Suasana di dalam dapur menjadi canggung ketika kaisar tiba-tiba muncul dan menegur Selena.
Aether yang sadar terlebih dahulu, bertanya. "Ayah, ada apa? Kenapa ayah datang?"
Diam-diam kaisar menghela napas lega karena putranya masih mau memanggil ayah di belakang.
Kaisar berdehem lalu menoleh ke Aelia, dia menebak tatapan wanita itu pasti kagum kepada dirinya. Namun dugaan dia salah, Aelia justru melempar tatapan jijik ke kaisar.
Kaisar menjadi bingung.
Selena meletakkan ikan di atas meja dapur dan melipat kedua tangan di depan dada. "Kenapa kaisar terhormat ada di sini? Apakah ingin melihat pekerjaan kotor yang kami lakukan?"
Kaisar menjawab dengan tenang, dia sudah mulai terbiasa dengan sikap kritis Selena. "Aku datang untuk menjenguk permaisuri, tidak aku sangka malah melihat kalian sibuk di dapur. Apakah tidak ada pelayan yang mengurus?"
"Sekali lihat juga pasti tahu. Tidak ada yang mau pergi ke istana Permaisuri jahat dan suka menindas."
"Selena." Tegur Aelia.
Aether membalas Aelia. "Ibu, biarkan saja. Nanti Selena semakin marah jika ibu melarangnya."
Aelia mengerutkan kening tidak setuju. "Aku yang melahirkan kalian berdua, bagaimana bisa aku yang harus tunduk pada anak sendiri?"
Selena menghela napas. "Apa yang diinginkan kaisar?"
"Aku hanya ingin membantu kalian memasak, apakah tidak boleh?"
Aelia tidak terlalu ingat kalau kaisar bisa memasak. "Apakah anda bisa memasak? Kenapa saya tidak mengingat apa pun di masa lalu?"
Masa lalu yang dimaksud Aelia adalah dua kehidupan yang berbeda.
Selena dan Aether saling bertukar tatapan.
Kaisar berdiri di samping Selena dan mulai mengambil alih membersihkan ikan.
Aelia sontak mengambil mantel dan juga jas yang dipakai kaisar.
Kaisar terkejut dengan tindakan Aelia. Namun, tidak ada tatapan kagum lagi di mata sang istri, hanya tatapan datar dan juga mencemaskan pakaian yang dipakainya.
Setelah melepas semuanya, Aelia memberikan pakaian kaisar ke kepala pelayan istana.
Kepala pelayan, ksatria serta pelayan yang mengikuti menjadi canggung. Mereka tidak terbiasa melihat kaisar memasak.
Kaisar yang tahu itu mengusir mereka keluar.
Rombongan kaisar keluar dari ruangan dan menunggu di depan pintu sambil memasang telinga.
Aether dan Selena tidak percaya dengan tindakan tiba-tiba kaisar.
"Yang Mulia, apakah anda Yang Mulia?" Tanya Selena dengan tidak yakin.
Kaisar gemas dengan pertanyaan putrinya dan mengangguk. "Ya, ini ayah."
Selena merinding mendengar jawaban kaisar dan pindah ke samping kakaknya.
Aelia melihat tangan terampil kaisar saat membersihkan ikan. "Sejak kapan anda bisa membersihkan ikan?"
"Sejak kecil." Jawab kaisar
"Sejak kecil?" Tanya Aether tidak percaya. "Aku tidak pernah melihat Ayah masak sama sekali."
"Tentu saja tugas Kaisar disibukkan pekerjaan di kantor, bukan dapur. Ayah dulu suka memancing dan bakar ikan sendiri bersama para pelayan. Sejak itu ayah suka melakukan semuanya dengan mandiri."
Selena tetap tidak suka dengan kehadiran kaisar. "Apakah anda tidak pergi ke harem untuk menghibur para selir? Aku dengar para selir sekarang membantu acara ulang tahun putri Cassia kesayangan ratu."
Kaisar tidak terpancing. "Biarkan mereka melakukan kesenangan sendiri."
Selena masih tidak percaya. "Apakah Ayah sekarang sedang memata-matai kami? Tenang saja, aku tidak akan mengeluarkan uang banyak hanya untuk acara ulang tahun."
Tangan kaisar tergores ketika mendengar ucapan sarkas putrinya.
Aelia bergegas mengambil tangan kaisar dan mengarahkannya ke air bersih. "Jangan bergerak, ini air bersih. Aku harus membersihkan lukanya."
Kaisar tidak melawan.
Selena dan Aether semakin bingung dengan sikap ayahnya.
Apakah kaisar mencintai permaisuri? Entahlah, yang pasti sekarang kaisar memiliki permaisuri, ratu dan juga selir yang cukup banyak.
Apakah saat ini kaisar gila? Mungkin saja! Karena baru sekarang kaisar menunjukkan perhatiannya ke permaisuri.
Diam-diam Aether bersyukur karena Selena pindah tempat sehingga membuat kedua orang tua memiliki interaksi.
Selena ingin berkomentar namun tertahan di kerongkongan, rasanya sulit sekali untuk mengungkapkan.
Kaisar tersenyum ke Aelia.
Aether dan Selena semakin jijik melihatnya.
Sadar kaisar menjadi pusat perhatian kedua anaknya yang mulai dewasa, senyumnya menghilang.
Selena bertanya ke kaisar. "Apakah kaisar saat ini memiliki masalah di tempat tidur?"
Aether sontak menutup mulut adiknya.
Selena menepuk tangan kakaknya dengan jengkel.
Aelia yang sudah selesai membersihkan luka kaisar, mulai membalutnya dengan jaring laba-laba yang ada di dalam kotak obat. Metode pengobatan lama yang ada di istana permaisuri.
Kerutan di dahi kaisar semakin dalam ketika melihat metode pengobatan yang diberikan Aelia. "Bukankah ini terlalu kuno?"
Selena melepas bekapan kakaknya. "Lalu apa yang Ayah harapkan? Melihat pengobatan mahal di istana Permaisuri? Nanti bilangnya terlalu boros."
Sempat terbesit di benak kaisar untuk menutup mulut putrinya yang kritis dan juga pintar sarkas.
Aether menghela napas.
----------
Ratu yang sedang bahagia kumpul bersama para selir setelah duke Aruna pergi, terkejut ketika mendengar laporan di luar dugaan. "Apa? Coba kamu ulangi, siapa yang pergi ke istana Permaisuri?"
"Yang Mulia Kaisar." Jawab pelayan.
"Bagaimana bisa Kaisar pergi ke istana Permaisuri? Bukankah istana sekarang sedang terkena wabah?"
"Saya juga tidak tahu, Yang Mulia."
Ratu semakin jengkel dengan semua hal yang berada di luar kendalinya. "Bagaimana bisa-"
Ira yang duduk di dekat ratu, menghiburnya. "Ratu, mungkin Kaisar ingin melihat apakah Permaisuri berkata jujur dengan kondisinya, anda tahu sendiri kalau beliau tidak suka berasumsi tanpa melihat secara langsung."
Ratu membenarkan di dalam hati, tapi tetap saja merasa ada yang mengganjal.
"Ratu, sebaiknya anda tidak perlu khawatir. Kaisar masih mencintai anda, buktinya Pangeran Bence dibebaskan dari hukuman dan Putri Cassia bisa merayakan ulang tahun dengan mewah."
Selir lainnya ikut menimpali, mereka berlomba mencari wajah di depan ratu. Ira tertawa di dalam hati.
Ratu mengangguk setuju. "Benar, Kaisar masih mencintaiku."
Ratu berusaha menyakinkan diri sendiri bahwa kaisar masih mencintainya.
Di saat ratu benci mendapat laporan mengenai kondisi kaisar, Cassia sedang berkumpul dengan teman-teman sosialita.
"Putri, saya dengar anda akan merayakan ulang tahun dengan mewah. Apakah kami mendapatkan undangan?"
"Tentu saja, kalian adalah temanku. Bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja?"
Para lady menghela napas lega. "Kalau begitu, apakah anda juga akan mengundang putri Selena?"
Senyum putri Cassia lenyap, matanya menatap lurus lady yang bertanya.
Lady yang bertanya menjadi salah tingkah, sementara para lady lainnya tidak bersedia membantu orang bodoh yang tidak bisa menjaga mulutnya.
"Saya minta maaf jika menyinggung anda." Ucap lady itu dengan tulus.
Cassia kesal dan minum teh. "Sebaiknya tidak ada yang kedua kali, aku tidak suka mendengar komentar dari orang bodoh."
Para lady tidak berani membantah putri Cassia kesayangan kaisar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments