Usai makan malam Ranu dan Ki Broto duduk di ruang tengah rumahnya. "apa nama desa ini ki?" tanya Ranu, "ini adalah desa Mekar Serumpun," jawab Ki Broto.
"Kampung ini sejak dipimpin oleh Tuan Gecik menjadi sangat prihatin," keluh Ki Broto, "dia mengutip upeti yang sangat tinggi, dan kami sebagai warga kampung tak segan-segan dia untuk membunuh kami apabila kami menolaknya," ucap ki Broto.
"Lalu kenapa orang kampung tidak mau melawan?" ucap Ranu. Sambil menunjukkan ekspresi wajah seeius.
"Bagaimana kami mau melawan?" balas ki Broto, "Tuan Gecik memiliki ilmu yang sakti mandraguna dan ditambah lagi anak buahnya juga memiliki ilmu kanuragan yang lumayan bagus," sambung ki Broto.
"Apa ... kalian sudah mencoba untuk melaporkan hal ini ke Raja?" kata Ranu lagi.
"Ada beberapa warga kampung yang mencoba ke kerajaan, namun mereka tak satupun ada yang kembali lagi kemari," ungkap ki Broto dengan wajah sedih.
"Kami membutuhkan seseorang yang dapat melindungi kami," katanya lagi.
Lalu suasana sesaat sepi, tak ada satu katapun terucap.
"Kalau nak Ranu tidak keberatan, tinggallah beberapa hari disini," pinta Ki Broto.
Sesaat Ranu terdiam dan menarik nafas dalam.
Hemmmmm. ..... "Ki, aku tidak dapat berlama-lama disini, diluar sana masih banyak tugas yang menantiku," ungkap Ranu, sambil memandang wajah Ki Broto.
Ki Broto pun terdiam sejenak.
Lalu ia melanjutkan pembicaraannya. "Tolonglah nak, tolonglah kami!" kembali ki Broto memelas.
Dengan mimik wajak yang sedih dan matanya yang berkaca-kaca, kelihatan sekali jika Ki Broto memang benar-benar takut.
"Aku takut, setiap saat mereka bisa saja mengambil nyawaku dan nyawa penduduk kampung ini," ucap Ki Broto.
Suasana kembali hening .... "oh ya, lalu siapa orang yang telah menyerangku tadi siang?" tanya Ranu. "apakah mereka juga orang-orang suruhan dari kepala kampung itu?" lanjut Ranu.
"Benar ...! jawab Ki Broto. "orang-orang Tuan Gecik selalu memantau setiap penduduk disini maupun orang asing yang datang ke kampung ini," ucap ki Broto kembali.
"Apa lagi tadi nak Ranu sempat membunuh salah satu dari mereka," lanjut Ki Broto.
"Maka pasti mereka akan mencari nak Ranu," ucap ki Broto lagi, "aku tidak pernah gentar menghadapi orang-orang jahat seperti mereka!" jawab Ranu dengan tegas.
"Lalu jika aku disini, bukankah nanti mereka akan kemari? dan itu juga berarti menyusahkanmu dan istrimu?" tanya Ranu kembali memastikan keadaan yang ada.
"Ya ... mereka pasti kemari, tapi aku tidak masalah selama nak Ranu tinggal di sini!" kata Ki Broto sambil tersenyum.
"Apakah Istana mereka jauh dari sini?" tanya Ranu kembali?" tidak begitu jauh, hanya saja cukup berbahaya bila kesana," jawab Ki Broto.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara angin yang berhembus.
Ranu hanya duduk bersila di atas sebuah meja besar yang dialas dengan tikar terbuat dari daun rumbia.
Ki Broto kembali menuangkan air dicawan yang terbuat dari tanah liat itu, sedangkan Ranu masih terlihat termenung.
Entah apa yang masih dia fikirkan. Sesaat kemudian istri Ki Broto keluar dengan membawakan sepiring pisang rebus.
"Makanlah dulu nak Ranu," ucap Ni Limpung istri ki Broto sambil duduk disamping suaminya.
Ni Lumpung ialah seirang wanita tua yang sudah berusia hampir enampuluh tahun, tubuhnya sedikit kurus.
Kemudian mereka bertiga duduk bersama di ruang tengah itu. Ki Broto mengambil pisang rebus itu lalu membuka kulitnya kemudian ia menyantap makanan itu.
Sedangkan Ranu menyambar air yang ada di gelas dan meneguk airnya untuk membasahi krongkongannya yang kering.
Sesaat mereka pun hanya terdiam. Tak sepatah katapun ada yang keluar dari mulut mereka.
Diluar rumah suara-suara hewan malam mulai terdengar memecah keheningan malam.
"Nak Ranu tidurlah, hari sudah mulai malam" kata Ki Broto.
"Baiklah," jawab Ranu kemudian.
Sambil melangkah ke kamar, Ki Brotopun mengikutinya dari belakang.
Ki Broto menunjukkan kamar untuk Ranu,
"ini kamar nak Ranu, beristirahatlah dulu," kata ki Broto.
Setelah Ranu berada didalam kamar, iapun menutup pintunya kemudian melangkah ke ranjangnya.
Kreeeeekk .... bunyi ranjang itu ketika Ranu mulai naik dan merebahkan dirinya.
Sementara Ki Broto mematikan seluruh lampu-lampu ruangan dengan meniup api yang terbuat dari sebilah bambu kecil.
seketika rumah ke Broto menjadi gelap gulita dan hanya dilintasi cahaya rembulan yang masuk dari celah-celah lubang dinding rumahnya yang terbuat dari kepingan papan kayu dan tepas bambu yang dianyam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya udara yang sejuk dan tampak masih asri itu bersinarlah matahari pagi yang sedikit muncul dan sinarnya menembus dinding-dinding rumah penduduk.
Suara-suara burung yang berkicau dan nyanyian ayam yang berkokok menandakan waktu pagi telah datang.
Kesibukan warga kampung membuat suasana asri di desa sungguh sangat terasa.
Sementara itu di rumah Ki Broto, Ranu baru saja terbangun dari tidurnya, diapun duduk sejenak, kemudian beranjak dari pembaringannya.
"Sudah bangun nak Ranu?" ucap Ni Limpung "Bersihkanlah badannya dahulu dibelakang," kata perempuan paruh baya itu.
Ranu segera menuju ke belakang rumah.
Ada sebuah air pancuran yang keluar dari sebilah bambu besar dan panjang.
Air yang bersih dan dingin itu kelihatannya turun dari sebuah bukit yang tak jauh dari rumah ki Broto.
Ranu segera membersihkan tubuhnya di bawah air itu, setelah selesai mandi dia mengganti pakaiannya kemudian duduk di ruang makan bersama Ki Broto untuk sarapan pagi dan mengisi perut dipagi hari.
Terlihat hidangan telah tersedia dengan menu nasi putih yang hangat dengan lauk sayuran ditambah beberapa potong tahu dan tempe serta sambal gilingnya.
"Mari kita makan," ajak ki Broto.
Dengan segera mereka pun melahap semua hidangan itu hingga selsesai.
Usai makan, Ki Broto mengajak Ranu untuk berkeliling kampung, sambil berjalan, mereka melihat kehidupan desa yang mulai kepayahan, dimana sawah-sawah pertanianpun sudah sangat jarang mereka tanami lantaran ketidak adaan biaya untuk bercocok tanam.
"Beginilah kondisi kami saat ini, ditanah kami sendiri, kami bagai terjajah oleh bangsa sendiri!" ucap ki Broto.
"Mempunyai pemimpin yang rakus dan tidak memiliki prikemanusiaan, belum lagi anak-anak gadis dan istri-istri kami mereka culik sebagai pemuas nafsu mereka," keluh ki Broto.
Ranu hanya terdiam mendengar perkataan ki Broto tersebut, sambil berjalan dan melihat keadaan daerah itu.
Seharian sudah mereka berdua berjalan berkeliling kampung untuk melihat suasana kampung.
Memang alangkah sayang sekali apabila desa sebagus serta semakmur dan tersubur ini harus dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
"Aku heran mengapa ada saja orang-orang yang tega merusak tanah airnya sendiri!" ucap Ranu kepada Ki Broto.
Hari itu mereka berdua melihat seluruh kampung dari pagi hingga sore hari, dan menjelang senja mereka kembali ke rumah Ki Broto.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Jerry Jabarmase
Lanjut terus Thor
2025-01-28
0
Syava Navalena
hadir
2023-10-10
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2023-09-27
1