Matahari bersinar dengan indahnya di pagi hari ini, suasana Desa Mekar Serumpun begitu indah dengan kicauan burung-burung yang bernyanyi didahan-dahan pohon.
Disaat itu Ranu sedang berjalan berkeliling kampung, namun tiba-tiba ia melihat beberapa orang sedang melakukan perampasan kepada masyarakat dengan cara paksa dan kekerasan.
Kemudian Iapun berjalan mendekati mereka.
"hei ... mengapa kalian begitu kasar kepada rakyat" ucap Ranu.
"hei ... anak muda, jangan ikut campur kau urusan kami!" kata salah seorang dari pelaku itu.
"aku tidak ikut campur, tetapi cara kalian memperlakukan mereka seperti itu yang membuat aku tidak bisa tinggal diam!" kata Ranu kembali.
"dasar anak ingusan, sudah mau jadi pahlawan kau rupanya?" ucap pria brewok yang menjadi pemimpin dari enam orang penjahat itu.
"aku hanya membela kaum yang lemah!" ucapan Ranu kepada pria itu.
"kalau begitu kau terimalah ini!" kata pria brewok itu sambil menyerang Ranu
Hayoo seraaaangggg......!!!
Hiaaaatttt .... ciatttt...
Hup .... hupp ... hiaaaaaaat...
Perkelahianpun terjadi antara enam orang penjahat melawan seorang Ranu.
Pada saat itupula waraga yang dikumpulkan dan disiksa itupun lari menyelamatkan diri.
Hiaaaaattt.....
Ciaaaat ... Secepat kilat ranu menangkis serangan mereka..
Huppppp ... hiaaattt ... Akhhhhhh ....
kemudian Ranu berhasil memukul wajah dari salah satu penyerang itu hingga tersukur.
Bajingan alassss ..... ucap mereka
Hiaaaattttt ...... ciaaaaaaattttttt ....
Dalam sekali pukul ke empat orang penjahat itu kembali terpental dan tersungkur.
Aaaakkhhhhh.....!!!
Hal ini membuat si brewok itu sebagai pemimpin mereka menjadi geram.
Bajingan! ungkap pria brewok itu.
Hiaaaaattt .... ciat ... ciaaatt ...
Diapun menyerang Ranu dengan sebilah goloknya.
Huppp .. hiaaattt ...
Ciaaaaattt .... Hiaaaaatt ...
Heaaaaatttt .....
Sebuah pukulan mengenai wajah pria brewok itu yang membuat dia terjajar jatuh ke tanah.
Aaakkkhhh....
Melihat kondisi itu kelima anak buahnya kembali menyerang Ranu.
Hiaaaattt....
Ciatttt ... hieaaatttt ... ciaatttt
Huppppp .. hupppp hiaaattt
Prakkkk ..... akhhhhhh
Ciaaattt prakkhhh ... Akhhh
Hupppp....
Dua orang dari merekapun tersungkur ke tanah akibat pukulan dari Ranu yang mengenai wajah dan tubuh mereka.
Pria brewok itupun kembali menyerang Ranu.
Hiaaatttt .... ciaaaatt
Baaaakkkk, akhhhhh!
Sebuah tendangan dari pria brewok itu mengenai perut Ranu dan tak khayal diapun jatuh seketika
Hahahahhaha ... haha.....
Tawa dari para penjahat itu keriangan melihat Ranu terjatuh.
Kemudian Ranu pelahan-lahan bangkit kembali, lalu berancang-ancang memberikan perlawanan kembali
Kini Ranu kembali menyerang pria brewok itu
Hiaaaattttt ... ciaaatt...
Perkelahianpun terjadi dengan sengit
Pukulan dan tangkisan silih berganti datang menerjang
Hupppp..
Ciaaaaatttt.....
Prakkkkk....akhhh.
Akhirnya tangan kiri Ranu berhasil menghantam leher pria brewok itu yang membuat dia tersungkur ke tanah.
Kemudian Ranupun secepat kilat menyerang kelima anak buahnya.
Hiaaaatttt ...... Ciaaaattt...
Hupppp .... hiaaatt..
Dukkkkkk .... Akhhhhhh...
Sebuah tendangan dan pukulan mengenai kelima anak buah si bewok itu dan membuat mereka tersungkur ketanah.
Dengan masih memberikan ancang-ancang Ranu menunggu perlawanan selanjutnya dari mereka.
Satu per satu penjahat itupun bangkit dengan susah payah dan saling membantu untuk berdiri.
"Hai anak muda! jangan sombong dulu kamu, tunggu pembalasan kami!" kata si brewok itu sambil menahan kesakitan.
Ranu pun tersenyum melihat mereka.
Akhirnya penjahat itupun dengan tertatih-tatih pergi meninggalkan Ranu.
Setelah penjahat itu pergi, seluruh warga pun datang menjumpai Ranu.
"Terimakasih den ... terimakasih," ucap warga kepada Ranu.
"Ah ... tidak apa-apa pak,sudahlah kalian bisa bekerja kembali," kata Ranu kepada warga desa.
Perlahan-lahan wargapun pergi meninggalkan Ranu.
Ranu pun hanya berdiri dan tersenyum melihat warga yang telah selamat dari perampasan harta mereka yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan itu.
Kemudian iapun melanjutkan perjalanannya untuk berkeliling kampung.
...----------------...
Di rumah kepala desa, terlihat tuan Gecik memarahi anak buahnya yang kalah menghadapi Ranu dan gagal menjalankan misinya untuk merampas hak warga.
"Dasaaaarrr gobloookkk"
Hiaaatttt prakkkk ... parakkk," kemarahan tuan Gecik sambil menampar anak buahnya.
"Menghadapi satu cecunguk aja kalian ngak mampu," ungkap tuan Gecik.
Meraka anak buahnya pun hanya tertunduk diam
"Siapa pemuda itu dan dari mana dia?" tanya tuan Gecik.
"Kami tidak tau tuan, kemarin juga dia telah membunuh salah seorang dari kami sewaktu di warung makan," ucap salah seorang anak buah tuan Gecik.
"Gobllokkkk!" kemarahan tuan Gecik
"Kalian cari tau dia, siapa pemuda itu," perintah tuan Gecik.
"Hadapkan dia kemari," sambung tuan Gecik kembali.
"Baik tuan," jawab seluruh anak buahnya sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan rumah tuan Gecik.
Kini taun Gecik hanya berdiri dipinggir jendela rumahnya sambil melihat keluar.
"Siapa pemuda itu dan dari mana asalnya" tanya dalam hati tuan Gecik
"Berarti dia bukan orang sembarangan, jika dia mampu membunuh dan mengalahkan anak-anak buah ku," dalam fikiran tuan Gecik.
Sambil merenung dia pun berputar-putar mengelilingi ruangan rumahnya.
Tak lama kemudian dia duduk dibangku rotan miliknya.
Kemudian keluar seorang pelayan wanita muda membawakan segelas air lalu meletakkannya dimeja samping tuan Gecik.
"Minum dulu tuan," ucap wanita tersebut.
Dan wanita itupun berlalu meninggalkan tuan Gecik sendiri di ruangan itu.
Sementara itu, warga didesa itu terus tetap beraktifitas sepert mana biasanya.
Kehidupan suasana desa teramat sangat kental sekali.
Ranu berjalan sendiri sambil menyusuri tepian sungai didesa tersebut.
Terlihat para nelayan mengkayuh perahunya,
hingga menjelang sore hari Ranu kembali ke rumah ki Broto.
"Eh nak ranu udah pulang," kata Ni Limpung istri Ki Broto
"Ia Ni, seharian saya di luar," jawab Ranu
"Mandi dulu den, bersihkan tubuhnya,"
"Bentar Nini siapkan dulu airnya," kata Ni Limpung.
Sambil berjalan menuju kamar mandi.
Kemudian Ranu segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah madi Ranu segera menuju ruang tengah.
"Eh den Ranu,mari kita makan dulu," ucap Ki Broto yang sudah menunggu di ruang tengah.
Merekapun berjalan bersama menuju ruangan makan.
Ni Limpung masih terlihat sibuk mempersiapkan hidangan makan malam.
Setelah matahari terlihat terbenam di ufuk dan suara-sara jangrik serta hewan-hewan malam sudah berbunyi.
Di ruangan makan, Ranu beserta Ki Broto dan Ni Limpung masih menikmati makan malam bersama.
Dengan hidangan sedanya, nasi putih hangat yang ditemani dengan sambal terasi dan rebusan daun singkong serta tahu dan tempe sebagai lauk mereka.
Terlihat suasana pedesaan yang begitu damai dan indah.
Usai makan malam Ki Broto dan Ranu bercerita di ruang tengah.
"Tadi siang sekelompok orang sedang melakukan kekerasan kepada warga," kata Ranu
"Kemudian saya menegur mereka agar jangan melakukan kekerasan," sambung Ranu
"Tetapi mereka malah menyerang saya," ucap Ranu kembali.
"Terus....." tanya Ki Broto
"Ya. ... saya hanya membela diri, ketika mereka menyerang saya Ki," ucap Ranu
"Mereka itu adalah anak buah ki Gecik," kata Ki Broto
"Pqsti saat ini, Ki Lurah Gecik itu tidak akan tinggal diam dengan hal ini," ucap Ki Broto kembali.
"Kamu harus hati-hati nak Ranu, mereka itu orangnya kejam-kejam," katanya.
"Saya tidak pernah gentar Ki," jawab Ranu
"Karena misi saya hanya untuk menegakkan keadilan dan membebaskan orang-orang yang tersiksa dan tertindas," ucap Ranu kembali.
...Mereka pun terlihat ngobrol dengan santainya diruang tengah tersebut....
Hingga malam pun merangkak meninggalkan suasana,
bulan telah terbit begitu tinggi dan terangnya dimalam itu.
Memecahkan kesunyaian yang tenang dan damai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
rajes salam lubis
tetap semangat thor
kopi meluncur lagi
2023-09-27
2
rajes salam lubis
mantap
2023-09-27
1
Idwan Virca
kurang tanda kutip percakapannya nih... lanjut...
2023-09-25
2