Bab 19. Tentang Bulan

Saat ini Bintang merasa jantungnya akan copot karena kedua pria yang ada dihadapannya itu, untuk mencegah agar keduanya tidak bertengkar lagi Bintang menarik Antariksa menjauh dari kelasnya.

"Kakak langsung ke kelas gih, lama-lama disini nanti bisa berabe lagi," Bintang membujuk Antariksa yang saat ini belum melepaskan tatapannya dari Kafka.

Merasa tak mendapat tanggapan dari pria itu Bintang membingkai kedua wajah pria itu dan membuat pria itu menatap kepadanya.

"Antariksa miliknya Bintang udah dong jangan marah-marah kayak gitu lagi, aku gak mau kalau Antariksa ku harus terluka lagi karena berkelahi dengan orang yang gak penting kayak dia," Bintang berbicara dengan lembut kepada kekasihnya itu, dan itu berhasil membuat emosi pria itu meluap.

Antariksa tersenyum kepada gadis itu dan mengelus kepala Bintang dengan lembut.

"Aku ke kelas dulu yah, nanti istirahat aku jemput ke kantin." Antariksa pun segera pergi menuju ke kelasnya setelah dirinya memberikan kecupan singkat di keningnya Bintang.

Perlakuan Antariksa itu membuat hati Kafka semakin terbakar, dan bukan hanya Kafka saja Veena pun meresa sangat kesal melihat apa yang baru saja terjadi antara Bintang dan Antariksa.

Setelah Antariksa menghilang dari tatapan matanya, Bintang pun masuk kedalam kelasnya tapi belum sempat dia duduk di kursinya tangannya sudah ditahan oleh seseorang.

"Kafka, gue mohon sama Lo, tolong jauhi gue jangan Lo buat gue semakin membenci Lo, dan tolong jaga perasaan pacar gue, karena gue sayang sama dia dan gua gak akan pernah mau melihat dia kecewa." untuk kali ini Bintang mencoba untuk meredam amarahnya, dia mencoba untuk berbicara baik-baik kepada Kafka.

Tapi bukannya melepaskan tangan Bintang pria itu justru mendorong Bintang hingga gadis itu tersanda di dinding kelas.

"Lo pikir semudah itu gue ngelupain gadis yang gue cinta, Lo pikir semudah itu gue harus menjauh dari gadis yang pertama kali membuat gue jatuh cinta, dan Lo pikir semudah itu gue ngelepasin gadis yang udah hampir membuat gue gila karena tiap malam mikirin dia."

"Jawab, Bi!!! Jawab semua pertanyaan gue." Mata Kafka menatap wajah Bintang tapi dapat terlihat dengan jelas sinar kekecewaan dari mata itu, tatapan yang terlihat begitu pilu.

"Lo bilang cinta? Lo cinta gue? Gak Kafka, itu bukan cinta, Lo hanya terobsesi sama gue, Lo sampai nyakitin orang lain karena obsesi Lo itu, dan orang itu adalah kakak gue, orang yang paling berharga dalam hidup gue, bahkan sampai saat terakhirnya di dunia ini, dia masih sempat mengorbankan dirinya buat gue, dia memberikan kehidupan baru buat gue, kalau apa yang lo rasa itu cinta pasti saat itu Lo mau berkorban buat gue, tapi Lo egois, Lo lebih mentingin perasaan Lo dibandingkan dengan kebahagiaan gue, gue benci Lo Kafka." Bintang sudah tak bisa lagi menahan emosinya dan pun mengeluarkan semua unek-unek yang ada dihatinya, bahkan saking marahnya Bintang menampar Kafka dan mendorong pria itu menjauh darinya.

Kafka memegang pipinya yang habis ditampar oleh Bintang, dia hanya tersenyum miris dengan apa yang dia alami saat ini, hatinya terasa begitu sakit saat mendengar wanita yang dia cintai mengatakan kalau cinta tulus dihatinya hanyalah sebuah obsesi.

Moza yang baru saja sampai dikelasnya terdiam didepan pintu melihat pertengkaran yang terjadi antara Bintang dan Kafka, sementara itu Kafka langsung pergi meninggalkan kelas dengan hatinya yang begitu sakit karena ucapan Bintang.

Moza langsung mendekati Bintang dan memeluk gadis itu, Moza berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.

...****************...

Bintang POV

Flashback on

Saat itu aku bukanlah gadis yang sekuat ini, aku hanyalah seorang gadis yang sakit-sakitan, penyakit jantung bocor yang bersarang di tubuhku membuat aku menjadi gadis yang lemah.

Aku bahkan sempat berpikir kalau umurku tak akan lama, tapi aku tak pernah merasa sedih atau pun terpuruk karena penyakit yang ada di tubuhku, karena saat itu aku memiliki dua orang yang sangat menyayangi ku dan selalu menyemangati diriku.

Mereka adalah Bulan saudara kembar ku dan juga Kafka pria yang sudah menjadi sahabat ku dan Bulan sejak kami kecil.

Mereka berdua selalu menghiburku dikala penyakit ku kambuh dan aku harus kesakitan karena penyakit itu. Kafka pria itu bahkan rela untuk tidak masuk sekolah hanya untuk menemani ku saat aku sedang dirawat di rumah sakit.

Sampai suatu hari Kafka mengutarakan perasaannya kepada diriku, dan aku yang saat itu juga mempunyai perasaan yang sama dengan pria itu tak perlu berpikir lama untuk menerima dia sebagai kekasihku.

Pada malam itu aku menceritakan tentang aku dan Kafka kepada Bulan saudara kembar ku, Bulan mendengarkan semua apa yang aku ceritakan dengan senyum sehingga aku tidak merasa ada yang aneh dengan Bulan.

Sampai pada hari itu kedua orangtuanya Kafka datang ke rumahku untuk membicarakan soal pertunangan antara aku dan Kafka, dan ternyata hal itu membuat Bulan merasa frustasi.

Aku tak pernah menyadari kalau saudari kembarku itu juga menyukai Kafka, dia tak pernah bercerita kepada ku, dia hanya memendam semua perasaannya itu seorang diri.

Dan pada hari itu semuanya terungkap, aku mendengar Bulan dan Kafka yang sedang berdebat hebat di roof top sekolah kami, saat itu Kafka begitu marah saat Bulan meminta dirinya untuk memutuskan aku, Bulan juga mengatakan kalau dia sudah mencintai Kafka saat kami masih begitu kecil tapi ternyata Kafka hanya mencintai diriku, Bulan mengancam akan bunuh diri apabila Kafka tidak mau mengikuti keinginannya, dia akan bunuh diri kalau Kafka tak mau membalas perasaannya.

Memang semua itu terdengar egois tapi dia adalah Bulan saudari kembar ku, orang yang selalu ada untukku menemani setiap kali aku merasa sakit , aku tak mungkin untuk mengabaikan perasaannya begitu saja, lagipula hidupku tidak akan lama lagi jadi apa salahnya kalau aku berkorban perasaan ku untuk Bulan.

Aku pun memunculkan diriku dihadapan mereka, dan apa yang aku lihat saat ini Bulan sedang berdiri di tepi roof top dan bersiap untuk melompat dari atas.

Aku memohon kepadanya untuk turun tapi dia tak menggubris perkataan ku, aku berusaha untuk membujuk Kafka agar mau menerima Bulan tapi Kafka tetap tidak mau mengorbankan perasaannya, Bulan yang sudah sangat frustasi mendengar perdebatan antara aku dan Kafka, juga sudah merasa begitu hancur saat mendengar penolakan Kafka akhirnya melompat dari atap gedung sekolah kami.

Kejadian itu begitu cepat, aku tak menyangka kalau dia akan senekat itu, aku begitu hancur saat melihat Bulan yang sudah terbaring di lantai dengan darah disekujur tubuhnya.

Seandainya aku tau dia mencintai Kafka aku tak akan pernah menerima cinta Kafka, saat itu aku begitu kecewa dengan Kafka yang begitu keras kepala tak mau mengalah, hatiku semakin hancur saat aku melihat surat yang Bulan tinggalkan didalam kamarnya dan surat itu ditemukan mama kami pagi hari saat kami sudah berangkat ke sekolah.

Di surat itu dia mengatakan kalau dia merasa begitu hancur karena cintanya yang tak terbalas oleh Kafka, dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dari pada dia harus melihat orang yang dia cintai bersanding dengan saudarinya, dan kalau dia mati nanti dia mau agar jantungnya diberikan kepada ku, agar nanti dia akan tetap hidup dalam diriku dan bisa merasakan cinta dari Kafka.

Sejak hari itu juga rasa cinta yang aku rasakan untuk Kafka berubah menjadi kebencian yang besar, mungkin Bulan kecewa dengan diriku tapi aku juga tak mungkin mencintai seseorang yang sudah menjadi penyebab kematian saudari ku satu-satunya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!