08| Jadi pacar gue

Ini adalah hari terakhir di bulan april, Carissa merasa akhirnya dia akan terbebas dari perjanjian yang ia dan Keenan buat dulu.

Terlihat raut kebahagiaan di wajahnya tengah berjalan riang menuju kelas. Sesekali dia melantunkan lagu dan menaiki anak tangga, bahkan menyapa beberapa siswa yang dia temui.

Setibanya di kelas, Carissa bingung. Pasalnya, dia sama sekali tak menemukan siapapun.

   "Lah, kok sepi?" tanyanya dengan berjalan masuk.

Baru selangkah masuk, seseorang sudah menarik tangannya menuju rooftop. Carissa hanya menatap pasrah, tetapi dahinya mengernyit.

Setibanya di sana, mereka berdua langsung berhadapan. Maniknya saling bertemu, Carissa jadi canggung dan salah tingkah sendiri kalau di tatap begitu.

   "A-ada apa?" Mencoba untuk terlihat biasa saja, sebenarnya Carissa ingin sekali memukul wajah pria di depannya, karena sudah dua menitan ini dia hanya diam memandangi wajah gadis itu.

   "Kalau lo nggak ngomong, gue pergi!" Akhirnya dia frustasi juga.

   "Jadi pacar gue!" ucapnya penuh penekanan.

Carissa tak terkejut, tetapi mengernyitkan dahinya.

   "Gak usah bercanda, Keenan."

   "Gue gak bercanda. Ayo pacaran sama gue!"

Tatapan mata itu. Carissa sama sekali tidak melihat adanya keraguan, tetapi ada sesuatu yang tersembunyi.

   "Ini hari terakhir di bulan april dan besok udah bulan mei. Lo nolak gue berarti gue boleh, dong bongkar rahasia lo!" ancamnya membuat Carissa panik sendiri.

   "Oke oke, please mulut lo jangan ember. Iya udah gue terima lo jadi pacar gue, tapi jangan kasih tau siapa-siapa."

Senyum di bibir Keenan mengembang, dia puas. Lantas melangkah dan memeluk gadis itu dengan erat.

Hari itu menjadi saksi betapa Carissa akan menyesal telah menerima Keenan menjadi kekasihnya walaupun dalam keadaan terpaksa.

Siangnya, Carissa di ajak makan bersama Keenan. Awalnya dia mau menolak, tetapi pria itu terus memperingati bahwa mereka sekarang sepasang kekasih.

Di sinilah dia sekarang, menyendokan  makanan ke dalam mulutnya dengan perasaan kesal. Keenan sesekali ingin menyuapi Carissa, tetapi gadis itu tak mempedulikannya.

Ada sedikit rasa geram pada Keenan, dia lantas tersenyum ke arah Carissa, tetapi rahangnya terlihat mengeras. Gadis itu kebingungan dan terpaksa menerima suapan pertama dari Keenan.

Hal seperti itu berlanjut hampir setiap hari membuat Carissa kesal sendiri.

Sudah sekitar dua minggu mereka berpacaran, sementara Carissa menatap pesan yang masuk dari ponselnya.

   "Cih, gue ini pacar atau babunya, sih?"

Belakangan ini Keenan sering menyuruh Carissa untuk membelikannya sesuatu yang dia inginkan. Entah itu makanan, barang atau sekedar menyuruhnya datang ke rumah. Memang dia disambut baik, tetapi Carissa tak suka akan sikap Keenan yang semakin seenaknya saja.

   "Jangan dikira gue udah pacaran sama lo, lo jadi seenaknya sama gue. Agh! Gue udah gak peduli lagi mau dia bocorin rahasia gue atau nggak, gue mau putus pokoknya besok!"

Keesokan harinya, Carissa berniat mendatangi kelas Keenan yang berada di paling ujung koridor. Langkah dia percepat dengan napas memburu. Beberapa siswa menatap heran pada Carissa yang saat itu telah berdiri dengan menatap tajam ke dalam kelas.

Netranya menangkap sebuah pemandangan menarik. Bibirnya seketika tersungging senyuman, dia mengambil ponsel dan membuka kamera. Dipotretnya dua insan yang sedang berpelukan sembari tangan si pria mengelus lembut ke rambut lawan jenisnya.

    "Nah, dapat. Dari pada ngelabrak, mending gue kerjain!"

Carissa langsung berlari sembari menangis. Beberapa siswa yang lewat pun hendak menanyakan perihal dirinya menangis, tetapi tidak jadi.

Carissa tiba di kelas dan langsung berlari memeluk Dina dan Lala. Dia menangis sesegukan, membuat keduanya kebingungan.

   "Carissa, ada apa?" tanya Lala dengan mengusap punggung gemetar itu.

Dina menatap ponsel yang digenggam oleh Carissa, dia mengambilnya dan terkejut. Kedua gadis itu sudah tahu kalau dia dan Keenan berpacaran, karena terpergok waktu berduaan saja di rooftop.

   "Anj*ng!" umpat Dina.

   "Kenapa Din?" Kali ini Lala yang semakin tak mengerti.

   "Nih, lihat!" Dina menyodorkan ponsel tepat di hadapan wajah Lala hingga gadis itu terkejut heran.

   "Kurang ajar si Keenan. Berani banget dia buat temen kita sakit hati."

Lala ingin berdiri dan bermaksud memberikan pria itu pelajaran, tetapi ditahan oleh Carissa.

   "Jangan."

Carissa langsung melepas pelukan dan mengusap air matanya lembut.

   "G-gue ada salah apa sama dia?"

   "Kenapa gue harus diselingkuhi begini?"

Diwaktu yang bersamaan, Cakra datang berniat untuk mengumumkan sesuatu, tetapi netranya melihat Carissa yang menangis. Dia berjalan mendekati ketiga gadis itu, lalu mulai bertanya.

   "Carissa kenapa?" Cakra pun duduk tepat di sebelah Carissa dan menatap Dina serta Lala, meminta penjelasan.

Sementara kedua orang itu saling melempar kode, apakah harus memberitahukannya pada Cakra?

Sampai akhirnya keduanya menyerah setelah pria itu memaksa untuk buka suara.

   "Jadi gini ... Carissa sama Keenan sebenarnya udah pacara-"

   "Kalau itu gue tahu. Udah kesebar di insta sekolah juga."

Mereka berdua shock mendengar penuturan Cakra. Ada sedikit ekspresi masam saat pria itu mengatakannya.

   "Kok bisa kesebar?" tanya Lala heran.

   "Ada yang lihat di akun instanya Keenan, dia post foto pegangan tangan terus ngetag Carissa."

Carissa sekarang sedang menutupi wajah dengan kedua tangan yang sebenarnya adalah sedang memaki Keenan plus malu karena ada Cakra dan hubungannya dengan pria itu telah tersebar, tinggal tunggu ceramah dari Abian saja.

   "Gini, Keenan ketahuan pelukan sama cewe lain di kelasnya. Nih, fotonya!"

Cakra yang ditunjukan foto tersebut langsung berubah raut wajahnya. Rahangnya terlihat mengeras sembari sedikit mengepal. Tepat sekali, Keenan datang ke kelas Carissa sembari tersenyum sumringah. Tidak tahu saja sekarang dirinya berada dalam masalah besar.

Dina yang mudah sekali tersulut emosi langsung berdiri dan menghanpiri Keenan, lantas menamparnya. Seisi kelas dibuat tercengang dengan perlakuan gadis itu.

Keenan sendiri langsung membeku di tempat, memegangi pipinya lantas menatap Dina heran.

   "Kenapa lo tiba-tiba nampar gue?"

   "Masih ada muka lo ke mari? Lo mau keluar dari sini atau gue tendang?"

   "Lo kenapa, sih. Gue baru datang langsung ditampar aja."

   "Ya, itu emang pantes buat lo. Gak tau diri, udah punya cewe masih juga kegatelan. Gak ush sok kecakepan lo, bahkan lo gak cocok sama temen gue."

   "Mak-"

Cakra langsung menyodorkan foto dirinya tengah berpelukan dengan gadis lain. Sontak saja ekspresi Keenan berubah menjadi terkejut, antara ketahuan dan ketakutan.

Dia menatap Carissa yang masih sibuk dengan akting menangisnya, sebenarnya dia tengah mengintip di balik jari-jarinya yang lentik.

   "Carissa gue nggak kayak gitu. Lo salah paham"

   "Salah paham apa maksudnya?" Cakra sudah berdiri menghadang Keenan yang ingin meraih gadis itu.

   "Minggir, gue gak ada urusan sama ketua osis kayak lo. Urusan gue itu sama cewe gue!" Keenan menatap Cakra tak suka, dia tahu bahwa Cakra menyukai Carissa.

   "Heeh, setelah lo selingkuh dan masih berani buat ngaku Carissa itu cewe lo? Ngotak dikit jadi cowo. Kalau gak bisa setia minimal hargai anak orang, lah!"

Lala langsung maju dan menghadang Keenan. Wajah marahnya terlihat imut, sungguh.

   "Lo gak usah deket-deket sama temen gue. Dasar laki-laki otak pintar!"

Mereka sedikit terkekeh mendengar penuturan Lala yang mengatai Keenan otak pintar.

   "Gak usah geer, gue bukan muji lo. Lagian, nih ya. Carissa itu cocok sama cowo yang lebih dari lo, ini modelan kek kutu beras aja sok-sokan mau selingkuhi temen gue. Awas aja, gue aduin bang Abian sama kak Bella biar lo dikeroyok sama mereka!" ancamnya membuat Keenan naik pitam.

   "Diam gak lo!" bentaknya membuat gadis itu terkejut hingga mematung di tempat.

   "Gue gak ada urusan sama cewe sok imut kayak lo. Minggir!" Keenan dengan kasarnya mendorong tubuh Lala hingga kepalanya membentur ujung meja, mengakibatkan memar dan berdarah.

Carissa tak tahan dan akhirnya beranjak dari sana dan meninju wajah Keenan tanpa persiapan apapun. Semuanya menutup mulut melihat bagaimana Carissa membuat ujung bibir pria itu berdarah, bahkan dia sampai tersungkur ke belakang.

   "Laki-laki macam apa lo yang kasarin cewe? Tangan lo gak cocok sentuh secenti tubuh temen-temen gue. Anj*ng lo, ya. Dikasih hati malah minta jantung. Keenan, urusan lo itu sama gue dan sekarang kita udah nggak ada hubungan apapun."

Carissa membantu Lala berdiri dan memeluknya, mencoba menenangkan temannya itu.

   "Ternyata sifat lembut lo itu cuma pencitraan doang, aslinya udah kebongkar. Itu gue baru nonjok lo pelan, belum gue bejek-bejek muka lo."

   "Gue gak akan ngasih tau masalah ini ke kak Abian, sebagai gantinya mulut lo juga jangan ember. Kalau nggak ... "

Carissa menatap tajam ke arah Keenan yang sudah mengeras rahangnya.

Keenan pun keluar dari kelas dengan perasaan malu dan penuh dendam.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

anca

anca

makanya mulutmu jangan ember juga carissa,,,klo mau ngeluh dlm hati aja biar ga di dengerin org kyk keenan yg akhirnya ngancam kamu kek gtu

2023-04-03

0

AK_Wiedhiyaa16

AK_Wiedhiyaa16

Keenan psychopat kah?

2022-11-07

1

Katty Lestari

Katty Lestari

thor lagi dong

2022-10-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!