*Mencintaimu bukanlah suatu kesalahan, tapi mencintaimu adalah suatu anugerah.
#Antariksa Rahardian*
Selama upacara berlangsung pikiran Bintang tak bisa fokus, dia bingung memikirkan jawaban yang akan diberikan kepada Antariksa.
Bintang masih bingung dengan perasaannya, tapi dia juga tak tega untuk menolak Antariksa, dan pada akhirnya pria itu akan kecewa.
Bintang tau tak mudah untuk Antariksa bisa jatuh cinta, terlebih dia sudah mendengar dari teman-temannya bagaimana Antariksa selalu menolak gadis yang mendekatinya, dan sekarang Antariksa malah menyatakan cinta kepada dirinya, artinya Antariksa sudah menjadikan dirinya special dalam hidup pria itu.
Maka tak mungkin kalau Bintang menolak Antariksa dan membuat dia kecewa, tapi tak mungkin juga Bintang menerima cintanya, sementara Bintang belum yakin dengan perasaannya.
Upacara bendera akan segera berakhir, artinya Bintang harus pergi menemui Antariksa, sekarang pikirannya semakin kacau.
"Aduh, aku harus apa dong?" Bintang menggerutu dalam hatinya.
"Aha, atau aku pura-pura pingsan aja." Dan dia pun mendapatkan ide untuk menghindari Antariksa.
Tak lama kemudian Bintang berpura-pura pusing, dia memanggil Moza, dan saat Moza mendekatinya dia pun langsung melancarkan aksinya, dia langsung pura-pura pingsan dan beruntungnya Moza langsung menangkap sahabatnya itu.
"Ya ampun, Bintang." Moza pun menjadi panik, dia meminta tolong teman sekelasnya untuk memanggil anggota PMR, tapi sebelum temannya pergi, Antariksa sudah lebih dulu mendekati mereka.
"Biar gue aja yang bawah Bintang ke UKS," Antariksa menawarkan diri dan Moza mengiyakan.
Antariksa pun segera menggendong Bintang, dan dia meminta Moza untuk tetap di barisan saja.
Bintang yang menyadari dirinya sudah di gendong Antariksa bertambah panik, dia merasakan tubuhnya lemas seketika.
"Astaga, niatnya mau menghindar tapi malah lebih dekat," Bintang mengomel dalam hati, rasanya saat ini dia ingin kabur saja, kalau seandainya dia sedang tidak berpura-pura.
Saat ini mereka sudah berada di UKS, Antariksa membaringkan Bintang perlahan di atas tempat tidur di UKS, dan dia berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan memandangi Bintang.
"Lo bisa bangun sekarang, gak perlu pura-pura lagi." Dan ternyata Antariksa tau dengan sandiwara Bintang.
Bintang perlahan-lahan membuka matanya, dia merasa semakin panik karena dia ketahuan bohong sama Antariksa.
"Kakak, tau aja kalau gue lagi acting." Bintang memanyunkan bibirnya karena kesal aksinya diketahui Antariksa.
"Lo pikir bisa bohongin, gue? Kalau teman lo, mungkin bisa lo bohongin, tapi gue ngak." Antariksa menatap Bintang penuh selidik, hak itu membuat Bintang menjadi salah tingkah.
"Kenapa pura-pura pingsan?" Antariksa menanyakan alasan Bintang.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pria itu membuat jantung Bintang berdebar kencang, Bintang terdiam memikirkan alasan apa yang akan dirinya berikan kepada Antariksa.
"Malas ikut upacara aja, kak," jawab Bintang dengan suara yang pelan dan nyaris tak terdengar.
"Ya ampun Bintang, bisa gak kamu itu jadi anak yang patuh dengan peraturan." Antariksa hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka Bintang bisa melakukan itu.
"Ck ..." Bintang hanya berdecak kesal, wajahnya cemberut menatap pria dihadapannya itu.
Bintang pun merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk, sementara itu Antariksa sudah menarik kursi yang ada di UKS dan meletakkannya di dekat tempat tidur, dan dia mendudukkan dirinya di kursi itu.
Dia mengambil kedua tangan Bintang dan menggenggamnya, Bintang yang mendapat perlakuan seperti itu merasa jantungnya akan segera copot.
"Astaga, kayaknya jantungku sudah gak normal lagi," ucap Bintang dalam hatinya.
Terlebih lagi saat ini Antariksa sedang menatap Bintang, dan Bintang pun melakukan hal yang sama, jadi saat ini keduanya sedang saling menatap.
"Bintang, jadi gimana dengan jawaban dari pertanyaan gue kemarin?" Akhirnya yang dikhawatirkan Bintang keluar juga dari mulut Antariksa.
Bintang pun gelagapan memikirkan apa yang harus dia katakan pada Antariksa.
"Ya Tuhan, aku harus gimana?" Bintang masih belum mendapatkan jawaban yang tepat untuk Antariksa.
Disaat Bintang sedang bingung, tiba-tiba pintu UKS terbuka dan Moza langsung menerobos masuk kedalam, Antariksa dan Bintang pun segera melepaskan tangan mereka, tapi itu sudah terlambat karena Moza sudah melihat terlebih dahulu.
"Maaf!! Maaf!! Gue ganggu yah? Ya udah gue balik lagi aja," Moza merasa tak enak hati, karena dia merasa sudah mengganggu kedua orang yang ada dihadapannya.
"Gak kok, lo gak ganggu, ini gue juga baru aja bangun." Melihat Moza yang akan segera pergi lagi dari ruangan itu, membuat Bintang segera bersuara.
Berbeda dengan Antariksa yang merasa kesal karena dia belum mendapatkan jawaban dari Bintang.
"Beneran gak ganggu?" Moza kembali bertanya, tapi pandangannya kepada Antariksa.
Dan Antariksa hanya membalasnya dengan mengangguk.
Akhirnya Moza pun langsung mendekati Bintang, dan langsung memberikan Bintang banyak pertanyaan.
Antariksa yang merasa kalau kesempatannya sudah tak ada lagi saat ini, akhirnya dia pun pamit pergi.
"Kalau begitu gue masuk kelas dulu, Lo jagain Bintang." Setelah mengatakan itu dia pun langsung meninggalkan ruangan UKS.
"Tanpa disuruh pun pasti gue jagain," Moza mebalas perkataan Antariksa, tapi pria itu sudah tak ada di tempat itu lagi.
Bintang hanya tersenyum melihat reaksi sahabatnya itu.
"Untung aja lo datang tepat waktu, kalau gak gue bisa pingsan beneran." Bintang membuang nafas lega.
"Maksud Lo?" Moza merasa bingung dengan perkataan Bintang.
Bintang merasa kalau dia harus menceritakan hal ini kepada Moza, barangkali saja sahabatnya itu bisa memberikan solusi kepada dirinya.
"Kak Antariksa nembak gue, Za." Tanpa kalimat basa-basi Bintang langsung to the point aja kepada Moza.
Dan Moza yang mendengar pernyataan Bintang tak bisa menahan rasa terkejutnya, sampai-sampai mulutnya terbuka lebar.
"Biasa aja kali, Za."
"Gitu amat sih reaksinya." Bintang merasa sahabatnya itu terlalu berlebihan menanggapi apa yang dia katakan.
"Gila lo, ditembak oleh seorang seperti kak Antariksa lo bilang biasa aja." Moza merasa Bintang sangat beruntung.
"Trus lo jawab apa? Apa lo berdua udah jadian? Bisa heboh satu sekolahan kalau cowo kayak Antariksa akhirnya punya pacar, kayaknya bakal banyak hati yang terluka."
Bintang hanya memutar bola matanya, niatnya ingin dapat solusi, tapi bukannya solusi yang dia dapat, tapi kehebohan seorang Moza.
"Kita belum jadian, Za. Gue aja belum ngasih jawaban, gimana mau jadian," Bintang menjawab dengan santai.
Sementara itu Moza kembali terkejut mendengar jawaban Bintang.
"Astaga!!! Bintang, lo itu kenapa sih? jadi pacarnya kak Antariksa itu impiannya gadis-gadis disekolah ini, tapi lo malah menyia-nyiakan kesempatan ini," Moza mengomeli Bintang, dia merasa kecewa dengan jawaban Bintang.
"Gue gak bilang kalo udah nolak kak Antariksa oon, tapi gue bilang belum kasih Jawaban," Bintang menjitak kepala Moza saking germasnya dia melihat ekspresi wajah Moza saat sedang mengomel tadi.
"Oh, bagus deh. Gue pikir lo nolak kak Antariksa, jadi gimana selanjutnya?" Moza mengelus dadanya, dia merasa lega karena masih ada harapan Bintang jadian sama Antariksa.
Dan dia bisa melihat Veena Si cewek sok kecakepan, dan juga sombong itu menangis karena Antariksa jadian sama Bintang.
"Gue masih bingung, Za. Gue bingung dengan perasaan gue sama kak Antariksa, gue takut salah mengambil keputusan." Wajah Bintang seketika menjadi murung.
"Menurut gue, lo harus ngasih kak Antariksa kesempatan, dia pasti gak bakal buat lo kecewa, gue yakin seratus persen," Moza mencoba untuk meyakinkan Bintang, dia sangat berharap sahabatnya itu bisa menjadi pacar Antariksa, karena dia tau pria itu pasti tak akan menyakiti sahabatnya itu.
Bintang mengangguk menanggapi perkataan sahabatnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments