Bab 14. Orang penting di kehidupanku

Bintang saat ini sedang berdiri di balkon kamarnya, dia sedang menatap ke langit.

"Apa lo masih marah sama gue? Tapi kenapa Lo masih mau baik sama gue, seandainya Lo marah sama gue, kenapa gak Lo biarin aja gue mati saat itu?" Bintang berbicara sendiri, raut wajahnya terlihat begitu sedih.

Saat dia sedang menikmati malam yang sunyi itu, tiba-tiba ponsel Bintang berbunyi.

Dia segera mengambil ponselnya yang berada disaku celananya, saat dia melihat ponselnya ternyata itu pesan dari Antariksa.

[Bi, maafin gue yang gak sempat ngasih kabar ke Lo seharian ini, soalnya mendadak nenek gue sakit dan meminta gue untuk kerumahnya, jadi gue gak sempat pamit sama Lo, jangan marah yah ntar cantiknya hilang. By, Antariksa]

Senyum pun mengembang dari wajah Bintang yang tadinya sedang bersedih, akhirnya dia merasa lega karena Antariksa sudah mau memberikan kabar dan membalas pesannya.

Tiga hari berlalu, dan kini Antariksa sudah diperbolehkan untuk pulang, dia merasa bahagia karena dia dapat bersekolah lagi dan bertemu dengan wanita yang sudah merubah hidupnya.

Saat tiba dirumahnya dia langsung masuk kedalam kamarnya, dan segera mengirimkan pesan untuk Bintang.

[Bi, besok gue jemput kesekolah yah, cepat bangun jangan sampe gue yang bangunin. By, Antariksa]

Bintang yang sedang membaca dikagetkan dengan bunyi pesan di ponselnya.

Setelah membaca isi pesan itu, dia segera membalasnya.

[Oke, Bintang pasti bangun lebih pagi kok, gak perlu dibangunin juga kali. By, Bintang]

Antariksa tersenyum melihat balasan pesan dari Bintang, dia segera menyimpan ponselnya dan beristirahat.

Keesokan harinya Antariksa menepati janjinya untuk menjemput Bintang, sebuah mobil sport warna merah saat ini sudah terparkir di halaman rumah Bintang.

Antariksa membunyikan bel rumah Bintang dan dirinya disambut oleh Sarah ibunya Bintang.

"Selamat pagi, Dok." Antariksa menyapa ibunya Bintang.

"Pagi juga, An. Apa kamu sudah merasa lebih baik? Kalau masih kurang sehat sebaiknya istirahat saja dulu jangan dulu memaksakan diri untuk kesekolah," Dinda menatap Antariksa dengan tatapan khawatir.

"Saya gak apa-apa, Dok. Sekarang sudah merasa jauh lebih baik." Antariksa tersenyum kepada Dinda.

"Masuk dulu, An. Kamu mau jemput Bintang, Kan?" Dinda mempersilakan Antariksa masuk.

Tapi sebelum Antariksa masuk, Bintang sudah berada didekat mereka.

"Lagi ngomongin apa sih? Serius amat sampe Antariksa nya lupa disuruh masuk." Bintang menatap keduanya dengan tatapan mengintrogasi.

"Gak ngomong apa-apa kok, Mama cuma lagi mewawancarai calon mantu doang, pantas apa gak buat anak mama yang special ini," Dinda menggoda Bintang.

Bintang memutar bola matanya malas, "Yang bener aja. Cowok kayak kak Antariksa masih meragukan menurut mama? Yang ada dia malah terlalu perfect buat Bintang."

Dindan dan Antariksa hanya tersenyum melihat Bintang yang sudah mulai terpancing.

"Udah ah, yuk berangkat." Bintang segera menyalami mamanya, dan menarik tangan Antariksa pergi.

Saat ini mereka berdua sudah berada dalam mobilnya Antariksa, didalam mobil Bintang terus menatap Antariksa, sementara itu Antariksa hanya fokus pada jalanan saja.

"Kak ..." panggil Bintang kepada Antariksa dengan lembut.

"Iya, Bi?" Antariksa menoleh sejenak dan kembali melihat kearah jalanan.

"Kakak baik-baik aja kan? Wajah kakak terlihat pucat soalnya." Bintang sangat menghawatirkan keadaan Antariksa pria yang baru saja menjadi kekasihnya.

"Gue baik kok, mungkin karena kurang tidur pas waktu jagain nenek sakit jadinya kelihatan pucat," Bintang mencoba memberikan alasan yang dia anggap yang terbaik.

"Oh, syukur deh kalo kakak baik-baik saja." Bintang tersenyum kepada Antariksa.

Tak terasa mereka berdua saat ini sudah tiba disekolah, Antariksa memarkirkan mobilnya di parkiran, setelah selesai memarkirkan mobilnya, dia turun dan membukakan pintu untuk Bintang.

Tak Bintang sangka Antariksa menggenggam tangan Bintang, jadi saat ini mereka berdua sedang berjalan sambil berpegangan tangan.

Antariksa mengantarkan Bintang sampai kedepan kelasnya dan disana sudah ada Moza yang sedang menunggu sahabatnya itu.

"Cie ... yang lagi kangen-kangenan," Moza yang melihat sepasang sejoli itu sedang bergandengan pun melancarkan aksinya menggoda keduanya.

Antariksa dan Bintang hanya tersenyum kepada Moza, setelah mengantarkan Bintang, Antariksa pun segera pergi menuju ke kelasnya.

Sepeninggalan Antariksa, Bintang dan Moza segera masuk kedalam kelas, tapi saat Bintang hendak masuk dia malah dihadang oleh Kafka.

Kafka menatap Bintang dengan tatapan yang sulit diartikan, berbeda dengan Bintang yg sudah merasa begitu kesal dengan perlakuan Kafka.

"Yang tadi itu siapa?" Tanpa basa-basi Kafka langsung bertanya kepada Bintang.

Bintang berdecak kesal karena Kafka yang sok akrab dengan dia, sementara itu Moza malah kaget sampai mulutnya ternganga karena pertanyaan dari Kafka.

"Maksud Lo apa?" Bintang kembali bertanya dengan nada sinis.

Kafka hanya tersenyum miris karena mendapatkan jawaban seperti itu dari Bintang.

"Bi, gue nanya serius cowo tadi itu siapa? Apa dia pacar Lo?" Kali ini nada suara Kafka sudah mulai meninggi.

"Astaga ... ada apa sih ini? Kafka kok sampe posesif gitu ke Bintang?" Moza semakin bingung dengan kedua manusia yang ada dihadapannya saat ini.

"Cepat Lo minggir jangan halangi jalan gue, dan satu lagi gue gak kenal siapa Lo jadi jangan pernah ikut campur dengan kehidupan gue," Bintang pun menegaskan kepada Kafka kalau dia merasa terganggu dengan sikap Kafka.

Kafka hanya terdiam saat mendapat perlakuan seperti itu dari Bintang, dia tak menyangka Bintang akan akan membencinya seperti itu.

Bintang dan Moza pun berjalan masuk kedalam kelas melewati Kafka, dan saat Bintang sudah masuk kedalam kelas dia berhenti di samping Kafka sebentar dan mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan semakin melukai hati Kafka.

"Gue cuma mau ngasih tau Lo aja, kalo cowo tadi adalah orang yang sangat penting dalam hidup gue, jadi sebaiknya Lo jauh-jauh dari hidup gue." Bintang pun langsung melanjutkan langkahnya menuju ke tempat duduknya.

Didalam kelasnya Antariksa justru berbeda, kehadiran Antariksa disambut dengan heboh oleh kedua sahabatnya, tapi yang lebih tepatnya yang heboh cuma Genta saja.

"Darimana aja Lo? Bikin kita-kita khawatir aja, mana ngilangnya gak ada kabar, cewe Lo tuh yang paling panik saat Lo ngilang," Genta mengomeli Bintang sudah kayak ibu-ibu yang lagi ngomel ke anaknya.

Sementara itu Arsen malah tertawa geli melihat tingkah Genta.

"Gue dari rumah nenek, perginya dadakan jadi gak sempat kasih kabar," Jawab Bintang singkat.

"Nenek Lo kenapa, An?" Sekarang giliran Arsen yang berbicara.

"Nenek gue sakit dan dia nyariin gue, makanya gue langsung kerumah nenek," Antariksa menjawab pertanyaan Arsen.

Kedua sahabatnya mengangguk mengerti dengan perkataan Antariksa, tiba-tiba saat mereka asik berbicara datang Shaveena yang langsung duduk disampingnya Antariksa, Antariksa dan kedua sahabatnya terkejut dengan kehadiran Veena.

Terpopuler

Comments

Keyboard Harapan

Keyboard Harapan

semangat kakak aku mampir lagi kesini...masih penasaran sama kisah antariksa dan Bintang
like dan pavorit buat ka miss💪💪💪

2022-11-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!