*Dari kesalahan kita akan belajar untuk memperbaiki diri
#Bintang Nazania Hazel*
Saat ini Bintang merasa sangat kesal dengan kehadiran gadis dihadapannya, Bintang merasa kalau gadis itu sudah mengganggu aktivitas belajarnya.
"Siapa sih, Lo? Datang-datang cuma mau gangguin orang lagi belajar," Bintang bertanya dengan kesal kepada gadis itu.
"Kenalin ... nama gue Shaveena Aila Thalisa, gadis tercantik disekolah ini," Veena memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri.
Bintang memutar bola matanya malas, dia merasa muak mendengar perkataan Veena.
"Trus ... maksud lo gangguin gue apa?" Bintang kembali bertanya.
"Gue mau bilang ke lo untuk menjauh dari Antariksa," Ucap Veena dengan nada mengancam.
Mendengar itu Bintang tak bisa menahan tawanya, dia pun tertawa keras, membuat dirinya mendapat teguran dari penjaga perpustakaan.
"Emang lo pikir gue lagi deketin Antariksa? Gak minat gue sama tuh cowo." Bintang tertawa geli melihat Veena yang kesal dengan perkataannya.
"Trus ngapain lo tadi pake acara makan ditempat Antariksa," Veena mulai terpancing emosi, tapi Bintang masih tetap santai karena dia mengingat kalau saat ini dirinya sedang berada di perpustakaan.
"Emang masalahnya apa kalau gue makan disitu? itu kan kantin dan itu tempat umum, kebetulan aja yang kosong tinggal tempat yang itu, jadi gue duduk disitu aja," Bintang berbicara dengan acuh, karena dia merasa tak ada yang salah dengan dirinya.
Veena yang sudah sangat kesal karena Bintang yang tak merasa takut dengan dirinya, akhirnya pergi dari tempat itu.
Melihat Veena yang pergi dengan kesal, membuat Bintang terkekeh, tanpa mereka sadari percakapan mereka ada yang mendengarkan, dan disaat mendengar Bintang yang mengatakan kalau dirinya tak berminat dengan Antariksa, wajah pria itu terlihat murung.
Pria itu pun langsung meninggalkan perpustakaan, tapi saat dia hendak keluar penjaga perpustakaan memanggil namanya.
"Antariksa ..." panggil penjaga perpustakaan itu dengan suara yang lumayan keras.
Hal itu membuat perhatian Bintang terganggu, dia langsung melihat kearah Antariksa, dan mengerutkan keningnya.
Antariksa yang merasa gugup karena terlihat oleh Bintang, mencoba untuk bersikap tenang, dan dia berbalik mendekati penjaga perpustakaan itu.
"Ibu memanggil saya?" tanya Antariksa.
"Itu ... apakah kamu mau meminjam buku itu? kalau kamu ingin membawa buku itu sebaiknya kamu mencatat di daftar peminjam buku." Wanita paruh baya itu pun menyerahkan sebuah buku besar kepada Antariksa.
Mendengar perkataan wanita itu, Antariksa baru sadar kalau saat ini dirinya sedang memegang sebuah buku, karena tadi dia sempat berpura-pura membaca, saat dirinya mendengarkan percakapan Bintang dan Veena.
"Maaf Bu, saya lupa untuk meletakkan buku ini kembali ke tempatnya." Dan dia pun kembali kedalam untuk menyimpan buku itu, setelah menyimpan buku itu, Antariksa pun memutuskan untuk pergi dari perpustakaan.
"Apa Kak Antariksa mendengar percakapan aku sama Kak Veena yah?" Bintang bertanya dalam hatinya, tapi kemudian dia mengangkat kedua bahunya tak perduli.
"Lagian kalau dia dengar kenapa juga, kan gue ngak ngomong yang jelek-jelek."
Bintang pun meneruskan aktivitasnya yang sudah sempat terganggu.
Antariksa saat ini sedang berbaring seorang diri di bangku yang berada di taman belakang sekolah.
Dia memasangkan headphone ke telinganya, dan menutup matanya, tapi dia tidak tidur, melainkan saat ini dia sedang berpikir.
"Untuk pertama kalinya, ada gadis yang mengatakan kalau dirinya tidak tertarik kepada diriku," ucap Antariksa dalam hatinya.
"Tapi kenapa saat mendengar Bintang mengatakan itu, hatiku rasanya sakit, seakan-akan aku tak suka dengan apa yang dia katakan." Bintang memegang dadanya.
"Apa yang kamu pikirkan Antariksa, kamu jangan sampai jatuh cinta kepada Bintang, karena kalau sampai Bintang juga menaruh rasa yang sama, maka dia akan terluka nanti disaat kamu meninggalkan dirinya," Antariksa berbicara pada dirinya sendiri.
Dan Antariksa pun memutuskan untuk menjauhi Bintang, dan dia akan mencoba untuk menghilangkan perasaan dalam hatinya.
Tapi semua itu tampaknya mustahil, karena saat ini Bintang sudah berada dihadapannya, Bintang menggoyangkan tubuh Antariksa, meminta dirinya untuk bangun.
"Astaga Bintang, lo kenapa sih? Gangguin orang yang sedang istirahat aja." Antariksa pun terpaksa bangun dari tidurnya dan merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk.
"Gue cuma mau balikin ini." Bintang menyerahkan sebuah dompet kepada Antariksa.
Antariksa langsung merabah kantong celananya, dan mendapati kalau ternyata dompetnya tak ada disitu.
"Ini tadi jatuh pas di perpustakaan, jadi gue cariin Kakak buat balikin Dompet ini," selesai mengatakan itu Bintang langsung pergi meninggalkan Antariksa.
Antariksa hanya bisa menatap kepergian Bintang, tanpa sadar tangannya terangkat memegang dadanya.
"Astaga Antariksa kok jantung nya berdetak kencang kayak gini, cuma karena tadi melihat Bintang."
Sementara itu Bintang yang sedang berjalan menuju kelasnya malah kepikiran Antariksa.
"Ternyata benar kata orang, aura seseorang itu akan terlihat saat mereka sedang tertidur, kayak Kak Antariksa tadi, terlihat cakep saat sedang tidur, gak kayak kalau lagi bangun, amit-amit dek juteknya," Bintang berbicara sendiri sambil senyum-senyum, dan hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Tapi bukan Bintang namanya kalau dia akan perduli dengan tatapan orang-orang, justru dia berjalan dengan santai tak perduli dengan mereka yang menatapnya.
Saat ini Bintang sudah masuk kedalam kelas, dirinya langsung disambut oleh ocehan Moza.
"Lo kemana sih Bin, gue cariin dari tadi gak nemu, menghilang kemana Lo? Jangan-jangan lo lagi pacaran yah." Moza menatap Bintang penuh selidik.
Mendengar pertanyaan Moza yang menurut Bintang aneh, sontak Bintang langsung menjitak kepala Moza, membuat Moza menjerit.
"Aduh! Sakit tau, galak amat sih." Moza mengelus kepalanya yang habis kena jitak.
Melihat Moza yang kesakitan Bintang hanya menertawakannya.
"Lagian Lo juga, nanya yang aneh-aneh, sakit yah?" Bintang pura-pura menunjukkan wajah prihatinnya dan ikut mengelus kepala Moza, tapi setelah itu dia kembali menertawakan Moza, dan Moza hanya bisa mendengus kesal.
"Tadi gue abis dari perpustakaan, mau cari ketenangan, eh malah ketemu orang-orang gak jelas," ucap Bintang memasang wajah jengkel.
"Gak salah dengar gue? Lo pergi ke perpus? Wow, new rekor buat seorang Bintang." Moza menatap tak percaya kepada Bintang.
Bintang memutar bola matanya, "Biasa aja Lo, lagian gue emang udah pintar dari lahir kok, jadi gak usah heran deh."
"OMG, mulai deh, Lo selain bar-bar, tingkat kepercayaan diri Lo setinggi langit."
Perkataan Moza membuat Bintang tertawa, selama Bintang sekolah dan sudah pindah sekolah kesana kemari, baru kali ini Bintang bisa akrab dengan seseorang, pertama kali dirinya bertemu Moza, dia langsung senang dengan Moza, karena Bintang merasa Moza itu tulus berteman dengan dirinya.
Tak seperti teman-teman disekolah sebelumnya, mereka berteman dengannya hanya mau modus aja, karena bintang adalah anak dari seorang pengusaha kaya dan juga pemilik rumah sakit terbesar di Yogyakarta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments