DUA PULUH

Kaisar mulai teringat dengan perkataan kedua anaknya serta permaisuri lalu diberitahu ke penasehat istana.

Penasehat istana mengangguk paham. "Yang Mulia, anak-anak muda pasti membutuhkan sosok orang tua yang mendampingi. Namun kasus anda dan Permaisuri sangat spesial jika dilihat dari kedudukan, sehingga kami tidak bisa menyalahkan anda dan Permaisuri. Namun anak-anak tidak akan mengerti."

Kaisar menjadi tidak sabar. "Jangan berbelit-belit. Katakan saja maksudnya gimana."

Penasehat istana berdehem lalu mulai menjelaskan. "Yang Mulia, kemungkinan besar putri Selena menginginkan kehadiran anda di pesta ulang tahunnya, begitu juga dengan Pangeran Mahkota dan Permaisuri."

"Tapi mereka bertiga terlihat marah dan tidak sabar mengusir aku."

"Apakah anda tidak mengenal Permaisuri yang selalu bertindak impulsif dan kadang kala merajuk?"

Kaisar mulai mengerti. "Mereka tsundere?"

Penasehat istana menjadi bingung. "Ya?"

"Oh, ternyata mereka bertiga memang tsundere. Baik, aku mengerti. Aku akan menghadapi mereka dengan baik dan hadir ke acara ulang tahun Selena yang sederhana. Ah, jangan beritahu ke luar dulu terkait hal ini- aku juga belum tahu apakah mereka masih menerima aku atau tidak."

Setelah mengatakan itu, kaisar kembali masuk ke dalam dapur.

Orang-orang menjadi bingung dengan reaksi kaisar yang diluar dugaan.

Sekretaris kaisar menjadi bingung dan bertanya ke penasehat istana. "Penasehat, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Penasehat istana menghela napas. "Apakah kamu suka melihat kaisar bersama ratu dan para selir atau bersama permaisuri?"

Sekretaris kaisar menjawab dengan jujur. "Meskipun Permaisuri terlihat bodoh, namun dia tidak terlihat serakah dan hanya ingin harta Kaisar. Perasaan Permaisuri murni karena cinta, berbeda dengan ratu dan para selir yang terlihat memiliki motif."

Penasehat istana mengangguk. "Nah, dengan begitu kamu tahu apa yang harus kita lakukan sekarang dan ke depannya, bukan?"

Kedua mata sekretaris kaisar berbinar.

---------

Pesta ulang tahun putri Cassia diadakan di ballroom istana kekaisaran dan dibuat semewah mungkin untuk menunjukkan statusnya sebagai seorang putri.

Di luar istana, dipajang berbagai macam makanan khas ibukota dan makanan terkenal lainnya untuk dibagikan kepada rakyat secara gratis.

Cassia yang tadinya akan masuk ke dalam ruangan bersama kaisar untuk memamerkan hubungan baik seperti biasanya, menjadi panik. "Kemana Kaisar? Kenapa Kaisar tidak muncul sama sekali?"

"Putri, kami sudah ke istana Kaisar. Namun para penjaga tidak mengizinkan kami masuk sama sekali."

Para dayang Cassia juga semakin cemas, waktu untuk Cassia masuk ke dalam ballroom semakin dekat.

Cassia tidak diizinkan memakai mahkota karena bukan anak permaisuri jadi alternatif lain selain menggunakan gaun mewah dan perhiasan mahal adalah kehadiran kaisar sebagai pendamping.

Itulah mahkota terbaik yang bisa didapatkan Cassia. Bahkan Selena pun tidak pernah bisa mendapatkannya.

Cassia hendak keluar dari ruangannya.

"Cassia, kenapa kamu masih di sini?" Tanya ratu yang masuk ke dalam kaar Cassia. "Para tamu sudah menunggu lama."

"Yang Mulia Ratu, apakah anda tidak melihat Yang Mulia Kaisar? Harusnya dia datang ke pesta bersamaku sebagai pendamping."

Ratu terkejut dengan pertanyaan Cassia. "Kaisar belum datang?"

"Ya, kami bahkan tidak bisa masuk ke dalam istana Kaisar karena dihalangi."

Kedua mata ratu bergetar, instingnya mengatakan ada sesuatu.

"YANG MULIA! GAWAT!"

Pelayan yang berteriak dan masuk tanpa mengetuk, mendadak diam ketika melihat ratu.

"Ada apa? Apakah kamu menemukan Kaisar?" Tanya Cassia dengan nada khawatir.

"Di taman, semua orang bisa melihat dari jendela ball room." Geleng kepala pelayan.

"Bicara yang jelas!" Bentak ratu.

Pelayan menunduk ketakutan dan mulai bicara. "Para tamu undangan melihat kaisar, permaisuri, pangeran mahkota dan putri Selena sedang berada di taman."

Cassia berdiri dari kursi lalu bergegas menuju ballroom istana kekaisaran.

---------

"Apa ini? Taman?" Tanya Selena tidak mengerti. "Apakah kalian tahu kalau di taman ada ulat ataupun serangga? Bagaimana jika mereka terbang ke makanan dan kita tidak mengetahuinya?"

Selena mengomel tanpa henti begitu kaisar mengajak mereka bertiga mengadakan pesta di taman dengan pengawalan ketat.

Aelia jadi teringat omelan Selena persis dengan emak-emak kaya Indonesia yang takut anaknya kotor makan jajan di pinggir jalan.

Aelia dan Aether hanya diam mengamati tingkah laku kaisar demi menghormati ulang tahun Selena sekaligus kaisar yang bertindak menjadi ayah baik.

Ada meja bundar di tengah taman yang dikelilingi bunga Adelia. Hm? Adelia?

Aelia tidak begitu memperhatikan taman istana karena waktu kecil pernah digigit serangga hingga gatal.

Aelia bertanya ke Aether. "Bukankah bunga Adelia sulit ditemukan? Kenapa di taman banyak bunga Adelia? Tidak, sepertinya seluruh taman berisi bunga Adelia."

Aether menjawab dengan senyum dingin. "Aku dan Selena yang merawat taman ini, dulu taman ini berisikan bunga mawar merah yang berduri. Semua orang mengaitkannya dengan ibu yang hobi mengeluarkan uang banyak, padahal ibu menyerahkan segalanya kepada orang-orang yang merawat taman."

Aelia ingat bagian itu. "Benar, aku pikir semakin mahal harga bunga para bangsawan yang singgah akan mengaguminya dan menghargai bunga itu."

Tapi sayangnya para bangsawan berpikiran lain, mereka menganggap Aelia membuang-buang uang untuk menarik perhatian kaisar. Karena itulah Aether dan Selena diam-diam sepakat mengganti semua bunga di taman menggunakan dana pribadi.

Permaisuri terlalu sibuk dengan mengejar kaisar sementara kaisar terlalu sibuk mengurus masalah negara, toh dari awal orang tua mereka tidak peduli masalah taman sehingga mereka bisa mengganti bunga dengan mudah.

"Apa arti nama bunga Adelia?" Tanya Aelia sambil merangkul tangan putranya.

"Adelia diambil dari nama bangsawan kuno Adelaide. Adelia berjiwa bebas dan mudah beradaptasi dengan suasana baru, mirip dengan sifat positif ibu." Jawab Aether dengan tenang.

Aelia terkejut lalu tertawa canggung. "Ibu tidak menyangka arti namanya seperti itu. Yah, padahal bunga Adelia tidak terlalu populer dan bagus di mata orang lain."

"Bunga itu diambil dari nama ibu."

"Ya?" Tanya Aelia yang takut pendengarannya salah.

"Sifat bunga Adelia mirip dengan ibu makanya kami sepakat mengambil bunga itu, lalu ada bunga Dandelion di taman yang berarti pemberani. Saat bunga Dandelion lepas dari batang, menandakan dia berani menghadapi rintangan di lingkungan baru.

"Adelia jika dihilangkan d maka akan menjadi Aelia, sama dengan nama ibu, bukan?" Aether menjelaskan dengan panjang lebar.

Aelia tidak menyangka kedua anaknya melakukan hal sejauh itu. "Bukankah kalian berdua membenci ibu? Ibu telah menelantarkan kalian selama ini."

Aether dan Selena sejak kecil tidak terlalu paham dengan tindakan ibu mereka yang tidak peduli keberadaan anak-anaknya, padahal mereka berdua adalah buah cinta dengan pria yang dicintai permaisuri. Namun, seiring berjalannya waktu- mereka berdua bersyukur memiliki ibu seperti Aelia daripada ratu dan para selir.

Terpopuler

Comments

AbC Home

AbC Home

next

2023-01-14

0

Sulati Cus

Sulati Cus

lanjut thor

2023-01-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!