Aelia memberikan saran ke Aether dan Selena. "Bagaimana dengan penyihir? Kita bisa bekerja sama dengan mereka untuk membuka portal."
"Portal?" tanya Selena dan Aether bersamaan.
"Ya. Penggunaan portal sangat efektif untuk kita yang tidak ingin diketahui kaisar."
'Tapi bu, itu tidak mungkin. Hanya saintess yang bisa membuka pintu portal sementara saintess berada di bawah perintah kaisar dan ratu," kata Aether.
Aelia merasa bersalah kepada dua anaknya, gara-gara ego jadi kehilangan segalanya di masa lalu. Dia tidak ingin mimpi buruk itu terulang lagi. "Bagaimana dengan penyihir? Kita bisa bekerja sama dengan menara penyihir?"
"Kegiatan sihir dilarang karena dianggap telah melampaui kehendak dewa, hanya saintess dan kuil yang diizinkan memakai kekuatan suci. Penyihir dan menaranya dianggap ilegal sekaligus pengikut iblis, kaisar tidak mau berhubungan dekat dengan mereka lalu para penyihir juga benci seluruh keluarga kekaisaran." Selena menjelaskan dengan sabar. "Ibu, hal ini sudah diketahui umum, jika ibu bekerja sama dengan penyihir- maka pihak kuil akan marah dan mengutuk ibu."
Aether setuju dengan pendapat Selena. "Ibu, permaisuri. Posisi ibu rentan digantikan ratu. Saat ini kaisar sudah berbaik hati tidak menggantikan posisi ibu, entah di masa depan apakah kaisar masih berpikiran sama."
Aelia duduk di sofa panjang bersama Selena sementara Aether duduk berhadapan dengan mereka berdua.
"Bukankah ini terlihat tidak adil?"
Selena dan Aether saling menatap heran lalu menatap ibu mereka bersamaan.
"Tidak adil?"
"Dimana?"
"Jika hanya saintess dan pihak kuil yang bisa membuka portal atas kehendak kaisar serta ratu, bagaimana dengan rakyat?" tanya Aelia sambil tersenyum licik. "Bukankah rakyat juga bisa menggunakannya untuk perjalanan jauh? Tentu saja kita tidak perlu saintess jika bisa bekerja sama dengan penyihir."
Selena mulai memikirkannya lalu menatap Aether. "Benar, jika kita bisa mengambil hati rakyat- posisi kakak bisa aman."
Aether menatap ngeri Selena. "Kamu bicara apa? Kita tidak mungkin membuka portal tanpa diketahui kaisar. Pasti banyak mata-mata yang sudah menyebar."
"Lalu kita harus merayu pihak kuil dan saintess? Aku rasa tidak mungkin bisa, kaisar dan ratu pun beberapa hari belakangan tidak pernah memihak kita."
Aether menghela napas dan mulai merenung.
Anak perempuan berpikir menggunakan perasaan, jika disentuh mengenai rakyat, Selena akan luluh dengan mudah. Sementara Aether yang anak laki-laki, pikirannya berbeda dengan Selena, menggunakan logika terlebih dahulu.
Aelia tidak masalah dan menjelaskan dengan sabar. "Aether, ayahmu sudah tidak peduli dengan kita. Kita bertiga harus bisa bertahan hidup sampai bisa keluar dari istana."
Selena tidak setuju dengan ibunya. "Ibu, apakah hanya itu yang ada di pikiran ibu sekarang? Keluar dari istana? Setelah cerai apa yang akan ibu lakukan di masa depan?"
"Tentu saja, menghasilkan uang. Memiliki uang jauh lebih menyenangkan daripada membuang uang untuk menghadapi kedua ular itu. Ibu juga ingin mencari hiburan yang lebih baik." Aelia menjawab dengan lugas sehingga Selena dan Aether tidak bisa membantah. "Sekarang kita kembali ke masalah penyihir, apakah kalian berdua butuh bantuan ibu untuk mengundang penyihir ke istana?"
Selena dan Aether terbelalak ngeri begitu mendengar ide ibu mereka.
"Ibu, bagaimana bisa membawa penyihir masuk ke dalam istana? Ibu tadi dengar penjelasan tadi, bukan?" tanya Selena dengan heran yang disambut anggukan kecil Aether.
"Ibu sudah mendengarnya, hanya saja menarik bukan jika penyihir datang ke istana sementara ayah kalian membenci penyihir?" tanya Aelia ke anak-anaknya.
Selena dan Aether terdiam begitu mendengar alasan Aelia.
"Ada apa? Kenapa kalian berdua diam saja?" tanya Aelia yang menyadari dua anak sedang menatap bengong dirinya.
"Apakah ibu benar-benar berniat cerai? Apakah ini memang ibu?" tanya Selena dengan sedih. "Padahal dulu ibu suka sekali dengan ayah tapi kenapa sekarang malah berubah?"
Aelia tertawa canggung. Tidak mungkin aku bilang sudah pernah meninggal karena ayah mereka, bukan?
Selena menggenggam kedua tangan ibunya. "Masalah penyihir tidak perlu khawatir, kakak punya kenalan lama di akademi. Hanya saja tidak ada yang tahu kalau dia penyihir."
"Apakah separah itu?" tanya Aelia tidak mengerti.
"Ceritanya sudah lama, ibu bisa membacanya di perpustakaan. Tidak perlu khawatirkan yang lain, ibu harus banyak istirahat sekarang." Selena menatap cemas Aelia.
___________
PRANG!
Lantai kamar ratu berantakan dengan alat pecah belah, setibanya di istana miliknya, dia segera meluapkan emosi.
"Yang mulia?" tanya dayang istana di balik pintu kamar sambil mengetuk pintu.
Ratu sudah tidak peduli dengan citranya lagi. "Bagaimana bisa- wanita itu melakukan hal ini kepada aku dan putraku?"
Rencana yang dipikirkannya jauh hari secara hati-hati malah hancur dalam semalam dan permaisuri merubah sikapnya, berubah menjadi lebih ramah dan tidak bermusuhan lagi.
"Wanita itu- bagaimana bisa sembuh dari penyakitnya? Seharusnya dia berbaring saja di istananya!"
"Ibu, kenapa melakukan ini semua? Tidak bisakah ibu tidur dengan tenang?"
Ratu yang mendengar suara putranya di pintu masuk yang terbuka, tertawa muram. "Kamu bilang apa tadi?"
"Ibu, aku ingin istirahat. Aku lelah, tidak bisakah tidur di tempat ibu?"
"Kamu- gara-gara kamu, aku hampir kehilangan posisiku! Anak macam apa yang membuat ibunya seperti ini?"
Bence mengangkat kedua bahu dengan santai. "Seharusnya tidak ada orang di tempat itu, aku bisa dengan mudahnya menuduh Aether sudah perkosa perempuan itu."
"Kamu? Kamu ingin menjebak Aether?"
Bence mengangguk dengan bangga. "Ibu tenang saja, aku bisa menangani Aether dengan mudah lalu posisi pangeran mahkota bisa turun ke aku."
Ratu semakin marah dan memukul putranya dengan ganas, memakai tangan kosong. Para dayang berusaha memisahkan mereka berdua sementara Bence hanya diam menerima pukulan ibunya.
"Pantas saja kenapa permaisuri lebih memilih jalan memutar dari istananya, rencana kamu sudah diketahui sejak awal."
Bence menatap linglung ibunya. "Bagaimana bisa permaisuri tahu? Hanya aku dan dia yang tahu.'
"Wanita itu tidak membocorkannya? Kamu yakin?"
"Tentu saja, dia tidak mungkin tidak tunduk kepada kita, bu."
Hati ratu menjadi tenang begitu mendengar penjelasan dari putra kesayangannya lalu hanya memberikan nasehat. "Lain kali jika ingin membuat rencana, beritahu aku. Aku tidak mau ada kesalahan lagi."
Bence menatap ibunya dengan kecewa. "Aku sudah dewasa, bu. Bisa melakukan semuanya sendiri."
Ratu kembali memukul Bence. "Waktu itu kamu hampir ketahuan permaisuri, bagaimana bisa ibu hanya diam saja?"
Bence cemberut lalu mengangguk kecil. "Baik."
Ratu teringat dengan permintaan putranya yang sempat diabaikan tadi. "Tadi kamu bilang mau tidur di sini? Ada apa? Kenapa dengan kamarmu?"
Bence mengacak rambutnya. "Kaisar mengeluarkan perintah untuk mengawasi aku. Saat ini ada ksatria berjaga di depan pintu kamarku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments