Part 20

Demi pujaan hatinya tak sedih,Austin membeli diam diam dagangan wanita idaman nya itu.entah untuk apa nasi sebanyak itu?yang jelas Febri akan dibuat repot oleh Austin.

"Febri segera ke ruangan ku sekarang!" titah Austin.tanpa mendengar jawaban di seberang sana,Austin langsung memutuskan panggilan sepihak.

***

"Untung ya bos Austin punya bawahan yang nurut dan gak pernah bangkang kayak gue,jika seandainya nya orang lain yang berada di posisi gue,itu bos mungkin udah bonyok sejak lama." Gerutu Febri sambil merapikan meja kerja miliknya.

Baru saja Febri keluar dari ruang kerja nya dia sudah mendengar tawa mengejek dari Lola rekan kerja nya.

"Hihihi,pasti di suruh bos." Gumam Lola yang masi terdengar di telinga tajam Febri.

"Ejek aja gue terus,ada masa nya gue akan ngerjai Lo!" celetuk Febri semakin kesal dan berlalu meninggalkan Lola yang masi tertawa mengejek.

"Kasihan banget Pak Febri.raut wajah nya itu sungguh terlihat bagaimana banyak nya beban pekerjaan yang ia miliki." Lola turut perhatian dengan Febri.

Tok tok tok.

Febri mengetuk pintu itu hingga tiga kali baru terdengar sahutan dari dalam.sebelum memasuki ruangan bos nya,Febri menarik nafas seolah olah menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk bekal ia menghadapi bos nya nanti.

"Ada apa bos meminta saya datang kesini?" tanya Febri setelah berdiri di dekat meja bos nya.

"Nanti ada beberapa orang yang mengantarkan catering nasi sebanyak 500 kotak." Mendengar kata pembuka saja Febri sudah tahu kemana arah perintah bos nya.

"Jika catering itu datang,kamu ambil dua kotak nasi dan kamu antar keruangan ku,sisa nya kamu bagikan saja ke karyawan kantor ini.ingat bagikan untuk pekerja ibu hamil dan yang tidak membawa bekal,kamu ngerti kan?" Dengan mengangguk pasrah Febri menyetujui perintah bos nya itu.

"Kenapa bos aneh sekali hari ini,sejak kapan bos berbaik hati membagikan nasi kotak kepada karyawan kantor? dan apesnya aku terus di buat susah dengan keanehan yang ia lakukan."

"Febri jangan mengatai ku?" tegur Austin seakan tahu isi hati Febri.

"Ah ... saya mana berani bos." Kilah Febri sedikit gugup.

"Lebih baik kamu segera turun ke lobi,untuk menyambut kedatangan nasi kotak itu.dari pada kamu terus berdiri disini menjadi mandor di hadapan ku," ujar Austin membuat febri dengan cepat meninggal kan ruangan bos nya.

Semua orang yang melihat Febri yang berdiri di lobi merasa heran,tidak biasanya bapak assisten itu berada di lobi dengan waktu yang lama.keheranan karyawan semakin menjadi jadi ketika ada beberapa orang yang membawa keresek dan menyusunnya di hadapan Febri.

"Untung aja aku cerdik,jadi aku bisa menyerahkan pekerjaan berat ini pada bawahan ku.biarkan kepala regu masing masing departemen yang memberikan kotak nasi ini untuk anggotanya,jadi dengan begitu aku tidak perlu turun tangan."

Febri tidak mau rugi,dia mengambil sepuluh kotak nasi untuknya dan juga Austin.dan lalu sisanya dia akan serahkan pada masing masing bawahan nya.

"Ini bos nasi kotak anda." Febri meletakan kotak nasi itu di atas meja Austin.

"Terimakasih.l," ucap Austin dengan mata Masi fokus dengan layar laptop nya.

"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu." Febri pamit dan berlalu keluar setelah mendapat anggukan Austin.

Gempar!

kini pembagian nasi kotak itu yang secara tiba tiba menjadi topik pembicaraan karyawan.banyak di antara mereka sedang menerka nerka,apa yang telah terjadi pada bos mereka?sehingga memberikan hal langka sepeti itu.menang tender saja bos nya tidak pernah sebaik ini.

Pasti ada hal yang luar biasa yang bos mereka dapatkan sehingga memberikan mereka makanan.

"Pak Febri,tunggu!" Teriak Lola yang menghentikan langkah Febri.

"Ada apa sekertaris Lola?" tanya Febri dengan berkas di tangannya.

"Mana nasi kotak untuk ku,kenapa semua orang dapat dan aku orang terdekat mu malah tak kamu beri?" protes Lola membuat febri tersenyum tipis.

"Ternyata masalah nasi kotak," ucap Febri dengan nada mengejek.

"Uang mu banyak,jadi aku sengaja tak memberi mu." Lola tak terima dengan ucapan Febri.

"Direktur Lee aja dapat,masa aku yang sekertaris enggak.aku Iri tahu semua nya membicarakan nasi kotak itu sedangkan aku tidak mendapat sekotak pun,pak Febri sangat tidak adil pada ku." Lola Masi protes.

"Seterah padamu.lagi pula itu salah mu sendiri terlalu suka mendekam di ruangan mu.orang berebut nasi kotak di bawah,kamu malah besemedi.ya jelas gak dapatlah," ungkap Febri membuat Lola mendengus kesal.

"Kamu juga enggak memberi tahu ku,bilang aja ini semua akal-akalan kamu untuk membalas dendam pada ku karena tadi mengejek mu." Tuduh Lola membuat febri tersenyum sinis.

"Baguslah jika kamu mengerti," ujar Febri dan kembali melanjutkan perjalanan ke ruangan nya.

"Dasar assisten rese!" umpat Lola kesal.

***

"Waktunya makan siang," ucap Austin pada dirinya sambil membuka bekal yang diberikan Nesya.

"Memang masakan istriku tidak di ragukan, sangat enak.pasti lidah karyawan ku termanjakan oleh masakan nya." Monolog nya sambil terus makan.

"Nesya pasti senang karena dagangan nya habis,rasanya aku tak sabar untuk segera pulang melihat wajah bahagia nya," gumam Austin.

Semua orang menikmati makan siang,namun tidak untuk Lola.dia teramat kesal dengan Febri sehingga membuat nafsu makan nya hilang.

"Aduh berkas penting,belum gue ambil di ruang pak asisten.males banget kesana,apa lagi sampai ketemu dengan dia?aduh kesel nya minta ampun." Lola geram sendiri dan berdiri dari duduk nya dengan kasar.

Dengan sangat terpaksa Lola pergi ke ruangan Febri,nasib baik kini berpihak pada Lola karena kini ruangan Febri tengah kosong.awalnya Lola hanya ingin mengambil berkas saja.namun, karena matanya telanjur melihat beberapa kotak nasi di salah satu meja,membuat dia tersenyum dan tanpa pikir panjang mengambilnya.

"Ternyata pak assisten korupsi,pantas saja aku gak kebagian orang dia aja ambil nasi kotak nya sampai delapan.gak apa apa kali ya ... gue ambil satu,bodo amat dia mau marah atau enggak,yang jelas gue dapat merasakan nasi kotak gratis."

Tak lama Febri kembali keruangan nya,setelah beberapa saat Lola pergi dari ruangan nya.

"Berkas nya udah hilang,berarti Lola udah mengambilnya," ujar Febri setelah mendudukkan diri.

Tak sengaja mata Febri melihat nasi kotak miliknya,dengan senyum tertahan dia tahu bahwa nasi kotak miliknya hilang satu.

"Tidak salah lagi,pasti buaya betina itu yang mengambilnya." Febri menggeleng kepala seakan akan tak percaya bahwa Lola berani mencuri nasi kotak miliknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!