"Ini beneran gak apa apa aku masak di sini?kamu gak takut dapur mu yang bersih ini kotor." tanya Nesya memastikan.
Saat ini mereka sedang berada di apartemen milik Austin,sejak mulai masuk di apartemen banyak pertanyaan yang Nesya lontarkan.dia menjadi ragu untuk memasak karena takut mengotori apartemen Austin yang sangat bersih itu.
"Gak apa apa?ayo barang nya di susun di atas meja ini.jangan takut kotor,kan nanti bisa di bersihin,jadi jangan di pikirkan." ujar Austin yang tahu isi pikiran Nesya.
"Kalau tahu tempat nya sebersih ini,aku gak mau di ajak masak di sini." Sesal Nesya.
"Ayolah jangan di permasalahkan soal kotor atau bersih,ini kan dapur jadi wajar jika dia bisa kotor atau bersih.nama nya juga dapur untuk memasak jadi wajar lah kalau sewaktu waktu kotor," jelas Austin.
"Kami tahu Austin,aku baru pertama kali melihat dapur sebersih ini.dapur mu sangat bersih mengalahkan kamar tidur ku," ungkap Nena membuat Austin tersenyum sendiri.
"Benarkah.apa kamu punya keinginan untuk memiliki dapur seperti ini?" tanya Austin sambil mengeluarkan sayuran dari kresek.
"Saat ini aku punya keinginan seperti itu setelah melihat dapur mu yang bersih tanpa ada debu secuil pun." Puji Nesya.
"Kalau begitu jadilah istri ku maka dapur ini akan jadi milik mu." Nesya merenggut masam mendengar tawaran Austin.
"Hanya demi dapur aku rela menjadi istri mu,sungguh rendah hargai diri ku jika sampai semua itu terjadi!" balas Nesya tak suka.
"Bukan hanya dapur,Neng.jika kamu menjadi istri ku,hati ku akan sepenuhnya untuk mu." Gombal Austin membuat Nesya langsung menatap ke arahnya.
"Hati mu untuk ku.jika aku memiliki hati mu buat apa?gak bisa di makan." ejek Nesya semakin membuat Austin bersemangat untuk bercanda ria.
"Ya jangan di makan atuh,di rasakan saja. bagaimana besar nya kasih sayang yang aku punya untuk mu." Bukan nya merona malu,Nesya malah semakin membantah ucapan itu.
"Memangnya sebesar apa?" Nesya pikir Austin akan berpikir keras untuk menjawab pertanyaan nya,namun Nesya salah.orang yang dia hadapi ini adalah seorang pria dengan seribu akal yang ia punya.
"Sebesar gunung,sedalam lautan dan seluas langit membentang.besarnya gak bisa di hitung karena kelebihan kapasitas cinta." Nesya tertawa mendengar jawaban Austin yang di luar nalar itu.
"Awas loh,entar beneran kamu suka sama aku sedalam itu.ingat perkataan itu doa." ujar Nesya dengan beberapa telur di tangan nya.
"Jika beneran juga gak apa apa," balas Austin membuat Nesta menggeleng tak percaya.
"Emang susah,ya?menghadapi raja gombal." Nesya menghela nafas karena ucapan nya selalu di jawab oleh Austin.
"Kok aku di sebut raja gombal,sih.aku tuh ngomong sesuai isi hati ku,bukan gombal." protes Austin.
"Aku gak percaya.pasti ini buka kali pertama kamu ngomong gitu dan pasti aku cewe yang sekian kalinya mendapat kata mutiara dari mu." tuding Nesya membuat Austin mengelus dadanya seolah olah hati nya di lukai Nesya.
"Jangan fitnah,neng.aku ngomong gitu refleks.dan aku bukan tipe cowok yang suka menggombal pada sembarang cewe.kamu adalah wanita pertama yang mampu membuat aku langsung berkata mutiara tanpa harus di susun terlebih dahulu," tutur Austin sambil mengedipkan matanya ke arah Nesya.Nesya bergedik mendapat kedipan itu.
"Dasar buaya,mana bisa aku percaya ucapan mu!" omel Nesya
"Jika kamu tidak percaya,maka belahlah celana ku." tawar Austin membuat Nesya kesal.
"Untuk apa aku membelah celana mu?lebih baik aku membelah kol ini,ada juga manfaatnya." gerutu Nena kesal.
"Ada loh manfaat membelah celana ku,manfaatnya untuk melihat burung perkutut yang bisa membuahi ovum," celetuk Austin sangat vulgar membuat Nesya segera memukul bahu Austin,untuk menghentikan pikiran kotor itu.
"Ternyata kamu sangat mesum!" umpat Nesya kesal sehingga memotong kol dengan kasar hingga menimbulkan bunyi agak nyaring.
"Kenapa bahu ku di pukul,Neng?sakit tahu." Austin mengadu kesakitan karena pukulan Nesya lumayan keras.
"Masi mending aku hanya memukul bahu mu tidak memotong burung perkutut mu!" tukas Nesya sambil sengaja memotong kol kasa, seolah seolah yang di potong itu adalah burung perkutut milik Austin.
"Aku mau dia di potong,asal kan terlebih dahulu kamu cium dan ... " ucapan Austin terhenti karena Nesya langsung mengejar nya.
Karena topik pembicaraan yang tak berguna,kini keduanya saling kejar kejaran dan melupakan agenda memasak mereka.
Nesya temperamen wanita yang tak mau mengalah kini semakin gencar mengejar Austin.jika Austin tertangkap entah apa yang akan di lakukan nya?
"Lebih baik kamu menyerah dengan sendirinya,nanti jika aku berhasil menangkap mu tidak akan aku ampuni?" seru Nesya menjadi geram melihat Austin yang semakin gencar meledek nya.
"Gak mau,blew." ejek Austin menjulurkan lidah dan menggoyangkan pantat kearah Nesya.
"Austin!" pekiknya karena terlalu geram.
Mereka kembali kejar kejaran,tanpa sadar mereka berlarian mengelilingi ruang tamu yang terdapat meja dan kursi.karena terlalu banyak penghalang yang menganggu aktivitas lari mereka kini kedua nya terjatuh.
Nesya terbaring di kursi sedangkan Austin berada di atas tubuh nya dengan dua tangan menahan tubuh,agar tidak menindih Nesya di bawahnya.
"Posisinya pas untuk kita enak enak," kata itu membuat Nesya langsung tersadar dari rasa terkejutnya.
"Austin mesum,menyingkir dari tubuh ku!" umpat Nesya sambil berusaha menyingkirkan tubuh Austin dengan kedua tangan nya,namun Austin tidak tergerak sama sekali.
"Beraninya kamu mengatai ku mesum ketika berada dibawah ku,kamu memang harus di cium biar tidak melawan ku!" geretak Austin membuat mata Nesya langsung melotot.
"Kamu jangan macam macam atau aku akan teriak!" ancam Nesya yang kini telah ketakutan.
"Baiklah aku akan mencium mu.bagian mana yang enak di cium ya?mata,hidung,pipi,bibir.Ah,lebih baik semuanya." Austin semakin gencar menakuti Nesya,entah mengapa dia sangat menyukai wajah Nesya yang ketakutan itu?
"Ku mohon jangan lakukan itu," pinta Nesya sambil menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya.
Samar samar Austin mendengar Isak tangis dibalik kedua tangan itu,jujur Austin tidak menyangka Nesya akan menangis karena gurauan yang ia lakukan.
"Hey,kenapa menangis?aku tidak mencium mu,aku hanya bercanda!" panik Austin lalu segera menjauh dari tubuh Nena.
Nesya yang menyadari Austin tidak lagi ada di atas tubuh nya,segera duduk bersandar tanpa melepas kedua tangan yang menutupi wajah nya.
"Ayolah jangan menangis,jika aku bercanda nya berlebihan aku minta maaf." Austin masih membujuk Nena agar tidak menangis.
Bik Tutik yang baru datang terheran melihat kedua orang itu,mereka seperti baru ada sesuatu yang buruk terjadi.saat ini Nesya seperti menjadi korban pelecehan dan Austin jelas menjadi tersangka nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments