Part 19

"Udah jangan berantem terus." Bik Tutik menengahi pertengkaran itu.

"Ini nasi nya kapan di anterin nya?" tanya Austin.

"Kata Bu Sukiman jam delapan pagi," balas Nesya.

"Nanti kalau udah waktu nya pengantaran,kalian tinggal hubungi orang ini aja.nanti dia yang membantu mengantar kan pesanan Nesya." Austin menyodorkan secarik kertas yang berisi no hp seseorang kepada Nesya.

"Terimakasih," ucap Nesya setelah mengambil secarik kertas itu.

"Aku pergi kerja dulu." Pamit Austin membuat Nesya terkejut.

"Loh kok cepat banget,ini baru jam tujuh loh!" protes Nesya karena Austin ingin bekerja tanpa sarapan bersama mereka.

"Aku ada meeting pagi ini,jadi aku harus segera berangkat kerja." Terang Austin keceplosan.

"Meeting." Nesya memastikan pendengaran nya.

"Iya,meeting dengan bos ku.aku sengaja mengunakan jas ini agar tidak mengecewakan bos ku,soalnya hari ini kami meeting nya dengan klien penting." Dusta Austin agar Nesya percaya padanya.

"Tapi penampilan mu seperti kamu saja yang bos nya,pakaian mu terlihat mewah sekali." Komen Nesya dengan wajah penuh kecurigaan.

"Ini kw atuh,untuk beli apartemen aja aku sampai kerja paruh waktu.akan sangat di sayangkan jika aku menghamburkan uang ku hanya untuk membeli stelan kerja dengan harga mewah." Kilah Austin untuk menghilangkan kecurigaan Nesya.

"Hmmm.jangan pergi dulu,tunggu aku sebentar.karena aku ingin menyiapkan bekal untuk mu." Titah Nesya sambil berlari ke arah dapur.

Melihat kepergian Nesya,Austin segera memanfaatkan momen itu untuk berbicara pada bik Tutik.

"Bibi jangan cerita kalau aku ini CEO di perusahaan,takut nya Nesya gak mau dekat dengan ku." Pinta Austin dengan suara pelan.

"Oke den." Bik Tutik mengajungkan jempol nya.

"Dan jangan cerita apa pun tentang mama dan papa,nanti Nesya akan menjauhi ku." Pinta Austin lagi.

"Den tenang aja.semuanya akan aman di tangan bibi," ucapan bik Tutik membuat Austin sedikit tenang.

Tak lama Nesya kembali dengan rantang biru di tangan nya.dengan tergesa-gesa Nesya memasukan rantang persegi empat itu dan sebotol air minum bergambar Doraemon kedalam sebuah tas mini.setelah selesai dia langsung memberikan nya pada Austin.

Pagi ini tanpa sadar Nesya menyiapkan bekal Austin dan mengantar Austin yang ingin pergi kerja,tanpa dia sadari dia melakukan semua itu layak nya seseorang yang tengah melayani keperluan suami di pagi hari.

"Terimakasih sayang bekalnya,hati hati di rumah selagi aku kerja.jika rindu pada ku kamu telpon saja aku."

"Oh ya,bekal nya pasti akan ku makan,karena ini rasanya akan jauh lebih nikmat karena di masak oleh istri manis ku." Gombal Austin berpamitan layaknya Nesya memang menjadi istrinya.

"Dasar raja gombal!" umpat Nesya menyembunyikan semu merah di pipi nya.

"Bik jaga istri ku,dia tengah mengandung anak ku.jadi awasi dia,jangan sampai melakukan aktivitas yang berat." Austin semakin usil memerani dirinya sebagai suami Nesya.

"Astaghfirullah kapan nikahnya?tahu-tahu ngaku aku jadi istrinya,mana dia bilang aku hamil lagi.lebih baik kamu segera pergi sebelum makin gila disini!" usir Nesya membuat Austin tertawa.

"Udah,Den.kasihan Non Nesya di usulin Den dari tadi," ujar bik Tutik membela Nesya.

"Ia deh,aku pergi.terimakasi bekalnya." Pamit Austin melihat Nesta dan mulai berjalan menuju lift.

Karena terlalu banyak drama,tanpa sadar Austin telah terlambat.meski mengetahui bahwa ia terlambat,namun hal itu tidak membuat Austin panik.

Malah dia semakin santai untuk menuju kantornya tanpa peduli dengan Febri yang jelas kalang kabut karena menunggu kedatangan nya.

"Selamat pagi semua,maaf membuat kalian menunggu!" sapa Austin yang baru memasuki ruang rapat.

Keanehan mulai dirasakan oleh orang yang berada di ruangan itu.mulai dari Austin yang meminta maaf,hingga Austin yang membawa bekal dan meletakan nya di samping laptop miliknya.

"Bekal,sejak kapan bos mau membawa bekal?" pikir Febri.

Rapat di mulai meski tertunda setengah jam Karena menunggu kedatangan Austin.Febri mulai mempresentasikan skala produk yang akhirnya akhir ini ada penurunan karena ada beberapa kendala.

***

Jika Austin sibuk dengan rapat nya hal itu berbeda dengan Nesya yang sibuk menelpon seseorang,seperti nya dia sedang berdebat.

"Kenapa,Non?" tanya bik Tutik menghampiri calon majikan nya itu.setelah baru saja melakukan panggilan.

"Itu loh bik,yang mesan nasi tiba tiba gak ada kabar?" adu Nesta dengan wajah sedihnya.

"Non sabar aja,mungkin aja orang nya lagi sibuk makanya belum bisa di hubungi." bik Tutik mencoba menenangkan.

"Sejujurnya aku takut,bik.bagimana jika seandainya orang itu tidak jadi memesan nasi?aku pasti rugi besar,bik.mana sudah telanjur minjam uang ke Austin,di tambah ngerepotin bibi.makin gak enak aku,bik." Nesya mulai panik dan mata nya mulai berkaca kaca.

"Non tenang aja,percaya aja sama Gusti Allah.jika itu memang rejeki Non pasti gak bakal kemana." bik Tutik mengelus bahu Nesya agar tidak cemas.

Menunggu,itulah yang Nesya lakukan.kini jarum jam terus berputar,waktu telah menunjukan jam sembilan pagi yang berarti orang yang memesan nasi bungkus padanya sudah telat satu jam,Nesya yakin orang itu mengcancel pesanan dengan sepihak.

"Ya Allah baru aja hamba bahagia dengan rejeki yang akan kamu turun,kan.tapi kenapa tiba tiba rejeki itu tidak jadi engkau berikan pada hamba?"

"Gimana,non?udah ada kabar." Nesya menggeleng lemah.

"Aku bingung bik nasi ini mau di apakan?jika, orang itu tidak jadi pesan." Wajah Nesta tak seria pagi tadi.

Bik Tutik pergi meninggalkan Nesya untuk diam diam menghubungi Austin.

"Hallo ... Den." sapa bik Tutik ketika panggilan tersambung.

"Iya,ada apa bik?"

"Anu,Den.pesanan nasi bungkus Non Nesya gak jadi di ambil." Adu bik Tutik sambil melihat keadaan sekitar takut Nesya mendengar ucapannya.

"Maksud nya di cancel,"

"Ia den,non Nesya sedih karena pesanan nya gak jadi di ambil," ucap bik Tutik.

"Ya udah biar aku aja yang beli,tapi bibi bilang aja bahwa teman kerja ku yang akan membelinya.bilang saja untuk acara ultah anak nya.pokoknya katakan saja seperti itu,yang penting jangan sampai dia tahu bahwa akulah yang membeli nasi bungkus itu."

"Oke den." Bik Tutik langsung mematikan panggilan,karena mendengar langkah kaki seseorang yang mendekati nya.

"Ternyata bibi disini,aku dari tadi cari bibi,loh." Tegur Nesya membuat bik Tutik gugup sendiri.

"Tadi bibi mengangkat panggilan Den Austin.oh ya!Den Austin bilang teman nya ingin memesan nasi bungkus untuk acara anak nya,katanya pagi ini jam sepuluh," ujar bik Tutik membuat Nesya terdiam sesaat.

"Awalnya Den Austin ingin menolak,tapi tadi dia sengaja nelpon bibi untuk menyampaikan pesanan teman nya pada mu.walaupun Den Austin tahu,sungguh tidak mungkin jika Nona bisa menerima pesanan itu dengan jangka waktu yang relatif singkat." Bik Tutik menarik nafas,sambil berpikir untuk menyusun kata yang tepat agar Nesa percaya padanya.

"Kata Den Austin lebih baik pesanan nasi itu di berikan pada teman nya saja,soalnya Non tahu kan bahwa ibu Sukiman dari tadi tidak memberi kabar apa pun.jika seandainya dia jadi membeli nasi itu salah dia sendiri karena lambat mengambil pesanan dan hilang tanpa kabar!" terang bik Tutik,membuat Nesya berpikir.

"Bibi benar.lebih baik di beli oleh teman Austin dari pada menunggu kabar ibu Sukiman yang tidak jelas itu." Nesya setuju dengan usulan bik Tutik.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!