Part 18

Nesya mulai memasuki kamar Austin karena ia mulai mengantuk ingin beristirahat.berkat petunjuk dan arahan bik tutik dia berhasil menemukan kamar Austin yang berada paling pojok dan berhadapan ruang tamu.

"Kamar yang bagus dan begitu luas,kamar ini lebih besar dari kosan ku." Puji Nesya yang baru masuk dan langsung memperhatikan suasana kamar yang memiliki fasilitas lengkap,mulai dari adanya televisi hingga kamar mandi.

"Ya Allah jika kamu memberikan aku rumah sebesar ini saja,pasti hamba mu ini sangat mensyukuri nya."

Nesya mulai mendudukkan diri di dekat ranjang yang sangat empuk itu,ranjang itu begitu luas hingga Nesya bisa berguling-guling di atas nya.

"Kasur yang empuk dengan wangi yang menenangkan,hoam." Nesya mulai mengantuk, "Bisa-bisa kesiangan nih aku karena tidur nyenyak malam ini."

Nesya mulai memejamkan mata,dalam hitungan menit.nafas nya sudah teratur menandakan dia sudah tertidur.

Sementara di apartemen Austin yang mulai sepi karena penghuninya beristirahat,kini keanehan mulai terlihat.di tengah redupnya cahaya di ruang tamu,ada seorang pria yang sedang berjalan perlahan layak nya seorang pencuri.

Cetak.

Tiba tiba lampu menyala,membuat pria itu diam terpaku di tempatnya.

"Udah bibi tebak,kamu gak mungkin nginap di rumah besar.sementara disini ada bidadari mu,yang tidur nyenyak didalam kamar mu." Ternyata bik Tutik yang menyalakan lampu dan menangkap aksi Austin.

"Hehehe,bibi memang penebak yang handal." pujinya sambil menggaruk rambut yang tak gatal.

"Den,mau ngapain?jangan bilang den Austin mau masuk ke kamar dan tidur berdua dengan non Nesya." Austin tersenyum kaku mendengar pertanyaan bik Tutik.

"Eng ... gak kok,aku mau kekamar mandi.bibi jangan berburuk sangka dong dengan ku," jawab Austin terbata semakin menguatkan kecurigaan bik Tutik.

"Den Austin jangan macam macam,ya?nanti kalau bibi geram bibi sunat beneran loh!" ancam bik Tutik membuat nyali Austin semakin menciut.

"Iya bi gak macam macam kok,udah dulu ya ribut nya.takut Nesya terbangun karena suara kita." Austin menghentikan perdebatan itu.

"Ya udah bibi istirahat dulu." bik Tutik berjalan kembali kekamar setelah mematikan lampu ruang tamu.

"Nasib ... nasib,punya pekerja semuanya garang- garang melebihi aku yang bos nya." gerutu Austin.

"Den Austin bibi Masi denger,loh." sahut bik Tutik membuat Austin cengegesan sendiri.

Pekerja Austin memang telah dianggap saudara oleh Austin,Karena ia anak tunggal dan masa kecilnya penuh tekanan.membuat ia merasa kesepian dan menjadikan para pekerja di rumah nya sebagai teman bermainnya.

Alhasil hingga kini ia semakin akrab dengan semua pekerja di rumahnya.

"Austin ... bidadari mu ada di dalam.jika aku tidak bisa melihatnya tidur,setidaknya aku bisa melihat pintu kamar yang di dalam nya ada dia.aduh pasti aku pasti gila." Austin menarik selimutnya dan mulai memejamkan mata.

Austin memilih tidur di ruang tamu,demi bisa terus berdekatan dengan nesya.Austin rela meninggalkan ranjang empuknya di rumah besar nya untuk di ganti dengan sofa di apartemen milik nya.

***

"Bik." Panggil Nesya pelan.

"Ia ,Non." balas bik Tutik.

"Itu Austin sejak kapan tidur disana?bukan nya dia menginap di rumah orang tua nya." tanya Nesya.

Sebenarnya dia terkejut waktu membuka pintu kamarnya subuh tadi.dia mengira bahwa itu hayalan nya saja,karena dia baru bangun tidur.tapi setelah dia perhatian lagi ternyata itu memang Austin.

"Bibi juga gak tau non,mungkin tuan kemalaman jadi gak jadi nginap di rumah besar." Dusta bik Tutik.

"Oh begitu.ya ... udah bik,ayo kita mulai bungkus nasinya sepertinya nasi nya udah hangat gak panas lagi." ajak Nesya yang baru membuka panci besar yang isinya nasi.

"Ayo Non."

Dengan penuh semangat kedua wanita yang berbeda usia itu membungkus nasi,sesekali mereka bercerita untuk mencair kan suasana.

"Ternyata lima ratus bungkus itu sangat banyak ya bik,lihat aja lima plastik besar ini penuh semua." Nesya terkagum sendiri dengan banyak nya pesanan yang ia miliki.

"Lumayan banyak non hingga bisa membuat pinggang bibi sedikit berdenyut," ujar bik Tutik membuat Nesya mengulas senyum.

"Jangan kan bibi,pinggang ku aja linu linu karena kelamaan duduk." Bik Tutik tersenyum mendengar pengakuan Nesya.

"Ini pasti berat,bik.kira kira bagaimana caranya ya, agar kita bisa membawa pesanan ini kebawah?" tanya Nesya mulai bingung untuk membawa semua pesanan ke bawah.

"Kita tunggu saja den Austin.pasti dia memiliki ide tersendiri untuk memindah kan pesanan ini," saran bik Tutik.

Tak berapa lama Austin menampakan diri,tanpa di duga dia bertepuk tangan hingga membuat Nesya maupun bik Tutik keheranan.

"Kamu Masi tidur.datang datang langsung tepuk tangan kayak orang mengigau," ledek Nesya membuat Austin langsung menghentikan tepuk tangan nya.

"Aku tepuk tangan karena salut dengan kalian wanita wonder woman,kalian itu kuat banget.bisa-bisa nya menyediakan makanan sebanyak ini untuk ku.baik banget kalian,pokok nya kalian is the best." Bukan nya tersanjung Nesya justru kesal karena Austin mengira semua nasi bungkus di hadapan nya ini adalah untuk nya.

"Ini untuk di jual,pak.bukan untuk bapak?" jelas Nesya membuat bik Tutik terkekeh karena sebutan bapak itu.

"Kok bapak,sih.aku gak setua itu tau," protes Austin.

"Terus kamu cocoknya di panggil apa?Datuk!" ejek Nesya yang berhasil membuat bik Tutik tertawa lepas.

"Datuk,kamu pikir aku penunggu di pohon tua.panggil aku dengan sayang,Bebeb,honey kek.kan lebih enak didenger." Entah mengapa Nesya geli sendiri dengan panggilan yang di lontarkan oleh Austin.

"Panggilan itu tidak cocok untuk mu yang terlalu tua itu." Raut wajah murka kini terpancar di wajah Austin.

"Dasar wanita ... lihat bagaimana aku menangkap mu dan mencium mu?" ancam Austin pada Nesya yang kini telah bersembunyi di belakang punggung bik Tutik.

"Jika aku di sini,apa kamu masi berani menangkap ku?" tantang Nesya membuat Austin segera melangkah maju.

Terjadilah aksi tangkap menghindar,dengan bik Tutik di tengah sebagai penghalang Austin dan sebagai tameng untuk nesya.

Merasa kepala mulai pusing akhirnya bik Tutik kabur,hal itu membuat Austin langsung berhasil menangkap Nesya.Nesya yang tertangkap langsung berubah panik dan terus memandang bik Tutik.

"Kan tertangkap,sini aku cium kamu!" seru Austin memegang kedua bahu Nesya dan mulai mendekatkan wajah nya kearah pipi mulus Nesya.

"Bik Tutik tolong!" jerit Nesya yang menutupi kedua wajah nya.

"Maka nya neng,jangan nakal." tutur Austin yang kini telah menjauhkan diri dari Nesya.

"Dasar mesum.kamu tidak malu ingin melakukan pelecehan di hadapan bik Tutik," omel Nesya yang kini berdiri di dekat bik Tutik.

"Enggak!" seru Austin dengan wajah tengil nya sedangkan Nesya hanya mampu merenggut masam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!