Beberapa warga kampung menuju rumah ki Broto, mereka hendak melaporkan periatiwa perampokan yang dianggap upeti oleh tuan Gecik.
Tok..! Tok..! Tok..! Ki...! Ki Broto....! Pintu rumah ki Boto diketuk oleh warga yang datang.
Ranu dan Cut Nilam yang mendengar itu segera membukakan pintu itu.
"Ada apa bapak-bapak kemari?" kata Ranu yang saat itu membukakan pintu rumah, saat itu telah berdiri tiga orang warga dengan nafas yang tersengal-sengal. Ranu memperhatikan ke tiga orang itu yang sepertinya tergesah-gesah ingin menyampaikan sesuatu
"Mari! Mari... Duduklah dulu," kata Ranu sambil menunjukkan sebuah bangku kayu panjang didepan rumah, kemudian Ranu kembali masuk kedalam untuk mengambikan air putih.
"Silahkan diminum dulu," ucap Ranu sambil memberikan air putih kepada mereka yang diambilnya dari dslam rumah.
Pada saat itu ki Broto yang baru pulang dari ladang pun datang, dia segera meletakkan cangkulnya didepan pintu rumah, "ada apa ini? Ada apa..?" Tanya ki Broto yang mendekat dan duduk disisi ketiga orang itu.
"Begini ki...! Den Ranu...! Tadi orang-orangnya tuan Gecik datang lagi," ucap salah seorang dari mereka menjelaskan kepada Ranu dan ki Broto. "Mereka mengambil paksa harta penduduk! Mereka mengatakan mengutip upeti, warga ada yang melawan tetapi mereka dipukul dan dibunu!" ucap orang itu sambil gemetaran.
Ki Broto dengan mimik muka yang menggerutkan wajahnya tampak hanya menggeleng-gelengkan wajahnya saja mendengarkan cerita tersebut.
Sementara Ranu terlihat sedikit emosi dengan mengepalkan jari tangannya.
"Keterlaluan! Ini semua tidak bisa dibiarkan," kata Ranu. "Mulai malam ini, aku akan mengontrol kampung ini, mana tau mereka datang lagi," kata Ranu.
"Terima kasih den," kata salah seorang warga kampung itu, "kalau begitu, kami permisi dulu den, ki?" sambung orang itu sambil pamit dan langsung meninggalkan rumah ki Broto.
Ki Broto tampak hanya manggut-manggut saja, sementara Ranu berdiri membelakangi ki Broto sambil berfikir.
"Kasihan mereka, aku harus bertindak!" kata Ranu sambil melangkah masuk ke rumah, ki Broto pun mengikuti Ranu.
Cut Nilam yang sedang duduk diatas tempat tidur melihat wajah Ranu dalam-dalam sambil menggerutkan dahinya.
"Mau apa mereka itu?" Tanya Cut Nilam, "mereka baru saja melaporkan kejadian," jawab Ranu, "orang-orang tuan Gecik telah datang dan merampok warga, ada sebagian dari warga yang terluka dan terbunuh!" Ucap Ranu sambil duduk di depan Cut Nilam.
Ki Broto pun duduk disisi Cut Nilam, sementara suasana tampak sepi, tak ada satu katapun terucap dari mereka.
"Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi," kata Ranu, "aku harus segera bertindak!" ucal Ranu Geram, "mulai hari ini, aku akan melakukan kontrol kampung ini!" Ucap Ranu kembali.
"Aku ikut!" sanggah Cut Nilam, "Tidak! Kamu masih belum pulih," kata Ranu, "kamu istirahatlah dulu, jika sudah pulih barulah kamu ikut," ucap Ranu menasehati.
"Aku sudah sedikit pulih!" kata Cut Nilam dengan memperlihatkan wajahnya sedikit ketus, melihat keadaan itu Ranu hanya tersenyum.
"Den Nilam istirahat saja dulu, nanti jika sudah pulih betul baru den boleh ikut," kata Ki Broto menasehati, "tetapi aku sudah pulih ki!" jawab Nilam kembali, "tinggal mengeringkan sedikit luka kuarku saja," sambungnya lagi.
...****************...
Malam itu Ranu telah bersiap-siap untuk melakukan ronda kampung, selepas makan iapun membereskan segala keperluannya.
Terlihat Cut Nilam berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya dan segera akan jatuh, namu dengan sigap Ranu menangkap tubuh gadis itu.
Sambil memegang kedua sisi lengan gadis itu Ranu memperbaiki posisi duduk hadis itu, "kamu kemana? Jangan bergerak dulu," kata Ranu.
"Aku mau ikut kamu mengontrol warga kampung," katanya, "lukamu belum sembuh, masih ada racun pukulan itu yang belum lunak," kata Ranu kembali, "sabar! Nanti sajalah kau ikut," ucap Ranu sambil memberikan minuman Ramuan obat-obatan kepada Cut Nilam.
Setelah meminum ramuan itu Cut Nilam memandangi wajah Ranu dalam-dalam.
"Tapi aku ingin segera pulih," kata Cut Nilam, "semangatmu luar biasa, sabar! Tidak lama lagi lukamu akan segera sembuh, percatmyalah!" Kata Ranu meyakini Cut Nilam.
Dengan perlahan Ranu bangkit dari tempat duduknya, akan tetapi Cut Nilam segera menangkap tangan Ranu "Jangan lama-lama diluar," kata Cut Nilam dengan wajah penuh harap.
Melihat keadaan itu Ranu tersenyum sambil melepaskan tangan Cut Nialm dari tangannya, iaoun kemudian memegang jari-jari tangan gadis itu, "Baiklah, aku akan segera kembali dan menjagamu," kata Ranu sambil tersenyum.
Kemudian dia segera pamit kepada Cut Nilam dan ni Limpung, "ni, tolong jaga dia," kata. Ranu kepada ni Limpung sambil melontarkan pandangan ke Cut Nilam.
"Baiklah den, hati-hati," kata ni Limpung. Kemudian Ranu segera pergi bersama ki Broto.
Malam itu suasana kampung tampak sepi dan lengang, Ranu dan ki Broto segera mendekati tiga orang warga yang sedang duduk di pos ronda.
"eh den Ranu dan ki Broto," ucap mereka, "mari den, ki, silahkan duduk," kata seirang dari warga yang menyuruh Ranu dan ki Broto untuk duduk.
Ranu dan ki Broto duduk di pos ronda itu, seorang warga mengantarkan secangkir kopi hangat dan sipiring singkong goreng.
"Minum dulu, ki, den ranu, biar hangat," kata seorang warga yang mengantarkan minuman dan makanan itu.
Ranu dan ki Broto tersenyum sambil meminum kopi tersebut untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Bagaimana situasi malam ini?" tanya Ranu kepada warga yang sedang ronda itu, "sampai saat ini masih aman den," jawab seorang dari mereka.
"Tetapi kita harus tetap waspada!" kata Ranu, "kekejaman mereka harus segera dihentikan!" tegas Ranu kepada mereka.
"Bener den, kami juga sebenarnya sudah tidak sanggup menghadapi situasi seperti ini," kata warga itu kembali, sambil memperlihatkan air muka kesedihannya.
"Aku akan mecari cara untuk dapat ke istana tuan Gecik," ucap Ranu kemudian, "tapi kesana itu berbaha den!" ucap seorang yang lain. "ia den, lebih baik jangan sekarang, tunggu waktu yang tepat," ucap seorang dari mereka lagi.
Ki Broto hanya diam, dia hanya mendengarkan pembicaraan antara mereka.
"Aku harap malam ini akan baik-baik saja," harap Ranu, para warga itupun hanya manggut-manggut mendengarkan haraoan tersebut.
Malam kian larut, bulan sabit telah berada diatas langit desa Mekar Serumpun, angin bertiup perlahan membawa suasana malam sedikit dingin, suara-suara jangkrik dan hewan malam terdengar, dan beberapa kali lolongan anjing berbunyi nyaring.
Malam itu Desa Mekar Serumpun tampak lengang, tak ada aktifitas warga disana, hanya beberapa orang saja yang terlihat melakukan ronda, demikian pula dengan Ranj dan ki Broto yang malam itu turut dalam ronda kampung bersama warga
Tampaknya malam itu cukup tenang, tidak ada tanda-tanda akan kedatangan orang-orang tuan Gecik.
Hingga pagi hari, suara ayam jantan telah berkokok, Desa Mekar Serumpun tetap tenang dan aman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
rajes salam lubis
teruslah berkarya
2023-12-04
2