SEPULUH

Kaisar menertawakan pelayan itu. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk menutup kesalahan? Menukar nyawa?"

Bence setuju dengan pertanyaan kaisar. "Benar, pelayan ini harus dihukum karena sudah merugikan aku, seorang Pangeran."

"Bence." Panggil Kaisar.

"Ya, Yang Mulia?"

"Apakah kamu masih ingin meminta aku menghilangkan hukuman?" Tanya Kaisar.

"Te- tentu saja."

Duke Aruna hampir pingsan begitu mendengar jawaban bodoh Bence.

Duke Birendra tersenyum kecil. "Ternyata memang pendidikan dari Duke Aruna jauh lebih baik daripada kekaisaran, bukan begitu Yang Mulia Kaisar?"

Kaisar mengangguk setuju. "Melempar kesalahan pada pelayan dan akan menghukumnya untuk menutup mulut. Bence, aku tidak peduli jika kamu ingin memata-matai Pangeran Mahkota, tapi aku akan peduli jika melihat keturunanku sangat bodoh."

Bence masih tidak paham dengan ucapan kaisar. "Yang Mulia, apakah saya melakukan kesalahan? Pangeran Mahkota bisa datang dan menyelesaikan masalahnya, kenapa saya yang merupakan anak tertua Yang Mulia juga tidak bisa?"

"Apakah kamu tidak mendengar penjelasan kakek kamu tadi?" Tanya kaisar yang mulai bosan. "Aku ingin berbaik hati menjelaskan pada putraku, jadi dengarkan dengan baik. Pangeran Mahkota datang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri bukan minta padaku menyelesaikan masalah."

"Du- dua hal itu, apa bedanya?" Tanya Bence tidak mengerti.

Kaisar masih tidak paham, bagaimana bisa dirinya menghasilkan anak idiot seperti Bence, apakah efek dari mabuk?

Duke Aruna menjelaskan pada cucunya dengan sabar. "Bence, Pangeran Mahkota menyelesaikan masalahnya sendiri dengan minta bantuan pada kaisar. Dia menyelesaikannya sendiri, sementara cucuku sayang sekarang malah minta bantuan pada kaisar untuk menyelesaikan masalah."

Bence semakin tidak mengerti dengan penjelasan sang kakek. "Dua hal itu tidak ada bedanya. Pangeran mahkota tetap minta bantuan pada kaisar."

"Bence, Pangeran Mahkota adalah kakak kamu, hormati dia." Tegur kaisar.

Bence semakin tidak suka dengan situasi ini. "Yang Mulia sudah menjelaskan sejak saya kecil untuk memanggil Pangeran Mahkota, kakak. Meskipun usianya lebih muda dari saya. Saya paham karena Permaisuri menikah lebih dulu dengan anda daripada ibu saya. Tapi, yang tidak saya pahami, kenapa saya tidak boleh minta bantuan untuk mencabut hukuman dan menyelesaikan masalah? Sementara Pangeran Mahkota bisa."

Duke Birendra dan Duke Aruna sama-sama memiliki putri yang menikah dengan kaisar, kedudukan yang sama dan posisi hampir sama.

Jika Duke Birendra adalah seorang perdana menteri yang juga ketua fraksi kaisar, maka Duke Aruna adalah penasehat kerajaan yang juga ketua fraksi bangsawan.

Kaisar menikah terlebih dahulu dengan anak perempuan Duke Birendra karena merupakan tangan kanannya, baru menikahi anak perempuan Duke Aruna yang bisa dibilang merupakan kesalahan namun hanya sedikit orang yang tahu.

Kaisar sedikit kesal dengan kesombongan ratu dan pengikut Aruna karena kelahiran pangeran idiot, dia bahkan tidak mau repot menangani anak manja itu. "Baiklah, jika kamu ingin hukuman dihilangkan."

Wajah Bence berbinar bahagia. "Terima kasih Yang Mulia."

Duke Birendra terlihat tidak setuju namun melihat raut wajah provokatif  Duke Aruna, dia jadi malas mengutarakannya.

Kaisar memijat keningnya dan bertanya pada Duke Aruna. "Bagaimana dengan lady yang disentuh Bence?"

"Saya sudah memberikan kompensasi, Yang Mulia." Jawab Duke Aruna.

"Aku tidak suka jawaban itu, kenapa tidak nikahkan saja mereka berdua?" Tanya kaisar.

Duke Aruna menjadi panik. Menikahkan cucunya dengan perempuan yang tidak sepadan bisa menghancurkan nama baik keluarga dan menjauhkan impian Bence menjadi kaisar. "Tidak, Yang Mulia. Masa depan Pangeran Bence masih panjang, saya tidak bisa menghancurkan masa depannya, terutama Pangeran masih belum lulus akademi."

Kaisar mengabaikan Duke Aruna dan mulai melanjutkan rapat.

Pelayan diseret keluar dari aula pertemuan oleh salah satu ksatria.

Pelayan Pangeran Bence berlutut dan mengucapkan terima kasih berulang kali lalu pergi mengejar Pangeran Bence.

Bence pamer kepada semua orang tentang kaisar yang membebaskannya dari hukuman, tentu saja hal ini terdengar ke telinga Aether dan Selena.

Permaisuri Aelia tidak terkejut mendengarnya. "Tidak perlu dipikirkan."

"Apa yang ada di pikiran Kaisar? Jelas-jelas Bence berusaha menjebak kakak, Kaisar terlalu bias pada anak idiot itu!" Seru Selena.

"Selena, hati-hati." Tegur Aether.

Selena menoleh ke Aether. "Apakah kakak sudah bicara ke Kaisar mengenai dalang di belakangnya?"

"Belum." Jawab Aether dengan santai.

Selena cemberut ketika mendengar jawaban sang kakak. "Kenapa belum? Harusnya Kakak sudah bicara ke Kaisar dan minta kompensasi, aku ingin melihat wajah pucat Duke Aruna yang sombong ketika kita minta kompensasi."

"Investigasi wilayah Birendra sudah diserahkan padaku dan Kaisar memberikan salah satu orang kepercayaannya untuk membantu." Jawab Aether.

"Yakin bukan mata-mata? Kaisar pasti tidak suka jika ada yang mengganggu wanita kesayangannya." Kesal Selena.

Aelia menatap bingung putrinya. "Selena, jangan bersikap seperti itu pada Kaisar. Biar bagaimana pun dia Ayah kandung kamu."

"Ayah kandung yang tidak berguna, dari dulu dia selalu meninggalkan kita sampai-" Selena menutup mulut ketika mendapat tatapan peringatan dari Aether.

"Sampai?" Tanya Aelia tidak mengerti.

Selena bicara dengan nada pelan. "Sampai ibu sakit."

Aether menghela napas.

Aelia tidak membantah ucapan anaknya. Kaisar dari dulu lebih banyak kerja dan mengabaikan keluarganya lalu memiliki keluarga lain, terkadang Aelia juga sangsi ketika mendengar alasan pernikahan Kaisar dengan ratu dan selir. Tidak sengaja.

Aelia menertawakan kebodohannya di masa lalu karena masih percaya pada ucapan orang yang masih berusaha membunuhnya.

"Ibu, pokoknya kita harus keluar dari istana Timur dan ibu harus kembali ke istana Permaisuri." Selena bertekad pada ibunya.

Aether menolak gagasan Selena. "Lebih baik ibu di istana Timur sampai sembuh daripada tinggal di istana dekat Kaisar, gerak-gerik ibu bisa diawasi."

Aelia mengangguk setuju, selain itu dia enggan tinggal dekat dengan pria yang paling dibencinya.

"Jika ibu tetap di istana Timur, Ratu akan semakin menekan Ibu." Tegas Selena.

"Kaisar akan melindungi Ibu," jawab Aether.

Selena menggelengkan kepala, tidak percaya dengan Kaisar. "Tidak, ibu harus kembali ke istana Permaisuri."

Aelia memberi pengertian pada Selena. "Selena, ibu paham mengenai rasa takut kamu. Tapi, ibu lebih suka tinggal di istana ini, selain itu ibu juga ingin membantu Aether. Kamu tahu kakek sangat sibuk, dan anak kakek yang bisa dipercaya hanya ibu. Jadi, biarkan ibu menyelesaikan masalah.

"Setelah masalah selesai, ibu akan pindah ke istana Permaisuri. Ibu akan berjanji padamu."

Selena menatap khawatir Aelia dengan mata merah dan hidung sembab yang mendadak muncul. "Jika ibu di istana Permaisuri, mungkin Ratu tidak akan menyentuh Ibu lagi."

"Tidak ada jaminan Ratu tidak menyentuh Ibu." Geleng Aether. "Untung saja Kaisar sudah mencabut pekerjaan yang seharusnya menjadi milik Permaisuri."

Aelia masih enggan mengambil pekerjaan Permaisuri. "Bisakah aku melakukan pekerjaan lain daripada harus menjadi Permaisuri?"

Selena dan Aether terkejut dengan pertanyaan Aelia.

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

jgn2 bkn anak mu

2023-01-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!