"Permaisuri belum menjawab pertanyaanku." Tegur kaisar ke Aelia.
Aelia yang masih linglung, menatap aneh kaisar. Bahkan di depan mata ada orang lain yang berencana menjebak putra kandung kamu- kamu tidak peduli?
Selena merasakan keanehan pada ibunya. "Ibu?"
"Selena dari tadi aku perhatikan bersama Aether, tidak memanggil ibu kalian permaisuri."
Selena dan Aether sekarang yang bingung terhadap ayah mereka.
Aether bicara dengan lantang. "Bukankah sebelumnya ayah tidak mengakui ibu sebagai permaisuri? Maka lebih baik kami memanggilnya ibu daripada permaisuri."
Selena mengangguk setuju. "Panggilan ibu jauh lebih mulia dari permaisuri."
Kaisar menatap tajam kedua anaknya. "Kalian-"
Aelia menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, menghentikan pertengkaran ayah-anak. "Kaisar, ada yang ingin menjebak pangeran mahkota dengan mengusik wilayah keluarga saya."
Wanita itu menggeleng ketakutan lalu menatap sekeliling. "Tidak, tidak. Saya-"
Kaisar memijat keningnya. "Aether, bawa ibumu ke kamar."
Aelia berdiri dengan bantuan Aether sambil menatap tajam kaisar. "Saya ingin kompensasi."
Kaisar tidak menjawab, menatap lurus punggung istri dan kedua anaknya yang sudah berjalan menjauh lalu wanita yang diperkosa Bence duduk di lantai, memohon pengampunan. "Selidiki semuanya!"
"Baik!"
Setibanya di istana timur, Aelia mandi dengan bantuan Selena lalu berbaring di tempat tidur. Aether membuat minuman hangat untuk mereka bertiga.
Air mata Aelia mengalir ketika mengingat masa di mana dirinya sakit dan sempat dirawat kedua anaknya, waktu itu dia hanya mengaku sakit flu biasa.
Aelia berbaring di tempat tidur, Selena menggantikan kain kompres sementara Aether membuat makanan atau minuman hangat.
Anak-anakku, kenapa aku bodoh sekali di masa lalu?
Dengan kedua tangan yang gemetar, Aelia memeluk Selena dan Aether yang baru saja meletakan minuman hangat di atas meja nakas.
Sambil menangis, Aelia mencium pipi kedua anaknya. "Maaf, maaf. Selama ini ibu terlalu bodoh dengan mengabaikan kalian berdua, ibu tidak akan mengabaikan kalian lagi dan tidak akan mengejar cinta lagi."
Selena dan Aether saling bertukar tatapan.
Aether menjadi bingung dengan perubahan sikap ibunya. "Ibu tidak mencintai ayah lagi?"
Aelia mengangguk. "Ibu lebih baik kehilangan ayah daripada kalian."
Selena mengepalkan kedua tangannya. "Bu, jika itu yang ibu inginkan. Kami tidak akan mempermasalahkannya."
Aelia menatap bingung Selena.
"Aku pasti akan melindungi ibu." Peluk Selena.
Aether menatap perubahan ibunya lalu pamit keluar lebih awal.
--------
Pagi hari, Aelia mendapat berita dari Selena bahwa kaisar menghukum orang-orang yang akan menjebak wilayah keluarga permaisuri, Aether ikut serta ke penyelidikan.
Aelia menjadi khawatir. "Kakakmu baik-baik saja? Apakah semalam dia tidak tidur?"
"Tenang saja, dia kuat." Selena membersihkan kamar Aelia.
"Selena, tidak perlu membersihkan kamar ibu. Kamu seorang putri."
"Apa salahnya membersihkan kamar ibu sendiri? Lagipula tidak akan ada pelayan yang datang."
"Ratu?"
"Ya, masalah internal istana, dipegang oleh ratu untuk sementara waktu sampai ibu sembuh tapi sepertinya dia berencana memegang kekuasaan itu selamanya." Selena menjadi kesal. "Aku ingin beritahu ke kaisar tapi ibu sendiri lihat bagaimana kelakuan ratu saat kita mengungkap kejahatannya, seolah anak buahnya bertindak sendiri."
Aelia meminum teh herbal buatan Selena. "Ibu tidak masalah, sekarang kekaisaran bukan prioritas ibu lagi."
Selena yang sedang merapikan tempat tidur permaisuri, menatap bingung ibunya. "Kaisar juga?"
"Kaisar mencintai wanita lain, ibu punya dua anak. Itu sudah cukup bagi ibu."
Selena berlari lalu memeluk ibunya dari belakang. "Bu, apakah ibu berencana keluar dari istana? Kaisar dan kakak tidak ingin ibu bercerai."
"Kaisar masih membutuhkan kekuatan kakek kalian, tidak heran." Aelia menghela napas panjang. "Selena, apakah tidak ada berita lain lagi yang bisa ibu dengar?"
Selena menggeleng lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama Aether masuk ke dalam kamar permaisuri setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Aelia mengulurkan tangan untuk memeluk putra sulungnya.
Aether masih merasa canggung dan menepuk pelan pundak mungil ibunya. "Bagaimana kondisi ibu?"
"Jauh lebih baik."
Selena duduk di sofa samping permaisuri setelah menyelesaikan pekerjaannya. "Kakak, apakah ada berita lain lagi? Ibu tadi bertanya.
Aether mengangguk. "Mereka menimbulkan kerugian besar untuk wilayah Birendra sehingga hartanya disita dan diberikan semua ke kakek."
Aelia dan Selena terkejut dengan murah hatinya kaisar.
"Tadi aku bertemu dengan kakek, kakek mencemaskan ibu." Aether cerita kepada ibunya.
Aelia tersenyum sedih. "Kakek kalian perdana menteri, tidak bisa meluangkan waktu banyak untuk keluarga. Kamu juga harus belajar dan membantu kakek."
"Ibu, kakek juga mengucapkan terima kasih karena masih peduli pada wilayah." Aether tersenyum lembut.
Aelia paham maksud dari pesan ayahnya, selama ini dia tidak terlalu peduli dengan wilayah dan hanya mengandalkan cinta dari kaisar.
"Lalu- kakek juga cerita kalau beberapa hari ini banyak tagihan yang masuk."
"Tagihan?" tanya Aelia dan Selena bersamaan.
"Yah, tagihan hutang. Padahal kakek sudah memberikan pesan kepada kepala pelayan wilayah dan orang kepercayaan kakek untuk membeli barang seperlunya kecuali makanan atau biji untuk menanam tapi ternyata masih saja banyak tagihan bermunculan. Orang-orang di wilayah menjadi kewalahan dan meminta kakek untuk datang."
"Kakek perdana menteri, tidak bisa meninggalkan kursi seenaknya," kata Selena.
"Makanya kakek bingung tadi dan ingin meminta tolong pada kaisar, semenjak kejadian membeli makanan rusak- kakek tidak percaya pada orang lain bahkan curiga pada kepala pelayan dan wakil wilayah."
"Tentu saja, ibu akan melakukan hal sama. Apa jawaban kaisar?"
"Kaisar hanya berjanji tapi juga tidak bisa ikut campur masalah internal bangsawan."
Aelia mulai berpikir cepat. "Kita tidak bisa menyalahkan kaisar, dia harus mengambil langkah supaya tidak terlihat bias."
Selena dan Aether sekali lagi terkejut dengan perubahan ibu mereka. Jika Aelia sebelumnya mendengar hal itu, pasti akan marah dan memohon seperti orang gila di bawah kaki kaisar demi bisa bertemu dengan suami tercinta.
Tapi permaisuri yang sekarang justru setuju dengan langkah kaisar?
Aelia punya ide. "Aether, apakah kamu tahu mengenai posisi letak penyihir atau menara penyihir?"
Aether terperanjat. "Ibu, pekerjaan penyihir sama dengan budak. Ibu mau berinteraksi dengan mereka?"
Selena menatap takjub ibunya.
"Tentu saja, kenapa kalian me-" Aelia terdiam begitu teringat dengan masa lalunya. Benar, dulu dia tidak mau berinteraksi dengan budak kotor.
Selena mencairkan suasana. "Aku saja yang bertemu dengan mereka, ibu cukup di istana dan istirahat banyak."
Aether mengangguk setuju.
Aelia menggeleng keras kepala. "Tidak, ibu harus mengatasi ini sendirian. Selena ingat dengan vitamin yang ibu katakan waktu itu?"
Selena mengangguk paham. "Sedang dikerjakan."
"Jika selesai, vitamin itu akan bisa dijual dan kita memiliki banyak uang untuk membayar hutang wilayah lalu Aether, kita berdua harus memeriksa semua tagihan hutang itu."
"Tapi kita tidak bisa keluar dari istana sembarangan." Aether semangat dengan ide ibunya lalu menjadi lesu ketika mengingat posisi mereka yang tidak bisa keluar sembarangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Rara Nosy
gak paham jalan ceritanya
kata katanya sulit di mengerti
2023-01-06
0