Bintang sudah memasuki ruang tamu, betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang dan sedang mengobrol dengan kedua orangtuanya.
"Om, Tante ..." Bintang mendekati keempat orang dewasa yang sedang mengobrol itu.
"Eh Bintang, baru pulang yah?" Sapa seorang wanita paruh baya yang menjadi tamu dirumahnya itu.
"Iya, Tan. Bintang mau ke atas dulu, mau ganti baju," Bintang pamit kepada semua yang ada di ruang tamu dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
"Bintang makin cantik aja, Sar." ucap wanita tadi.
"Iya, jeng. Tapi sekarang Bintang udah gak kayak dulu lagi, sejak pindah dari Jakarta kesini Bintang suka bikin onar disekolah saya dan papanya sampai bingung mau bagaimana ngadepin anak itu," ucap ibunya Bintang dengan wajah yang murung.
"Apa mungkin kejadian waktu itu yang membuat Bintang berubah seperti itu?" Pria paruh baya yang merupakan suami dari wanita itu akhirnya angkat suara.
"Kami juga tidak tau, yang pasti sekarang Bintang jadi lebih tertutup, bahkan dia juga lebih banyak ngabisin waktu didalam kamarnya," sambung papanya Bintang.
Sepasang suami-istri yang menjadi tamu itu hanya manggut-manggut. Tak lama kemudian Bintang turun dari kamarnya setelah selesai berganti pakaian.
Saat ini dia sudah memakai celana jeans yang panjangnya sampai buku-buku dan juga kaos oblong putih, tidak lupa dengan sneakers warna putih, dan topi backpack.
Saat ini dia turun sambil memainkan kunci mobil ditangannya. Saat dia melewati ruang tamu dia kembali menyapa mereka yang ada di sana.
"Bintang mau kemana, Sayang?" tanya ibu Bintang dengan lembut.
"Bintang mau jalan sama Moza, Ma. Rencananya kita mau ke mall mau pergi ke toko buku," Bintang menjelaskan tujuan kepergiannya.
"Kalau begitu hati-hati dijalan, bawah mobilnya jangan ngebut," ucap papanya Bintang menasehati anak semata wayangnya itu.
"Siap pak bos," ucap Bintang kepada papanya dan diikuti dengan gaya menghormat, tapi setelah itu dia menengadahkan tangannya kepada papanya.
"Uang jajannya mana?" ucap Bintang sambil tersenyum jail.
Papanya tak bisa untuk mengabaikan anak semata wayangnya itu, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Bintang, ponsel Bintang pun berbunyi dan yang masuk adalah notifikasi dari SMS banking.
"Terimakasih papa tersayang," Bintang memeluk papanya dan langsung pergi setelah menyalami semua yang ada situ, tapi langkahnya terhenti sejenak karena ucapan tamu wanita itu.
"Bintang nggak ngajak Kafka sekalian pergi ke toko bukunya?" ucap wanita itu yang ternyata adalah mamanya Kafka, jadi tamu yang datang itu adalah orang tua dari Kafka lelaki yang paling Bintang benci.
"Kayaknya gak deh, Tan. Soalnya ini cuma acara perempuan aja, masa ngajak Kafka yang seorang cowok sih, kak Antariksa aja yang pacar Bintang gak diajak," ucap Bintang dengan sopan walaupun sebenarnya dia tidak suka.
Mamanya Kafka hanya tersenyum menanggapi perkataan Bintang. Gadis itu pun segera meninggalkan ruangan tamu, dan pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil kesayangannya.
"Rupanya Bintang masih marah sama Kafka, walaupun dia tidak mengatakan secara langsung tapi dari tatapan matanya aku bisa melihat itu semua," ucap mamanya Kafka dengan wajah sedihnya.
"Maafkan saya jeng Tika, kami selaku orang tua Bintang tidak bisa memaksakan perasaannya, kami sudah mencoba untuk membuat dia mengerti tapi Bintang tetap kekeuh pada apa yang dilihatnya," Sarah menjelaskan dengan nada penuh penyesalan.
"Kami selaku orang tua Bulan dan Bintang sebenarnya tidak menyalakan nak Kafka atas kejadian itu, tapi entahlah dengan anak kami Bintang," papanya Bintang menambahkan.
"Iya, saya dan istri saya pun sangat menyayangkan kejadian itu, seharusnya saat ini Kafka dan Bintang sudah bertunangan tapi kejadian itu membuat semuanya gagal." pak Bayu papanya Kafka tampak sangat menyesali semuanya.
"Tapi tadi Bintang menyebut nama pacarnya, siapa tadi itu Antariksa atau siapa, apa benar dia sudah punya pacar?" tanya mamanya Kafka.
"Oh, Antariksa itu anaknya teman saya, papanya Antariksa itu rekan kerjanya papanya Bintang, mereka juga baru ketemu saat Bintang pindah ke sekolah barunya itu," Sarah menjelaskan tentang antariksa.
"Oh, jadi begitu. Padahal Kafka pindah ke Jogja agar dia bisa dekat lagi dengan Bintang, tapi ternyata Bintang sudah jadi milik orang," Tika tertawa tapi sebenarnya dia merasa sedih, karena dia berharap agar Bintang bisa kembali dekat dengan putranya.
Saat ini Bintang sudah menjemput Moza dirumahnya, mereka berdua menuju ke mall terbesar dikota Jogjakarta, mobil Bintang sudah memasuki parkiran mall itu, gadis itu memarkirkan mobilnya dengan rapi dan kemudian keduanya turun dari mobil.
Bintang dan Moza sudah memasuki mall, dan saat ini keduanya menaiki lift pergi ke toko buku yang letaknya ada di lantai tiga.
Lift telah sampai dilantai yang mereka tuju, Bintang dan Moza pun keluar dari lift, mereka pergi ke toko buku, Bintang sedang berada di rak buku yang berisi novel, dia sedang mencari sebuah novel yang kemarin sempat dia lihat di sosmed, sementara Moza dia berada di rak yang memajang buku-buku pelajaran.
Bintang tampak tersenyum disaat dia menemukan novel yang dia inginkan, dia ingin mengambil novel itu tapi novel itu berada di rak paling atas dan karena Bintang tindak tinggi-tinggi amat maka dia kesulitan untuk menggapai novel itu.
Tiba-tiba seseorang dari arah belakang mengambil novel itu, Bintang cukup kaget dengan kejadian itu sehingga dia berbalik melihat kepada orang itu.
"Lo ..." Wajah Bintang saat ini sudah merah karena menahan emosi, kalau saja dia tidak mengingat saat ini sedang berada di toko buku mungkin dia akan memarahi habis-habisan pria yang ada dihadapannya saat ini.
"Hai, Bi. Kamu mau mengambil novel ini kan, ini aku ambilkan buat kamu." Pria itu menyerahkan novel yang dia ambil tadi kepada Bintang dan tersenyum dengan manis kepada gadis itu.
Tapi Bintang tidak mau mengambil novel dari tangan pria itu, dia justru mendorong pria itu untuk menjauh darinya, karena memang posisi mereka saat ini sangat dekat.
"Lo, ngapain ada disini? Trus ngapain juga dekat-dekat gue? bisa gak Lo gak usah ngikutin gue, gue muak liat muka Lo!!!" Bintang yang sedari tadi sudah menahan amarahnya akhirnya meledak juga, dia memarahi pria itu yang ternyata adalah Kafka dan setelah itu dia langsung meninggalkan Kafka yang sudah terdiam karena kemarahan Bintang.
Raut wajah Kafka terlihat begitu sedih, dia sudah melakukan segala cara agar Bintang mau memaafkan dirinya tapi semua itu sia-sia, bahkan sampai saat ini Bintang masih sangat membenci dirinya.
"Bi, kenapa kamu masih belum bisa memaafkan aku, kamu bahkan membenciku untuk sesuatu yang bukan salah ku, padahal aku sangat mengharapkan kamu untuk memaafkan diriku dan kita kembali seperti dulu lagi," Kafka bergumam pelan setelah kepergian Bintang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments