SEMBILAN

Bence mendapat laporan dari pelayan mengenai Aether yang mengganggu pertemuan para menteri dan bangsawan di ruang pertemuan, menjadi iri. "Kaisar mengizinkan dia bertemu di sana?"

"Ya, pangeran."

Bence menggigit bibirnya. "Apakah kamu tahu apa yang dibahas dia?"

"Saya tidak tahu, Yang Mulia. Mungkin bisa menunggu informasi dari kakek anda, duke Aruna."

Bence turun dari tempat tidur dan bergegas mengganti pakaiannya. "Terlalu lama, aku juga harus bertemu dengan kaisar."

"Ya- Yang Mulia, di sana ada pertemuan penting. Bagaimana bisa anda pergi ke sana mengganggu kaisar?"

"Hah! Pangeran Aether bisa pergi menemui kaisar, kenapa aku tidak? Apakah karena kakakku seorang pangeran mahkota sementara aku tidak?!"

"Bukan seperti itu-"

"Aku harus mengeluh kepada ayah karena mendapat perlakuan tidak adil! Aku seorang pangeran, bagaimana bisa mendapat hukuman seperti tahanan yang harus diawasi?"

Pelayan yang melapor hampir menangis begitu mendengar keluhan pangeran Bence.

Bence yang sudah berpakaian rapi, bergegas keluar menemui ayahnya.

"Pa- pangeran!" Teriak pelayan bergegas mengikuti Bence yang sudah berjalan cepat. Dia tidak mau mendapat masalah setelah mendapat peringatan dari ratu.

Begitu sampai di depan pintu ruang pertemuan, Bence dihalangi dua ksatria penjaga pintu.

Bence berteriak marah. "AKU INGIN BERTEMU DENGAN KAISAR!"

"Di dalam sedang ada pertemuan, anda tidak bisa sembarangan masuk."

Bence tertawa kesal. "Kakakku, bisa masuk lalu aku tidak? Terlihat tidak adil sekali."

"Yang Mulia-" pelayan yang sudah tiba di belakang Bence menjadi gugup. "To- tolong tunggu sebentar."

"Pangeran mahkota bisa mengganggu kaisar, kenapa aku tidak? Padahal ini sangat penting."

"Pangeran, anda saat ini sedang dihukum kaisar." Pelayan mengingatkan Bence.

Bence menggertak pelayan. "Aku dihukum karena ketidak adilan! Bagaimana bisa aku tidak minta keadilan pada kaisar?"

Kaisar yang bisa mendengar dari dalam aula pertemuan, mengangguk ketika penjaga pintu dari dalam menatapnya.

Bence tersenyum ketika pintu dibuka dan melempar tatapan mengejek ke pelayan. "Lihat, ayah sangat menyayangiku. Bagaimana bisa mengabaikan aku?"

Pelayan tidak berani berkomentar.

Bence masuk ke dalam aula pertemuan sementara pelayan hanya berdiri di depan pintu, begitu melihat sosok sang ayah, Bence memberikan salam.

Kaisar menaikan salah satu alis dan bertanya. "Pangeran Bence, ada masalah apa?"

Bence menegakkan badan dan menatap lurus kaisar. "Ayah-"

"Kaisar."

"Ya?"

"Kamu harus memanggil aku kaisar, Bence."

Duke Aruna merasa tidak adil untuk cucunya. "Kaisar, Pangeran Mahkota diizinkan memanggil anda 'Ayah' kenapa Pangeran Bence tidak boleh?"

"Ada syarat khusus untuk memanggil aku 'Ayah' di depan umum dan kita lihat Pangeran Bence apakah memenuhi syarat itu?"

Bence mengerutkan kening tidak mengerti, padahal dirinya adalah anak kaisar. Apa yang membuat pangeran mahkota menjadi istimewa selain karena posisinya yang hanya menjadi anak permaisuri dan kaisar?

"Bence, ada apa?"

Bence tersadar dari lamunan. "Ayah, aku hanya ingin keadilan."

"Hoo- keadilan? Keadilan apa yang kamu inginkan? Bukankah saat ini kamu sedang dihukum?"

"Ayah, aku mengakui kesalahan karena telah melukai perempuan itu, tapi aku tidak bermaksud melukainya. Dia hanya ingin mendekati Pangeran Mahkota, tidak bisakah ay- Kaisar membebaskan aku dari hukuman?"

Kaisar tersenyum muram. "Ada bukti kamu hendak perkosa perempuan itu."

"Itu bohong, Yang Mulia. Dia berkata bohong untuk menjatuhkan aku!" Teriak Bence.

"Pangeran Bence, apakah kamu tahu- beberapa hari lalu Pangeran Mahkota dihukum karena dianggap merusak barang berharga kamu? Ratu menghukum dengan kurungan selama tiga hari, dan hanya diberikan makanan roti dan susu untuk mengingat kesalahan." Kaisar mengetuk jari di lengan kursi singgasana.

Bence mengangguk. "Benar, Pangeran Mahkota telah melakukan kesalahan berat."

"Barang apa yang dirusak Pangeran Mahkota secara tidak sengaja?"

"Tidak, Pangeran Mahkota sengaja melakukannya. Dia menghancurkan mainan aku."

"Mainan?"

"PANGERAN BENCE!" Tegur duke Aruna. "Astaga, bagaimana bisa anda berkata seperti itu di depan Kaisar?"

"Pangeran Bence, anda berusia delapan belas tahun sekarang. Bukankah harus fokus pada pelajaran?" Tanya duke Birendra.

Duke Aruna tidak terima cucunya ditegur. "Duke Birendra! Jaga perkataan anda! Bagaimana bisa anda ikut campur berkomentar pada cucu saya?!"

Duke Birendra mengangkat dagu dengan angkuh. "Siapa tadi yang mengomentari Pangeran Mahkota hingga harus berlutut meminta maaf kepada Kaisar? Apakah Duke sekarang menderita penyakit demensia?"

Duke Aruna menatap sengit Duke Birendra.

Kaisar sudah mengerti garis besar. "Pangeran Bence, bisa menyalahkan Pangeran Mahkota yang tidak sengaja merusak mainan favorit. Namun, kenapa Pangeran Mahkota yang tidak ada di lokasi? Mendapat tuduhan menjebak Pangeran Bence? Bisa dijelaskan lebih detail supaya bisa aku selidiki."

Pangeran Bence mengerutkan kening tidak mengerti. "Kaisar, kenapa aku mendapat perlakuan berbeda dengan Pangeran Mahkota?"

"Apakah Pangeran Bence sedang mengeluh sekarang?" Tanya kaisar.

"Tentu saja. Pangeran Mahkota bisa datang untuk mengeluh, kenapa saya tidak bisa?" Jawab Bence.

Kaisar menghela napas, tidak ingin repot menasehati anak idiot. "Duke Aruna, sebagai seorang kakek sekaligus membanggakan kualitas keturunan. Bukankah anda bisa menjelaskan dengan baik kepada Pangeran Bence?"

Duke Aruna terkejut.

Semua orang di kekaisaran sudah tahu bahwa Ratu dan Duke Aruna sangat memanjakan Bence sedari kecil.

Kaisar sendiri tidak merasa heran jika ada yang melaporkan gerak gerik Pangeran Mahkota untuk dijadikan persaingan, namun Pangeran Bence terlalu bodoh untuk menyimpan rahasia dan menunjukkan ke semua orang bahwa dia sudah memata-matai gerak gerik Pangeran Mahkota.

Tidak masalah Bence datang setelah rapat, namun jika datang setelah Pangeran Mahkota padahal pertemuan belum selesai- bukankah patut dicurigai?

Bence masih tidak paham dengan maksud kaisar lalu menoleh ke kakeknya untuk meminta jawaban.

Duke Aruna berusaha mencari jalan supaya cucunya keluar dari masalah. "Pangeran Bence, darimana anda tahu Pangeran Mahkota datang ke ruang pertemuan?"

"Pelayanku, tentu saja." Jawab Bence tanpa merasa bersalah.

"BAWA PELAYAN ITU KEMARI!" Teriak Duke Aruna yang masih jengkel.

Tidak lama, pelayan yang berdiri di dekat pintu dengan gelisah, dibawa masuk oleh salah satu ksatria kerajaan.

Pelayan yang melapor didorong hingga jatuh tersungkur ke depan, menggigil ketakutan dan memberikan salam ke Kaisar.

Kaisar menaikkan salah satu alis.

Duke Aruna menunjuk pelayan itu dengan marah. "Bagaimana bisa kamu melaporkan hal tidak penting ke Pangeran Bence!"

"Pa- pangeran- pangeran yang menyuruh saya! Tolong jangan hukum saya! Saya hanya menjalankan perintah!" Teriak pelayan dengan nada ketakutan.

"KAMU BICARA APA? AKU HANYA MENYURUH KAMU UNTUK MELIHAT SITUASI!" Teriak Pangeran Bence yang menyadari kesalahannya lalu bicara ke kaisar. "Kaisar, saya tidak pernah melakukannya- pelayan ini yang berinisiatif."

Pelayan menoleh ke Duke Aruna untuk meminta bantuan, namun mendapat tatapan marah dari Duke.

Dengan suara gemetar, pelayan mengubah cerita. "Sa- saya yang berinisiatif membantu Pangeran Bence, saya kasihan melihat pangeran dihukum secara tidak adil."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!