Sudah 5 hari mereka berlibur di villa, untung saja atasan Reina sangat baik. Dia mengizinkan Reina mengambil cuti cukup lama karena selama bekerja memang Reina belum pernah mengambil cuti seperti teman kerjanya yang lain.
Darren semakin yakin jika perasaannya terbalaskan. Mengingat Reina yang mulai bersikap lebih terbuka padanya selama beberapa hari ini. Membuat Darran yakin untuk mengatakan apa yang di pendamnya selama ini.
Hari ini Darren sedang duduk di bangku taman dengan menatap Reina yang sedang melemparkan batu-batu kerikil ke arah kolam. Darren tersenyum saat Reina berhasil memainkan trik melempar batu yang dia ajarkan.
"Bisa 'kan aku juga" kata Reina sombong
Darren hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya. Setelah merasa lelah melempar batu ke danau, Reina memilih duduk di samping Darren.
Darren merasa memiliki waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Dengan yakin, Darren meraih tangan Reina dan menggenggamnya. Membuat gadis itu langsung menatapnya dengan bingung.
"Ada apa, Darr?"
Reina mulai was-was sendiri saat menatap wajah Darren yang terlihat begitu serius. Reina tentu tahu apa yang di rasakan pria itu padanya. Hanya saja Reina berpura-pura tidak tahu. Apa mungkin ini saatnya, duh apa yang harus gue jawab nanti.
"Rein, sebenarnya aku sudah menahannya selama beberapa tahun ini. Tapi, aku tetap tidak bisa...."
"Apasi Darren, aku gak ngerti deh"
Tentu saja Reina mengerti arah pembicaraan Darren. Dia hanya tidak ingin Darren melanjutkan ucapannya. Tapi, Reina tetap tidak mungkin mencegahnya karena itu adalah yang ingin Darren katakan padanya.
"Rein, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?"
Duh gue harus gimana ini?
Hahahaha..
Menghilangkan kegugupan, Reina memilih tertawa sambil memukul bahu Darren. Dia tahu jika tawanya kali ini terasa hambar. "Apaan si Darren, bercanda mulu deh"
Darren semakin menatap Reina dengan serius. Dia tidak sedang bercanda, memang itu yang dia rasakan selama ini. "Aku tidak bercanda Rein! Aku mencintaimu"
Tawa hambar Reina langsung terhenti, percuma dia berpura-pura tidak tahu. Pada akhirnya Darren tetap akan menyatakan perasaannya itu.
"Maaf Dar, aku belum bisa menjawabnya. Kamu tolong beri aku waktu, aku masih terlalu terkejut dengan pernyataan mu itu"
Reina berdiri dan langsung pergi setelah berkata seperti itu. Dia hanya mengulur waktu saja, Reina tidak mungkin menerima Darren sebagai pacarnya jika kenyataannya hati dia masih milik laki-laki lain. Akan sangat tidak adil untuk Darren.
Darren terdiam setelah kepergian Reina, dia cukup mengerti jika gadis itu pasti membutuhkan waktu untuk memikirkan ini semua. Dan Darren akan memberinya waktu sampai dia siap menjadi kekasihnya dan menerima cintanya. Semoga.
Sementara di teras villa ada seseorang yang berdiri di balik tembok, dia tentu mendengar apa yang di bicarakan oleh Darren dan Reina barusan.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Reina masih memikirkan pernyataan cinta Darren padanya. Dia tahu rasanya di tolak itu seperti apa. Dan Reina menjadi bimbang sendiri, antara menerima namun terpaksa atau menolak perasaan Darren.
Hingga malam harinya, Reina tidak ikut makan malam bersama. Reina masih tidak siap untuk bertemu Darren di saat seperti ini.
"Rein gak ikut makan malam loh El, kasihan dia. Apa dia sakit?" Tanya Alena yang memperhatikan tingkah Ayah dan anak itu yang terlihat sedang perang dingin. Namun, Alena tidak ingin ikut campur masalah mereka.
"Biar nanti aku bawakan saja ke kamarnya, Kak" jawab Elion
Tidak ada bantahan dari siapapun karena mereka berfikir jika hal itu wajar di lakukan sang Ayah pada anaknya. Akhirnya selesai makan malam, Elion membawa makanan untuk Reina yang sama sekali tidak keluar kamar sejak sore tadi.
Tok..tok..tok..
"Rein, ini Daddy bawa makan malam buat kamu. Dad boleh masuk ya"
Tidak ada jawaban dari dalam sana, Elion memegang gagang pintu dan memutarnya, beruntung Reina tidak mengunci pintu kamarnya. Elion masuk dan melihat Reina yang sedang berdiri diam menghadap jendela kamar yang tirainya masih terbuka.
Elion berjalan ke arahnya, menyimpan nampan di atas nakas samping tempat tidur Reina. "Makan dulu Rein"
Reina terkejut dengan kehadiran Elion di kamarnya. Reina yang sedang kemelut dengan fikirannya, dia sedang memikirkan jawaban apa yang harus di berikan pada Darren atas pernyataan cintanya. Hingga Reina tidak sadar jika Ayahnya telah masuk ke dalam kamar.
"Kenapa Dad bisa masuk?" Tanya Reina, dia sepertinya lupa jika dirinya sendiri yang tidak mengunci pintu kamar.
"Dad panggil-panggil kamu gak nyaut, pintu kamar kamu gak di kunci. Jadi Daddy bisa masuk" jelas Elion
Reina hanya diam, dia baru mengingat jika tidak mengunci pintu kamar. Reina menatap ke arah nakas, makanan yang di bawakan Elion terletak disana. Dan Reina tidak mempunyai selera makan sekarang.
"Rein tidak berselera makan Dad, lebih baik Daddy bawa kembali makanan itu"
Elion menatap gadis itu dengan intens, Reina gadis kecilnya telah dewasa. Bahkan telah berani mengungkapkan cinta padanya. Lalu, apa yang membuat Elion takut untuk menjalaninya. Hanya karena takut dengan omongan orang lain dan restu Ibunya yang tentunya akan sangat sulit di dapatkan.
Elion ingin berbalik dan pergi dari kamar Reina saat panggilan Reina berhasil menghentikannya. Elion berbalik dan langsung mendapatkan serangan mendadak dari Reina.
Bibir kenyal gadis itu telah menempel tepat di bibirnya. Mulai melum*atnya dengan lembut. Elion terbelalak kaget untuk beberapa saat. Hingga luma*tan lembut Reina membuat dia memejamkan matanya dengan perlahan dan mulai membalas setiap kecupan yang Reina berikan.
Kelembutan itu berubah menjadi penuh gairah di setiap kecupannya. Keduanya lupa diri, Elion mendorong Reina ke arah rajang lalu mulai membuka semua pakaian yang di pakainya dengan paksa. Akhirnya keduanya melepaskan rindu yang mereka tahan selama ini dengan melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukan sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Di luar kamar, Zayna yang melewati kamar Reina tidak sengaja mendengar suara-suara khas orang sedang bercinta. Awalnya Zayna mengira Reina sedang melakukannya dengan Darren, namun tepat pada saat itu Darren juga datang dari arah dapur. Lalu siapa yang melakukannya dengan Reina?
Zayna dan Darren saling tatap dan mereka kini tahu siapa yang berada di kamar Reina. Keduanya pergi dengan wajah marah dan kecewa sekaligus.
Kau tega Rein. Bahkan kau belum menjawab pernyataan cintaku tadi siang. Dan sekarang kau malah melakukan hal menjijikan itu bersama Om El.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Retno Anggiri Milagros Excellent
koq ga nunggu nanti saja to..,😍
2024-02-09
0
Winsulistyowati
Waduhh..Blum apa" Uda Looos..😊😍🤭
2024-02-09
0
Mami Nyaik
hmm efek rindu dan cinta akhirnya wik wik deh, khilaf beneran😀🤭🙏
2023-06-09
0