Feli juga bukan ide yang bagus.

Abian menatap sendu kepergian Carissa. Biasanya gadis itu akan menjahili dirinya atau sekedar menyapanya, sekarang sudah tidak. Dia merasa bahwa Amelia sangat berbeda dengan Carissa.

Gadis itu selalu meminta Abian membelikannya dengan macam-macam barang. Bahkan tak segan minta ke Wijaya, berbeda dengan Carissa yang sampai sekarang tak pernah meminta apapun selain kasih sayang keluarganya dan sekarang mereka bahkan membuat gadis itu tak memiliki tempat di rumah ini.

Padahal dulu dia sudah janji pada ibunya untuk menjaga Carissa apapun yang terjadi dan menjaga nama baik keluarga Wijaya. Utamakan kebahagiaan keduanya dibandingkan orang lain.

Abian seketika beranjak dari sana dan pergi menuju rumah temannya tanpa pamit. Wijaya pun melihat perubahan pada Abian.

Sebelum pergi, Abian sempat mengucapkan beberapa kata.

   "Papa jangan lupa sama janji papa sama mama."

.

.

.

Acara ulang tahun Dina begitu meriah. Leon dengan ragu ingin memberikan Dina kado, tetapi takut jika gadis itu menolak. Carissa langsung mendorong Leon agar lebih dekat lagi dan benar kini keduanya saling berhadapan canggung.

   "Ngomong aja elah, jangan sia-siain waktu gue tadi sore buat bantu nyariin kado!" ucap Carissa lantang.

Cakra yang mendengar itu akhirnya paham. Bahwa Leon mengajak Carissa pulang bersama adalah untuk mencari kado buat Dina. Awalnya dia mengira kalau pria itu akan melakukan pendekatan dengan Carissa.

   "Eum ... I-ini kado dari gue. Se-semoga lo suka!" Leon menyerahkan kado yang berisi alat lukis paling mahal untuk Dina. Gadis itu tentu menerimanya dengan senang hati, dia tersenyum sangat manis dan berterima kasih.

   "Terima kasih atas kadonya!"

Blusshh...

Pipi Leon memerah gemas, Carissa cekikikan melihat pria itu yang sudah salah tingkah. Lala mendekati Dina dengan makanan yang penuh di dalam mulutnya.

   "Astaga temen gue yang satu ini, pipinya udah kek hamaster."

Lala menelan makanannya dan meneguk minumnya sebelum akhirnya bertanya.

   "Dina kayaknya demen sama Leon, liat dia malu-malu kucing."

   "Iyakah? Wah, mereka cocok, tuh saling suka."

Mereka akhirnya sibuk dengan kesibukan masing-masing, Lala masih asik menikmati makanannya di dekat kolam renang. Seseorang mendekati Lala dan duduk tepat di depannya.

 

   "Sendirian aja?"

Lala langsung menengok, setelah meneguk kuenya, dia menjawab.

   "Kalo ada temen namanya berame-rame, lah bang!" candanya, pria itu hanya tersenyum. Dia lantas mengusap krim yang ada di sudut bibir Lala dan memasukan krim itu ke dalam mulutnya.

Lala langsung terpaku di tempat melihat pria itu yang tiba-tiba memperlakukannya seperti gadis paling beruntung di dunia.

Tiba-tiba seseorang memukul pundak pria itu dari belakang yang ternyata adalah Dina.

   "Ceileh, lo udah pdkt aja sama temen gue!"

Lala wajahnya sudah memerah di sana, sementara Carissa tertawa terbahak-bahak.

   "Ish, ganggu aja lo. Sana, gue masih mau pendekatan dulu!"

   "Yaelah, awas ditikung orang lain. Lala juga banyak yang demen di sekolah, apalagi kalian berdua beda sekolah."

   "Iye, makanya pergi sana jangan ganggu gue."

   "Lala, kita tinggal dulu, ya? Semangat pdktnya."

Mereka berempat pun pergi meninggalkan kecanggungan yang ada.

   "Pasti lo bingung kenapa gue seakrab itu sama dia. Dina itu sepupu gue, kita biasanya sering keluar bareng."

   "O-oh ... U-umur berapa?" setidaknya Lala harus tahu dia lebih tua atau bagaimana.

   "Kita seumuran, kok. Panggil aja Gibran."

   "Eum, okay."

   "Mau jalan-jalan keluar nggak?" ajaknya dan hanya diangguki oleh Lala.

Akhirnya keduanya pun keluar, membuat Dina dan Carissa hanya bisa menggelengkan kepala. Acara ulang tahun telah selesai, sementara Lala dan Carissa menginap di rumah Dina.

    "Cieee yang udah pada punya pawang!" ejek Carissa sembari memakan kue sisa acara tadi.

   "Gue gak nyangka kalau Leon ternyata suka sama gue!"

   "Eh, iya. Gue aja agak shock pas tau dia suka sama lo. Awalnya gue cuma iseng tebak aja, sih terus dia ngaku waktu di dalam mobil."

   "Carissa, lo juga nyusul kita, dong. Ntar kita triple date."

Ucapan Lala mendapatkan anggukan setuju dari Dina, sementara gadis itu hanya tersenyum lembut.

   "Nunggu sakit hati gue sembuh dulu," balasnya sembari menatap kue di tangannya sendu.

   "Jadi lo lagi suka sama orang? Siapa orangnya?" Lala terlihat sangat antusias.

Carissa akhirnya mulai menceritakan awal mula dia bertemu dengan Zidan dan berakhir dengan menyukai secara sepihak.

    "Sabar, ya. Ternyata itu alasannya lo sering bilang kalau mau ngasuh anak. Gue kira lo cuma bercanda, iyasih kata-katanya bercanda."

    "Gue gak mau terus-terusan dianggap pengganggu sama bu Donna. Waktu di perkemahan aja, tatapannya kayak cemburu gitu."

    "Kita ngerti, kok. Cuma, lo juga sesekali harus liat ke belakang. Ada, loh orang yang nunggu lo buat merhatiin dia. Lebih baik dicintai dari pada mencintai, Car. Kalo kata gue mending lo buru-buru lupain pak Zidan," Dina memberi semangat Carissa agar tidak tenggelam dalam cintanya sendiri.

   "Siapa yang suka sama gue? Lagian gue juga susah buat buka hati, hehe."

   "Makannya, lo sesekali harus merhatiin di sekitar juga. Perhatiin siapa yang paling khawatir dan siap siaga saat lo kenapa-napa. Car, nggak selamanya cinta seseorang itu bertahan sebelum mendapat balasannya."

   "Iya iya bawel, gue juga lagi berusaha buat lupain, Zidan, kok!"

   "Bagus, itu baru Carissa."

Malam itu berakhir dengan sesi curhat dan ketiganya tidur sangat pulas.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

iyalah mending di cintai drpd mencintai mending di perjuangin drpd berjuang capek hayati😂

2024-05-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!