*Jangan pernah berkata benci, karena benci itu bisa menjadi cinta
#Bintang Nazania Hazel*
Bintang masih menutup matanya, tapi sekian lama tak ada yang terjadi pada dirinya.
Perlahan Bintang membuka matanya, dan yang dilihatnya, hanya tatapan bingung pria itu.
"Ngapain, Lo? pake tutup mata segala, jangan-jangan lo, lagi nunggu gue buat nyium, Lo?" Pria itu menggoda Bintang.
Dan saat ini Bintang merasa pasti wajahnya sudah merah seperti udang goreng, karena saat ini dia merasa sangat malu.
"Ih, pe-de amat, siapa juga yang mau dicium sama seorang Antariksa yang kayak es kutub lagi jalan." Bintang mendorong tubuh Antariksa dan langsung berlari keluar dari kamar pria itu.
Antariksa hanya tersenyum senang, karena dirinya berhasil mengerjai Bintang, dia pun menyusul Bintang keluar.
Ternyata saat ini Bintang masih berada didepan kamarnya, melihat Bintang masih ada didepan kamarnya, Antariksa terpikir untuk menggoda Bintang lagi.
"Belum pergi? masih mau nungguin gue?"
"Eh ... bukan gitu, gue cuma gak mau balik gabung sama Mak- Mak aja, bosan tau dengerin mereka ngegosip, gak ngerti gue." Bintang memasang wajah cemberut.
"Oh ... kalau gitu ikut gue aja ke dapur. Lo, lapar gak? gue bikinin mie instan mau?" ajak antariksa kepada Bintang.
Bintang tidak langsung setuju, dia masih terdiam sebentar.
"Sebaiknya gue ikut si es kutub ini, dari pada gabung sama ibu-ibu," ucap Bintang dalam hatinya.
Bintang pun setuju dengan ide Antariksa, karena memang Bintang belum memakan apapun saat dia akan kesini.
Antariksa pun mengajak Bintang pergi kedapur, dan dia memasak dua bungkus mie instan.
Diam-diam Bintang menatap Antariksa yang sedang sibuk memasak.
"Emang lo bisa masak?" Bintang merasa ragu dengan masakan Antariksa.
"Bisa lah," Jawab Antariksa singkat.
Bintang pun tak berbicara lagi, dia hanya diam saja memperhatikan Antariksa yang sedang sibuk.
Mie instan pun sudah masak, dan Bintang menyajikan dua porsi mie di meja makan.
"Ayo makan, gak usah malu-malu." Antariksa pun mulai menyantap makanannya.
Melihat Antariksa yang sudah mulai makan, Bintang juga ikut menyantap makanan yang ada dihadapannya.
"Gak nyangka gue, es kutub bisa masak juga yah," Bintang merasa takjub dengan mie buatan Antariksa yang enak, dan rasanya berbeda.
"Enak aja gue di bilang es kutub," Antariksa protes dengan ucapan Bintang.
"Emang kayak es kutub, terlalu dingin, sehingga bisa membekukan orang," Bintang mencibir kepada Antariksa.
"Wah ... gak tau berterimakasih, udah di buatin mie, tapi malah menghina."
"Ih ... lagian gue gak minta dibuatin," Bintang menjulurkan lidahnya kearah Antariksa.
Tak terasa mie yang mereka santap sudah ludes, setelah makan Antariksa mengajak Bintan pergi ke taman belakang rumahnya.
Saat sampai di taman, Bintang dibuat takjub oleh pemandangan taman bunga dirumahnya Antariksa.
Begitu banyak bunga dan semuanya tertata rapih, Bintang merasa sangat nyaman berada ditempat ini.
Mereka pun duduk di bangku yang ada di taman.
Cukup lama mereka terdiam, sampai akhirnya Antariksa yang pertama membuka suara.
"Hari ini lo terlihat berbeda," ucap Antariksa, karena dia melihat penampilan Bintang yang berbeda sekarang dan saat disekolah.
"Haruslah, Kak. Kasihan mama kalau anaknya ikut ke arisan dengan gaya preman," ucap Bintang
Antariksa tertawa menanggapi ucapan Bintang, melihat Antariksa yang menertawakan dirinya Bintang mendengus kesal.
"Ternyata sadar juga, Lo. Kalau selama ini lo mirip kayak preman," Antariksa sengaja mengejek Bintang, agar Bintang menjadi kesal, karena menurut Antariksa wajah Bintang saat marah sangat imut.
Bintang tak menyadari kalau saat ini Antariksa hanya mempermainkan dirinya, dia merasa sangat kesal dan hendak pergi meninggalkan Antariksa sendiri.
Tapi sekali lagi langkah Bintang harus terhenti, karena tangannya ditahan oleh Antariksa.
"Mau kemana?" Tanya Antariksa.
"Pulang!! Bosan di sini, satu sisi ada ibu-ibu arisan yang membosankan, disisi lain ada es kutub yang menjengkelkan." Masih membelakangi Antariksa, Bintang menjawab pertanyaan pria itu.
"Gue anterin mau?" Antariksa menawarkan diri untuk mengantarkan Bintang pulang.
"Gak mau ah, nanti bawaannya kesal terus kalo gue pergi sama, Lo." Bintang membalikkan badannya menatap Antariksa, dan saat ini keduanya sudah saling bertatapan dengan tangan yang saling menggenggam, dan yang pastinya mereka tidak menyadari tentang tangan mereka.
"Duh sial!! Kenapa jantungku berdetak kencang gini, sih?" rutuk Bintang dalam hatinya.
"Rupanya benar kata Genta dan Arsen, aku udah mulai suka sama Bintang," ucap Antariksa dalam hatinya.
Tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara deheman Dinda ibunya Antariksa.
"Ehem ... kalian lagi apa?" tanya Dinda membuat Bintang dan Antariksa salah tingkah, tapi ironisnya tangan mereka belum juga terlepas.
"Dicariin kemana-mana tau disini kamu, Sayang." Tambah Sarah yang memang sudah bingung dari tadi mencari anak semata wayangnya ini.
"Maaf, Ma. Tadi pas ke toilet ketemu Kak Antariksa, trus di ajak ngobrol disini, dari pada bosan dengerin Mama sama tante-tante lainnya ngomong mending ikut Kak Antariksa aja," Bintang menjelaskan, tapi wajahnya kini menunjukkan rasa bersalah.
"Trus itu kenapa tangannya pake pegangan gitu," Dinda yang menyadari kalau tangan keduanya saat ini sedang berpegangan pun menggoda keduanya.
Perkataan Ibunya Antariksa membuat keduanya kaget, dan sama-sama melihat kearah tangan mereka yang masih berpegangan.
"Gak apa-apa kok, Bun. Tadi Bintang hampir terjatuh. An, cuma mau nolongin Bintang jadinya kayak pegangan tangan gini deh," Kali ini Antariksa yang mencoba menjelaskan.
Bintang hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Antariksa, tapi semua itu tak membuat kedua ibu mereka percaya begitu saja, kedua wanita paruh baya itu malah saling menatap dan tersenyum.
"Kayaknya kita bakal jadi besan deh, Jeng." Ucap Dinda kepada Sarah.
"Iya, Jeng Dinda," Sarah membalas ucapan Dinda.
"Mama ...." "Bunda ...."
Antariksa dan Bintang kompak memanggil ibu mereka.
Dan kekompakan keduanya melah menjadi bahan gurauan kedua wanita paruh baya itu.
"Lihat deh, Jeng. Gitu aja keduanya sampe barengan gitu," Sarah kembali menggoda keduanya.
"Itu artinya mereka jodoh, senangnya bisa jadi besan Jeng Sarah."
Selesai menggoda kedua anak mereka, kedua wanita itu pergi meninggalkan Antariksa dan Bintang yang masih menatap bingung kepada ibu mereka.
"Kakak sih, ngapain juga pake pegang-pegang tangan gue segala, kan mama sama Tante Dinda jadi salah paham." Bintang melepaskan tangannya dari genggaman Antariksa.
"Lah, kenapa juga lo gan lepasin tangan gue, tadi kelihatannya malah menikmati tangannya dipegang sama gue." Antariksa juga ikut-ikutan menggoda Bintang dan tersenyum kepada Bintang.
Bintang yang sudah sangat kesal pun langsung pergi meninggalkan Antariksa, pria itu hanya tersenyum melihat kepergian Bintang.
Kini Bintang sudah berada di ruang tamu rumah Antariksa, dan disana dirinya tidak menemukan Sarah ibunya, hanya ada Dinda yang sedang duduk menonton televisi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments