Ratu berpikir keras lalu mendapat ide. "Bagaimana dengan wanita yang menyerang putraku?"
"Apa?"
"Aku kesal karena dia, Bence mendapat hukuman meskipun Kaisar membebaskannya. Ayah anak itu merupakan pengikutku."
Duke Aruna mengangguk paham. "Benar, dia harus mendapat hukuman karena tidak bisa mendidik putrinya dengan baik. Keluarga mereka pantas hancur."
"Tidak perlu dihancurkan, kita masih membutuhkan jasa mereka. Sebaiknya hanya ditekan sedikit, aku yakin ketika Kaisar mengetahui bahwa dia adalah ayah dari anak perempuan yang malang, pasti dibebaskan dengan mudah."
Duke Aruna mengerutkan kening tidak setuju. "Lebih baik dihancurkan dari awal sebelum menimbulkan masalah untuk kita di masa depan."
"Tidak, ayah. Mereka pasti tidak akan berkhianat, kesetiaan mereka tidak diragukan."
Duke Aruna menghela napas lega. "Jika Ratu sudah bicara, aku tidak bisa ikut campur."
Ratu mengangguk puas lalu segera memberikan perintah ke para bawahannya untuk memanggil ayah anak itu. "Ayah tidak perlu khawatir, semuanya aman dan terkendali."
Ira masuk ke istana ratu dan menyapanya dengan hormat. "Yang Mulia Ratu."
Ratu mengangguk singkat. Ira adalah salah satu selir kaisar dan satu-satunya selir yang bisa menghasilkan anak dengan kaisar meskipun hanya anak perempuan.
Ira merupakan mantan pelayannya yang setia. Jadi ratu tidak akan pernah meragukan atau mencurigai Ira.
Bagaimana bisa Ira tidur dengan kaisar? Tentu saja karena jebakan ratu sendiri supaya kaisar bisa menikah dengan pelayannya lalu membantu menekan para selir.
Mengingat harem, raut wajah ratu berubah sedih mengingat sekarang dirinya tidak punya otoritas lagi.
Ratu semakin kesal jika mengingat wajah sombong Selena.
"Yang Mulia, ada apa memanggil saya?" Tanya Ira dengan hati-hati supaya tidak menyinggung perasaan ratu lalu memberikan salam hormat ke duke Aruna. "Duke."
Duke Aruna menatap Ira dengan tatapan menilai. "Semakin hari kamu semakin cantik, sepertinya putriku berhasil memoles istri buruk rupa menjadi angsa yang enak dilihat."
Ira sudah terbiasa dengan kalimat melecehkan duke Aruna sehingga tidak membalas atau mengambilnya di dalam hati. Meskipun duke Aruna mata keranjang dan suka selingkuh, duke tidak pernah tidur dengan pelayan keluarganya. "Terima kasih atas pujiannya, semua memang berkat ratu."
Ira sangat menghormati ratu, karena beliau, hidupnya nyaman dan aman sekarang. Tidak pernah ada pikiran dirinya akan menjadi selir kaisar.
Ratu mengangguk singkat lalu menjelaskan instruksi ke Ira.
Di saat ratu sibuk menjalankan licik, istana permaisuri disibukkan suara bertengkar Aether dan Selena.
Selena ingin makan masakan wilayah Birendra namun Aether terlalu malas untuk bantu mengolah bahan.
"Bagaimana bisa kakak tidak mau membantu adik? Hanya bantu membersihkan sisik ikan apa salahnya?" Keluh Selena.
Aether menolak tegas. "Bagaimana jika kamu saja yang melakukan? Aku lebih suka potong sayur daripada melakukan hal itu untuk hewan."
Selena memutar bola mata lalu mulai membersihkan sisik ikan yang baru dibelinya.
Aelia menatap heran Selena. "Apa yang ingin kamu buat? Ibu akan membantu."
Tadinya Aelia ingin memasak dengan pengetahuan seadanya, siapa tahu bisa menjadi enak. Namun, kedua anaknya menolak gagasan dan segera masak sendiri.
Aelia tidak tahu kedua anaknya gemar memasak, mencari ingatan di masa lalu pun tidak ada adegan kedua anaknya memasak di dapur kecuali-
Aelia menatap Selena dan Aether bergantian dengan tatapan bingung. Sewaktu dirinya sakit, waktu itu anak-anak memang selalu mengirim makanan tapi- makanan itu terkadang asin atau manis dan juga terkadang wortel lupa dibersihkan lalu langsung dipotong.
Aelia tidak pernah kepikiran anak-anaknya belajar masak di masa lalu.
Selena menggoyang tubuh ibunya dengan lembut. "Bu, ibu baik-baik saja? Kenapa melamun?"
Aelia mengedipkan kedua mata lalu menatap Selena. "Maaf, ibu hanya teringat masa lalu. Jadi, putri ibu ingin masak apa?"
"Mhm- ikan?" Tanya Selena.
Aether memutar bola mata. "Tentu saja, orang tidak buta melihat kamu antusias membersihkan ikan."
Selena menatap kakaknya dengan tatapan cemberut. "Dasar jelek!"
Aether tidak peduli dengan makian adiknya lalu bertanya ke Aelia. "Bu, ibu sendiri ingin masak apa? Hanya ada kita bertiga jadi tidak perlu masak ribet."
Aelia mengangguk setuju. "Benar, memang harus sederhana. Tapi hari yang akan kita rayakan adalah hari ulang tahun Selena. Jadi biarkan Selena yang memimpin kita."
Selena menjulurkan lidah sementara Aether semakin kesal.
Sementara kaisar yang mulai muak dengan pekerjaannya, berjalan-jalan di taman untuk mencari suasana bagus. Tapi, ternyata tanpa sadar kakinya melangkah ke istana permaisuri bersama pasukannya.
Salah satu ksatria menjaga pintu kamar istana permaisuri, hendak menarik tali untuk memberikan tanda bahwa ada tamu ingin masuk, namun kaisar melarangnya.
"Dimana Permaisuri? Kenapa sepi sekali?"
"Beliau, Pangeran dan Putri sedang di dapur untuk memasak."
"Masak? Bukankah istana memiliki juru masak? Kenapa mereka malah-"
Salah satu penjaga tersenyum dan menjelaskan. "Sebentar lagi ulang tahun putri, saya rasa sebagai ibu, tidak ada salahnya bekerja sama untuk memasak."
Kaisar mengerutkan kening lalu tersadar sesuatu. "Bawa aku ke dapur!"
Ksatria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setibanya di dapur, kaisar membuka pintu tanpa izin dan tercengang ketika melihat kondisi istri dan kedua anaknya.
Selena terlihat hendak melempar seekor ikan ke arah Aether sementara Aether hanya tertawa. Aelia memegang tangan Selena dengan tatapan khawatir dan berusaha menghentikan.
"Ibu, jangan hentikan aku! Dia sudah gila!" Jerit Selena.
"Apa yang kamu lakukan pada Permaisuri?!" Tanya kaisar dengan nada tegas. Dia tidak suka melihat anak-anaknya tidak menghargai istrinya.
Semua orang di dalam ruangan terkejut lalu menoleh ke arah kaisar.
"A- ayah?' Aether terkejut melihat ayahnya masuk ke istana permaisuri. Padahal dulu kaisar terlihat enggan bertemu permaisuri.
Selena dan Aelia juga terkejut.
Kaisar menggulung lengan tangannya. "Apakah kalian ingin membuang bahan makanan untuk lelucon?"
Selana dan Aether tidak percaya dengan pendengaran dan melihat kelakuan aneh sang ayah.
"Ayah kenapa datang kemari?" Tanya Selena dengan bingung.
"Aku hanya ingin berkunjung dan katanya kalian bertiga ada di sini, jadi aku menyusul." Jawab kaisar dengan canggung.
Aether khawatir dengan kondisi ibunya jika melihat kaisar datang, di masa lalu ibunya hanya peduli pada kaisar.
Aether melirik ibunya yang tidak melihat kaisar dan hanya serius membaca buku. "Ibu?"
Aelia mendongak lalu tersenyum. "Ada apa?"
Aether meneliti wajah ibunya lalu menghela napas lega ketika ibunya tidak lagi menatap kaisar. "Tidak, hanya ingin memanggil."
Aelia tersenyum kecil lalu kembali sibuk dengan bahan makanan mentah.
Kaisar yang tidak tahan lagi, segera bergabung dengan mereka bertiga. "Selena, letakkan ikan itu. Kamu jijik dengan sisik ikan tapi malah kamu angkat dan hendak melempar ke Aether?"
Selena terkejut lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments