*Cinta itu harus diperjuangkan, entah pada akhirnya akan bersama atau tidak, tapi setidaknya kau sudah pernah berjuang
#Antariksa Rahardian*
"Tante, mama kemana?" Bintang bertanya kepada Dinda yang sedang menonton.
"Mama kamu udah pergi, Sayang. Katanya tadi harus ke rumah sakit ada keadaan darurat," Dinda menjelaskan kepada Bintang.
"Astaga, Mama. Masa Bintang ditinggal sendirian." Bintang mengomeli ibunya yang sudah tidak ada.
Dinda yang melihat Bintang malah tersenyum.
"Nanti diantar Antariksa aja, dari pada pulang sendiri," ucap Dinda.
"Biar aja dia pulang sendiri, Bun. An mau tidur, lagi malas mau kemana-mana." Ternyata Antariksa sudah berada disana sejak tadi dan dia mendengar percakapan ibunya dengan Bintang.
"An ... kamu kok gitu," Dinda menegur Antariksa.
"Kamu antar Bintang pulang, kasihan dia kalau harus pulang sendirian," Dinda memasang wajah memohon kepad anaknya itu.
Antariksa yang tak tega melihat ibunya, akhirnya menyetujuinya.
"Oke, An akan mengantarkan Bintang pulang, bentar An ambil kunci dulu," Antariksa pun pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya.
Bintang tersenyum menatap kepada Dinda, dan dibalas dengan senyuman oleh Dinda.
Tak lama kemudian Antariksa sudah turun, tapi rupanya dia sudah berganti pakaian.
Melihat putranya turun Dinda memberikan senyuman kepada putranya itu.
"Bun, An mau anterin anak orang pulang dulu." Antariksa pamit kepada ibunya dan mencium tangan ibunya.
"Hati-hati yah, jagain calon mantu Bunda,"
Ucapan bundanya membuat Antariksa mendengus kesal.
"Bunda ...."
Dinda hanya menanggapi dengan tawa kekesalan Antariksa itu.
"Lo, masih mau berdiri disitu? gak mau pulang?" Tatapan Antariksa kini beralih kepada Bintang.
Bintang yang menyadari bahwa Antariksa sudah siap pergi, akhirnya dia pun ikut pamit kepada Dinda.
"Tante, Bintang pamit pulang yah, maaf udah ngerepotin." Bintang berjalan mendekati Dinda, dia berpamitan dan mencium tangan Dinda, tapi tak disangka Dinda malah memeluk Bintang.
Setelah acara pamitan selesai keduanya pun pergi meninggalkan rumah Antariksa.
Saat ini mereka sudah berada dalam mobil Antariksa.
"Ternyata lo anaknya Dokter Sarah," Antariksa bertanya kepada Bintang tapi tatapannya tetap fokus pada jalanan.
"Iya," jawab Bintang singkat.
"Jadi sekarang lo mau langsung pulang?" Antariksa menatap Bintang sekilas.
"Pulang lah, emang mau kemana lagi," Bintang memutar bola matanya kesal.
"Kalau gue ajak jalan sebentar mau gak?" Antariksa kembali melihat kepada Bintang, tapi tatapan kali ini menunjukkan kalau dia berharap Bintang bersedia menerima ajakannya.
Mendengar ajakan Antariksa Bintang menoleh kepada pria itu, dia tak percaya kalau pria itu akan mengajak dirinya jalan.
"Mau gak?" Antariksa kembali bertanya.
"Emangnya mau kemana, Kak?" Bintang yang seakan belum percaya kembali bertanya kepada Antariksa.
"Jawab aja, mau atau tidak."
"Ya udah deh, dari pada suntuk dirumah sendirian," Bintang pun akhirnya menyetujui ajakan Antariksa.
Mendengar persetujuan Bintang membuat Antariksa tersenyum bahagia.
Saat ini Antariksa sedang melajukan mobilnya menuju ke pantai Parangtritis.
"Kita mau ke pantai yah, Kak?" Bintang bertanya kepada Antariksa.
Antariksa hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Bintang.
Keadaan dalam mobil Antariksa kembali hening, karena antara Bintang dan Antariksa keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di pantai dengan pemandangan yang indah itu.
Bintang cepat-cepat turun dari mobil, dia tersenyum melihat pemandangan pantai Parangtritis yang indah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Antariksa menyusul Bintang yang saat ini sudah berlari menuju ke tepi pantai.
Antariksa pun mendekati Bintang dan berdiri disampingnya.
"Lo, suka datang kesini?" Melihat Bintang yang terlihat senang, Antariksa pun bertanya, tapi sebenarnya di hanya ingin memecahkan situasi canggung diantara mereka.
"Iya, Kak. Gue suka banget saat datang ke pantai, sayangnya mama dan papa selalu aja sibuk, jadi gak punya waktu buat ajak anaknya jalan-jalan." Raut wajah Bintang berubah menjadi sedih disaat dia mengingat kedua orangtuanya yang tak pernah punya waktu buat dia.
Melihat Bintang yang bersedih Antariksa pun mencoba menghiburnya.
"Kok malah sedih, tadi katanya senang, mau main air bareng gue?" Tanpa menunggu jawaban dari Bintang, Antariksa sudah menarik tangan Bintang pergi ke pantai.
Saat ini Antariksa sedang menyiram Bintang dengan air laut, Bintang membalas apa yang dilakukan Antariksa.
Keduanya bermain sambil tertawa, Bintang yang sedari tadi melihat Antariksa tertawa lepas akhirnya menyunggingkan senyum.
"Ini pertama kalinya aku melihat dia tertawa seperti ini, dan entah kenapa aku suka melihat itu," ucap Bintang dalam hatinya.
Bintang terlepas dari lamunannya karena saat ini Antariksa sudah berdiri didekatnya.
"Lo, capek? istirahat aja dulu, kita cari tempat makan, nanti kita akan menunggu matahari terbenam disini, mau gak?" Sambil berbicara Antariksa sudah menarik tangan Bintang lagi, dan Bintang hanya bisa mengikuti langkah Antariksa.
Bintang tak menjawab pertanyaan Antariksa, dia hanya terdiam dan terus memperhatikan Antariksa.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah cafe dekat dengan pantai, mereka sudah memesan makanan, yang akan mereka makan.
"Lo, kenapa Bintang? Dari tadi cuma diam aja?" Antariksa merasa Bintang sangat aneh karena dia hanya diam sejak tadi.
"Oh ... gak apa-apa, Kak. Gue cuma sedikit capek aja," Bintang mencoba mengelak, dan tersenyum, agar Antariksa tak curiga kalau dirinya sedang memperhatikan pria itu.
Makanan yang mereka pesan saat ini sudah datang, mereka pun menyantap makanan itu, sesekali Antariksa melihat kepada Bintang yang sedang makan dengan lahap.
Hari sudah sore, sebentar lagi matahari akan terbenam, kini keduanya sedang duduk di atas pasir dan dekat dengan pantai.
"Kata orang melihat matahari terbenam dari tempat ini akan sangat indah," Antariksa mencairkan suasana yang sejak tadi hanya ada kebisuan diantara mereka.
"Jadi itu sebabnya Kakak mengajak gue datang kesini? Cuma mau lihat matahari terbenam?" Bintang melihat kepada Antariksa dan bertanya.
Antariksa menggelengkan kepalanya, kemudian dia kembali terdiam, sementara itu Bintang masih menatap pria itu.
Saat ini matahari sudah mulai terbenam, suasana pantai pun sudah mulai sepi, hanya sebagian orang yang masih ada disana dan mereka juga hanya ingin menyaksikan panorama alam itu.
Saat keduanya sedang menikmati pemandangan yang indah itu, tak disangka kini Antariksa sudah menggenggam tangan Bintang.
Hal itu membuat jantung Bintang berdebar kencang, dia memalingkan wajahnya menatap Antariksa dan sama halnya dengan Antariksa yang juga saat ini sedang menatap dirinya.
Keduanya hanyut dalam tatapan mereka dan saling terdiam cukup lama.
"Selain pemandangan matahari terbenam yang indah, disini juga ada satu pemandangan yang lebih indah," ucap Antariksa masih dengan tatapan yang tak lepas dari Bintang.
"Maksud Kakak apa?" Bintang merasa bingung dengan apa yang diucapkan Antariksa.
"Kamu Bintang, pemandangan yang indah itu, aku tak tau sejak kapan rasa ini ada, tapi yang aku tau kalau saat ini hatiku sudah memilih kamu." Antariksa menghentikan kata-katanya dan menggenggam kedua tangan Bintang.
Sementara itu Bintang masih terdiam, malah mungkin saat ini bisa dikatakan dia merasa seperti sedang bermimpi saat mendengar penuturan Antariksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments