Bab 12. Kafka Cakrawala

Malam harinya Bintang sedang mengerjakan tugas sekolah didalam kamarnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Bintang segera mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk.

"Pesan dari kak Antariksa," Bintang bergumam sambil tersenyum, dan dia pun segera membaca isi pesan itu.

[Assalamualaikum, Bi. Lagi apa?]

Tak menunggu lama Bintang langsung membalas pesan itu

[Waalaikumsalam, lagi kerjain tugas aja, Kak.]

Tak lama kemudian kembali terdengar bunyi pesan masuk.

[Kerjain yang bener tugasnya, setelah itu cepatlah beristirahat, jangan sampai telat kesekolah]

[Iya, Kak. Kakak juga cepat tidur yah, selamat malam]

Akhirnya mereka pun menyudahi kirim mengirim pesannya.

Tapi tak diketahui Bintang, saat ini Antariksa sedang kesakitan didalam kamarnya.

Dia memaksakan dirinya untuk berdiri dan mengambil obat penghilang nyeri di laci nakas dikamarnya.

Setelah meminum obat itu Antariksa segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

"Sebaiknya besok aku pergi menemui dokter Sarah, apa aku harus memberitahukan Bunda dan Ayah tentang penyakit yang aku derita ini, aku tak mau bunda sedih karena mengetahui semua ini," Antariksa bergumam sendiri, sampai pada akhirnya dia tertidur dan tak merasakan sakit lagi.

Keesokan harinya Bintang pergi ke sekolah pagi sekali, dia kembali mengendarai mobil kesayangannya itu, pertama-tama dia pergi menjemput Moza.

Saat ini Bintang sudah sampai didepan rumah Moza, dia membunyikan klakson agar Moza mengetahui kalau dia sudah datang.

Moza segera bergegas keluar dari dalam rumah, tapi sebelum pergi dia masih menyalami kedua orangtuanya.

Bintang dan Moza pun akhirnya berangkat ke sekolah.

"Tumben Lo, biasanya juga datang ke sekolah selalu kesiangan," Moza menatap Bintang dengan tatapan mengintrogasi.

"Wah, kebangetan Lo, Za. Mana ada gue ke sekolah kesiangan, gak pernah kali gue terlambat." Bintang tak terima dengan perkataan Moza akhirnya dia pun protes kepada Moza.

Moza tertawa melihat wajah kesal Bintang, sementara itu Bintang hanya bisa membuang nafas kasar karena Moza sudah berhasil membuat dia kesal di pagi hari ini.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di sekolah, Bintang memarkirkan mobilnya, dan kemudian mereka berdua berjalan menuju ke kelas.

Tiba-tiba Veena muncul dan menghadang Bintang dan Moza, Bintang berdecak kesal melihat anak kepala sekolah itu sudah mencari masalah padanya sepagi ini.

"Lo, mau apa sih? Sepagi ini sudah mau bikin onar aja." Bintang telalu malas untuk meladeni perempuan seperti Veena, tapi Veena tetap tak mau melepaskan Bintang.

"Beneran Lo udah jadian sama Antariksa?" Veena bertanya dengan nada membentak kepada Bintang.

Bintang memutar bola matanya dia benar-benar malas untuk berurusan dengan Veena, sementara itu Veena yang tidak mendapatkan respon dari Bintang malah semakin terbakar emosi.

"Jawab woi!!! Gila Lo yah, anak baru aja udah sok-sokan kayak gitu, emang lo pikir ini sekolahan bokap Lo, yang ada juga Lo harusnya takut sama gue, karena bokap gue kepala sekolah disini," Veena mulai menyombongkan dirinya didepan Bintang.

Bintang yang mendengar kesombongan Veena rasanya begitu jijik, menurut Bintang Veena terlalu berlebih-lebihan.

"What? Sombong kali perempuan ini, ya iyalah Bintang kan anak pemilik sekolah, belum tau aja dia," Moza mengoceh dalam hatinya, dia rasanya ingin menjambak di Veena kalau saja dia tidak mengingat akan kena hukum nanti.

"Astaga, Lo itu kenapa sih? Antariksa mau jadian sama siapa aja itu urusan dia, trus masalahnya sama Lo apa? Emang lo siapanya Antariksa?" Bintang merasa heran kenapa masih ada perempuan tidak tau malu seperti yang ada dihadapannya saat ini.

"Lagian kenapa juga kalo bokap Lo kepala sekolah disini? Kan gue lagi gak bikin masalah, yang ada anaknya pak kepala sekolah yang suka bikin masalah," sambung Bintang lagi, dan perkataan Bintang ini sukses membuat Veena terdiam tak berbicara lagi.

Bintang lalu menarik tangan Moza dan pergi meninggalkan Veena yang sudah menjadi patung hidup, kasihan nasib Veena baru ketemu dia sama orang yang berani melawan dia.

Saat ini bel tanda masuk telah berbunyi, Semua siswa sudah masuk kedalam kelasnya masing-masing, tak lama kemudian Wali kelas 11 IPA1 masuk dan dalam sekejap kelas yang tadinya gaduh menjadi tenang.

Semua mata tertuju pada seseorang yang masuk bersama ibu wali kelas mereka, para siswi di kelas itu menatap siswa baru yang datang dengan tatapan penuh kekaguman, tapi beda lagi dengan Bintang yang menatap siswa itu dengan tatapan penuh keterkejutan.

"Kok dia bisa ada disini?" batin Bintang yang merasa heran dengan kehadiran orang itu.

Saat ini ibu wali kelas sudah mulai memperkenalkan siswa baru yang datang bersamanya, semua siswa mendengarkan dengan seksama.

"Anak-anak hari ini kalian kembali kedatangan teman baru, setelah kemarin Bintang hari ini ada Kafka siswa pindahan dari SMA Kartini dari Jakarta, Kafka silahkan perkenalkan nama kamu," Ibu wali kelas pun meminta Kafka untuk memperkenalkan dirinya.

"Hai teman-teman nama saya Kafka Cakrawala, seperti yang dikatakan oleh ibu guru yang cantik ini saya pindahan dari SMA Kartini Jakarta, saya pindah ke sekolah ini karena mengikuti orang tua saya yang harus pindah juga kesini, jadi sekian perkenalannya semoga teman-teman bisa menerima saya disekolah ini," Kafka memperkenalkan dirinya dengan sopan, dan saat Kafka berbicara semua gadis-gadis dikelas itu tak berkedip sama sekali termasuk Moza.

"Wah, rupanya kak Antariksa sudah ada saingannya, nih cowo cakep bener," Moza memuji Kafka dan Bintang yang mendengarkan apa yang Moza katakan hanya bisa ternganga menatap Moza.

Sementara Kafka memandang Bintang dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

Menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Kafka, Bintang langsung menundukkan kepalanya.

"Ngapain sih dia ngeliatin gue Ampe segitunya, bikin risih aja," Bintang menggerutu dalam hatinya.

"Kafka silahkan kamu mencari tempat duduk yang masih kosong, dan ibu mau permisi dulu, kalian jangan ribut sebentar lagi guru mata pelajaran akan segera datang." Bu guru pun memberi peringatan kepada para siswa itu.

Kafka pun mengangguk dan langsung menuju ke bangku kosong yang ada di belakang Bintang.

Dan setelah memastikan Kafka sudah mendapatkan tempat duduk, ibu wali kelas pun pergi meninggalkan kelas 11 IPA1.

Kafka masih saja menatap Bintang walaupun sebenarnya dia cuma bisa melihat punggung Bintang.

Jam istirahat sudah tiba, semua siswa berhamburan keluar dari dalam kelas dan sebagian besar dari mereka menuju ke kantin.

Sementara itu Bintang sejak tadi sibuk mengecek ponselnya, dia terlihat begitu gelisah.

"Kak Antariksa kenapa gak ngebalas chat gue, apa gue samperin ke kelasnya aja, kali aja dia gak sempat ngecek ponselnya karena sibuk," Bintang bergumam pelan dan hanya dirinya yang bisa mendengarkan apa dia katakan.

Terpopuler

Comments

Keyboard Harapan

Keyboard Harapan

siapa tuh kafka🤔

2022-11-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!