Makan siang kali ini benar-benar terasa hambar untuk Reina. Padahal dia yang memasak semua makanan ini. Tentu saja dia sudah memastikan jika rasanya pas tadi. Namun, sepertinya karena kedatangan wanita cantik yang dari tadi selalu datang menempel pada Ayahnya, membuat selera makan Reina hilang seketika.
"Mau tambah sayurnya lagi El? Biar aku ambilkan" kata Zayna dengan tatapan penuh arti pada Elion.
Reina menatap sinis pada Zayna yang sedang mengambilkan sayuran untuk Ayahnya.
"Ayahku gak suka makanan yang berkuah. Dia lebih suka yang gurih" celetuk Reina dengan santainya.
Reina akhirnya mengambil kesempatan ini dengan mengambilkan Elion ikan goreng. Hal ini tentu membuat Zayna menggeram kesal. Tangannya menggenggam centong sayur dengan erat. Lalu dia jatuh kembali centong sayur itu di tempatnya.
"Maaf ya"
Elion masih mencoba bersikap baik pada Zayna yang sejatinya memang teman kuliahnya, dulu. Zayna hanya mencoba tersenyum manis dengan tangan yang mengepal erat di bawah meja.
"Tuhkan El, Zayna ini memang sudah sangat pandai jika dia menjadi seorang istri"
Zayna tersenyum senang mendengar pujian dari Nonya Rinjani. Dia merasa mendapatkan dukungan penuh dari Nyonya Rinjani. Meski sebenarnya Zayna sangat malas melayani calon anak tirinya yang sangat menyebalkan, menurutnya.
"Enak gak Dad masakannya?" Tanya Reina, sengaja mengalihkan ucapan mengesalkan dari Oma Rinjani.
Elion yang d tanya sedikit bingung, tapi dia memilih mengiyakan saja. "Iya"
"Berarti Reina juga cocok dong ya sebagai seorang istri"
Uhuk...Uhuk...
Elion benar-benar terkejut dengan celetukan seenaknya dari anaknya ini. Elion tahu jika sikap Reina memang suka asal nyeletuk jika berbicara. Tapi, kali ini Elion merasa ada yang berbeda dari nada bicara Reina. Anak angkatnya itu memiliki nada serius yang tidak di sadari oleh yang lain saat dia berbicara seperti itu.
"Aduh anak Daddy jangan buru-buru ninggalin Daddy untuk nikah dong"
Elion mencoba menanggapi ucapan Reina tadi dengan santai. Namun, hatinya merasa deg-degan dengan apa yang barusan di ucapkan oleh anaknya itu.
Apa maksud perkataan Reina? Gak mungkin kan maksudnya jadi istriku? Aduh jangan mkir yang aneh-aneh Elion, kamu bener-bener hina. Itu anak kamu sendiri. Gak mungkin juga dia memikirkan hal itu. Kamu adalah ayahnya, Elion.
"Bagus kalo kamu sadar, cepatlah nikah biar tidak menjadi beban anak ku terus" ketus Oma Rinjani
Reina merasa harapannya hancur seketika. Omanya memang tidak pernah menyukainya. Bahkan dia tidak pernah menganggap keberadaannya di keluarga ini. Tapi, apa harus berkata semenyakitkan itu di depan banyak orang seperti ini? Reina benar-benar merasa terluka saat ini.
"Mam, udah deh. Jangan menyudutkan anak ku terus"
Perkataan tegas Elion berhasil membuat mulut Ibunya bungkam. Makan siang pun berlanjut dengan keheningan.
Selesai makan siang, semuanya memilih untuk berkumpul di ruang keluarga. Namun tidak dengan Reina. Dia memilih pergi ke dapur dan berdiam diri di sana. Perkataan Omanya tadi, benar-benar membuat Reina sedikit terpukul.
Elion yang dari tadi tidak melihat anaknya kembali ikut berkumpul dengan keluarga. Akhirnya Elion memilih menyusul Reina ke dapur.
Reina yang sedang duduk di teras pintu belakang di dapur, dengan minuman dan cemilan yang menemaninya. Meski sedang sedih, tapi cemilan tetap tidak ketinggalan untuk Reina yang hobby nya ngemil.
Elion duduk di sampingnya, dia cium puncak kepala Reina seperti biasa yang sering dia lakukan. "Maafin Oma ya, dia memang seperti itu"
Reina tidak menjawabnya, dia sedang tidak ingin membahas tentang Omanya itu.
"Daddy mau nikah dengan tante Zayna?"
Elion terdiam melihat tatapan tidak suka Reina. Elion berpikir mungkin Reina takut kalo di menikah dan mempunyai istri. Maka nanti Reina tidak mendapatkan kasih sayangnya lagi.
"Tidak Sayang, lagian Daddy cukup hidup berdua denganmu. Tidak perlu memiliki istri. Jadi, kamu tidak perlu takut jika Daddy tidak akan menyayangimu lagi, meskipun Daddy terpaksa harus menikah suatu saat nanti"
"Tapi, Rein tahu kalo niat Oma membawa Tante Zayna itu pasti untuk di jodohkan sama Daddy. Udah kelihatan banget" Reina berdecak kesal di akhir kalimatnya. Dia tidak suka dengan cara Omanya yang mau menjodohkan ayahnya dengan Zayna.
Elion tahu itu, tapi dia juga tidak bisa terlalu keras pada Ibunya itu. Karena mau bagaimana pun, dia tetaplah Ibunya. Wanita yang telah melahirkannya.
Dan Reina juga tahu jika Omanya adalah tipe orang yang keras kepala. Apa yang dia putuskan akan dia laksanakan bagaimana pun caranya. Jadi, tidak aneh kalo Omanya itu mengambil jalan drastis untuk mempersatukan Elion dengan Zayna apalagi Oma Rinjani terlihat senang sekali dengan Zayna. Memikirkan ini, hati Reina jadi semakin bergemuruh tidak tenang. Tangannya mengepal.
Elion yang melihat ekspresi anaknya dan juga tangannya yang mengepal erat, tentu menunjukan rasa kesal Reina saat ini.
Elion menghela nafa berat. "Emangnya Rein gak mau punya Mami? Nanti Rein bisa jalan breng dan shopping bareng. Atau Rein juga bisa menceritakan kisah cinta pertama kamu sama Mami kamu itu. Lagian selama ini, Daddy belum pernah mendengar jika kamu sudah jatuh cinta atau menyukai seorang pria. Padahal anak Daddy ini sudah sebesar ini"
Bukan jawaban yang di terima Elion dari anaknya. Dengan sangat tiba-tiba Reina berbalik dan melingkarkan tangannya di leher Elion, menariknya untuk semakin dekat dengan tubuhnya dan *CUP* Elion merasakan sensasi lembut dan basah di bibirnya.
Elion shock mendadak dan belum sempat dia berkutik, Reina sudah mulai berani dengan mengigit bibir Elion dan Elion pun sontak meringis. Lalu, Reina melepaskannya sebelum Elion mendorongnya.
Seketika suasana hening dan suara ketawa di ruang tamu pun tidak bisa memecah ketegangan antara Elion dan Reina yang saling menatap.
Elion mengusap mulutnya yang meninggalkan jejak basah disana dengan tangannya sambil menatap Reina dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Reina hanya menatap Elion dengan tatapan penuh arti namun ekspresinya terlihat sedih dan matanya penuh dengan rasa sakit. Karena mau bagaimana pun sikapnya, Reina tetap mengingat hubungan antara dirinya dan Elion. Cintanya terlarang.
Lalu tanpa bicara apapun, Reina mengambil nampan yang berisi minuman dan cemilan dan masuk kembali ke dalam rumah dan meninggalkan ayahnya yang masih diam mematung di teras pintu belakang.
Sampai di ruang keluarga, Reina hanya duduk diam di dekat sahabatnya, Rista. Elion pun sudah kembali dan duduk diam di dekat Zayna. Namun tatapannya terus berada pada sosok Reina. Reina cuek dan malah menawari Rista minum dan cemilan yang tadi di bawanya.
Tapi, Rista yang ditawari minum dan cemilan oleh Reina tidak menjawab, kepalanya menunduk dan tangannya saling bertaut. Reina pun menyentuh bahunya. "Ris, lo kenapa?"
Kali ini Rista tersadar dan menatap Reina dengan pandangan kaget. Dia terlihat salah tingkah saat menjawab "Eh, iya, kenapa Rein? Sori tadi gue lagi mikirin sesuatu."
Reina pun memberikan minuman di tangannya pada Rista "Nih, gue bikinin lemon tea kesukaan lo"
Rista gelagapan menerima minuman yang di buatkan oleh sahabatnya itu. "I-iya, bener hahaha...thanks."
Reina sedikit bingung dengan tingkah Rista kali ini. Tapi pandangannya langsung teralihkan saat mendengar suara Zayna yang menggoda Elion.
"Kapan-kapan kita dinner berdua ya El" kata Zayna dengan tangannya yang mengelus paha Elion.
Ekspresi Reina langsung berubah beberapa detik, sebelum kembali berekspresi normal. Namun, tangannya meremas pakaiannya, mengepal erat.
Rista yang duduk disamping Reina, menatap tangan Reina yang mengepal erat lalu mengamati ekspresinya kemudian melihat ke arah pandangan Reina yaitu Elion yang sedang duduk di samping Zayna. Rista pun mengigit bibir bawahnya.
Bersambung
Jangan lupa like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga.. Aku tunggu dukungannya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
kayaknya rysta lihat reina waktu nyium daddy nya
2022-12-28
1
Latifah Ati
sebenarnya si bukan cinta terlarang krn Elion dan Reina ga punya hubungan darah...lanjut thor
2022-09-23
3