*Andaikan kesalahanku dapat ditebus dengan maaf aku tak akan pernah berhenti untuk minta maaf kepadamu
Kafka Cakrawala*
"Hai, An. Lo kemana aja sih? Gue kangen sama lo, tau gak kalau gue nyariin lo dirumah, tapi kata pembantu lo itu lagi gak dirumah," Veena yang baru sampe langsung bicara panjang lebar, tapi semua yang dikatakan Veena tak didengar oleh Antariksa dan kedua sahabatnya.
Antariksa yang merasa kesal langsung berdiri dari duduknya, dia segera pergi meninggalkan gadis itu, diikuti oleh Genta dan Arsen.
Veena yang sudah ditinggal pergi hanya bisa menghentakkan kakinya saking kesalnya dia karena tak dihiraukan oleh Antariksa.
Dan ternyata saat ini Antariksa pergi menuju ke kelas gadis pujaan hatinya.
Sementara itu didalam kelasnya Bintang sedang terjadi perdebatan antara Bintang dan Kafka.
"Bi, lo kenapa sih? Sudah berulangkali gue jelasin sama Lo kalau itu bukan salah gue, gue gak bisa maksain perasaan gue,Bi. Kakak Lo aja yang bego udah tau gue gak suka sama dia, tapi dia masih aja mau maksain." Kafka saat ini sudah terbawa emosi, dia sudah tak tahan didiamkan oleh Bintang selama ini, bahkan Bintang selalu menyalahkan dirinya.
"Tetap aja Lo salah, Lo seharusnya menjaga perasaan Bulan, kalau Lo bisa jaga perasaan Bulan mungkin semua gak akan seperti ini," Bintang berteriak kepada Kafka, dan saat ini Bintang yang selalu terlihat cuek dan tomboi akhirnya mengeluarkan air mata.
Bintang langsung terduduk lemas di bangkunya, Sementara itu Kafka berjongkok didepan Bintang dan dia menggenggam kedua tangan Bintang, Kafka hanya menunduk dia tak berani menatap mata Bintang yang saat ini sedang menangis.
Sedangkan Moza dan teman-teman Bintang lainnya hanya menatap kebingungan kepada kedua orang itu.
Dan tanpa keduanya sadari seseorang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kemarahan dari depan pintu, siapa lagi kalau bukan Antariksa.
Tiba-tiba saja Antariksa langsung menarik kerah baju Kafka agar dia menjauh dari Bintang, Kafka yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Antariksa terkejut dan akhirnya terjadi perkelahian antara keduanya.
Bintang yang sedang menangis kaget melihat kedua pria itu sudah saling memukul satu sama lain.
"Kalian ngapain sih, kak Antariksa, Kafka, Berhenti gak," Bintang berteriak meminta mereka berhenti.
Dan saat ini Genta dan Arsen sedang berusaha untuk memisahkan kedua pria yang sedang memanas itu, akhirnya keduanya berhenti saat Bintang berdiri diantara mereka, dan saat itu tinju Kafka hampir saja mengenai Bintang.
"Kalian kenapa sih? Kayak anak kecil gitu, kakak juga kenapa datang-datang langsung mukulin orang?" Bintang menatap kedua pria itu, tampak jelas dimatanya kalau saat ini Bintang sedang marah.
"Lagian ngapain dia megang tangan Lo, Bi. Gue gak suka," ucap Antariksa sebagai pembelaan diri.
"Emang lo siapa? Pake acara keberatan kalau gue pegang tangan Bintang." Kafka tersenyum mengejek kepada Antariksa.
"Gue pacarnya Bintang, dan gue gak suka Lo pegang-pegang tangan cewe gue," Antariksa pun menegaskan hubungan antara dirinya dan Bintang.
"Baru pacar kan, belum jadi laki," Kafka terus saja memancing emosi Antariksa, dan Antariksa pun akhirnya terpancing, hampir saja Kafka kena tonjokan Antariksa kalau Bintang tak segera menahan tangan pria itu.
"Kak, jangan berantem lagi." Bintang langsung menarik tangan Antariksa pergi dari kelasnya.
Genta, Arsen dan Moza tidak mengikuti mereka berdua, mereka tetap diam dia dalam kelas dan masih mencoba mencerna apa yang terjadi, mereka menatap Kafka meminta sebuah jawaban tapi mereka tak menemukan apa-apa.
Terlebih lagi Moza, dia tak menyangka kalau Kafka dan Bintang saling mengenal bahkan sepertinya mereka begitu dekat dulu.
Kafka yang mendapatkan tatapan dari ketiga orang itu tak berbicara apapun, dia meninggalkan ketiganya yang masih kebingungan dan kembali duduk di bangkunya.
"Ini kenapa sih?" Genta meminta jawaban dari Moza.
"Gue juga gak tau, tadi tiba-tiba aja Bintang sama dia udah bertengkar gitu, gak ngerti gue." Moza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena Memeng benar dia tak mengetahui penyebab kekacauan itu.
Sementara itu saat ini Bintang dan Antariksa sudah berada di taman belakang sekolah, Bintang duduk di bangku dan diikuti oleh Antariksa.
"Kakak kenapa sih berantem sama Kafka tadi?" Bintang memulai pembicaraan, dia menatap Antariksa menunggu pria itu memberikan penjelasan.
"Ngapain juga tadi pake pegangan tangan gitu?" Bukannya memberi jawaban Antariksa malah balik bertanya kepada Bintang.
"Jadi ceritanya Kakak lagi cemburu nih." Bintang mengejek Antariksa dan menertawainya, dia meras lucu seorang pria dingin seperti Antariksa bisa juga merasa cemburu.
Melihat Bintang yang sedang menertawakan dirinya Antariksa menjadi gemes sendiri, Antariksa menyentil kepala Bintang dan hal itu membuat Bintang meringis kesakitan.
Antariksa tersenyum karena berhasil membalas Bintang, dan sejenak keadaan menjadi hening. Mereka hanyut dalam pemikirannya masing-masing.
Antariksa menatap gadis yang ada disampingnya dengan tatapan penuh dengan cinta, kemudian dia mengambil tangan Bintang dan menggenggamnya, Bintang yang merasa tangannya sudah di genggam Antariksa balas menatap pria itu. Dan saat ini keduanya sedang saling menatap.
"Bi, sebenarnya ada apa antara Lo dan Kafka. Kok bisa bertengkar gitu? Apa kalian udah saling kenal sebelumnya?" Antariksa pun akhirnya menanyakan pertanyaan yang dari tadi mengganjal di hatinya.
"Maaf kak, bukannya Bintang gak mau cerita, tapi Bintang rasa belum saatnya untuk menceritakan apa yang terjadi, Bintang masih belum kuat untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi." Sekali lagi air mata lolos begitu saja dari mata indah Bintang, dia tak akan bisa menahan air matanya setiap kali dia mengingat kejadian waktu itu.
Melihat Bintang menangis Antariksa langsung membawa Bintang kedalam dekapannya, dia mengelus punggung Bintang dan mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Gak apa-apa, Bi. Kalau Lo belum siap untuk cerita gak apa-apa, jangan nangis lagi yah, nanti kalau di lihatin orang dikiranya gue ngapa-ngapain Lo lagi."
Mendengar apa yang di katakan Antariksa Bintang langsung mencubit pinggang pria itu membuatnya meringis.
"Kakak apaan sih, orang lagi sedih malah di bercandain," Bintang mencebik tapi dia masih betah berada di pelukan Antariksa, pelukan yang hangat dan dapat membuat Bintang merasa nyaman.
Setelah memenangkan dirinya, Bintang pun sudah kembali lagi kedalam kelasnya, Moza sudah menunggu Bintang di bangkunya, tatapan penuh kekhawatiran tampak jelas dari mata sahabatnya itu.
"Bi, Lo gak apa-apa kan?" Saat Bintang sudah duduk Moza langsung menanyakan keadaan gadis itu.
Bintang tersenyum kepada Moza, dia tak mau membuat sahabatnya itu merasa khawatir, dia ingin bercerita kepada Moza tapi dia masih masih belum sanggup untuk mengingat lagi semua yang terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
MissQueen
maksih sayang, masih semangat kok cuma aku juga masih ngerjain novel on going lainnya
2022-12-19
0
Keyboard Harapan
hai kakak ayo semangt
2022-12-18
0