"Ibu bisa masak?" Tanya Selena dengan takjub.
"Uhm-" Aelia sendiri juga meragukan teknik memasaknya karena sudah lama tidak ke dapur.
Aether yang menyadari keraguan Aelia, menenangkannya. "Ibu, tidak perlu khawatir. Kami akan memakan semua masakan ibu, semuanya enak kok."
Selena mengangguk antusias.
Aelia tersenyum canggung. Di masa lalu dirinya belajar banyak hal untuk menyenangkan suami saat pulang ke rumah, salah satunya adalah memasak. Namun sang suami terlalu sibuk untuk memperhatikan dirinya dan anak-anak. "Terima kasih banyak anak-anak."
Sementara di istana Ratu terjadi kegemparan setelah merayakan bebasnya pangeran Bence dari hukuman.
Para selir sedang berkumpul di istana ratu.
"Apa? Bilang apa kamu tadi?"
Ajudan raja datang ke istana ratu untuk memberikan konfirmasi bahwa pekerjaan yang semula milik permaisuri akan diserahkan pada putri Selena.
"Ba- bagaimana bisa-" Ratu menggeram marah. "Bagaimana bisa dia mengambil tempatku?!"
Selir Ira yang merupakan mantan pelayan ratu dan berhasil melahirkan anak kaisar, yaitu putri Cassia. Menenangkan ratu. "Anda harus tenang Yang Mulia. Mungkin Kaisar ingin memanjakan anda karena terlalu bekerja keras."
"Apakah kamu tidak melihat dan mendengar keputusan Kaisar di malam ulang tahun Pangeran Mahkota? Bagaimana bisa aku tenang?" Bentak ratu. "Tidak bisa dibiarkan, aku harus mendisiplinkan putri Selena!"
Ira menghalangi ratu. "Anda tidak bisa melakukan hal ini, Yang Mulia."
"Kenapa? Apakah kamu juga ada di pihak Permaisuri sekarang? Minggir!"
Ira memberi tanda di sekitar lewat mata ke ratu.
Ratu segera menyadarinya lalu berdehem, dengan cepat menurunkan emosi. "Sepertinya memang aku harus banyak istirahat, Kaisar memang sangat mencintai aku. Maafkan aku yang terlalu emosi, aku hanya- merasa lelah."
Ira membantu ratu duduk kembali lalu ajudan kaisar pergi meninggalkan istana ratu setelah memberikan salam.
Ratu berusaha menutupi emosinya dengan baik.
Keesokan harinya, permaisuri mengeluarkan semua gaun dan perhiasan yang diberikan kaisar kepada dirinya sebelum Selena dan Aether datang ke istananya lagi.
Aku tidak memiliki uang banyak, tapi aku harus memberikan kado untuk Selena supaya dia tidak kecewa. Meskipun hanya kado berupa makanan yang aku masak. Batin Aelia.
Selena menggeleng tidak berdaya, masih belum ada informasi mengenai obat flu, jika berhasil dijual maka obat itu akan menghasilkan banyak uang.
"Ibu."
Selena terkejut, Aether ternyata sudah berdiri di belakangnya. "Astaga, Aether. Seharusnya kamu beritahu ibu sebelum datang."
Aether melihat gaun mewah dan perhiasan ibunya tergeletak di atas tempat tidur dan meja. "Ibu, mau dikemanakan semua ini?"
"Kakek kamu harus membayar kerugian yang dikeluarkan istana, bukan?" Tanya Aelia.
Aether terkejut. "Ibu tahu darimana? Aku tidak pernah bicara kepada siapa pun, ini rahasia antara aku dan kakek."
"Ibu bisa menebaknya tanpa kamu beritahu." Jawab Aelia. Dia enggan bicara mengenai masa lalunya. "Ibu ingin sedikit membantu, lagipula uang jatah bulanan ibu sudah habis."
Aether mengangguk paham lalu menatap cemas gaun mahal Aelia. "Jika barang-barang ini dijual-"
"Hm? Apakah kamu takut ibu tidak seperti dulu? Apakah kamu masih ingin melihat ibu cantik seperti dulu?" Goda Aelia sambil menyikut tangan putranya.
Aether tidak menepis pertanyaan Aelia. "Ibu memang cantik tapi tanpa make up seperti dulu jauh lebih cantik. Aku suka Ibu yang sekarang."
Aelia menjadi terharu lalu teringat dengan gaun yang akan dijualnya. "Ah, aku tidak tahu mau dikemanakan gaun ini. Apakah kamu punya ide?"
"Coba Ibu bicara ke Ayah."
"Ayah kamu?"
"Yah, gaun-gaun dibeli memakai uang Ayah. Ibu tidak bisa sembarangan menjualnya, jadi harus ada izin dulu dari ayah- kecuali jika Ibu cerai dari ayah-"
Aelia mengangkat tangannya. "Aku mengerti, aku mengerti. Aku akan bicara ke ayah kamu."
"Aku akan mengantar Ibu, jika Ibu mau."
"Ya." Angguk Aelia.
Aether mengantar Aelia sampai ke depan kantor Kaisar sambil bercanda di sepanjang perjalanan. Tidak disangka bertemu dengan ratu yang hendak mengirim sarapan untuk kaisar.
Ratu menganggukkan kepala ke permaisuri lalu memberikan salam ke Aether yang merupakan pangeran mahkota. Ratu menganggap kedudukan permaisuri saat ini sangat lemah sehingga tidak perlu memberikan salam kekaisaran.
Ksatria penjaga pintu mengizinkan ratu masuk terlebih dahulu lalu menyuruh permaisuri menunggu.
Aether mengerutkan kening tidak suka lalu menendang pintu dengan tidak sopan.
Di dalam ruang kerja, ternyata ada duke Aruna dan kaisar sedang berbincang lalu ratu yang baru masuk dan membawa kereta makanan juga terkejut dengan tindakan Aether.
Aether menarik penjaga pintu itu lalu melemparnya hingga jatuh tersungkur di bawah kaki duke Aruna. "Apakah dia salah satu orang anda?"
Duke Aruna menjadi bingung. "Apa maksud anda, Pangeran Mahkota?"
"Bagaimana bisa hanya seekor Penjaga Pintu, mengabaikan kedatangan Pangeran Mahkota dan Permaisuri? Siapa yang mendidiknya? Ratu?" Tanya Aether ke ratu.
Ratu menggeleng. "Pangeran Mahkota, Ratu tidak bisa mengganggu masalah ksatria. Kenapa jadi menuduh saya?"
"Karena anda bukan bangsawan yang bisa dicontoh. Tidak memberikan salam pada Permaisuri dan masuk terlebih dulu, apakah hal itu sangat pantas?" Tanya Aether ke ratu.
Kaisar menatap aneh Aether. "Pangeran mahkota biasanya diam, belakangan sangat dekat dengan Permaisuri."
Aether tidak takut dengan pertanyaan kaisar. "Kenapa? Dia ibu aku, apakah Kaisar sakit mata melihat seorang Pangeran Mahkota membela harga diri ibunya?"
"Pangeran Mahkota." Tegur kaisar dengan tatapan tidak suka lalu beralih ke Aelia yang hanya menonton. "Permaisuri suka melihat Pangeran Mahkota bertengkar dengan Ratu?"
Aelia menatap kaisar dengan polos.
Kaisar terkejut.
Aelia mengerutkan kening ke kaisar lalu ke Aether dan menepuk tangan sang anak. "Aether."
Aether menoleh. "Ya?"
"Sepertinya kita tidak disambut baik di sini. Ayo, kembali." Aelia menarik tangan Aether.
"Tunggu! Ada apa, sampai membuat keributan seperti ini?"
Aether ingin bicara tapi ditahan Aelia yang segera menggenggam tangan putranya.
Aether diam.
Setelah melihat Aether tenang, Aelia mulai bicara. "Yang Mulia, Pangeran Mahkota bicara kepada saya untuk meminta izin kepada anda."
'Izin?" Tanya kaisar.
"Saya ingin menjual semua koleksi gaun dan perhiasan."
Kaisar terkejut, begitu pula duke Aruna dan ratu. Baru hari ini mereka menemukan seorang istri meminta izin pada suaminya untuk menjual gaun dan perhiasan.
Kaisar merasa terhina. "Permaisuri, apakah sekarang sedang menghina aku, seorang Kaisar?"
Aelia menoleh ke Aether. "Tuh, lihat wajah Kaisar. Semua gaun dan perhiasan adalah milik ibu, tidak seharusnya ibu minta izin ke Kaisar untuk menjualnya, toh semua bukan barang-barang keluarga kekaisaran."
"Ibu."
"Aelia."
Aether dan ayahnya memanggil Aelia bersamaan.
Aelia bingung harus memperhatikan siapa.
Ratu yang tidak suka dengan situasi sekarang, bergegas mendorong kereta makanan ke dekat kaisar. "Pagi ini anda belum makan sama sekali, saya sudah menyuruh chef untuk menyiapkan sarapan."
Kaisar mual melihat tiga piring makanan lemak berjejer rapi di kereta makanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments