"Huh! Dasar anak tidak sopan! Mengganggu acara pertemuan dan mengancam kami?" Dengus duke Aruna. "Didikan ibu memang di atas segalanya."
Duke Birendra yang berdiri di seberang mengangkat kedua alis dengan heran. "Permaisuri tidak pernah mendidik anak-anaknya, anda sendiri yang berkomentar masalah itu setelah Ratu mengambil alih tugas Permaisuri, bahkan anda juga mengkritik keras di depan Kaisar dan para bangsawan. Apakah anda sudah lupa sekarang?"
Duke Aruna salah tingkah lalu mencari alasan. "Duke Birendra, hanya karena anda menjadi Perdana Menteri dan merupakan Ayah kandung Permaisuri, bukan berarti anda bisa bicara sembarangan seperti itu jika salah bicara.
"Yang saya bahas adalah keturunan, keturunan. Bagaimana bisa Pangeran Mahkota dan Putri Selena menekan ayah kandungnya sendiri? Lihat Pangeran Bence dan Putri Cassia yang tidak pernah menekan Yang Mulia Kaisar."
Kaisar tidak terlalu bodoh untuk menangkap maksud sebenarnya duke Aruna namun terlalu malas mengungkapkannya. "Lanjutkan pembicaraan tadi, tidak usah berdebat hal yang tidak terlalu penting."
Para menteri dan bangsawan kembali melanjutkan sampai menghabiskan waktu dua jam kemudian, Kaisar menutup rapat dan keluar dari ruang pertemuan terlebih dahulu lewat pintu khusus keluarga kerajaan, bersama perdana menteri, duke Birendra.
Cassia sudah menunggu di luar pintu.
Kaisar terkejut melihat Cassia datang menghampirinya sambil memberikan sebuah minuman.
"Kaisar pasti lelah, ini minuman untuk anda."
Kaisar tidak menerima minuman dari Cassia begitu saja, malah menepuk kepala Cassia. "Terima kasih banyak, aku sudah banyak minum tadi."
Cassia tersenyum. "Tidak apa, nanti saya berikan pada ibu."
Duke Birendra mengangkat salah satu alis. Pangeran Bence dan putri Cassia memang terkenal suka menurut dan manja pada kaisar, berbanding terbalik pada kedua cucunya yang terkadang suka bertengkar atau mengancam sang Kaisar.
Cassia kembali bicara pada Kaisar. "Ayah, sebentar lagi acara ulang tahun aku. Bisakah ayah hadir sebentar dan berdansa?"
Ulang tahun Selena dan Cassia di tanggal yang sama, bahkan usia mereka berdua juga sama.
Semua orang di istana tahu mengenai Selena yang benci hari ulang tahunnya dan enggan merayakan sementara Cassia suka merayakan bersama bangsawan seusia dan juga rakyat, sehingga muncul gosip bahwa kaisar lebih mencintai anak perempuan selir daripada anak permaisuri.
Sebagai kakek, tentu saja duke Birendra merasakan sedih, namun sepertinya kesedihan tidak berguna ketika melihat apa yang dilakukan Selena setiap hari ulang tahun bersama sang kakak, pangeran mahkota.
Kaisar mengangguk singkat. "Tentu saja, aku akan datang."
Cassia tersenyum cerah. "Terima kasih ayah, merupakan suatu berkah bisa memiliki ayah seperti Kaisar. Aku juga membangun stand makanan untuk rakyat di sekitar istana, tentu saja ibu dan ratu juga membantu."
Kaisar mengangguk singkat.
Cassia membungkuk lalu berjalan pergi meninggalkan kaisar dan pengikutnya.
Kaisar memiringkan kepala dan menyipitkan kedua mata. "Apakah Perdana Menteri tahu jumlah uang yang dikeluarkan untuk ulang tahu putri Cassia tahun ini?"
"Cukup banyak, saya lupa jumlah persisnya. Apakah anda butuh rinciannya?"
"Ya, berikan padaku diam-diam lalu aku juga ingin minta dari catatan Ratu."
"Apakah anda sedang mencurigai Ratu?" Tanya duke Birendra yang tidak mengerti.
"Aku hanya seorang ayah yang menyayangi anak perempuannya. Aku hanya tidak ingin ada masalah di masa depan seperti seorang Putri yang mengadakan acara mewah melebihi Pangeran Mahkota."
"Baik, Yang Mulia."
-------
"Kamu apa?" Tanya Aelia yang tercengang melihat senyum putrinya yang penuh kemenangan.
"Aku berhasil mendapatkan posisi ibu, jika ibu tidak mau melakukannya- biar aku yang melakukan."
Aelia memijat kening. "Selena, bagaimana bisa kamu menangani masalah internal istana? Ibu tidak akan mengizinkan, lebih baik kamu belajar atau melakukan sesuatu yang berguna. Ibu akan bicara pada kaisar."
Selena menghalangi jalan Aelia. "Buat apa bicara pada Kaisar yang tidak mencintai ibu? Percuma. Dia hanya mencintai dirinya sendiri."
"Selena!" Tegur Aelia.
"Ibu, istana sangat keras. Ibu tidak boleh bersikap lemah, jika ibu tidak bisa melindungi diri sendiri, aku bisa melakukannya!" Selena menepuk dadanya dengan bangga.
Aether menggelengkan kepala. "Di saat kamu bersikap seperti itu, Cassia sedang heboh membuat acara ulang tahun. Apakah kamu tidak ingin mengadakannya?"
Selena mengerutkan kening dengan kesal. "Tidak, aku tidak suka merayakan ulang tahun! Sejak kapan kakak melihat aku merayakan ulang tahun?"
Aelia tersentak. "Sebentar lagi kamu ulang tahun?"
Selena menoleh pada ibunya. "Tidak ada yang perlu dirayakan, bu. Kita akan menjalankan hari seperti biasanya."
Aelia jadi merasa bersalah terhadap kedua anaknya lalu mulai menangis.
Selena menjadi panik dan berusaha menenangkan ibunya. "Ibu, kenapa menangis? Kakak! Ini semua ulah kakak! Kakak harus tanggung jawab."
Aether juga menjadi panik dan duduk di samping Aelia. Sekarang Aelia duduk diapit kedua anaknya. "Ibu, aku minta maaf jika salah."
Aelia menatap nanar Aether sambil terisak. "Apakah kamu tahu letak kesalahan yang kamu perbuat?"
Aether menggeleng tidak yakin.
Aelia memukul tangan Aether. "Jangan meminta maaf untuk hal yang tidak kamu perbuat! Ibu tidak mau melihat kamu seperti itu!"
"Adu- duh!" Aether menerima semua pukulan sang ibu meskipun mengeluh.
Aelia memeluk Aether dan Selena. "Ibu minta maaf, di masa lalu hanya memikirkan diri sendiri. Di masa depan, hal itu tidak akan terulang kembali."
Selena dan Aether terkejut lalu memeluk erat Aelia. Impian mereka selama ini adalah saling memeluk dengan hangat, tidak peduli dengan posisi sekarang.
Aelia bersyukur di dalam hati karena bisa memiliki anak seperti Selena dan Aether, dewa pun memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Di luar pintu kamar permaisuri, dayang senior membungkuk hormat. "Yang Mulia, apakah saya harus mengetuk pintu?"
Kaisar menatap lurus pintu. "Tidak perlu, biarkan mereka berkumpul. Jika aku datang, suasana pasti canggung."
Tadinya kaisar ingin menjenguk kondisi permaisuri yang sudah mulai membaik.
Kaisar pergi meninggalkan istana permaisuri.
Di dalam istana permaisuri, Aelia dan kedua anaknya berbincang.
"Bagaimana jika ibu memasak untuk kalian berdua?"
"Masak?" Tanya Aether dan Selena.
"Ya, ibu akan memasak untuk kita bertiga. Ah, jangan lupa dengan pelayan istana kalian, ibu akan masak besar- tapi, masalahnya ibu tidak punya uang. Bagaimana caranya kita mendapatkan uang?" Tanya Aelia yang kebingungan.
Aether bertanya. "Pakai dana istana? Ibu punya uang saku dari Kaisar, kami juga punya meskipun tidak terlalu banyak."
"Tidak terlalu banyak?" Tanya Aelia. "Bence dan Cassia bisa membuang banyak uang, kalian berdua tidak diberikan uang cukup?"
Aether dan Selena bertukar tatapan.
"Ayah memang memberikan uang, tapi kebanyakan aku gunakan untuk membeli buku," jawab Selena.
Aether mengangguk kecil. "Aku juga sama."
"Apakah istana tidak punya dana untuk buku?" Tanya Aelia yang dengan cepat menyadari kesalahan begitu mendapat tatapan aneh dari Aether dan Selena.
Benar, Aelia yang menjadi penyebab istana tidak menambah buku dari istana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments