Elion masih tidak mengerti dengan sikap Reina yang begitu membencinya. Reina bahkan menganggap kehadirannya adalah luka baginya. Semua itu sungguh membuat Elion tersakiti. Tidak mau membuat Reina semakin terluka karena kehadirannya. Maka, Elion hanya mampu menatap dan memperhatikan Reina dari jauh. Dimana Elion memarkirkan mobilnya di sebrang kosan Reina, menatap kegiatan Reina9 sejak pagi. Mulai dari gadis itu yang menyapu teras kosannya. Reina memang gadis mandiri yang bisa mengerjakan semuanya seorang diri.
Hal itu memang membuat Elion bangga dengan anak yang dia rawat sejak 12 tahun lalu. Kini, anak itu tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang berhasil mengambil hatinya.
Namun semuanya harus kacau karena orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka. Hingga Elion telah menyakiti Reina dan membuat gadis itu begitu terluka bahkan hanya karena melihatnya. Elion memilih menghindar, dia takut jika akan membuat Reina semakin terluka karena kehadirannya.
Elion mengikuti Reina sampai di kantornya. Memastikan jika Reina selamat sampai tempat kerja. Namun, ada hal yang aneh bagi Elion. Saat Reina menyapa salah satu temannya yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Namun, sapaan Reina malah terbalas dengan memalingkan wajahnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ini yang membuat Reina semakin merasa tersakiti karena ada permasalahan di kantornya.
Elion menatap nanar punggu. pmng Reina yang menghilang di balik pintu lobby kantor. Setelah memastikan Reina masuk ke dalam kantornya, Elion segera memutar balik arah mobilnya untuk menuju kantor.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Sore hari Elion pergi kembali ke tempat Reina. Dia hanya ingin memastikan jika gadisnya baik-baik saja sampai di tempat tinggalnya. Hatinya masih merasa sakit jika mengingat dirinyalah yang membuat Reina terluka. Bahkan kehadirannya adalah luka baginya.
Drettt....Drett...
Suara dering ponsel di kursi penumpang membuat Elion menoleh dan segera mengambil ponselnya saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Iya Mam?"
"Kau dimana?"
"Aku sedang berada di kantor" Elion tahu jika dirinya sedang berbohong, tapi dia tidak mungkin memberi tahukan jika dirinya sedang mengamati Reina dari jauh pada Ibunya yang jelas-jelas tidak menyukainya.
"Datang ke rumah sekarang, ada yang ingin Mami katakan"
"Ada apa Mam, aku sedang sibuk"
"Mami tidak peduli, kamu harus datang sekarang"
Tutt...tutt...
Elion sungguh kesal dengan kelakuan Ibunya yang menutup telepon tanpa mendengar dulu penjelasannya. Elion menjadi penasaran apa yang sebenarnya ingin di bicarakan oleh Ibunya itu. Karena dari nada suaranya, terdengar serius dan seperti sedang marah. Tidak mau terus penasaran, Elion segera pergi ke rumah Ibunya.
Saat sampai di rumah, Elion mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Zayna sedang duduk berdampingan dengan Ibunya di atas sofa. Sudah cukup bagi Elion untuk mengetahui semuanya. Elion berbalik dan ingin pergi dari sana, dia tidak ingin melihat wajah licik Zayna lagi.
"El, kau mau kemana lagi?" tanya Nyonya Rinjani saat menyadari jika anaknya sudah datang dan seperti ingin pergi lagi.
"Memangnya ada apa Mam menyuruh ku datang kesini? Jika semuanya tentang wanita itu, aku sudah tidak mau dengar lagi. Jangan membuat aku benar-benar marah Mam"
Rinjani menatap punggung anaknya, Elion bahkan tidak membalikan tubuhnya saat berbicara dengan Ibunya itu. "Sebenarnya kau kenapa? Kau benar-benar menghancurkan martabat keluarga kita. Apa yang kau lakukan dengan anak angkat itu, sungguh memalukan Elion"
Kini, Elion langsung berbalik. Tentu tahu jika Ibunya itu telah mengetahui tentang apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Reina. Kehadiran Zayna disini tentu bukan hanya untuk berkunjung saja.
"Aku mencintainya, kenapa Mami melarang? Kami tidak punya hubungan darah apapun. Tidak masalah jika pada akhirnya kami menikah"
Nyonya Rinjani langsung berdiri dari duduknya, dia menatap nyalang pada Elion. "Ini bukan sebuah cerita novel Elion! Kau dan dia tidak bisa menikah. Sampai kapanpun Mami tidak akan setuju dengan hubungan kalian itu. Silahkan kau pergi dan hapus nama Barney di belakang namamu jika kamu masih ingin memperjuangkannya. Tinggalkan kami dan jangan anggap lagi kami adalah keluargamu!"
"Mam..." Alena datang dengan menangis terisak, dia sudah mendengar semuanya sejak tadi dia berada di balik dinding. "....Jangan ucapkan itu pada El, dia itu adik Ale satu-satunya. Apa Mami tega memisahkan kakak adik hanya demi ego Mami sendiri"
"Biarkan saja, sudah sepantasnya anak menurut dengan apa yang di inginkan Ibunya. Tidak membangkang seperti dia"
"Mam..."
"Sudahlah Kak, biarkan aku pergi dari keluarga ini. Lagian aku juga tidak bisa terus-terusan menuruti semua keinginan Mami" sanggah Elion, memotong ucapan Alena.
Alena langsung mendekat pada adiknya itu, dia sudah menangis tersedu-sedu. Alena pegang lengan Elion."El, jangan seperti itu. Kita pasti bisa mencari solusinya. Jadi jangan langsung mengambil keputusan seperti itu. Pliss El, jangan gegabah mengambil keputusan. Kita ini keluarga"
Elion menatap kakaknya, memang dia juga berat dengan keputusan ini. Tapi, Elion harus mulai bertindak tegas. Jangan sampai membuat Ibunya semakin egois mengambil keputusan tentang anak mereka. Elion tidak mau terus di atur segalanya oleh Ibunya, termasuk pendamping hidupnya.
"Maaf Kak, sepertinya aku memang harus pergi sekarang. Jaga diri baik-baik. Jaga juga keharmonisan keluarga Kakak. Jangan sampai keluarga Kakak akan menjadi berantakan juga karena permasalahan ini. Terimakasih untuk semuanya, aku pergi"
Elion berbalik dan mulai melangkah untuk pergi dari rumah ini. Keputusannya sudah bulat, Elion telah memutuskan untuk tetap memperjuangkan cintanya daripada dia harus menikah bersama Zayna. Wanita ular yang sudah Elion ketahui bagaimana sifatnya.
"El.." panggilan Alena dengan suara seraknya sungguh membuat Elion ingin berbalik dan memeluk Kakaknya itu. Tapi Elion tidak bisa melakukan itu. Dia ingin menunjuka pada Ibunya jika keputusannya ini adalah keputusan yang benar.
"Tinggalkan perusahaan dan kau cari kerja di luar sana tanpa terlibat lagi di perusahaan. Jabatanmu di perusahaan akan di serahkan pada Darren"
"Mam..." Alena benar-benar tidak menyangka jika Ibunya akan setega itu pada adiknya itu.
"Baik" Elion melangkah pergi keluar dari rumah itu. Rumah yang dia tinggali sejak kecil hingga dia kuliah. Tentu, banyak kenangan dalam rumah ini. Tapi, Elion tidak bisa terus-terusan menuruti permintaan Ibunya yang tidak dia inginkan.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter .. Kasih hadiahnya dan votenya juga ya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments