ENAM BELAS

Raut wajah duke Aruna berubah pucat, lalu menatap benci duke Birendra.

Duke Aruna minta izin keluar untuk bicara pada bawahannya mengenai kompensasi.

Sekarang yang ada di dalam ruangan tinggal duke Birendra dan kaisar yang saling bertukar tatapan.

Kaisar yang mengerti watak duke Birendra, tidak mempermasalahkannya. "Jika duke Birendra ingin bicara, bicara saja."

Duke Birendra menghela napas panjang. "Saya hanya ingin memastikan kali ini anda bersikap adil."

"Apakah Pangeran Mahkota yang menginginkan hal ini?"

Duke Birendra tidak suka berbohong tapi dia lebih tidak suka lagi jika melihat putri yang disayangi harus disakiti orang lain meskipun dia adalah suami putrinya sendiri. "Tidak, saya yang berinisiatif. Anda sudah tahu bagaimana sifat saya, Yang Mulia."

Kaisar tidak menjawab.

Duke Birendra memutuskan waktunya untuk mundur. "Kalau begitu, saya kembali ke ruang kerja. Yang Mulia."

"Duke."

"Ya?"

"Apakah tidak ingin bertanya alasan aku melempar Permaisuri ke istana timur?"

Duke Birendra mengangkat salah satu alis lalu menjawab. "Permaisuri sedang sakit, langkah terbaik memang mengirim ke istana timur supaya tidak ada yang tertular, termasuk Pangeran Mahkota dan Putri."

"Aku mendengar di wilayah anda sedang membuat obat untuk virus ini, apakah anda melakukannya diam-diam demi Permaisuri?"

Duke Birendra tidak membantah. Cepat atau lambat pasti akan diketahui Kaisar, lebih baik menjawab jujur saat diberikan pertanyaan. "Benar, sebagai ayah, saya harus melakukan yang terbaik."

"Jika sudah selesai dan berhasil, apakah anda bermaksud memonopoli perdagangan?"

"Apakah tidak boleh?"

Kaisar tersenyum licik. "Boleh, tapi harus melewati izinku terlebih dahulu."

Duke Birendra tercengang. "Yang Mulia, bagaimana bisa anda melakukan itu? Saya-"

Kaisar mengangkat tangan dan mulai bicara. "Jangan salah paham, aku berniat melindungi kalian. Jika ada obat palsu atau apa pun yang mengganggu, kalian tidak akan bisa melawan- selain itu tugas Perdana Menteri juga tidak bisa ikut campur ke dalam bisnis, bukan?"

"Benar, Yang Mulia."

"Tidak perlu khawatir, aku akan membayar dengan harga yang diberikan, tanpa diskon juga tidak masalah."

Duke Birendra mengucapkan terima kasih dengan tulus meskipun tahu niat Kaisar untuk menenangkan dirinya jauh lebih besar daripada membuang uang.

Duke Birendra teringat dengan nasehat cucunya, pangeran mahkota beberapa jam sebelum dirinya muncul di hadapan kaisar sambil membawa banyak bukti.

"Ayah pasti akan membayar kompensasi ke kakek supaya kakek tenang."

"Manusia yang merasa bersalah pasti akan melakukan segala cara untuk menghapus kesalahan masa lalunya. Kakek tidak akan heran."

"Karena itu, jika ayah menyodorkan uang sebagai kompensasi untuk menenangkan ayah mertua. Kakek harus menerimanya."

"Bukankah sangat tidak etis?"

"Etis atau bukan, tidak ada hubungan. Kita harus mencari banyak uang untuk memulihkan wilayah Birendra sebelum ada masalah lain muncul."

"Aether, kakek tidak tahu kamu memiliki pemikiran seperti itu."

"Ibu yang mengajarkan."

Duke Birendra tidak membantah ucapan sang cucu dan segera menurutinya.

Kembali ke situasi sekarang, kaisar mengerutkan kening tidak percaya ketika duke Birendra yang tidak pernah tersenyum malah tersenyum. "Ada apa Duke? Apakah ada yang membuat kamu bahagia?"

"Ya, saya sangat bahagia sekarang. Semoga saya bisa hidup lama untuk bisa melihat kebahagiaan putri dan kedua cucu saya."

Di saat duke Birendra bahagia mengingat putri dan kedua cucunya, Aelia yang berada di istana timur tercengang mendengar cerita Aether.

Aelia menatap tidak percaya Aether. "Kamu bilang apa? Kakek yang pergi kesana?"

"Ya."

"Kenapa? Harusnya dia sibuk dengan pekerjaan."

"Mau bagaimana lagi, saat ini hanya kakek yang didengar Kaisar."

Aelia tidak tahu harus berkomentar apa. Putranya terlalu ekstrim.

"Lagipula kita akan mendapatkan dua kompensasi seperti yang ibu bilang waktu itu."

Aelia semakin tercengang. "Itu hanya pendapat asal-asalan, apakah Kaisar akan membayar kompensasi supaya kakek tidak marah?"

Aether mengangguk. "Ya, sebentar lagi uang kita akan banyak. Ibu tidak perlu khawatir menjual gaun dan perhiasan lagi."

Aelia menatap curiga Aether. "Jika kita sudah mendapatkan uangnya, apa yang akan kamu lakukan?"

"Tentu saja. Berikan kepada ibu dan Selena lalu sisanya aku bagikan untuk sumbangan, jika ibu tidak keberatan."

Aelia menepuk kening. "Duh! Jangan menghamburkan uang untuk hal tidak penting!"

Aether mengerutkan kening tidak setuju. "Apakah ibu dan Selena tidak penting?"

"Bukan seperti itu." Geleng Aelia. "Bukan begitu maksud ibu, lebih baik uangnya digunakan untuk membangun bisnis kita di masa depan."

"Bisnis?" Tanya Aether tidak percaya lalu menyadari sesuatu. "Apakah ibu masih berpikir keluar dari istana?"

Aelia tidak berani menjawab supaya Aether tidak merasa sedih. "Lupakan masalah keluar, ibu sedang serius sekarang."

"Aku juga serius."

Aelia menghela napas lalu mengambil jalan tengah. "Berikan semua uangnya ke adik kamu, nanti ibu akan mengelolanya bersama. Kamu tidak perlu khawatir."

Aelia ingin memberikan contoh yang terbaik untuk kedua anaknya supaya tidak bergantung pada orang tua lain, yaitu kaisar.

"Ya." Jawab Aether.

-------

"Kompensasi? Itu yang dikatakan Kaisar? Bagaimana bisa?" Ratu jalan mondar-mandir dan mulai frustasi ketika mendengar laporan dari sang ayah, duke Aruna. "Apakah ayah mengiyakan? Tidak 'kan?"

"Ayah belum menjawab, tapi Kaisar memaksa. Ayah harus segera menjawab dan memberikan uang kompensasi untuk wilayah Birendra."

Ratu menggigit bibir dengan kesal. "Bukti-buktinya pasti sudah dihancurkan bukan? Waktu itu ayah menyuruh mereka untuk menghancurkan bukti keterkaitannya dengan kita, kan?"

"Pria tua itu membawa dua peti besar dan klaim bahwa semuanya adalah bukti, Kaisar sudah melihat satu buku yang diberikan pria tua itu."

"Apa tanggapannya Kaisar? Membela kita bukan?"

Duke Aruna menggelengkan kepala dengan raut wajah tidak berdaya. "Kaisar tetap menginginkan kompensasi untuk duke Birendra."

Ratu duduk di kursi dengan wajah tercengang. "Kenapa?"

"Ratu." Panggil duke Aruna yang segera berdiri dengan raut wajah khawatir.

Ratu menepis tangan duke Aruna. "Padahal rencana kita sudah sempurna, bagaimana bisa mereka tidak segera menghancurkan semua perintah kita?"

Duke Aruna segera kembali ke tempat duduknya. "Aku pikir orang-orang yang kita suruh menyembunyikan bukti untuk memeras kita."

Ratu menatap ngeri ayahnya. "Kenapa ayah tidak mencari orang yang bisa dipercaya?"

"Mencari orang seperti itu susah, terutama jika disuruh melakukan kejahatan. Penjahat tetap saja penjahat."

Ratu menggigit bibirnya dengan kesal. "Lalu bagaimana dengan kompensasi? Aku tidak mau kalian kehilangan banyak uang."

"Aku akan membayar, kita harus terlihat baik di depan Kaisar. Setelah itu mencari kambing hitam."

"Kambing hitam?"

"Ya. Kita harus mengorbankan salah satu pengikut dan memberikan kompensasi untuk menjadi tersangka utama."

"Apakah bisa?"

"Tentu saja bisa, Ratu juga harus membantu aku. Siapa tahu punya salah satu bawahan yang tidak terlalu berguna."

Ratu mulai berpikir keras.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!