Bab 11. Akhirnya jadian juga

*Hadirnya dirimu memberikan warna baru dalam hidupku

#Antariksa Rahardian*

"Yuk, masuk kelas. Bisa kena hukum kita nanti kalau kelamaan disini." Bintang langsung turun dari tempat tidur, dan mengajak Moza pergi.

"Mending kita ke kantin aja, Bi. Lagian hari ini guru-guru sedang mengadakan rapat jadi kita bebas," ucap Moza dan langsung menarik Bintang menuju ke kantin.

Sesampainya mereka dikantin, ternyata kantin sudah lumayan ramai, untung saja masih tersisa meja kosong jadi Bintang dan Moza langsung mendudukinya.

Bintang menawarkan diri untuk memesan makanan dan meminta Moza untuk menunggu saja, dan saat Bintang kembali dimeja mereka sudah bertambah orang yang duduk, disana sudah ada Antariksa, Genta dan Arsen.

Bintang berdiri mematung melihat kehadiran ketiga pria itu.

"Bi, kok bengong sih?" ucap Genta membuat Bintang kembali tersadar.

Bintang pun kembali ke alam sadarnya, dia pun duduk bersama dengan mereka.

"Gak kenapa-kenapa kok, tadi cuman kaget aja udah ada kalian disini," Bintang pun menjawab dengan santai.

Tak lam kemudian pesanan Bintang dan Moza sudah datang bersama dengan pesanan ketiga pria itu.

Mereka pun memulai makan mereka dengan diam, sementara itu Antariksa diam-diam selalu memperhatikan Bintang.

Setelah mereka selesai makan, Bintang dan Moza pun pamit untuk kembali ke kelas terlebih dahulu.

Tapi sebelum keduanya pergi Antariksa langsung menahan Bintang.

"Ikut aku sebentar," pinta Antariksa kepada Bintang, dan tanpa menunggu jawaban dari Bintang, Antariksa langsung menarik tangan Bintang dengan lembut.

Bintang hanya mengikuti pria itu, dan ternyata Antariksa membawa dirinya sampai ke taman belakang sekolah.

"Kenapa kakak bawah gue kesini?" tanya Bintang berpura-pura lupa dengan janjinya sendiri.

"Apa lo lupa, pada apa yang lo janjikan kemarin, gue nunggu jawaban Lo, Bintang." Antariksa menggenggam kedua tangan Bintang dengan sangat lembut.

Bintang menatap mata pria itu, dan yang dia lihat ada ketulusan dimata itu.

"Kak, gue ... " Bintang terdiam, dia bingung harus memberikan jawaban apa pada Antariksa.

"Lo, kenapa?" Antariksa menunggu jawaban Bintang penuh harap.

"Gue ... " Sekali lagi omongan Bintang kandas disitu.

"Duh, gimana dong. Gue bingung mau jawab apa," batin Bintang yang kini sedang menundukkan kepalanya.

"Katakan saja, Bi. Gue udah siap kok mendengar jawaban dari Lo, entah itu baik atau buruk gue udah siap." Antariksa menatap Bintang dengan senyuman yang manis.

"Kak, gue mau kok jadi pacar Lo. Gue udah pikirin semuanya dengan baik dan gue nyaman sama Lo," ucap Bintang.

Perkataan Bintang membuat Antariksa begitu bahagia, tanpa sadar dirinya langsung memeluk Bintang, dia mendekap Bintang dengan begitu erat, seakan-akan Bintang akan menghilang saja.

"Terimakasih kasih Bintang, Lo udah mau jadi bagian dari hidup gue," Antaranya mengelus kepala Bintang.

Tanpa keduanya sadari sahabat mereka sudah ada disana menyaksikan hal romantis yang mereka lakukan.

"Cie ... cie ... ada yang baru jadian nih, bakal ada traktiran buat kita-kita," Genta menggoda Bintang dan Antariksa.

Mendengar kalau ternyata sudah ada orang lain disana, Antariksa langsung melepaskan Bintang dari pelukannya.

"Kalian tuh, ngapain juga sih? Ganggu orang aja." Antariksa merasa kesal dengan kedua sahabatnya.

Sementara itu Bintang merasa sangat malu, pipinya sudah terasa panas.

Melihat Bintang yang salah tingkah Moza langsung menggoda Bintang.

"Akhirnya jadian juga Bintang sama kak Antariksa, kayaknya gue doank yang jomblo nih." Moza menyikut lengan Bintang.

"Lo anggap apa tuh dua cowo sana, pilih aja salah satu dari mereka," Bintang pun balik menyerang Moza, dan itu sukses membuat wajah Moza merona.

"Apaan sih, Bi."

Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, Bintang dan Moza berjalan bersama menuju tempat parkir, karena Bintang sudah berjanji pada Moza akan mengantarkan dia pulang.

Saat mereka tiba diparkiran. Disana sudah ada Veena, dia menatap Bintang dengan penuh kebencian.

Saat Bintang hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Veena menahan pintu mobil Bintang.

Bintang yang merasa tidak punya masalah dengan kakak kelasnya itu merasa bingung.

"Maaf, Kak. Apa kakak boleh minggir? Gue rasa kita gak punya masalah apa-apa, jadi ngapain kakak menghalangi jalan gue!" Bintang merasa kesal dengan Veena tapi dia mencoba untuk tidak terpancing.

"Ternyata lo tajir juga yah, gue pikir Lo cuma gadis miskin kayak teman lo itu, tapi Lo jangan sombong karena yang pasti gak ada yang bisa dibandingkan dengan gue disekolah ini," Veena berbicara dengan begitu sombong, dia bahkan menatap Bintang dari atas sampai bawah.

"Apanya yang lebih dari Bintang, jelas-jelas Bintang aja mobilnya limited edition, lah dia kesekolah aja pake minta diantar supir, mobil sendiri gak punya," Moza mengoceh dalam hatinya.

"Jadi, Kakak kesini cuma mau bilang itu? Gue gak peduli yah, mau Kakak itu lebih kaya atau lebih dari segala-galanya gue ... gak ... pe-du-li!!! Jadi cepat Kakak minggir karena gue mau pulang." Bintang mendorong Veena agar menyingkir dari samping pintu mobilnya, dan langsung masuk kedalam mobil.

Veena yang diperlukan seperti itu oleh Bintang merasa sangat marah, apalagi kejadian itu disaksikan oleh banyak orang.

Awalnya dia ingin melabrak Bintang karena sudah merebut Antariksa, malah berakhir dengan dipermalukan oleh Bintang.

"Awas kamu gadis sialan, aku pasti akan membuat kamu merasakan akibatnya karena sudah berani membuat aku malu seperti saat ini," Veena mengomeli Bintang yang sudah pergi, wajahnya kini sudah sangat merah karena emosi.

Sementara itu didalam mobil Bintang, Moza sedang bersorak gembira, dia merasa kagum dengan keberanian Bintang.

"Gila Lo, seumur gue sekolah di tempat itu, baru Lo siswa pertama yang berani melawan seorang Shaveena Aila Thalisa, gadis tersombong disekolah, salut gue sama, Lo." Moza mengangkat kedua jempolnya kepada Bintang.

"Emang apa sih yang ditakutkan dari perempuan itu? Lagian menurut gue, dia itu gak terlihat garang." Bintang merasa heran kenapa mereka takut kepada Veena.

"Emang lo gak tau, bokap nya Veena kan kepala sekolah kita, makanya dia sombong." Ucap Moza dengan wajah terkejutnya karena Bintang yang tak mengetahui status dari Veena.

"Anak kepala sekolah aja sombong, bokap gue yang ketua yayasan dan juga pemegang saham terbesar disekolah aja gue biasa-biasa aja," ucap Bintang santai, tapi berbeda dengan Moza yang sudah ternganga saking terkejutnya dia karena baru mengetahui fakta kalau Bintang anak pemilik sekolah.

"What!!!! Serius Lo? Kenapa Lo baru cerita sekarang sih, Bi. Wow Amazing banget tau, ternyata sahabat gue anak seorang pemilik sekolah, tapi kenapa Lo sembunyikan status Lo dari semua orang?" Moza merasa bahagia sekaligus heran.

"Gue gak mau aja ada sahabat-sahabat palsu yang deketin gue, sama kayak waktu disekolah gue yang dulu," Bintang menjelaskan alasannya kepada Moza.

Moza mengangguk mengerti dengan apa yang Bintang katakan.

Sampai tak terasa mereka sudah tiba didepan sebuah rumah sederhana, dan itu adalah rumahnya Moza.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!