Teriakan kaisar dan pangeran mahkota menggema di dalam ruangan ballroom.
"Bercerai?"
"Apakah aku salah dengar?"
"Permaisuri minta bercerai dan keluar dari istana?"
"Akal bulus apa yang dia lontarkan sekarang?"
"Apakah dia sudah gila karena terkena wabah?"
Salah satu bangsawan wanita pengikut ratu, memberikan saran dengan hati-hati. "Sebaiknya permaisuri kembali ke istana timur dan diperiksa dokter, saya takut wabahnya akan menular dan permaisuri masih sakit."
Ya, dia menarik pendapat bahwa perubahan sifat permaisuri karena terkena wabah.
Permaisuri tertawa jahat. "Kamu siapa? Kenapa kamu berani memberikan perintah seperti itu?"
"Yang Mulia, bukan seperti itu. Saya hanya memberikan saran untuk kebaikan semua."
Ratu menjadi penengah. "Apa yang dikatakan permaisuri benar, jangan menghina beliau."
"Tapi-"
Lihat, beginilah cara ratu menarik simpati bangsawan.
"Panggil dokter kekaisaran untuk periksa permaisuri, siapapun yang memberikan keterangan palsu. Aku potong lehernya!" perintah kaisar sekaligus mengancam mereka semua yang mendengar.
Aether menghampiri Aelia dan melindunginya dengan tatapan khawatir. "Bu."
Ratu bicara dengan suara lembut. "Yang mulia pangeran mahkota, tolong jangan dekat permaisuri dulu sampai dokter menyatakan sembuh. Saya tidak ingin melihat anda sakit."
Dasar pembohong! teriak Aether, Selena dan Aelia di dalam hati.
Tidak lama dokter kekaisaran datang dan terkejut melihat sosok permaisuri yang sudah dibuang ke istana timur, muncul. "Permaisuri, kenapa anda ada di sini? Saat ini anda sedang sakit." Paniknya.
Aelia memiringkan kepalanya dengan bingung. "Siapa dia?"
Ratu mengenalkan dokter. "Permaisuri, dokter kekaisaran yang lama diusir karena tidak becus menangani anda jadi saya memberikan rekomendasi dokter terbaik untuk menangani anda."
Permaisuri mengangkat kedua alisnya. "Apa? Dokter? Aku tidak mengenalnya sama sekali. Aneh, seharusnya aku tahu kamu tapi itu jika kamu rutin melihat kondisiku."
Dahi kaisar berkerut.
Dokter bersujud ampun dengan gugup di hadapan kaisar. "Yang mulia, maafkan saya. Saya terlalu sibuk menangani bangsawan lainnya sehingga jarang mengunjungi permaisuri."
"Lihat, Aether, Selena. Dia bahkan menyatakan dosanya sendiri," sindir Aelia.
Ratu menyembunyikan kepanikannya. "Yang mulia, tidakkah anda bersikap keterlaluan? Setelah berusaha menghancurkan pesta ulang tahun pangeran mahkota, anda bahkan menuduh dokter yang sudah berjuang keras selama ini!"
Para pengikut ratu, mulai menggertak dan memojokkan permaisuri Aelia.
"Benar, permaisuri. Anda seolah tidak tahu terima kasih pada jasa ratu."
"Permaisuri, anda tidak boleh mencoreng nama baik kekaisaran."
"Permaisuri, anda sudah keterlaluan."
"Permaisuri, jangan bertindak terlalu jauh!"
"BERLUTUT!" teriak permaisuri di depan para bangsawan yang memjokkan dirinya, Aelia menatap lurus pangeran mahkota yang lebih tinggi darinya. "Berlutut, pangeran mahkota. Minta maaf kepada kaisar karena sudah bertindak egois, membuang anggaran istana untuk merayakan pesta yang diinginkan ratu."
Ratu tidak terima disalahkan. "Permaisuri, pangeran mahkota yang awalnya menginginkan pesta! Saya hanya menggantikan anda yang sakit, kenapa jadi saya yang disalahkan?"
Permaisuri mengabaikan ratu lalu mengarahkan lengannya ke dokter kekaisaran. "Jika kamu memang merasa bersalah, periksa dan beritahu ke kaisar dan semuanya mengenai kondisiku."
Kaisar hanya diam melihat perubahan istrinya yang terlalu banyak. Tidak menangis ataupun marah, hanya bersikap tenang dan bahkan sorot matanya hanya menunjukan ketegasannya.
Dokter segera memeriksa kondisi permaisuri, melirik takut ratu yang menatap benci permaisuri lalu ke kaisar yang menatap tajam dirinya. Saat ini nyawanya sedang dipertaruhkan.
Dokter itu menghela napas lalu memeriksa kondisi permaisuri dengan teliti, dia terkejut beberapa saat setelahnya. "Permaisuri, bagaimana bisa anda sembuh sendiri?"
Dokter menutup mulut ketika tersadar dengan kesalahannya. "I- itu-"
Semua orang di ballroom bisa mendengar dengan jelas, permaisuri sudah sembuh.
Aelia tersenyum. "Terima kasih atas perawatan anda selama ini, Yang Mulia. Mengizinkan saya istirahat selama sakit tanpa ada siapapun di sana sehingga saya bisa sembuh, keputusan yang tepat." Sindir Aelia.
Kaisar paham kalimat sarkas permaisuri dan menatap tajam ratu. "Ratu?"
Ratu ketakutan. "Sa- saya sudah menyuruh seseorang membantu permaisuri, ternyata ada yang bermain di belakang saya. Kaisar, tolong bantu saya untuk mengungkap siapa yang berusaha melukai permaisuri!"
Aether ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan permaisuri yang bicara dengan suara rendah. "Biar kaisar yang memutuskan sendiri, setelah acara selesai segera temui ibu di kamar Selena."
Aether terdiam begitu mendengar perintah ibunya.
Kaisar menatap sekeliling ballroom dengan tajam. "Jadi, siapa lagi yang juga bekerja sama untuk menjatuhkan permaisuri?"
Tidak ada yang menjawab.
Selir berlutut dan memegang kaki kaisar. "Yang mulia, kami telah teledor menjaga permaisuri karena fokus mengurus pangeran mahkota. Semua orang tahu bagaimana jahatnya permaisuri terhadap orang lain, karena itu kami tidak menyangka ada pengkhianat di belakang."
Para bangsawan yang terpengaruh dengan ratu dan selir, menggumamkan kalimat setuju.
Aelia menghela napas panjang. "Karena semua orang tahu saya jahat, lebih baik ceraikan saya."
Kaisar menjawab dengan tegas. "Tidak! Aku tidak akan pernah menceraikan permaisuri."
Ratu tidak senang mendengarnya.
Aelia pikir kaisar pasti akan setuju dengan perceraian, lalu teringat dengan kehidupan pertamanya. "Ah, tenang saja. Saya tidak akan meminta bagian harta dari kaisar kok hahahaha-"
Aether bertanya dengan bingung. "Ibu bicara apa?"
Aelia menjawab dengan tenang. "Ibu adalah anak dari perdana menteri dan anak satu-satunya, itu berarti ibu bisa mengurus wilayah duke dengan tenang sampai salah satu anak ibu menjadi pewaris duchy."
Pewaris di kekaisaran harus pria, sementara Aether, putra satu-satunya adalah pangeran mahkota.
"Ibu, apakah ibu berencana menikah lagi?" tanya Selena tidak percaya.
Kaisar menatap marah Aelia. "Kamu selingkuh?"
Aelia menggeleng. "Tidak, sejak kapan aku bertemu pria lain sementara istana timur telah ditutup. Apakah saya sudah gila melakukan hal itu?"
"Lalu kenapa kamu ingin bercerai dariku?" tanya kaisar.
Aelia menatap polos kaisar. "Bukankah anda mencintai ratu Nisha dan selir Ira? Mungkin jika saya berdiri di sana, menjadi penghalang hubungan kalian. Saya tidak mau menjadi itu, lebih baik saya konsentrasi menjalankan bisnis."
"Bisnis?" tanya Selena.
Aelia mengangguk. "Bisnis untuk mendapatkan uang banyak."
Ratu berkata dengan sinis. "Saya kira anda sudah berubah, ternyata masih sama. Anda masih ingin mengumpulkan kekayaan demi pangeran mahkota? Tidak apa-apa, itu memang tugas seorang ibu."
Aelia tidak suka dengan kalimat ratu. "Tugas ibu adalah melindungi anak-anaknya dari seekor ular. Jika ibunya tidak datang tepat waktu mungkin saja gosip akan menyebar cepat. Tadi saja sebelum datang ke tempat ini, sudah mendengar cacian para pelayan mengenai pangeran mahkota yang tidak berbakti."
Aelia terang-terangan menyerang ratu dengan kata-kata, tidak dengan pukulan atau hukuman seperti yang dia lakukan dulu.
Ratu tidak bisa berkata-kata. "Permaisuri, anda menuduh saya? Bagaimana saya tahu ada gosip seperti itu? Saya-"
"Ratu tidak mungkin tidak mengetahui gosip ini bukan? Jika ratu benar-benar menyayangi pangeran mahkota, pasti akan menghentikan semua gosip buruk."
Kali ini Aelia tidak akan memberikan kesempatan pada ratu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
inferno
lengkap banget jabatannya ya ada permaisuri,ada ratu ada selir juga
2023-05-23
0