Kaisar sedang melakukan pertemuan dengan para menteri dan bangsawan lain untuk membahas masalah keamanan perbatasan, sampai sekarang tidak ada nama bangsawan yang keluar untuk dikirim ke perbatasan.
Terkadang kaisar menjadi geram sendiri melihat perilaku para bangsawannya yang hanya ingin hidup nyenyak dan nyaman.
Kaisar yang duduk di singgasana, mengetuk jari di lengan kursi singgasana. "Tidak ada nama yang muncul?"
Para bangsawan tinggi terlihat saling melindungi supaya tidak dikirim keluar.
Kaisar menghela napas.
Tiba-tiba sekretaris muncul dan melapor bahwa pangeran mahkota ingin bertemu.
Kaisar mengerutkan kening. "Suruh dia masuk."
Jarang sekali pangeran mahkota ingin bertemu kaisar jika tidak dipanggil atau ada keperluan penting, tapi mengganggu pertemuan tidak pernah dilakukan pangeran mahkota.
Aether masuk ke dalam ruang pertemuan setelah diizinkan kaisar lalu membungkuk hormat dan memberikan salam.
Kaisar mengangkat tangan. Aether adalah anak kesayangannya, cerdas dan selalu menuruti perintah orang tua sejak kecil, tidak pernah membantah lalu tidak seperti anak kecil kebanyakan yang buta dengan harta orang tua.
Berbeda dengan Bence yang suka bersenang-senang menggunakan harta dan kedudukan kaisar. Itulah sebabnya kaisar memberikan kedudukan secepatnya pada Aether.
Aether pasti bisa melindungi diri sendiri sekaligus melawan orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya.
"Ada apa putraku?"
Wajah Aether mengeras ketika mendengat mulut manis kaisar, tahu dirinya anak favorit kaisar, tidak membuat terlena. "Apakah kaisar tahu masalah di wilayah Birendra?"
"Masalah?"
"Saya sudah selesai menangani masalah di sana."
Kaisar mengerutkan kening tidak mengerti. "Aether, kamu pangeran mahkota. Bagaimana bisa menangani masalah wilayah keluarga ib-"
"Lalu siapa yang bisa menanganinya?" Potong Aether.
Kaisar menghela napas. "Baik, ada masalah apa di sana?"
Aether geram melihat sifat tidak peduli kaisar terhadap keluarga ibunya. "Dari dulu sampai sekarang, anda tidak pernah berubah, Yang Mulia."
Kerutan di dahi kaisar semakin dalam. "Hah?"
"Apakah anda tidak peduli pada wilayah Perdana Menteri yang selama ini setia pada anda?"
Kaisar tidak mengerti kenapa pangeran mahkota semarah itu. "Aether, ayah tidak tahu apa yang kamu katakan. Tolong diperjelas."
Kaisar tidak peduli dengan sikap para bangsawan yang melihat dirinya menunjukan kasih sayang terhadap pangeran mahkota.
"Aether, ayah minta maaf jika kamu marah karena merasa telah mengabaikan wilayah perdana menteri. Aether tahu bagaimana ayah menjadi sibuk akhir-akhir ini, bukan?"
Emosi Aether mereda lalu minta maaf pada kaisar.
Kaisar paham emosi anak muda yang menggebu. "Bisa Aether jelaskan masalah di wilayah perdana menteri?"
Aether menarik napas lalu mulai menjelaskan. "Beberapa hari lalu ratu mengajukan permintaan supaya bahan makanan untuk istana diambil dari wilayah Birendra, perdana menteri sempat menolak tapi kaisar setuju dengan alasan permaisuri sakit dan mungkin merindukan makanan rumah."
Kaisar mengangguk. "Ya, itu benar. Ayah memberikan perintah supaya permaisuri sembuh cepat."
"Saya mendapat laporan bahwa makanan yang dikirim ke kastil Birendra banyak yang busuk sementara yang bagus diletakkan di paling atas. Tidakkah anda merasa aneh?"
Beberapa bangsawan fraksi ratu mulai mengeluarkan cemoohan ke perdana menteri.
"Perdana menteri, apa yang anda lakukan kali ini sangat luar biasa! Ketahuan oleh cucu sendiri!"
"Perdana menteri, apakah anda merasa tidak malu dengan kelakuan sendiri?"
"Ckckck, sayang sekali."
"Perdana menteri, bukankah akhir-akhir ini wilayah anda kekurangan uang?"
"Perdana menteri terlalu sombong karena berhasil mendapatkan permaisuri dan pangeran mahkota."
Perdana menteri diam dan tidak membalas ucapan mereka, sebaliknya dia malah menasehati sang cucu. "Aether, bersikaplah sopan terhadap Yang Mulia. Kamu memang anak favorit kaisar, tapi bukan berarti bisa bersikap seenaknya."
"Aku berbuat seenaknya? Lantas bagaimana dengan kaisar yang sudah mengabaikan wilayah Birendra?" Tanya Aether pada perdana menteri.
"Kaisar tidak berhak ikut campur dalam masalah wilayah, jika memang ada masalah- ungkapkan dengan kepala dingin."
Kaisar tersenyum, putranya yang cerdas dan selalu pendiam ternyata hanya anak remaja pada umumnya. "Baik, ayah tidak masalah dengan sifat kamu yang menggebu. Calon kaisar masa depan harus memperhatikan sekelilingnya."
"Yang Mulia Kaisar!"
Kaisar mengerutkan kening, jeritan tidak setuju dari fraksi ratu, membuat telinganya sakit. "Ada apa? Ada masalah aku memanjakan pangeran mahkota?"
"Pangeran mahkota adalah contoh bagi bangsawan muda lainnya, tidak layak dimanjakan terlalu banyak. Kita juga tidak tahu masa depan."
Aether menertawakan kebodohan mereka. "Lantas bagaimana dengan Bence yang dimanjakan ratu? Kalian tidak akan mempermasalahkannya?"
"Itu-"
"Ratu dan kaisar berbeda, kaisar merupakan pemimpin negara yang dijadikan contoh oleh para ayah."
Aether menjadi geram dengan tingkah mereka. "Aku hanya membahas masalah wilayah Birendra yang disentuh oleh orang-orang tidak tahu malu!"
"Pangeran mahkota, hati-hati jika berbicara. Anda tidak punya bukti."
Aether tersenyum kecil. "Aku tidak pernah menyebut nama seseorang."
"Anda tadi menyebut nama ratu."
"Duke Aruna, sebagai ayah tentu saja anda khawatir dengan posisi ratu. Tapi, tidak dibenarkan untuk mengganggu pangeran mahkota dan kaisar yang sedang berdiskusi." Aether menatap tajam duke Aruna. "Ah, kalau tidak salah waktu itu Bence melecehkan seorang perempuan. Apakah dia mencontoh sifat ibunya yang tidak tahu malu telah merayu kaisar yang mabuk?"
Duke Aruna membentak Aether. "PANGERAN MAHKOTA!"
Kaisar berteriak keras. "DUKE ARUNA!"
Duke Aruna berlutut setelah menyadari kesalahannya. "Yang Mulia Kaisar, maafkan saya. Saya kelepasan karena pangeran mahkota berusaha memancing saya."
Aether membalas duke Aruna. "Bahkan kakekku tidak pernah berlutut seperti itu, sungguh memalukan memiliki kakek yang tidak pernah mengontrol emosi."
"Aether." Duke Birendra menegur Aether.
Duke Aruna menatap marah Aether diam-diam dan berjanji di dalam hati akan membalas semua perlakuannya.
Aether menatap semua bangsawan di dalam ruangan satu persatu. "Saya harap tidak ada yang mengganggu saya lagi!"
Semua orang di dalam ruang pertemuan hanya diam dan tidak ingin diperlakukan seperti duke Aruna.
Aether kembali menjelaskan pada kaisar. "Saya sudah menemukan pelaku dan saat ini sedang diinterogasi. Ayah, berikan kekuasaan pada saya untuk menangani masalah wilayah Birendra."
Kaisar menghela napas. "Bukankah seharusnya kamu minta izin ke perdana menteri daripada ayah?"
"Ayah merupakan kaisar dan semua perintah kaisar tidak dapat diganggu gugat, contohnya saja seperti tadi. Melapor sebentar sudah diganggu sekelompok serangga."
Duke Aruna yang dibantu berdiri oleh pengikutnya hampir kelepasan bicara setelah melihat tatapan dingin duke Birendra.
"Baik, ayah izinkan Aether untuk menangani masalah wilayah Birendra. Bawa juga kepala ksatria supaya bisa melapor semuanya ke ayah."
Aether membungkuk hormat lalu berjalan meninggalkan ruangan dengan raut wajah datar.
Perdana menteri menggelengkan kepala, tahu masalah wilayahnya namun tidak tahu akan menjadi separah itu. Permaisuri sudah memberikan peringatan keras, tapi terpaksa diabaikan karena banyaknya pekerjaan di ibu kota. Ternyata Aether sudah menyelesaikannya dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments