Bab 13. Antariksa menghilang

Saat ini Bintang dan Moza sudah berada di depan pintu kelas Antariksa.

Mereka bertemu dengan Genta dan Arsen yang baru saja hendak keluar dari dalam kelas.

"Hai, Bi. Ada yang bisa dibantu?" Genta menyapa Bintang dan Moza.

"Bego amat sih, ngapain juga nanya. Yang pasti tujuan Bintang kesini tuh mau nyari Antariksa." Arsen mendorong kepala Genta karena tak peka dengan kedatangan Bintang.

"An gak masuk, Bi. Kita juga gak tau alasannya, yang pasti ini pertama kalinya Antariksa bolos dari sekolah," Arsen menjelaskan kepada Bintang.

Bintang pun menjadi khawatir, pasalnya semalam mereka masih saling mengirimkan pesan tapi kenapa pagi ini justru Antariksa tidak sekolah, apa terjadi sesuatu dengan pria itu.

"Oh, makasih yah kak." Bintang pun pergi dari kelas Antariksa dengan lesu dan wajah yang menampakkan kekhawatiran.

"Udahlah Bi, jangan sedih seperti itu. Mungkin saja kak Antariksa sedang ada urusan penting dan dia tidak sempat memberi kabar," Moza mencoba untuk menghibur Bintang.

Saat keduanya masuk kedalam kelas, mereka bertemu dengan Kafka didepan pintu, Moza tersenyum kepada Kafka sementara Bintang malah tak menghiraukan kehadiran Kafka, dia langsung menuju ke tempat duduknya.

,

Kafka hanya menatap Bintang yang cuek terhadap dirinya, dia tersenyum sinis karena Bintang yang memperlakukan dirinya seperti orang asing.

Di tempat lainnya, saat ini terlihat seorang pria sedang terbaring lemah di sebuah ruangan VVIP di sebuah rumah sakit, tampak ibu dari pria itu sedang menangis keras karena keadaan putra satu-satunya yang bisa dibilang tidak baik-baik saja saat ini.

"An, kenapa kamu tak pernah menceritakan sama bunda tentang penyakitmu ini, Nak." Dinda ibunya Antariksa merasa begitu terpukul saat mengetahui anaknya mengidap leukemia.

"Bun, sabar. Bunda tak bisa seperti ini, kalau Antariksa sadar nanti lalu dia melihat Bunda menangis seperti ini, pasti dia akan merasa sedih," Pak Abi ayahnya Antariksa menenangkan istrinya yang masih saja menangis.

Tadi pagi keduanya mendapatkan Antariksa dalam keadaan tak sadar dikamarnya, karena khawatir keduanya membawa anak mereka itu ke rumah sakit, tapi kenyataan yang mereka dapatkan begitu buruk.

Penyakit yang Antariksa derita sudah semakin parah, saat ini sudah mencapai stadium akhir dan menurut dokter kalau tak secepatnya pria itu mendapatkan donor sum-sum tulang belakang maka Antariksa tak akan bisa bertahan lama lagi.

Mendengar perkataan dokter itu, hati kedua orang tua Antariksa begitu hancur, terutama ibunya Antariksa.

Disekolah saat ini sudah jam pulang sekolah, seperti biasanya Bintang akan mengantarkan Moza pulang.

Sepanjang perjalanan Bintang terus saja memikirkan Antariksa yang menghilang tanpa kabar apapun, dikirimi pesan gak dibalas ditelepon pun gak dijawab, itu yang ada di pikiran Bintang saat ini.

"Bi, jangan dipikirkan terus. Positif thinking aja, mungkin saat ini kak Antariksa lagi sibuk jadi dia gak bisa kabarin kamu," Moza menghibur Bintang karena dia tau bagaimana keadaan sahabatnya saat ini.

Bintang tak menjawab dia hanya mengangguk, mereka pun telah sampai di depan rumah Moza, setelah Moza turun Bintang segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat mamanya bekerja atau lebih tepatnya rumah sakit milik keluarganya.

Setelah beberapa saat mobil Bintang kini sudah memasuki parkiran rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya dengan baik dia pun segera menuju ke ruangan mamanya.

Saat Bintang sedang berjalan dia tak sengaja bertemu dengan Dinda dan Abi, orangtuanya Antariksa, Bintang kaget saat bertemu mereka begitu pula dengan kedua orangtua Antariksa.

"Hallo, Tante." Bintang menyapa ibunya Antariksa.

"Eh, Bintang. Mau ketemu mama kamu yah?" Dinda mencoba untuk bersikap tenang didepan Bintang.

"Iya Tante, Soalnya bosan dirumah cuma sendiri, mending kesini aja nyantai di ruangannya Mama." Bintang tersenyum kepada Dinda.

Sementara itu Pak Abi hanya menyimak obrolan keduanya.

"Tante ngapain disini? Siapa yang sakit, Tan?"

"Biasa sayang Cek-up rutin," Dinda berbohong kepada Bintang.

"Oh ..." Bintang mengangguk. "Kalau begitu Bintang pamit duluan yah." Dia pun pergi meninggalkan kedua orangtua Antariksa.

"Itu tadi siapa, Ma?" Pak Abi bertanya.

"Itu Bintang pacarnya anak kita, Pa. Dia putrinya dokter Sarah," Dinda menjelaskan kepada Pak Abi

Tadi pagi Antariksa sempat sadar, dan saat dia terbangun dia meminta kedua orangtuanya merahasiakan penyakitnya kepada Bintang dan teman-temannya, itulah kenapa ibunya Antariksa berbohong kepada Bintang.

Saat ini Bintang sudah berada di ruangan mamanya, dia kembali mengecek ponselnya, tapi hasilnya tetap sama Antariksa masih belum membalas atau membaca chatnya.

"Astaga, kenapa tadi gak gue tanyain sama tante Dinda soal kak Antariksa, bego banget sih Lo Bintang," Bintang mengomel sendiri.

Untuk menghilangkan pikirannya yang dipenuhi oleh Antariksa dia pun memilih untuk bermain game online.

Saat dia sedang asik bermain, mamanya masuk kedalam.

"Eh, anak mama udah disini aja." Sarah melihat putrinya yang sedang duduk di sofa.

"Suntuk dirumah sendirian, Ma." Bintang menjawab tanpa menoleh kepada mamanya.

"Udah makan siang sayang?" Sarah bertanya kepada Bintang.

"Belum,Ma." jawab Bintang singkat.

"Mama pesankan makan mau?"

"Boleh juga."

Sarah menggeleng melihat putrinya, Bintang yang sudah tak seperti dulu, tak seceria dulu, Bintang mulai berubah sejak hari itu.

"Ma ..." Bintang menghentikan permainannya dan mengangkat kepalanya melihat kearah mamanya.

"Kenapa sayang?" Sarah bertanya dengan lembut.

"Mama, ingat Kafka?"

"Kafka yang waktu itu satu sekolah sama kamu di Jakarta?" Sarah mencoba mengingat-ingat.

"Hmm ..." Bintang hanya menjawab dengan deheman.

"Ada apa dengan dia?" Sarah bertanya kepada Bintang.

"Sekarang dia pindah kesini, disekolah yang sama dengan Bintang."

Sarah tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Bintang.

"Bintang gak tau apa alasan dia pindah, yang pasti Bintang gak nyaman satu sekolah sama dia, apalagi harus sekelas juga." Saat ini Bintang sudah menunjukkan wajah cemberutnya.

Sarah tersenyum melihat putrinya yang cemberut seperti itu.

"Sayang, kamu jangan seperti itu. Mungkin saja dia memang gak sengaja bisa satu sekolahan sama kamu," Sarah tak ingin putrinya berpikir negatif terhadap orang lain makanya dia mencoba untuk merubah pemikiran putrinya.

Bintang tak menjawab lagi, dia hanya terdiam karena dia memang sangat membenci Kafka, karena menurut Bintang pria itu adalah orang yang membawa mimpi buruk dalam hidupnya.

"Bintang cuma gak suka melihat dia lagi, Ma. Karena keegoisan Kafka semua itu terjadi, Bintang benci sama Kafka!!!" Bintang segera berdiri dan meninggalkan ruangan mamanya.

Sarah hanya bisa memandangi kepergian putrinya itu.

Sementara itu, saat ini diruang rawat inap Antariksa sudah terbangun dari tidurnya, dia melihat kedua orangtuanya yang sedang duduk disamping tempat tidurnya.

"Bunda, Ayah." Antariksa tersenyum kepada keduanya.

"Sayang kamu sudah bangun? Gimana? Apanya yang sakit?" Dinda yang merasa khawatir langsung bertanya kepada putranya itu.

Antariksa tersenyum melihat ibunya yang terlihat begitu menghawatirkan dirinya.

"An, kok malah senyum-senyum gitu sih?" Dinda pura-pura memasang wajah cemberut.

"Bunda udah kayak wartawan aja, Antariksa udah gak apa-apa, Bunda gak usah khawatir." Antariksa tak mau membuat ibunya khawatir oleh karena itu walaupun dia tau penyakitnya sudah semakin parah dia tetap berusaha tersenyum.

Terpopuler

Comments

MissQueen

MissQueen

iya galfok 😭😂

2022-11-06

0

Keyboard Harapan

Keyboard Harapan

ini kayaknya ada yang salah deh kak nulisnya , bukan nya Dinda itu ibu nya antariksa dan sarah ibu nya bintang. itu kakak nulisnya kebalik. coba di cek kak.

2022-11-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!