LIMA BELAS

Dua jam kemudian, Perdana Menteri minta pertemuan bersama Kaisar dan duke Aruna. Ratu berhasil menyuruh para pelayan membersihkan dengan cepat lalu kembali ke istananya.

Duke Aruna menjadi khawatir karena Perdana Menteri membawa dua peti besar yang dibantu para ksatria keluarga Birendra.

"Duke, apa yang anda bawa?" Tanya kaisar.

Duke Birendra membuka kedua peti dan menunjukkan tumpukan dokumen. "Saya sudah teledor, Yang Mulia."

"Teledor?"

"Ketika Putri saya menikah dan menjadi Permaisuri lalu memiliki dua  orang anak, saya sebagai Perdana Menteri tidak bisa mengurus wilayah dengan baik."

Duke Aruna memotong perkataan duke Birendra. "Duke Birendra, tidak usah membahas masa lalu. Kami sudah mengerti, tolong jangan ganggu Kaisar."

Duke Birendra mendengus. "Bukankah seharusnya yang keluar adalah anda? Saya Perdana Menteri dan bebas bertemu dengan Kaisar."

Duke Aruna menjadi geram. "Saya dipanggil Kaisar."

Duke Birendra kembali menatap kaisar. "Belakangan kami dikejutkan oleh pihak yang berusaha menghancurkan wilayah kami dengan mengirim mata-mata. Semua bukti ada di dalam peti, anda bisa mempelajarinya."

Duke Aruna menertawakan duke Birendra. "Duke, anda baru menemukan satu masalah dan sudah mendapatkan bukti sebanyak dua peti besar? Aku tidak percaya, bisa saja semua bukti itu berisi kebohongan."

"Apakah kamu takut?" Tanya duke Birendra ke duke Aruna.

"Apa?" Tanya duke Aruna.

"Takut karena bukti akan mengarah pada duke Aruna terhebat." Sindir duke Birendra. "Jika terbukti ada kejahatan di dalamnya, saya tidak akan meminta hukuman tapi sebaliknya, saya ingin minta kompensasi kerugian seperti yang dikatakan Permaisuri."

Duke Aruna terkejut.

Kaisar menaikan kedua alis lalu memeriksa salah satu buku yang diberikan duke Birendra, setelah membaca sekilas, muncul nama wilayah yang tidak asing. "Kenapa wilayah duke Aruna muncul di pembukuan?"

Duke Aruna hendak bicara, duke Birendra sudah bicara terlebih dahulu. "Salah satu bawahan saya membeli barang di seorang petani di wilayah saya, ternyata petani tersebut menukar barang tanpa sepengetahuan orang saya."

"Jangan menuduh sembarangan duke Aruna! Orang-orang anda yang terlalu ceroboh! Kenapa mengaitkannya dengan saya?!"

"Pembelian kentang satu kereta, ditukar dengan kalung yang dipakai Ratu saat pesta ulang tahun Pangeran Mahkota. Anda bisa menelusuri pembelian itu, meskipun agak berbelit, tapi saya yakin Kaisar bisa dengan mudah menemukan keanehannya." Duke Birendra tidak memberikan kesempatan untuk duke Aruna bicara.

Duke Aruna membentak duke Birendra dan tidak mau mengakui kesalahannya. "Saya memang membeli kalung dengan menukar kentang satu kereta tapi barangnya ada di wilayah saya dan itu, adalah stok barang di gudang yang tidak bisa keluar!"

Duke Birendra menatap lurus duke Aruna. "Bagaimana jika saya memeriksa gudang anda, Duke? Saya ingin tahu kondisi gudang anda sekarang. Ah, jangan lupa. Kondisi alam di wilayah Birendra dan Aruna sangat berbeda beberapa bulan terakhir. Bukankah akhir-akhir ini wilayah Aruna sering turun hujan?"

Duke Aruna tidak bisa membalas perkataan duke Birendra, kaisar hanya memperhatikan pertengkaran kedua mertuanya.

"Kebetulan sekali, Pangeran Mahkota menemukan satu sak tepung yang menggumpal padahal sudah disaring oleh pekerja di wilayah Birendra. Bagaimana bisa wilayah yang tidak lembab mengirim tepung menggumpal?" Tanya duke Birendra dengan tatapan puas.

"Bagaimana bisa Pangeran Mahkota menemukan hal remeh seperti itu?! Kalian hanya ingin menjatuhkan aku!"

"Pangeran mahkota menemukannya di dapur milik Permaisuri. Menurut duke Aruna dan Kaisar, dilihat dari perilaku Permaisuri, apakah Permaisuri mau menerima bahan makanan berkualitas buruk?"

Duke Aruna tidak bisa menjawab.

Kaisar berdiri dan menggebrak meja. "Apa maksud duke Birendra, dapur Permaisuri kenapa?"

"Anda bisa melihat sendiri, barang bukti sudah kami amankan dan tukar dengan barang bagus, sebagai seorang anak yang berbakti, Pangeran Mahkota dan Putri Selena yang mengganti semua barang itu." Kata duke Birendra.

Kaisar menatap marah duke Aruna. "Duke- kamu- beraninya menyentuh Permaisuri?!"

Duke Aruna berusaha menjelaskan dengan terbata-bata. "Ka... Kaisar... Saya... Saya tidak tahu... Apa pun..."

Kaisar kembali duduk dan memijat keningnya. "Tanpa diperiksa pun sudah ketahuan siapa pelakunya, kenapa duke Aruna melakukan hal itu? Apakah demi Ratu dan Pangeran Bence?"

"Kaisar, saya dan Ratu tidak tahu apa pun, termasuk Pangeran Bence. Kami tidak tahu apa pun mengenai hal itu." Kaisar berlutut dan memohon ampun ke Kaisar. "Pasti ada seseorang yang memfitnah kami, hanya karena Ratu selalu berseberangan dengan Permaisuri."

"Jadi, maksud kamu Permaisuri pelakunya?" Tanya duke Birendra.

"Barang ditemukan di istana Permaisuri, pasti-" duke Aruna terdiam ketika melihat raut wajah marah kaisar. "Saya-"

Kaisar bertanya pada duke Birendra. "Apa yang diinginkan duke Birendra sekarang? Kompensasi kerugian saja? Apakah Permaisuri yang meminta?"

Duke Birendra tidak suka dengan pertanyaan kaisar yang terlalu pilih kasih. "Yang Mulia Kaisar, Permaisuri mendapat kerugian besar. Jika kami tidak mengetahui hal ini lebih cepat, tidak akan ada yang percaya. Menurut anda, hukuman apa yang paling tepat untuk orang-orang yang berusaha menggulingkan Permaisuri?"

"Duke Birendra! Kami tidak berusaha menggulingkan Permaisuri! Hati-hati bicara!"

Duke Birendra tersenyum. "Saya tidak menyebut nama anda, duke Aruna."

Kaisar tidak mau memperpanjang masalah ini, jika ketahuan dari pihak luar juga tidak bagus. Satu-satunya cara adalah menutup mulut semua pihak dengan memenuhi permintaan sang korban. "Duke Aruna, ganti semua kerugian yang didapat Duke Birendra, termasuk Pangeran Mahkota yang mengganti semua isi dapur Permaisuri."

"Ta- tapi Yang Mulia, anda bahkan belum investigasi." Duke Aruna menolak keras.

Kaisar menaikkan salah satu alis. "Duke Aruna, apakah aku harus mulai investigasi dan membuat kamu dihukum? Aku tidak masalah jika kamu menginginkannya."

Duke Aruna bergidik ngeri membayangkan orang-orang akan menyentuh semua miliknya, beberapa kejahatan kecil pasti akan terungkap dan duke Birendra akan diuntungkan.

Duke Aruna bertanya pada duke Birendra. "Berapa yang harus saya bayar?"

"Kenapa bertanya kepada saya? Seharusnya kamu tahu berapa barang yang sudah diambil."

Duke Aruna membantah. "Dasar pria tua tidak tahu malu! Aku tidak pernah mengambil barang apa pun dari wilayah kamu, jika suatu hari semua akan terungkap- kamu harus menggantinya dua kali lipat!"

Duke Birendra tersenyum licik lalu membelai dagunya. "Benar juga, karena nama baik yang akan hancur pastinya tidak sepadan dengan kompensasi. Yang Mulia Kaisar, saya minta kerugian tiga kali lipat. Hal ini dikarenakan mereka mempermainkan reputasi Permaisuri, sebagai seorang suami. Tentu anda akan melindungi Permaisuri, ibu dari Pangeran Mahkota, bukan?"

Kaisar melirik tajam duke Aruna lalu mulai mengambil keputusan. "Dengarkan permintaan duke Birendra, jangan banyak bicara. Semua bukti tetap aku investigasi, tapi aku tidak akan menghukum duke Aruna, Ratu maupun Pangeran Bence. Hanya itu yang bisa aku lakukan."

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

pilih kasih

2023-01-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!