Aether yang bisa mencium bau menusuk itu hampir mual.
Aelia mengerutkan kening. Kaisar memiliki kebiasaan melewatkan sarapan, atau hanya minum kopi dan makan satu buah roti. Sekarang malah diberikan makanan berat?
Ratu dengan bangga memindahkan piring ke meja kaisar.
Kaisar bergegas mengambil dokumen supaya tidak kena makanan.
Perbuatan kaisar seperti itu tidak luput dari tatapan Aether dan Aelia.
"Waktu itu saya melihat anda makan makanan ini saat sarapan dan lahap sekali. Makanya saya minta koki membuatkannya untuk anda."
Kaisar mengerutkan kening.
Aelia menaikkan kedua alis dan bisa melihat wajah menderita kaisar lalu tanpa sadar menertawakannya di belakang punggung Aether.
Aether menoleh ke belakang. "Ibu?"
Ratu yang masih tidak sadar dengan kesalahannya, mencoba bersikap baik hati. "Penjaga pintu, maafkan kekasaran Pangeran Mahkota. Silahkan berdiri."
Aelia mengerutkan kening ketika ratu lebih memilih bela penjaga pintu lalu melirik kaisar yang berusaha tidak bernapas untuk menghindari baunya yang menyengat.
Aelia bicara ke Aether. "Percuma bicara, ibu tetap menjual gaun dan perhiasan."
Duke Aruna mengerutkan kening tidak setuju. "Permaisuri, bagaimana bisa anda melakukan hal yang menghina Kaisar?"
"Aku menghina Kaisar?" Aelia menatap polos duke Aruna. "Untuk apa aku menghina Kaisar?"
"Anda menjual gaun dan perhiasan pemberian Kaisar, apakah itu bukan penghinaan? Segala tindak kejahatan di kekaisaran akan dihukum berat."
Aelia tertawa. "Lalu bagaimana dengan pencuri yang merugikan orang lain? Bukankah mereka juga melakukan kejahatan? Kaisar."
Kaisar menatap Aelia.
"Saya ingin kompensasi." Aelia menatap bosan kaisar. Wajahnya memang tampan dan tubuhnya juga bagus, tapi sayang kelakuannya minus.
"Kompensasi?"
"Keluarga saya menderita kerugian banyak dan harus membayar hutang karena ulah seseorang yang ingin menghancurkan kami, lalu seharusnya anda menelusuri dana Permaisuri saat Ratu menggantikan pekerjaan saya," kata Aelia.
Kaisar mengalihkan tatapannya ke Aether. "Benarkah itu, Aether? Kamu sudah menemukan pelakunya?"
Aether menipiskan bibirnya. Dia lebih suka menghukum para pelaku daripada melepaskan mereka dengan membayar kompensasi, di masa depan mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Namun sepertinya Aelia memiliki pemikiran yang lain.
Duke Aruna yang wajahnya memucat bicara ke kaisar. "Yang Mulia, serahkan investigasi kepada saya. Masih banyak yang harus dilakukan Pangeran Mahkota di masa depan."
Kaisar bisa menangkap niat duke Aruna lalu bicara ke Aether. "Kamu menemukan pelakunya? Siapa?"
Ratu bergegas merayu kaisar. "Yang Mulia, anda harus sarapan dulu supaya bisa bekerja dengan baik. Tidak bagus melewatkan sarapan, bisa mengganggu kesehatan an-"
Kaisar melempar satu mangkuk sup hangat berisi lemak daging melewati kepala ratu dan hanya menatap tajam Aether. "Pangeran Mahkota, katakan!" Perintahnya.
Ratu menjadi takut dan jatuh ke belakang, duke Aruna buru-buru menolong putrinya.
Aelia menepuk lengan atas Aether.
Aether masih enggan mengatakannya meskipun bisa melihat tatapan wajah penuh harap sang ibu.
Aelia menasehati Aether. "Aether, ungkapkan saja."
Aether menatap Aelia. "Aku ingin mereka dihukum, jika mereka dilepaskan dengan hanya membayar kompensasi- mereka bisa mengulangi perbuatannya."
Aelia tidak bisa menyalahkan Aether. Putranya memiliki rasa keadilan yang tinggi dan ingin menghukum penjahat, namun tidak semua kejahatan berakhir dengan hukuman negara.
Aether menyerah dan bicara ke kaisar. "Kami mendapat salah satu pelaku yang mengirim makanan busuk, dan berhasil membuatnya bicara sebelum melakukan upaya bunuh diri."
"Siapa pelakunya?" Tanya kaisar.
"Kenapa anda tidak bertanya pada Yang Mulia Ratu?" Tanya Aether.
Kaisar menghela napas. "Aether."
"Apakah Kaisar akan melindungi Ratu lagi?"
"Aether." Kaisar menatap tajam Aether untuk memberikan peringatan.
"Aether, Aether terus. Kaisar sudah melupakan Permaisuri! Jangan panggil aku Aether! Kaisar sudah memiliki Pangeran dan Putri lainnya!" Teriak Aether yang tidak suka namanya disebut kaisar.
Aelia menghela napas dan maju melindungi Aether di belakang punggungnya. "Anda bisa menyelidiki semuanya, Kaisar. Tapi saya minta uang kompensasi dari anda atas kerugian yang saya alami termasuk pesta ulang tahun Aether."
Ratu yang dibantu ayahnya berdiri, terkesiap.
"Saya tidak suka ada yang membebaskan hukuman padahal jelas-jelas mereka salah dan ada banyak saksi," kata Aelia.
Kaisar menghela napas. "Aelia, apakah ini tujuan kamu menemui aku? Aku membebaskan Bence karena dia berperilaku baik. Jangan mencari alasan."
Aelia menggenggam erat roknya. Kaisar masih tidak pernah berubah, tidak. Kaisar memang tidak berubah, yang seharusnya berubah adalah dirinya.
Aelia tidak menjawab dan hanya membungkuk hormat lalu menarik Aether keluar dari ruang kerja.
Kaisar terkejut dengan tindakan Aelia yang hanya diam dan pergi begitu saja. Padahal sebelumnya Aelia berusaha menarik perhatian dengan marah karena cemburu atau mengakui kesalahannya.
Ratu kembali mendekati kaisar. "Yang Mulia-"
Kaisar melirik ratu lalu membuang semua piring di atas meja. "Bersihkan semua makanan di sini, aku tidak ingin mencium bau makanan tidak enak lagi."
Ratu menggigit bibir.
Sementara Aether melihat Aelia menarik tangannya. "Ibu-"
Sebelumnya Aether tidak percaya ibunya telah berubah karena sakit, tapi- ternyata sang ibu memang sudah berubah.
"Ibu-"
Aelia menghentikan langkahnya dan balik badan lalu mengomeli Aether. "Kamu lihat tadi, bukan? Kaisar tidak perhatikan kita berdua meskipun aku Permaisuri dan kamu Pangeran Mahkota. Gaun dan perhiasan pemberian Kaisar sudah menjadi milik ibumu ini, jadi jangan menyuruhku bertemu dengan dia. Membuat aku sakit mata saja."
Aether menatap takjub perubahan ibunya. "Ibu, apakah sudah tidak mencintai Kaisar lagi?"
Aelia menghela napas panjang. "Ayahmu sudah punya banyak wanita, untuk apa mengharapkan cintanya. Lebih baik Ibu mengharapkan cinta kepada kalian berdua daripada cinta pria lain."
Aether tersenyum bahagia lalu menggenggam erat kedua tangan ibunya. "Ibu, di masa depan aku akan menjaga ibu dan keluarga duke Birendra dengan baik. Masalah ini serahkan padaku, aku akan bekerja sama dengan kakek."
Aelia menjadi khawatir. "Tidak, jangan beritahu kakek kamu. Dia sibuk."
"Benar, tapi dia akan selalu meluangkan waktu untuk cucu dan putri kandungnya."
Aelia lupa bahwa sang ayah sangat menyayangi dirinya, hanya saja Aelia di masa lalu tidak menyadarinya dan lebih fokus mengejar kaisar atau melawan para wanita kaisar lainnya.
Di masa lalu, wilayah Birendra tidak bisa klaim masalah kerugian ke kaisar karena nama buruk yang melekat di Aelia. Tidak ada yang percaya bahwa Birendra telah dijebak, semua lebih percaya keluarga Permaisuri Aelia mengambil uang demi kehidupan mewah di istana.
Hal ini berimbas pada kehidupan Selena yang sedari awal sederhana namun di cap melakukan hal itu demi memperbaiki nama baiknya lalu Aether yang tidak diizinkan keluar dari publik atas perintah kaisar.
Sekarang, masalahnya sudah diselesaikan sejak awal- Pangeran Mahkota dan kakeknya sudah mengambil langkah awal untuk menangkap para pelaku.
Aelia tersenyum bangga. "Ibu percaya padamu, Aether."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments