*Terkadang memang kita selalu menolak untuk jatuh cinta, tapi sekuat apapun kita menolak cinta itu, tetap kita akan kalah dengan hati.
#Bintang Nazania Hazel*
Hari ini Kelas 11 IPA1 sedang berada di lapangan basket, karena pada pagi ini adalah jadwal pelajaran olahraga untuk kelas itu.
Semua siswa kelas itu terlihat begitu antusias, mereka sangat menyukai pelajaran olahraga karena mereka tak harus berada didalam kelas, jadi mereka bisa menghirup udara segar diluar kelas.
Saat ini Bintang dan Moza bersama para siswa perempuan lainnya sedang berada di toilet untuk mengganti seragam olahraga mereka.
Setelah berganti pakaian mereka pergi meninggalkan toilet, Bintang yang paling terakhir keluar.
Saat dia berjalan menuju lapangan basket, tak sengaja dirinya bertemu dengan Antariksa.
Melihat kalau di koridor sekolah ada Antariksa dan teman-temannya Bintang hanya cuek saja, berbeda dengan Antariksa yang pandangannya tak bisa teralihkan dari Bintang.
Hal itu disadari oleh Genta dan Arsen, mereka pun mulai menggoda Antariksa karena tertangkap basah sedang memandangi Bintang.
"Cie ... cie ... rupanya ada yang udah mulai suka nih, sampe segitunya ngeliatin anak orang," perkataan Genta sontak membuat Arsen tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu Antariksa yang menjadi bahan olokan teman-temannya langsung berjalan dengan cepat kembali ke kelasnya.
"An ... tungguin woi!!" Arsen berteriak memanggil Antariksa, tapi pria itu tak mempedulikan hal itu.
Bel tanda istirahat berbunyi, saat ini Bintang dan Moza sudah berada di depan kantin, tapi seperti biasanya, kantin selalu ramai.
Mereka berdua memutuskan untuk masuk kedalam dan melihat barangkali ada meja yang tersisa, tapi hasilnya nihil, smua sudah terisi, hanya ada tiga kursi kosong yang tersisa dan itu berada di meja Antariksa dan kedua sahabatnya.
Melihat Bintang dan Moza yang celingak-celinguk mencari tempat, Genta melambaikan tangan meminta mereka berdua untuk bergabung bersama mereka.
Karena sudah merasa lapar Bintang tak menolak, dia pun menarik tangan Moza untuk duduk bersama Antariksa, Genta dan Arsen.
"Hai kak, kita berdua gabung disini yah? soalnya semua tempat penuh adanya cuma disini yang kosong," Bintang pura-pura berbasa-basi, kalau seandainya dia sedang tidak lapar mana mau dirinya duduk satu meja sama Antariksa.
"Silahkan, malahan kita senang kalau ada cewek cantik yang duduk bareng kita, benar kan, An?" Genta pura-pura minta persetujuan Antariksa, padahal bukan itu tujuan yang sebenarnya, dia hanya ingin menggoda Antariksa.
Antariksa tak menjawab apa-apa, tapi dia hanya mengangguk, melihat reaksi Antariksa tak menunggu lama Bintang langsung mendudukkan bokongnya dikursi.
"Za, kamu aja yang pesan deh, nanti pesankan aku bakso dan es jeruk," Bintang meminta Moza untuk pergi memesan makanan.
"Oke, tunggu bentar yah." Moza pun pergi menuju ke tempat yang menjual bakso.
"Ka, kemarin ngapain lo ada di rumah sakit?" Bintang bertanya kepada Antariksa, merasa kalau ada yang mengajak dirinya bicara Antariksa yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya mengangkat kepalanya melihat kepada Bintang.
"Lo bicara sama gue?" Antariksa menunjuk dirinya.
"Iyalah sama Kakak, kan kemarin yang ketemu gue di rumah sakit cuma Kakak doang," Bintang yang kesal memutar bola matanya.
"Emang, perlu yah gue laporan sama lo, disaat gue mau ngapain gitu," Jawab Antariksa dengan ketus.
"Gak perlu juga sih, tapi kan ... ah, sudahlah." Bintang pun akhirnya tak meneruskan kata-katanya karena dia sudah kesal dengan sikap Antariksa.
Tak lama kemudian Moza sudah datang dengan membawa dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk.
Melihat makanan yang dibawakan oleh Moza, seketika Bintang melupakan kekesalannya kepada Antariksa, dia langsung mengambil makanannya dan melahapnya.
Sementara itu, Genta dan Arsen merasa bingung dengan Antariksa yang terlihat tidak suka dengan pertanyaan Bintang, padahal tadi pagi jelas sekali kalau Antariksa itu sudah punya perasaan kepada Bintang.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Genta yang super kepo pun bertanya, "Lo kenapa sih? jawabnya gitu banget, Bintang bisa ilfil sama, Lo." Genta bertanya dengan berbisik.
Tapi bukan jawaban yang dirinya dapatkan, tapi tatapan kesal Antariksa, akhirnya Genta pun mengurungkan niatnya untuk kepo.
Saat ini Bintang sedang asik menyantap bakso dihadapannya, saking lahapnya dia makan, dia tak menyadari kalau seseorang sedang menatap dirinya.
Antariksa sedang menikmati pemandangan indah didepannya, seorang gadis yang mirip dengan namanya Bintang, dia yang sudah membuat hidup Antariksa yang terasa gelap menjadi terang.
Fokus Antariksa terganggu saat Moza bertanya kepada Bintang.
"Bin, lo pengen ikut ekskul apa? dulu waktu disekolah lama, lo ikut ekskul apa?" Moza terlihat serius dengan pertanyaannya.
Bukan cuma Moza yang penasaran dengan jawaban Bintang, tapi ternyata ketiga pria yang ada dihadapan mereka juga ikut penasaran.
"Waktu disekolah lama gue sih ikutnya ekskul taekwondo, seandainya ada ekskul tinju yah pasti gue ikut, jadi bisa pukulin orang sampe babak belur tanpa harus di keluarin dari sekolah," jawab Bintang santai, dan masih tetap fokus dengan baksonya, dia bahkan tidak menyadari kalau jawabannya membuat keempat orang yang duduk bersamanya itu ternganga.
"Jadi, maksud Lo, lo dikeluarin dari sekolah karena mukulin orang sampe babak belur?" Arsen yang menjabat sebagai OSIS disekolah itu pun akhirnya timbul jiwa keponya.
"Hu ... um," jawab Bintang singkat sambil mengangguk.
"Wih ... gila, ternyata ada yah cewe kayak lo, hebat, salut gue sama, Lo." Genta mengangkat kedua jempolnya kepada Bintang.
"Makasih ..." Bintang dengan polosnya tersenyum kepada Genta.
Saat ini jam istirahat telah berakhir, tapi karena guru disekolah mereka sedang mengadakan rapat, jadi para siswa bebas dengan kegiatan mereka sendiri.
Tapi beda lagi dengan Bintang yang terkenal dengan trouble maker disekolah lamanya, dia justru saat ini sedang duduk manis didalam perpustakaan.
Gadis itu memang seorang pembuat masalah, tapi bukan berarti Bintang itu tidak pintar, justru kepintaran Bintang itu bisa dibilang diatas rata-rata, dia selalu mendapat nilai yang baik, bahkan dia sangat berprestasi.
Tapi Bintang tak pernah tertarik untuk ikut olimpiade atau lomba-lomba yang menyangkut dengan otak, kalau diminta untuk ikut pertandingan taekwondo sudah pasti dia yang akan pertama kali mengajukan dirinya.
Alasan bintang menjadi seorang trouble maker bukan karena dia nakal, dan sebenarnya bukan dirinya yang suka mencari masalah, tapi para pria rese disekolah itu yang suka mengganggu dirinya, bahkan ada juga yang berani berbuat kurang ajar kepadanya, sehingga mau tak mau mereka harus menerima latihan taekwondo gratis dari Bintang.
Tapi walaupun awalnya dia yang menjadi korban, tetap saja dia yang akan dipersalahkan karena dirinya yang baik-baik saja tapi lawannya harus babak belur, bahkan ada yang sampai dirawat.
Saat ini gadis itu sedang serius mengerjakan tugas di perpustakaan, dia merasa tempat teraman adalah disini, dan juga tak ada yang akan mengganggu dirinya, jadi dia tak akan memukul orang lagi.
Tiba-tiba seseorang duduk didepan Bintang,dan langsung menarik polpen yang sedang dipakai Bintang untuk menulis, hal itu membuat Bintang menatap kesal kepada orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Lo ayank gue titik!
eh, kok udh punya perasaan lagi aja, keknya gue salah chapter deh
2022-10-09
0